Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Sebuah Pengakuan


__ADS_3

"Reva, Ericka.. Kemarilah!" ucap Nico sambil melambaikan tangannya kearah dua kakak beradik itu.


Mereka berdua mendekati Nico dan beberapa orang yang ada di sana, tak terkecuali Aaron dan lainnya, termasuk bi Mirna dan pak Johan juga mas Bram.


"Aku mengumpulkan semuanya untuk memberitahukan sesuatu kepada kalian semuanya, dan ini termasuk hal mendesak dan sensitif. Aku tau ayah mertua baru saja meninggal dan dimakamkan.


Tapi semua harus diselesaikan dan dituntaskan semuanya, agar tak berbuntut panjang ataupun ada permasalahan lainnya. Dan jangan salah faham denganku, aku melakukan semua ini demi kebaikan istri dan adik-adiknya," ucap Nico mengawali pembicaraannya.


"Sebetulnya aku minta pak Johan dan mas Bram untuk menyampaikan sesuatu, setelah itu baru pemberitahuan oleh pengacara mendiang ayah mertua dan pengacara mendiang almarhum kakek atau ibu Larasati Pohan.


Terima kasih, semoga tidak ada masalah lagi kedepannya. Dan aku minta semoga kita semua bisa saling mengerti dan saling memahami, mas Bram atau pak Johan, silakan.." ujar Nico mempersilahkan kedua orang kepercayaan mendiang pak Dewantoro.


"Bismillah, perkenalkan nama saya Bramantyo biasa dipanggil mas Bram, saya asisten pribadi almarhum dan bekerja kurang lebih sudah delapan belas tahun, saya kesini ingin menyampaikan sesuatu kepada Nona Reva dan Nona Ericka.


Sebelum almarhum meninggal, mendiang sudah membuat surat wasiat dan ahli warisnya, untuk itu akan dibacakan oleh pengacaranya nanti.


Saya dan pak Johan bersama bi Mirna disini, ingin menyampaikan sesuatu yang pernah diucapkan oleh almarhum pak Dewantoro dan mendiang ibu Larasati, kepada kalian anak-anaknya.


Sebelum itu, saya membawa box berisi tiga kotak, masing-masing diberikan untuk kalian, nanti kalian bisa liat isinya, semuanya berisi kenangan mendiang bapak dan ibu kalian" ucap mas Bram sambil menyerahkan kardus box cukup besar dan berat kepada Reva dan Ericka.


Keduanya menerima tanpa banyak tanya, karena jujur mereka sendiri masih bingung dengan semuanya, untuk apa ayahnya masih menyimpan semua kenangan itu sementara selama ini dia selalu menyia-nyiakan mereka, keduanya lebih penasaran dengan kenangan tentang ibu mereka.


"Nak Reva, Nak Ericka... Kami adalah tiga dari yang lainnya bekerja cukup lama kepada almarhum dan almarhum ayah dan ibu kalian, kami sangat beruntung bisa mengenal dan bekerja dengan kalian.


Karena keluarga ini sudah menjadi keluarga kedua kami, apalagi kami juga bisa menyaksikan tumbuh kembang kalian dari kecil hingga dewasa, serasa membesarkan anak sendiri.


Seiring waktu, semuanya berjalan. Usia tak lagi muda, tenaga tak sekuat dulu, dan ingatan semakin lemah, bibi dan beberapa anggota pelayan yang sudah tua ingin pensiun dari pekerjaan ini.


Bukan karena kami tak betah, ataupun kerja yang berat, semuanya sama bagi kami, tapi waktu cepat berlalu, dan kami tak sekuat dulu, dan ingatlah kami akan selalu datang dan siap kapan saja jika kalian membutuhkan sesuatu." Ucap bi Mirna mengucapkan perpisahannya sambil mengusap air matanya.


"A-apa?! Bibi mau pergi dari sini?! Bibi udah gak sayang Ericka lagi? Bibi kok tega sekali sih mau pergi, huuu.." Ericka yang keadaan jiwanya masih terguncang tiba-tiba mendengar kabar perpisahan ini, membuat dirinya tak bisa menahan air mata dan emosinya.


Dia menangis dipelukkan bi Mirna disusul dengan Reva juga, bagaimanapun juga beliaulah yang mengurus dan membesarkan Ericka sejak bayi, dan sudah seperti anaknya.


"Maafkan Bibi, Non.. Tapi Bibi tidak akan pergi begitu saja, nanti setelah urusan di rumah ini selesai Bibi baru pamit pulang, menyusul suami bibi yang udah pulang duluan," ucap bi Mirna sambil mengusap punggung Ericka lembut.


"Tidak sekarang kan?!" tanya Ericka masih berurai air mata.


"Gak, masa Bibi langsung pulang dalam keadaan seperti ini di rumah!" ucap bi Mirna sambil tersenyum menggoda Ericka.

__ADS_1


"Terus ngapain pamitnya sekarang?!" tanya Ericka gusar.


"Biar kamu bisa nangis, bibi sudah lama tak mendengar kamu menangis kayak tadi, haha!" goda bi Mirna.


"Bi-biii.." rengek Ericka malu.


Diiringi senyum geli yang lainnya melihat tingkahnya itu, Reva tersenyum bisa melihat senyuman adiknya kembali, semenjak pulang dari kota sebelah dia sudah lama tak melihat adiknya tersenyum ataupun tertawa.


Dan sekarang dia bisa tersenyum maupun menangis seperti itu lagi, berarti emosinya sudah stabil dan sudah bisa menstabilkan tekanan emosinya.


"Nah gitu dong! Ketawa kek, nangis kek.. Biar kita tau perasaan kamu tuh gimana sekarang, jangan diem bae, ngeri tau! Gimana kalau kamu diam-diam kesurupan, kan kacau jadinya!" William pun ikut-ikutan menggodanya.


"Awas kamu yah?!" delik Ericka kesal digoda terus sama yang lainnya.


Hampir saja mereka lupa dengan tujuan awal dari pertemuan itu, sampai akhirnya Nico kembali mengingatkan kembali arah pembicaraan itu.


"Meskipun kami sudah pensiun, kami tetap akan memantau keadaan dan perkembangan rumah dan keluarga ini, seperti yang dikatakan oleh bi Mirna tadi, kami siap datang dan membantu jika dibutuhkan" ucap pak Johan juga.


"Tenang, mas Bram masih disini untuk membantu mereka, hanya saja dia mungkin akan jadi kepala bagian atau bos mungkin, karena gak mungkin kan jadi asisten terus!" ucap pak Johan.


Mungkin niatnya cuma bercanda, tapi dengan ucapan tegas dan muka serius khas pengawal killer membuatnya nampak jadi serius, mendengar itu mas Bram gelagapan takut yang lain salah faham, kecuali Reva, Ericka dan bi Mirna yang sudah tau sifat aslinya.


"Haha! Tenang, nanti mas Bram jadi asisten pribadi aku aja yah!" goda Reva juga.


"Ish, pak Johan jangan kayak begitu, gak enak saya nya! Canda kepala bagian!" mas Bram ikutan bercanda juga.


Mereka sedikit bersantai dalam mengobrol agar tidak terlalu tegang, apalagi sekarang masih suasana berduka, daripada bersedih terus lebih baik tersenyum sedikit mengobati luka dihati karena sebuah kehilangan ini.


"Almarhum sudah membuat surat wasiat dan menetapkan ahli warisnya kepada kalian bertiga bersaudara, salah satunya kamu Ericka.


Untuk bagian bu Elena sebagai istrinya juga dapat tapi tak seberapa, mengingat selama menikah dia juga tak ikut andil dalam membesarkan perusahaan. Yang ada hanya bikin bangkrut saja.


Nanti pembacaan dan pembagiannya akan diberitahukan setelah tuan Rendy sudah benar-benar sembuh dan bisa berkumpul seperti ini, biar sama-sama enak" ucap pengacara dan notarisnya mendiang pak Dewantoro.


"Saya setuju dengan itu, Pak. Lagian Kami juga tidak terburu-buru kok, yang penting tidak mengganggu jalannya perusahaan dan bisnis lainnya.." ujar Reva santai.


Dan tibalah pengacara dan notarisnya mendiang kakek dan ibunya yang berbicara, mereka juga menyampaikan beberapa kata untuk mereka dan sebisa mungkin menjelaskan semuanya agar mereka mengerti dan memahaminya.


"Saya pikir sekarang adalah waktunya untuk saya dan tim membacakan dan memberitahukan surat wasiat dan isi dari perjanjian ini.

__ADS_1


Karena kita tak punya waktu, kalian tahu persis bahwa ada pihak-pihak terkait untuk merebut dan memaksakan kehendaknya untuk mengambil ini semua.


Ini hak kalian, dan diserahkan untuk ibu Larasati dan kalian semuanya sebagai cucu-cucunya, kami juga sama seperti pak Nico diwasiatkan untuk menyampaikan amanah ini kepada ibu Larasati dan kepada kalian juga.


Kami harap tak ada penolakan dari kalian, ini hak kalian dan ini sah dimata hukum, adat maupun agama, karena yang berhak mendapatkan harta warisan ini adalah istri pertama beserta anak dan cucu-cucu mendiang almarhum kakek kalian" ucap pengacara itu.


"Baiklah, saya akan mewakili adik-adik saya akan menerima semuanya, dan bersedia bertanggung jawab atas semua ini yang akan dilimpahkan kepada kami.


Ini bukan semata-mata demi harta atau kekuasaan, tapi demi kakek, dan demi nenek juga mendiang ibu. Kami juga sangat berterima kasih atas dedikasi kalian selama ini membawa amanah ini bertahun-tahun tanpa henti.


Padahal ini adalah tanggung jawab yang besar, amanah yang tak main-main tapi kalian tetap memilih meneruskannya. Kalau mau, kalian bisa berhenti dan menyerah.


Kami juga tidak akan tahu apa-apa, jika tahupun kami takkan menggugat kalian ataupun marah" ucap Reva terharu melihat perjuangan suami dan rekan-rekannya.


"Tidak apa, Bu Reva.. Ini adalah amanah dan janji yang diberikan kepada ayah kami untuk meneruskan jalannya mencari kalian. Dan menyerahkan ini semuanya.


Ada perasaan lega dan tenang dihati kami setelah bertahun-tahun akhirnya bisa menemukan kalian dan menyerahkan ini semua, jadi beban dan tanggung jawab ini sedikit berkurang.


Tapi jangan salah, kami melakukan hal ini bukan sekedar melepaskan tanggung jawab ini saja, tapi kami juga ingin membantu kalian melawan istri muda kakek kalian bersama adiknya.


Aku rasa kalian sudah bertemu dengan mereka sore tadi, dan asal kalian tahu mereka sangat kejam, mereka bisa melakukan apa aja asalkan keinginan mereka terpenuhi" ucap pengacaranya itu.


"Iya, aku tahu.." gumam Ericka dan terdengar oleh mereka semua.


"Maksud kamu apa?" tanya Reva penasaran.


"Aku tahu maksud dari perkataan Pak pengacara itu, bahwa mereka memang sangat jahat dan kejam, karena.." Ericka masih ragu untuk menyimpulkannya.


"Karena apa? Apa diantara mereka tadi ada penculik kamu juga? Apa penculiknya ada diantara mereka?!" tanya Reva tak sabaran, dia mulai emosi.


"Sabar sayang, jangan terlalu emosi, kamu harus bisa mengontrol emosimu yang suka naik turun itu, ingat kamu lagi hamil!" ujar Nico gemas dengan dirinya.


"Habisnya Ericka lama banget ceritanya.." gumamnya.


"Iya, pernyataan kakak tadi benar adanya, hanya saja aku kurang yakin apa mereka itu benar orang yang sama atau bukan. Tapi aku merasa mereka begitu mirip.." ucap Ericka lagi.


"Fiks, itu pasti mereka! Dasar mereka, sudah berani-beraninya menculik adikku! Aku takkan membiarkannya kali ini!" geram Reva marah.


Nico sudah pusing sendiri melihat emosi istrinya yang gampang naik itu, Reva versi bar-bar mulai on.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2