
Disaat Rendy sampai di rumah sakit, di sana sudah mulai ramai oleh orang-orang entah itu dari keluarga pasien atau orang ingin melihat kehebohan saja.
Ada beberapa mobil polisi didepan, dan semua orang dihalau untuk tidak masuk kedalam, terlihat ada beberapa wartawan mencoba untuk masuk tapi dihalangi oleh polisi karena itu sangat berbahaya, mengingat tersangka membawa senjata tajam.
Semua wartawan dan orang-orang yang ada didalam tadi sudah disuruh keluar lagi oleh petugas rumah sakit dan kepolisian, untuk memudahkan mereka dalam bertugas menangani pelaku, apalagi pelaku memegang senjata tajam, dan sangat berbahaya bagi semua orang yang ada di sana.
"Mau kemana, Pak?" tanya salah satu polisi yang berjaga didepan.
"Saya adalah keluarga orang yang di sandera, Pak" jawab Rendy.
"Mereka orang tuamu?" tanya polisi itu penuh selidik.
"Sandera adalah ayah saya, sedangkan pelaku adalah ibu tiri saya.." jawab Rendy lagi.
"Baiklah, tapi anda tetap dalam pendampingan dan pengawasan kami" ucap polisi itu.
Lalu polisi itu seperti sedang melaporkan sesuatu, dan kemudian dia membawa Rendy masuk kedalam. Dia melihat ada beberapa polisi, petugas rumah sakit dan orang yang sedang bernegosiasi dengan Elena agar melepaskan pak Dewantoro dalam dekapannya.
Elena seperti ketakutan dan kebingungan, matanya nanar menatap kesegala arah, pisau ditangannya terus menempel dileher pak Dewantoro. Ketika matanya beradu dengan mata Rendy, tatapannya begitu tajam dan tanpa sadar tangannya akan menusukkan pisau itu keleher suaminya sendiri.
"Ayah! Tidak!!" teriak Rendy.
Rendy menerobos masuk dan mengabaikan peringatan polisi, dia berlari masuk ke ruangan itu, Rendy mendorong siapapun yang ada di sana yang mencoba menghentikannya, melihat itu Elena tambah menjadi kalut, tiba-tiba..
Sreeett!!
Pisau itu menusuk menggores kulit cukup dalam, darahnya muncrat kemana-mana mengenai Rendy dan pak Dewantoro termasuk dirinya sendiri. Elena gelagapan saat dia tanpa sengaja melukai seseorang dengan pisaunya.
Traang!
Pisau itu terlepas dari genggamannya, saat dia melihat darah ditangannya dan ditubuh korban. Polisi sigap mengamankan senjata itu dan meringkuk Elena, sedangkan korban terkapar tak sadarkan diri.
"Re-Rendy.. " ucap pak Dewantoro terbata-bata saat melihat anaknya jatuh terluka karena baru saja menyelamatkan nyawanya.
"Tidak! Lepaskan saya, lepaskan!" teriak Elena memberontak berusaha melepaskan dari cengkraman para polisi.
"Dengar, ini tidak akan berakhir sampai aku bisa menghancurkan keluargamu, ingat itu!" teriak Elena.
Plak!
Pak Dewantoro tak bisa lagi menahan emosinya dan langsung menampar Elena, tentu saja itu mengejutkan wanita paruh baya itu, bagaimana tidak lelaki tua itu selama ini selalu mendengarkannya, dan tak sekalipun dia membentak ataupun memukulnya, dan sekarang dia melakukan hal itu kepadanya. Bukannya berhenti dia malah terus mengeluarkan sumpah serapahnya.
"Aku akan memenjarakan dirimu seumur hidup, aku takkan memaafkan semua kesalahanmu itu! Aku berjanji atas nama mendiang istri dan anak-anakku.." ucap pak Dewantoro sambil berkaca-kaca, dengan wajah memerah menahan emosinya.
Elena langsung dibawa ke kantor polisi dan langsung dipenjara saat itu juga, sedangkan pak Dewantoro mengikuti dokter dan para perawat yang membawa Rendy untuk ditangani segera.
Dalam hatinya terus mengutuki dirinya sendiri atas semua kebodohan dirinya selama ini, dia bahkan berjanji dan bersumpah akan terus menjaga anak-anaknya, dan mulai mengurung diri atas semua kesalahannya selama ini.
"Pak, anda ikut dengan kami. Luka anda juga harus diobati.." ucap salah satu perawat menariknya untuk segera diobati.
"Ta-tapi anak saya.." ucapnya bingung dan khawatir.
__ADS_1
"Percayakan saja pada kami, Pak.. Doakan saja semuanya baik-baik saja," ucap perawat itu lagi.
Pak Dewantoro tidak begitu yakin dengan ucapan perawat itu, bagaimana tidak dengan mata kepalanya sendiri dia melihat Rendy merebut pisau ditangan Elena, perempuan paruh baya itu mengayunkan pisaunya dan mengenai sisi perut Rendy, luka sambetan itu cukup dalam hingga banyak mengeluarkan darah.
Tidak lama kemudian, Reva datang bersama Nico dan Andriana, keduanya menangis sesenggukan sambil menunggu di luar ruang ICU. Pak Dewantoro tidak berani mendekati ataupun berbicara dengan Reva, rasa bersalahnya lebih besar dari itu.
Tidak lama kemudian datang beberapa orang termasuk William, mereka adalah orang-orangnya Nico, mereka datang untuk menjaga keamanan Rendy selama dirawat di rumah sakit itu, dan William bersama tim pengacaranya mulai menuntut Elena atas semua perbuatannya ini.
"Pak..." Nico mendekati pak Dewantoro yang berdiri sendiri di pojok ruang tunggu itu.
"Nico, maafkan saya... Saya serahkan anak-anak saya kepadamu, dan saya siap menerima segala hukuman dan konsekuensinya," ucap pak Dewantoro.
"Bukannya saya sok menghakimi, tapi... Bukannya selama ini anda memang sudah lepas tanggung jawab dari mereka? Dan tentu saja anda harus bertanggung jawab atas apa yang anda lakukan selama ini.
Anda seharusnya bisa melihat apa saja yang mereka lalui selama ini, seharusnya anda juga bisa menilai mereka selama disiksa, dihina dan caci maki yang diberikan oleh istri anda itu.
Sebaiknya anda pikirkan saja diri anda sendiri, saya kemari mewakili istri saya meskipun saya tak yakin dia menyetujuinya, lebih baik anda pulang dan beristirahat. Dan silakan pikirkan apa yang harus anda lakukan setelah ini.." ucap Nico sambil meninggalkan dirinya sendirian lagi.
Mendengar hal itu, hati pak Dewantoro rasanya sangat sakit sekali, secara tak langsung mereka yang ada di sana mengusirnya dan tak membutuhkan atau menginginkan dirinya berada di sana.
"Kami membutuhkan donor darah yang sama seperti pasien, dia kehilangan banyak darah. Apakah kalian memiliki jenis golongan darah yang sama seperti pasien?" tanya dokter kepada semua orang yang ada di sana.
"Memangnya golongan darahnya apa, Dok?" tanya Nico.
"Dia memiliki golongan darah cukup langka, golongan darah O. Apakah golongan darahmu sama?" tanya dokter itu balik.
Nico hanya menggeleng lesu, apalagi Reva meskipun mereka bersaudara kandung tapi golongan darah mereka berbeda. Pak Dewantoro yang berdiri tak jauh dari sana diam-diam menemui dokter di ruangannya.
"Dokter, jenis darahku sama dengan pasien. Kamu bisa mengambilnya sebanyak mungkin untuk menyelamatkannya" ucap pak Dewantoro.
"Baiklah, tapi tolong rahasiakan semua ini" ucap pak Dewantoro lagi.
"Kenapa, Pak? Bagaimana jika keluarga pasien lain menanyakan siapa pendonor itu?" tanya dokter penasaran dengan orang yang mau mendonorkan darah itu.
"Pasien telah menyelamatkan nyawa saya dengan mempertaruhkan nyawanya, saya hanya ingin membalasnya saja tanpa diketahui yang lain" jawab pak Dewantoro lagi.
"Baiklah, anda silakan ikuti saya.." ucap dokter itu lagi.
Setelah melakukan pemeriksaan dan menunggu hasilnya, akhirnya dia melakukan pendonoran itu juga. Dia ditidurkan didekat Rendy yang masih tak sadarkan diri, begitu banyak selang didalam tubuh putranya itu.
Hatinya sangat sedih melihat kondisi putranya itu, ketika selang sudah dipasang dipergelangan tangannya, darah mengalir memasuki tubuh putranya itu.
"Semoga ini bisa menyelamatkan nyawamu, Nak. Dan maafkan apa yang ayah lakukan selama ini kepada kalian bertiga.." gumam pak Dewantoro sambil menitikkan air matanya sendu.
Pandangannya tak pernah lepas dari wajah Rendy, wajah anaknya itu begitu pucat dan rasa bersalahnya begitu besar melihat kondisi Rendy saat ini. Dia memejamkan mata dan berharap ketika matanya terbuka putranya segera bangun.
Beberapa saat kemudian, pendonoran itu selesai. Kepala pak Dewantoro begitu pusing setelah kehilangan darah cukup banyak untuk menyelamatkan putranya itu. Dia diberikan beberapa vitamin, susu dan beberapa resep untuk mengembalikan tenaganya kembali.
Setelah itu pak Dewantoro langsung pulang, dia tak peduli dengan keadaan fisiknya yang semakin melemah itu, tubuhnya bergetar hebat rasa sakit, pusing bahkan mual dia rasakan.
"Aku pikir tubuhku cukup kuat untuk menahan semuanya, ternyata tubuh tua ini tak sehebat dulu.." gumamnya.
__ADS_1
Dia memilih menyetir sendiri mobilnya, pandangan berkunang-kunang penglihatannya begitu kabur dan tiba-tiba terlintas kembali kenangannya bersama anak-anaknya dan mendiang istrinya Larasati, dia menyetir sambil melamun membayangkan kebahagiaan itu, dan...
Ciiiit!
Braaaak! Dhummm!
Mobil pak Dewantoro yang dia bawa menabrak mobil didepannya, dia tak bisa mengendalikan arah laju mobilnya dan kecelakaan itupun terjadi.
Keadaan dijalan itu cukup ramai, sehingga banyak mobil berhenti untuk menolongnya dan mobil yang didepannya. Dia tak memperdulikan keadaan dirinya yang terluka parah, dia langsung membawa ponselnya dan berlari menyetop mobil taksi yang lewat.
"Astaghfirullah, Bapak habis kecelakaan?! Saya bawa ke rumah sakit ya Pak!" ucap sopir taksi itu.
Mobil itu cukup lajunya membawa pak Dewantoro menuju rumah sakit yang tak terlalu jauh dari sana, tapi ketika mobil itu melewati area pemakaman pak Dewantoro memintanya menepi.
"Ngapain kesini, Pak?! Rumah sakit masih diujung sana" tanya si supir bingung.
"Tidak apa, disini saja" jawab pak Dewantoro setelah memberikan uangnya dia langsung turun.
Melihat lelaki tua itu berjalan masuk ke area pemakaman dalam keadaan terluka parah begitu, membuat si supir khawatir juga. Dia tak ingin disebut lalai membiarkan penumpangnya pergi dalam keadaan seperti itu.
"Lebih baik aku menunggunya disini saja, siapa tahu dia kembali lagi. Apalagi disini areanya sepi, tak banyak taksi yang lewat.." ucap supir taksi itu.
Sementara itu pak Dewantoro berjalan lurus memasuki area pemakaman itu, dengan berjalan terseok-seok dia mencari sesuatu didalam pemakaman itu.
"Di sana rupanya.." gumamnya sambil tersenyum.
Dia menghampiri kuburan yang terletak dibawah pohon, sehingga kuburan itu terlindung dari panas sengatan sinar matahari. Pak Dewantoro duduk dibawahnya sambil memandangi kuburan itu.
"Kau lihat sekarang, semuanya terjadi sesuai dengan ucapanmu dulu. Aku terkena karma apa yang telah aku buat kepadamu... Luka ini tak seberapa dibandingkan rasa sakit yang kau terima semasa hidupmu dulu.
Sayang, maafkan aku.. Aku rasa waktuku tak lama lagi, aku tak sabar ingin menemuimu. Betapa aku sangat merindukanmu selama ini dan berusaha memendamnya sendirian..
Aku bersalah kepadamu, kepada anak-anak kita... Terutama kepada anak itu, namanya Ericka. Dia begitu mirip denganmu, cantik..
Ketika dia marah, haha.. Begitu mirip denganmu, sejenak aku pikir itu kamu..
Aku bersalah kepadamu, kepadanya... Aku sungguh minta maaf, maukah kamu mau menerima dan memaafkan aku lagii.." ucapnya sambil memeluk rumah peristirahatan terakhir mendiang istrinya, Larasati Pohan.
Sementara itu supir taksi menunggunya gelisah karena pak Dewantoro tak kunjung keluar dari area pemakaman itu, dia ingin menyusulnya tapi takut dianggap lancang lagi.
"Tapi ini sudah cukup lama dia di sana, apa yang dia lakukan yah? Didalam sana tak ada pintu lain untuk dia bisa keluar dari sana, ini adalah satu-satunya pintu di area pemakaman ini" gumam sopir itu.
Setelah beberapa kali menimbang akhirnya dia memutuskan untuk masuk dan menemui pak Dewantoro, dia menyusuri area pemakaman sampai dia melihat sosok yang sedang tertidur sambil memeluk sebuah makam, orang yang dia tunggu dari tadi ada di sana.
"Astaghfirullah, Pak!" sopir itu panik melihat begitu banyak darah dari tubuh pak Dewantoro membasahi makam itu.
Dia langsung menelpon ambulans untuk meminta bantuan, dia melihat ponsel di saku baju pak Dewantoro dan berinisiatif ingin menghubungi siapapun yang ada di ponsel itu.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1
Menurut kalian, apakah pak Dewantoro sekarat tak tertolong atau selamat?
Coba komen dibawah yah, dan jangan lupa dukungannya 🥰🙏