Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Maafkan Aku


__ADS_3

Didalam bangunan itu nampak begitu luas sekali, tidak ada furniture atau barang-barang lainnya. Hanya ada beberapa lampu menyala temaram dan berbagai lukisan kuno juga beberapa patung berdiri disetiap pintu yang ada disana.


Disana juga ada tangga lumayan besar bergaya eropa berdiri melingkar menuju lantai atas, kesan horor sangat terasa apalagi disana begitu sunyi dan dingin.


Ada beberapa orang yang disana berjaga menyambut kedatangan orang itu yang baru datang bersama beberapa pengawalnya.


"Selamat datang, Pak" sambut salah satu pengawalnya.


Dia membukakan salah satu pintu yang dituju lelaki itu, ruangan itu sangat berbeda dengan ruang utama tadi. Ruangan itu lebih luas lagi, lebih bersih dan terawat.


Berbagai furniture dan barang-barang ada disana, kesan horor tidak ada sama sekali. Ada banyak anak buah dan pengawalnya sedang bersantai disana.


Ada yang main bilyard,main kartu atau catur atau sekedar main game saja. Lelaki itu sengaja memberikan fasilitas lebih kepada anak buahnya agar mereka betah dan nyaman disana, dan bisa bekerja lebih baik lagi.


Semuanya kompak berdiri dan meninggalkan aktifitas mereka setelah melihat kedatangannya.


"Selamat datang,bos!" ujar mereka semua kompak sambil membungkukkan badannya.


"Lakukan saja kegiatan kalian, aku tidak akan lama" ujarnya.


Dia menuju sebuah lift didepannya, lift itu membawanya bersama beberapa pengawalnya kebawah tanah.


Didalam bangunan itu banyak ruangan-ruangan rahasia lain yang tak diketahui orang, bahkan hanya beberapa pengawal atau orang kepercayaannya saja yang tahu.


"Bawa aku ke bajingan itu! Aku penasaran seperti apa wajahnya" ujarnya dengan wajah memerah, tatapan tajam dan dingin itu penuh kebencian.


Mereka sudah sampai disebuah pintu teralis besi, ruang bawah tanah itu dirancang seperti penjara saja. Dindingnya hanya dilapisi bata merah dan lantai semen saja, begitu sepi dan dingin.


Didalam penjara itu, ada seorang lelaki yang duduk diatas bangku besi dengan tangan dan kaki terikat terpisah. Wajahnya masih tertutup dengan songko topeng, badannya penuh luka dan terlihat alat kel*minnya hanya dibalut memakai perban saja.


Keadaannya mengenaskan, badannya terlihat lemah sekali dan kedinginan karena tidak memakai apapun lagi.


"Seseorang masuk kedalamnya, lelaki itu menunggu diluar bersama yang lainnya. Dia melihat anak buahnya membuka topeng yang menutupi wajah lelaki bajingan itu.


Betapa terkejutnya dia melihat sosok itu, dia sama sekali tak menyangka bahwa dia pelaku utamanya. Perasaan itu itu sama dirasakan oleh lelaki bejat itu, dia terkejut mengetahui orang yang selama ini mengurung dan menyiksanya adalah orang yang dia kenal.


"Pramudya?!"


"Nico?!"


Yah, lelaki bejat yang berani menculik dan memperkosa Reva adalah Pramudya. Dia begitu tega menculik saudara tirinya untuk memuaskan hasratnya, antara perasaan benci dan n*fsu sulit dia bedakan.


Nico merasa geram dan marah sekali, amarahnya kembali memuncak melihatnya. Dia memaksa masuk ke jeruji besi itu dan memukuli Pramudya, beberapa kali pukulannya mngenai alat vitalnya membuat Pramudya menjerit kesakitan.


Dia berhenti sejenak karena merasa lelah sedangkan Pramudya sudah babak belur olehnya, darah segar mengucur dari mulut dan hidungnya.


"Dasar, bangs*t! Bajing*n kau! Tega kau lakukan itu kepada Reva, adikmu sendiri!" teriak Nico.


"Hehe! Tubuhnya begitu mulus, manis dan gurih! Aku masih bisa membayangkan dan merasakan kenikmatan itu,hihi!" ujar Pramudya, sudah babak belur begitu dia masih bisa berbicara seperti itu.


"Bajing*an kau!" teriak kembali Nico sambil memukuli Pramudya.


Semua pengawalnya yang mengiringinya tadi hanya diam melihat bos mereka kalap membabi buta menghajar Pramudya yang sudah tak berkutik itu.


"Kenapa, kenapa kau lakukan itu terhadapnya?!" tanya Nico dengan mata berkaca-kaca menatap nanar kedepannya.


"Dia bukan adikku, aku mencintainya! Tapi dia selalu merendahkanku, aku marah. Aku benci, dan membalasnya dengan caraku. He! He!" jawab Pramudya lemah dan masih memaksakan diri untuk tertawa.

__ADS_1


"Kau pantas untuk direndahkan, tingkahmu seperti bajingan tengik bersikap layaknya binat*ng. Itulah dirimu!" ujar Nico.


Dia berlalu pergi meninggalkannya dalam keadaan babak belur.


"Kau tahu, Reva begitu menikmatinya. Dia menerima setiap sentuhanku, dibalik tangisannya ada des*han kenikmatan disana, haha!" ujar Pramudya kembali memprovokasi Nico.


Seketika Nico membalikkan tubuhnya dan menendang alat vitalnya yang sudah terbabat habis itu, Pramudya menjerit histeris lalu pingsan seketika.


Nico berlalu pergi dengan perasaan murka dan penuh kebencian, seorang Nicolas Abraham pengusaha dan pebisnis sukses itu ternyata beneran seorang mafia kejam.


"Bagaimana ini, lukanya terbuka lagi?" ujar salah seorang pengawal bertubuh sedikit tambun yang menjaga penjara Pramudya.


"Ya mau gimana lagi, obati lagi" ujar temannya menjawab santai.


"Tapi aku jijik, liat anu nya ilang" jawab temannya bergidik.


"Panggil saja dokter Anwar, biasanya dia yang mengobati teman-teman jika terluka dalam bertugas" jawab temannya bertubuh kurus itu.


"Tapi katanya dokter Anwar lagi sibuk di rumah sakitnya, lagi ada operasi besar disana" jawab pengawal bertubuh tambun itu.


"Lah, rumah sakitnya 'kan kecil. Emang bisa lakuin operasi juga?" tanya temannya heran.


"Namanya juga rumah sakit, pasti bisalah. Yang gak bisa itu puskemas!" jawab pengawal bertubuh tambun itu gemas sambil menjitak kepala temannya yang kurus itu.


Mau gak mau mereka yang mengobati Pramudya lagi, Pramudya yang selama ini bersikap arogan dan sombong sekarang tidak berkutik lagi dia bagaikan mainan saja disana.


//


//


Sampai detik ini dia belum berani menemui Reva secara langsung, dia takut Reva mengetahui isi hatinya yang masih ada keraguan terhadapnya.


Di rumahnya, Nico berusaha untuk tidak bertemu atau berpapasan di kamar Reva dia takut nanti Reva menyadari kehadirannya dan ingin bertemu.


Dia takut tak bisa menyembunyikan perasaannya, dia takut Reva malah semakin terpuruk oleh sikapnya. Maka dia memutuskan untuk tidak bertemu dengannya sementara waktu untuk menenangkan pikirannya.


Tetapi Nico lupa, insting seorang wanita itu begitu kuat. Perasaannya jauh lebih peka dibandingkan dengan lelaki, Reva sadar Nico berusaha menghindarinya.


Dirinya pun tak menyalahkan Nico, merasa bahwa dia sudah tak perawan lagi lelaki mana mau menerima wanita seperti dirinya. Dan mungkin saja Nico marah dan kecewa kepadanya karena tak bisa menjaga dirinya sendiri.


Sampai detik inipun dia tak diberitahu tentang kondisinya saat ini, entah mengapa Nico memilih merahasiakannya padahal dia juga berhak tau tentang kondisi tubuhnya.


"Aku sudah tak diharapkan lagi disini, buat apa aku terus berada disini? Aku hanya membuatnya semakin membenciku, aku tak ingin dia lebih terluka jika melihatku.


Maafkan aku, Nico. Aku hanya wanita lemah, aku juga punya kekurangan. Aku tak sehebat yang kau pikir, aku hanya wanita kotor tidak berguna" ujarnya sambil menitikkan air matanya.


Setelah sadar dari kejadian itu, dia lebih memilih mengurung diri di kamarnya. Dia hanya makan sedikit saja, setiap makanan yang disediakan oleh pelayan selalu bersisa banyak, bahkan tidak dia sentuh sama sekali.


Wajahnya nampak begitu pucat, badannya lemah dan nampak begitu kurus. Sudah tiga hari dia disana dan tak ada satupun orang yang menemuinya kecuali para pelayan yang mengurusnya.


Wajar saja jika dia berpikir seperti itu, dengan tertatih dia keluar kamarnya dia tidak melihat siapapun diluar sana. Dia berjalan keluar rumah itu, dan menyempatkan diri melihat kearah ruang kerja Nico dia tak mendengar suara apapun dari sana.


Dia nekat pulang sendiri tanpa persiapan apapun, tidak ada uang maupun Hp jadi dia nekat berjalan kaki menyusuri jalan keluar rumah besar itu. didepan rumah itu ada beberapa pengawal Nico yang berjaga, dia tidak bisa melewati mereka.


Dia berjalan kearah samping rumah, ternyata di sana juga ada beberapa pengawal dan pelayan yang sedang beristirahat. Reva memutari rumah itu tak ada celah untuknya kabur, semua pengawal sedang berjaga disana.


Dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya, dia merasa lelah setelah memutari rumah besar itu dan tertidur di kamarnya. Belum lama kemudian Nico pulang.

__ADS_1


Dia masuk ke ruang kerjanya, dan mengecek Cctv dikamar Reva. Gadis itu sama seperti sebelumnya, hanya berbaring di kasurnya atau duduk menghadap jendela kaca kamarnya dengan tatapan kosong.


Dia juga melihatnya tak menyentuh makanan yang disediakan pelayan, hatinya sakit melihatnya. Perasaan gadisnya sedang hancur saat ini, haruskah dia melihatnya? pikirnya.


Tiba pada saat adegan Reva berusaha kabur melarikan diri, dia terhenyak dari duduknya melihat kekasihnya kelelahan berjalan menyusuri setiap tempat.


Hingga akhirnya dia kembali ke kamarnya, Nico memutuskan melihatnya sebentar mengintip dicela pintu kamar Reva. Dia tersenyum lega, kekasihnya masih di sana tertidur pulas.


Dia kembali ke kamarnya dengan perasaan tenang, dia tidak tahu kalau Reva sudah merencanakan sesuatu untuk kabur malam ini. Setelah tengah malam, Reva bangun dari tidurnya, dia keluar kamar pelan-pelan menyusuri rumah itu.


Dia sudah tahu tempat yang jarang dijaga maupun dilewati penjaga di rumah itu, setelah menyusuri tempat itu tadi siang.


Dia berhasil keluar kamar, tanpa alas kaki dan hanya memakai piyamanya saja dia berjalan terengah-engah meninggalkan rumah itu.


"Ya Tuhan, tolong aku. A-aku harus pulang, aku merindukan adik-adikku" ujarnya terisak menangis di sepanjang jalan itu.


Malam itu Nico tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia masih terpikir oleh kejadian tadi siang. Benarkah apa yang dikatakan oleh Pramudya tadi? Dia keluar kamar sebentar ingin mengambil air minum.


Dia dikejutkan dengan pintu kamar Reva yang terbuka lebar, dia berjalan cepat menuju kamar itu. Kenapa ditengah malam begini pintu kamar itu terbuka?


Dia memeriksa kamar itu, kosong. Tidak ada Reva maupun jejaknya. Dia langsung berlari menyusuri rumah dan mencari disetiap tempat tidak juga ditemukan Reva.


"Apa yang kalian lakukan?! Nona Reva pergi kalian tidak tahu!" teriak Nico memarahi pengawalnya.


Semua pengawal dikerahkan mencari Reva, termasuk dirinya. Dia memilih menyetir mobil sendiri menyusuri jalan diluar mencari Reva.


Malam itu cuaca benar-benar tidak mendukung, langit gelap itu semakin gelap saja tak ada sinar bulan yang menyinari. Guntur bergemuruh diiringi hembusan angin kencang, Reva menggigil kedinginan hanya memakai piyama tipis tanpa alas kaki dia terus memaksakan diri berjalan menembus gelapnya malam.


Tiba-tiba hujan mengguyur deras, tidak ada tempat untuk berteduh. Tubuhnya yang lemah tidak kuat menahan cuaca malam itu, badannya linglung dan tidak sadar didepannya ada mobil dan hampir tertabrak.


Tiiin!!


Suara mobil itu membunyikan klaksonnya, mungkin pemiliknya juga kaget dengan tiba-tiba ada seseorang berdiri didepan jalannya.


"Reva? Reva!!" ternyata itu Nico.


Dia lega akhirnya Reva ditemukan, dia hampir mengutuki dirinya karena hampir membuat Reva celaka.


"Ni-Nico?" tanya Reva dengan lemas, dia terduduk tersungkur karena kaget bunyi klakson itu.


"Reva, apa yang kamu lakukan disini? Ayo pulang!" teriaknya berusaha mengimbangi suaranya karena derasnya hujan dan bunyi guntur bersahutan.


"Pulang? Kemana?" ujar Reva, dia mulai kehilangan kesadarannya.


"Reva, bangunlah. Ayo kita pulang" ujar Nico pelan.


"Pulang kemana? Aku tidak punya tempat pulang" ucap Reva mulai ngelantur menjawab perkataan Nico.


Dia nampak begitu lemas sekali dengan tubuh kedinginan.


"Reva, maafkan aku. Aku seharusnya menjaga dan melindungimu..." ujarnya lirih menatap sendu kekasihnya itu.


Dia memeluk tubuh lemah Reva dengan perasaan hancur, tanpa sadar meneteskan air matanya. Perih dan sakit rasanya...


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2