Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Sebuah Keinginan


__ADS_3

Reva semalaman bergadang mempelajari banyak hal tentang perusahaan dan yayasan milik mendiang ibunya itu, ternyata mereka memiliki banyak anak perusahaan dan yayasan di setiap kota.


Dulu ketika mendiang ibunya masih memegang itu semua, perusahaan dan yayasan baik di kotanya maupun diluar kota berkembang pesat.


Semenjak Elena memegang itu semua, semuanya bangkrut dan tidak ada kemajuan sama sekali. Elena memakai uang perusahaan untuk keperluan pribadinya, dengan uang itu juga dia memajukan perusahaan milik pribadinya sendiri.


Sangat memalukan bukan, memakai uang perusahaan orang lain untuk memajukan perusahaannya sendiri. Bukan investasi ataupun meminjam modal, tapi mencuri namanya jika diam-diam mengambil hak orang.


"Dasar nenek sihir bus*k! Enak sekali dia memakai uang kami, setelah puas dia tinggalkan begitu saja. Sekarang dia ingin memanfaatkan adikku, tidak akan ku biarkan begitu saja" gumam Reva kesal.


Tanpa sadar dia bergadang sampai pagi, dia nampak kelelahan mempelajari banyak hal yang selama ini tak diketahui olehnya.


Dia melihat jama weker di atas mejanya, dan melihat jam menuju angka 5 subuh. Dia mengambil Hpnya dan menelpon seseorang.


"Halo, selamat pagi" sapanya kepada seseorang diseberang telpon.


"Halo, Nona Reva. Selamat pagi... Ada apa yah, kok pagi-pagi sekali sudah menelpon? Apakah ada kepentingan darurat yang harus saya kerjakan?" tanya pak Syaifuddin, ayah si kembar Stella dan Stelly.


"Pak, langsung saja yah karena saya tak punya waktu untuk membahas ini semua. Nanti untuk selebihnya akan dijelaskan secara rinci oleh orang suruhan saya.


Sesuai janji saya terdahulu, kalau saya akan memberikan hadiah istimewa jika Stella dan Stelly berhasil membantu Bapak dan Ibu mengurus perusahaan dan berubah menjadi anak yang baik.


Dan syukurlah mereka berdua bisa menjalankan amanah dan janjinya, sekarang saya akan memberikan mereka reward besar sesuai janjiku.


Pak, saya sudah berniat dari dulu ingin memberi beasiswa kepada keduanya untuk kuliah di London. Kebetulan adik saya juga ada di sana, mereka bisa menjalin hubungan pertemanan yang lebih baik lagi di sana.


Gimana Pak, setuju yah. Saya sedih loh kalau di tolak! Untuk kelengkapan dan keperluan kebutuhan sehari-hari sudah saya siapkan semua, yang penting anaknya mau Bapak sama Ibu mengizinkan sudah lebih dari cukup.


Jika semuanya sudah mengisi data fan formulir, akan disiapkan segera keperluan keberangkatan ke sana. Segera ya Pak, tidak bisa menunggu lama. Karena sebentar lagi masuk kuliah" ujar Reva menjelaskan semuanya.


"Tapi, Non. Apakah tidak terlalu besar hadiahnya, kuliah luar negeri itu mahal loh. Disini aja sekolah sangat mahal dan kuliahnya apalagi, kami tidak ingin memberatkan Nona nantinya." Ujar pak Syarifuddin merasa tidak enak dengan kebaikan Reva.


"Tenang saja, Pak. Ini semua di danai oleh yayasan milik kami, dan itu memang dikhususkan untuk anak-anak berprestasi. Dan aku lihat Stella dan Stelly punya bakat soal fashion, bisa dikembangkan di sana" ujar Reva memberi alasan bagus untuk itu.


"Baiklah kalau begitu, nanti saya akan bicarakan soal ini kepada istri saya dan Stella juga Stelly" akhirnya pak Syarifuddin setuju juga.


"Ok, deal ya Pak. Nanti siang anak buah saya akan menemui keluarga Bapak untuk membicarakan soal ini sekaligus menjelaskan lebih rinci lagi tentang semuanya, jika saja ada yang terlewat oleh saya.


Sekalian meminta data keluarga Bapak, terutama Stella dan Stelly. Agar cepat diproses dan siap berangkat tidak menunggu lama" ujar Reva lagi.


Akhirnya pembicaraan itu terhenti juga, Reva lega semoga semua rencananya berjalan dengan lancar tidak ada hambatan sama sekali.


Dengan mengirimkan Stella dan Stelly dia berharap keduanya bisa menemukan Ericka di sana, jika benar dia kuliah dipastikan keduanya pasti bertemu. Syukur-syukur jika kuliah ditempat yang sama.


Jika tidak, maka Reva sudah menyiapkan rencana cadangan lainnya untuk mencari keberadaan Ericka.


//


Sementara itu ditempat lain, tempat yang begitu asing.


Ericka terbangun dari tidurnya, dia menatap disekelilingnya yang begitu nampak aneh baginya. Bukan rumah sakit ataupun kamarnya, tapi ini dimana?


Kamar yang ditempati Ericka nampak begitu minimalis dan klasik, meskipun sederhana masih ada kesan estetik dan original khas bangunan jaman dulu.

__ADS_1


Furniture dan peralatan yang ada di sana nampak sudah tua, tapi masih bagus dan bisa digunakan. Sepertinya semuanya dirawat dengan baik oleh pemiliknya.


Ericka merasa berada di jaman dulu, dengan pakaian serba putih melekat ditubuhnya dress tidur khas wanita Eropa jaman dulu. Dia memandangi dirinya didepan cermin rias didepannya, perban yang melekat diwajahnya sudah terlepas.


Menyisakan bekas luka sayatan yang panjang diwajahnya berbentuk huruf X, memberikan kesan mengerikan dan tentunya orang-orang akan takut melihatnya.


"Ya Tuhan, dimana aku sekarang? Apa yang aku lakukan disini? Kenapa luka di wajahku tidak sembuh juga, apa ada yang salah??" gumamnya menatap sedih wajahnya.


Terdengar suara deritan pintu kayu terbuka, ada seseorang masuk ke kamarnya yang mengagetkan Ericka sehingga refleks menoleh kearah pintu itu.


"Akkh!" seorang pelayan wanita menjerit ketakutan melihatnya.


Dia mengira sedang melihat seorang monster, sehingga orang-orang yang ada di rumah itu berlari ke kamar itu.


( Karena saat ini Ericka berada di London, semua orang memakai bahasa Inggris. Jadi untuk mempermudah kita terjemahkan ke bahasa Indonesia saja yah).


"Ada apa, Annie? Kenapa kau berteriak seperti itu?" Seorang pelayan tua bertubuh sedikit tambun menghampirinya.


"Di-didalam ada mo-monster menakutkan! Hihh!" katanya merinding.


Pelayan tua itu mengintip sedikit kedalam kamar, dia melihat Ericka duduk dipinggir kasurnya dengan wajah tertunduk.


"Dia bukan monster, dia manusia seperti kita. Sepertinya dia juga mengalami nasib menyedihkan, tapi lebih tragis dari kita." Ujar pelayan itu menatap sedih kearah Ericka.


"Tapi kata mereka..." pelayan muda bernama Annie itu menatap curiga kearah para pelayan muda lainnya, mereka nampak senang berhasil mengerjainya lagi.


"Kenapa? Kau dikerjain lagi oleh mereka? Sudah kukatakan, jangan mudah percaya begitu saja dengan orang-orang yang ada disini.


"Permisi, Nona. Bolehkah kami masuk?" ujarnya kepada Ericka.


Mendengar ada orang yang menyapanya, Ericka langsung memalingkan wajahnya sambil membelakangi mereka. Dia tidak ingin ada yang ketakutan lagi olehnya.


"Tidak usah takut atau khawatir, kami tidak akan menyakitimu. Kami hanya ingin berkenalan denganmu" ujar pelayan tua itu.


"Ta-tapi..." Ericka kesulitan dalam berbicara dia takut mereka semua tak mengerti yang dia bicarakan.


"Nona, maafkan aku tadi. Aku tak bermaksud apapun terhadapmu, aku hanya kaget saja. Maafkan aku" ujar Annie terlihat menyesal sekali.


Ericka bisa menangkap perkataan mereka, dia tahu kalau mereka orang-orang yang baik. pelan-pelan dia menghadap kearah mereka berdua, dia bersiap jika keduanya lari ketakutan jika melihat wajahnya.


"Tidak apa, tidak usah khawatir. Kami tidak apa-apa kok, ya sudahlah... Kamu bersiap-siaplah, nanti akan ada perjamuan oleh tuan kita. Kamu mandi dan berdandan rapi yah" pinta pelayan tua itu.


Lalu dia menunjukkan arah kamar mandi yang ada didalam kamarnya, setidaknya Ericka senang di kamar itu dia tidur sendirian lengkap dengan kamar mandinya, sehingga dia tidak perlu berbagi dengan orang lain.


Dia takut jika punya teman kamar, maka orang itu akan tidak nyaman dengannya. Dia tidak ingin memiliki banyak musuh, dia hanya ingin hidup tenang.


Setelah selesai mandi, dia melihat ada gaun sudah tersedia diatas kasurnya lengkap dengan sepatu dan aksesoris lainnya. Dia mengira pasti pelayan tadi yang menyiapkan itu semua untuknya.


Setelah dia amati dan memakainya, dia menyadari jika itu adalah pakaian pelayan khas Eropa. Lengkap dengan celemek putih berenda didepannya dengan memakai bandana putih dan berenda jua, dia memakai stocking putih menutupi kaki jenjangnya dan memakai high heels warna hitam.


"Waww, kau sangat cocok sekali dengan gaun ini! Haha! Sangat cocok jika dipadukan dengan wajahmu yang buruk rupa itu, dan pantasnya diletakkan paling belakang rumah ini! Haha!"


Beberapa pelayan datang menghampirinya di kamar, dan melihatnya memakai pakaian pelayan juga mereka tertawa mengejeknya. Sebenarnya mereka sedikit cemburu pada Ericka, meskipun kecantikannya tertutupi oleh luka di wajah itu tetapi bentuk tubuh ideal tak bisa ditutupi oleh apapun termasuk gaun pelayan itu.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan disini?! Ayo bubar semuanya, sebentar lagi acara akan dimulai! Ayo semuanya turun" ujar pelayan tua tadi baru datang membubarkan mereka semua.


Dia juga melihat Annie saling ledek dengan para pelayan kurang ajar tadi, entah dia merasa senang bisa mengenal keduanya. Dia teringat dengan bi Mirna dan Milah, ah... Ericka meneteskan air matanya karena merindukan keduanya.


"Mari kita turun, sekalian berkenalan dengan yang lainnya..." ujar pelayan tua tadi.


"Baiklah, o ya... Namaku Ericka, kamu Annie kan? Dan Bibi?" ucap Ericka mengenalkan diri sambil bertanya siapa nama pelayan tua itu.


"Namaku Belinda, aku sudah puluhan tahun bekerja disini. Semoga kalian berdua tidak mengalami nasib sepertiku" ujar Belinda dengan wajah sendu.


"Kami sudah ada disini, mau gak mau kami harus menjalani hidup yang sama sepertimu. Tapi aku senang bisa bertemu denganmu, setidaknya kami tidak sendirian karena ada orang yang mau membantu kami kapanpun" sahut Annie sambil memeluk Belinda.


"Karena aku tak ingin kalian yang masih muda harus menjalani kerasnya hidup disini. Kalian masih muda, masih ada kesempatan" kata Belinda lagi.


"Jika ada kesempatan lagi, apakah kau akan menggunakannya lagi? Apa yang akan kau lakukan jika punya kesempatan itu?" Ericka pun ikut bertanya.


"Mungkin aku akan kembali ke keluargaku, tapi rasanya tidak mungkin. Orang tuaku mungkin sudah meninggal, aku punya satu orang kakak perempuan, dan mungkin juga dia sudah lebih tua dariku dan sudah lupa padaku." Ucap Belinda seperti menerawang mengingat masa lalunya.


"Memangnya pada usia berapa kau dibawa kesini?" tanya Annie penasaran.


"Mungkin lebih muda dari kalian ..." katanya lirih.


Annie dan Ericka sadar mungkin saat ini Belinda lagi sedih karena mengingat keluarganya sudah sangat jauh darinya.


"Mari kita turun, jangan sampai terlambat. Jika tidak kita bisa dihukum" ujar Annie mengalihkan perhatian.


Mereka bergegas turun kebawah, Ericka tidak menyadari jika dia berada di sebuah gedung yang sangat luas dan besar. Jika dirunutkan, dia turun ke bawah sampai ke lantai tiga bisa jadi ini lantai bawah atau mungkin ada lantai-lantai lain dibawah sana.


Karena saat dia di sana, tak ada pintu atau jendela yang menghadap keluar. Mereka sudah seperti didalam penjara saja.


"Tunggu!" seorang pria bertubuh tegap badannya besar memakai seragam keamanan, menghentikan mereka.


"Kau siapa, gadis jelek?!" katanya kasar kepada Ericka


"Jaga bicaramu Raymond!" bentak Belinda kepada lelaki itu.


"Dia ini pegawai baru disini, jangan ganggu dia!" Annie pun ikut membantunya.


"Oh, begitu. Kenapa bos merekrut gadis buruk rupa sepertinya! Bikin mual saja aku melihatnya" ujar Raymond, mulutnya kasar sekali.


"Dasar rasis!" umpat Annie, tentu saja dia bicara setengah berbisik karna takut juga jika Raymond bisa mendengar.


Lelaki bule itu sangat kejam, dengan perempuan saja dia berani memukul apalagi dengan sesama lelaki. Sudah babak belur olehnya."Setidaknya tutupi wajahmu dengan ini!" kata Raymond sambil melempar sebuah kain putih kearah Ericka.


Ericka memakai kain perca putih itu untuk menutupi wajahnya sebagai maskernya, dia mengikuti rombongan berbaris didepannya.


Di sana sudah berdiri seorang pria berkulit hitam berwajah sangar menatap mereka tajam. Dibelakangnya ada seorang lelaki tua yang sedang mengamati para pelayan wanita didepannya.


"Akhirnya, gadis itu datang juga! Tapi kenapa dia memakai penutup wajahnya? Apakah dia sedang menutupi kecantikannya, dan bermaksud ingin menggodaku? Hihi! Sungguh menarik sekali" ujar lelaki tua itu menatap liar kearah Ericka.


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2