
Beberapa menit kemudian, keadaan William sudah lebih tenang dibandingkan tadi, dia sudah meluapkan emosinya dengan menangis dipelukan Geraldine. Sekarang dia memilih duduk diam untuk sementara, gadis itu mengerti kondisinya saat ini, dia pergi sebentar ingin membelikan sesuatu untuknya.
"Mau kemana?" cegah William menarik tangan gadis itu ketika ingin beranjak dari duduknya.
"Mau beli minum, kamu haus kan?" kata Geraldine lembut penuh perhatian.
William mengangguk, Geraldine tersenyum lalu beranjak pergi dari sana. Dia menuju kantin rumah sakit itu dan untungnya kantin itu masih buka, hanya ada beberapa stan saja yang buka dan sedikit pengunjung.
Geraldine membeli beberapa minuman, dan makanan juga. Dia teringat kembali saat dia menerima buket bunga di pesta tadi, dia sempat berpikir jika dia ingin melamar William, aneh sih tapi pemikirannya sangat terbuka perihal suatu hubungan antara lelaki dan perempuan, baginya tidak ada yang salah jika perempuan yang duluan melamar lelaki.
"Aku pikir William memiliki pemikiran moderat, dia tidak akan merasa aneh atau tabu soal wanita yang mengatakan perasaannya duluan ke lelaki. Tapi kalau dipikir lagi, sebenarnya dia sudah lama berharap dengan hubungan ini..
Tapi aku yang selalu menjaga jarak dengannya, karena aku takut dengan suatu hubungan antara lelaki dan perempuan, apa hubunganku nanti akan berbeda dengan hubungan orang tuaku dulu, apa William tidak akan sama seperti pamanku yang selalu berbuat kasar dengan bibi dan aku?
Tapi setelah cukup lama aku memperhatikan dirinya, aku bisa melihat kalau dirinya berbeda dengan dua lelaki itu dan lelaki lainnya, meskipun dia dulunya seorang playboy dan seorang Casanova, kini dia mampu membuktikan kepadaku kalau dia berbeda dengan mereka semua.
Yah, meskipun rumor mengenai aku yang seorang les bi tersebar, dan sempat membuatnya ragu tapi dia tak berpikir sedikitpun untuk pergi dariku. Dia masih yakin dengan perasaannya sendiri, itu yang membuatku semakin yakin dengannya.." gumamnya sendiri.
Saat ini Geraldine sedang menuju ruang UGD tempat opa Harja dirawat, di sana juga masih ada William yang masih menunggunya. Saat sampai di sana dia melihat ada orang lain yang duduk dekat dengan William, seorang gadis yang tak pernah dia lihat sebelumnya, tapi nampak akrab dilihatnya antara William dan gadis itu, terlihat William biasa saja dan tak ada rasa canggung sedikitpun dengannya.
"Jika aku jadi kamu, samperin mereka! Tunjukkan atas hak milikmu atas kepemilikan William," tiba-tiba saja Erick sudah dibelakangnya.
"Ya ampun, Erick! Udah kayak hantu aja, tiba-tiba nongol!" greget Geraldine spontan memukulnya.
"Dan aku yakin kalian memang jodoh, kau dan William sama-sama kagetan jadi orang!" sungut Erick sambil mengelus lengannya yang kena pukul Geraldine tadi.
"Siapa yang gak akan kaget kalau tiba-tiba nongol dan berbicara berbisik kayak tadi!" sahut Geraldine masih kesal.
"Sudah, kagetnya udah selesai, dan marahnya nanti aja. Buruan samperin kak William, gw gak mau dia sama cewek lain apalagi modelan kayak cewek itu, buruan kakak ipar pergi sana!" ujar Erick mendorongnya maju ke depan.
Antara kesel dan senang dibilang kayak gitu sama Erick, tapi kalau dipikir lagi bener juga katanya, dia juga sifatnya sama persis seperti Reva, Ericka dan Andriana, cewek-cewek savage dan bar-bar. Jika miliknya diganggu maka tak segan-segan dia mengambilnya kembali dan tentu saja dengan caranya sendiri.
"Sayang!" teriaknya sambil menghampiri William dengan senyuman manisnya sambil menenteng kantong plastik ditangannya.
__ADS_1
"Maaf aku lama tadi, kamu nungguin yah? Em, maaf bisa anda geser sebentar!" ucapnya sambil menaruh kantong kresek itu disamping William.
Wanita cantik dengan pakaian sedikit terbuka itu masih bengong tak mengerti dengan situasi yang sekarang, saat diminta geser duduknya sama Geraldine dia nurut aja. Tapi setelah beberapa detik kemudian, dia baru sadar dan kesal karena tempat duduknya dipindah.
"Maaf, kamu siapanya William?!" tanya wanita itu tadi ketus.
"Saya? Pacarnya, em.. Lebih tepat calon istrinya!" jawab Geraldine sekenanya.
William yang baru saja minum air dari botol yang diberikan Geraldine langsung tersedak saat mendengar ucapan gadis itu, belum juga loading otaknya saat Geraldine memanggilnya sayang, sekarang gadis itu malah mengakuinya sebagai pacar, lebih tepatnya calon istri, nah loh!
"Beneran??" tanya wanita itu kepada William.
William yang belum siap dengan pertanyaan itu menggeleng ketika ditanya oleh wanita itu, sesaat pandangannya teralihkan ke Geraldine dan melihat tatapan kecewa gadis itu dia spontan mengangguk beberapa kali dengan cepat, Geraldine langsung tersenyum saat melihat reaksi kedua William.
"Jadi, dia calon istri atau bukan?" tanya wanita itu belum yakin dengan jawaban yang tampak ragu itu.
"Kan sudah mendengar dari pengakuanku tadi, dan melihat dia mengangguk bukan? Terus kenapa bertanya lagi?!" tanya Geraldine ketus tak suka.
"Aku tidak akan percaya pada siapapun kecuali William sendiri yang berbicara, kau tau bukan dia ini begitu banyak memiliki kekasih dan tak suka berkomitmen, jadi aneh saja tiba-tiba ada orang yang ngaku jadi calon istrinya, hah!
"Jika kau sudah memiliki seseorang yang bisa diajak berkomitmen, kenapa kau masih berada disini? Bukan berati kau juga sama saja dengannya dulu, mau enaknya saja tapi susah diajak serius!
Jika mau berkomitmen harus serius, mbak! Pegang omongan dan pegang janjinya, jangan asal bicara saja, katanya William ini sekarang mantanmu dan tak menyukainya lagi, tapi kenapa sekarang anda berada disini dan duduknya dekat-dekat?!" ujar Geraldine langsung memasang badan untuk menutupi William, agar tidak terlihat oleh wanita itu lagi.
William benar-benar merasa diinginkan, dia tidak tau apa semua ucapan Geraldine serius tentang itu semua atau hanya sekedar untuk mengusir wanita itu saja? Dan pada dasarnya, memang dirinya tidak nyaman dengan kedatangan wanita itu dengan tiba-tiba begitu saja.
"Aku datang menemuinya karena tak sengaja berpapasan, kebetulan pacarku memiliki kakek tua yang dirawat disini juga. Jadi aku menggantikannya untuk menemui kakek itu, karena dia..
Yah, intinya aku sudah punya pacar! Dan terserah dengan kalian, btw.. Aku harus menemuinya setelah itu aku mau pergi saja, daripada stres menghadapi kalian!" ucap wanita itu, kemudian dia masuk kedalam ruangan UGD tempat opa Harja dirawat.
"Loh, kok?!" Geraldine dan William nampak kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu tadi.
Tidak lama kemudian Erick datang menghampiri mereka, Geraldine dan William menatap tajam kearahnya, tentu saja dia mengelak kalau wanita itu bukan pacarnya. Tidak lama kemudian, wanita itu keluar diantar oleh petugas kepolisian yang berjaga didalam.
__ADS_1
"Maaf, mbak! Selain anggota keluarga orang lain dilarang datang menemui pasien, permisi!" ucap polisi lalu kembali masuk kedalam lagi.
"Jadi, yang didalam itu kakek tua pacarmu itu! Katakan, siapa pacarmu itu?! Yang jelas bukan aku maupun Erick bukan!" ujar William menatap dingin dan tajam kearah wanita itu.
"Ja-jadi kalian berdua juga cucunya opa Harja?!" tanya wanita itu kebingungan.
"Iya! Dan hanya kami cucu kandungnya, tidak ada yang lain!" jawab Erick ketus.
"So, siapa pacarmu itu?! Arlon, atau Zacky??!" tanya lagi William sambil tersenyum mengejeknya.
"Bagaimana kalian tau tentang keduanya?? Emm, A-Arlon.. Dia bilang punya kakek yang sudah tua, jika ada apa-apa minta tolong saja dengannya.. Emm, aku.. Aku kini sedang hamil anaknya," ucap wanita itu pelan sambil menunduk.
"Anaknya opa?!?!!" tanya Erick langsung sambil membekap mulutnya tak percaya.
"Hus, sembarangan! Bukan, anaknya Arlon.. Dia bilang, opa Harja akan membantuku.. membantuku selama kehamilan dan saat melahirkan nanti, dia juga akan membantuku membesarkan anak ini sampai Arlon keluar nanti," ucap wanita itu sambil bergetar, dia malu telah bersikap sombong tadi.
"Memangnya berapa usia kandunganmu?" tanya Geraldine, diam-diam dia merasa iba juga dengannya.
"Ti-tiga bulan.." jawab wanita itu, ekspresi wajahnya seperti sedang menahan tangis.
"Berarti usianya sama saat Arlon di penjara.." gumam William.
"Dengar, jika Arlon benar-benar mau bertanggung jawab dia bisa menikahimu sekarang juga, tidak mesti ada pesta yang penting sah dulu dimata hukum dan agama. Dan kau juga harus tau, jika opa Harja bukan kakek kandungnya jadi beliau tak bertanggung jawab penuh dengan Arlon apalagi denganmu!
Sebaiknya kau temui saja ayahnya, minta dia memberitahu Arlon agar segera menikahimu sebelum perutmu membesar, dengan itu setidaknya masa depanmu dan bayi itu setidaknya terjamin, ada yang menjaga dan melindunginya," ujar Geraldine memberinya saran.
William dan Erick tidak menyangka jika Geraldine begitu bijaknya, dia tak menaruh dendam ataupun benci dengan wanita itu, malah dia memberikan saran yang baik kepada wanita itu, dan sekarang wanita itu malah menangis terharu didalam pelukan gadis itu.
"Tadi saling ejek, dan sekarang malah saling pelukan! Aing tidak mengerti sama sekali dengan sifat wanita.." ujar Erick menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Makanya cari pacar agar lu tau gimana aslinya sifat cewek!" sahut William lagi.
"Cieee, yang udah punya cewek! Gimana rasanya diakui, Pak?! Eh, beneran tuh calon istri yak?!" goda Erick membuat William tersipu malu.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung