
Rendy masih bertahan berdiam diri dibawah kolong meja itu, dia tidak ingin bertindak ceroboh apalagi didepan sekretaris itu. Bisa-bisa dia diteriakin lelaki mesum, bisa hancur reputasinya.
Tapi untuk tidak berlangsung lama, pak Herman dan Ericka keluar dari ruangan itu bersama orang-orangnya Ericka juga. Terlihat pak Herman menunduk tidak berani menatap Ericka.
"Terima kasih kerjasamanya, Pak. Mungkin mulai besok aku akan datang kesini sebagai pemimpin baru kalian, aku harap anda tidak mengingkari janji anda" ujar Ericka ramah sambil menjabat tangannya.
Meskipun begitu tak sama sekali membuat pak Herman senang, karena saat ini dia dibawah tekanan Ericka. Dia menjabat tangan Ericka dengan terpaksa bersama senyum kakunya itu.
Setelah itu Ericka pun pergi dari sana, Rendy tidak bisa berbuat apa-apa lagi dia hanya bisa menunggu pak Herman dan sekretarisnya itu keluar baru dia pergi lagi.
"Akh! akhirnya dia pergi juga, sayang pesankan aku makanan, aku lapar sekali karena melewati makan siangku.." ujar pak Herman sambil menghampiri sekretarisnya itu.
"Ternyata mereka berselingkuh, dasar lelaki mesum kau!" umpat Rendy kesal melihat kelakuan pak Herman itu.
Yang membuatnya lebih terkejut lagi yaitu tindakan mereka saat ini, pak Herman mendekati sekretarisnya itu yang masih duduk di sana.
Dia menciumi wanita yang usianya jauh lebih muda darinya itu, Rendy bisa melihat sekilas apa yang mereka perbuat, dia melengos kesal dan ada pikiran menyesal harus bersembunyi di sana.
"Sudah, hentikan! Bagaimana jika ada orang lain yang melihat?" ujar wanita itu menghentikannya.
"Memangnya siapa yang akan datang? Tidak ada, di lantai ini hanya ada kita berdua saja. Kamu pesan makanan yah, delivery aja. Aku sudah tak ada tenaga berjalan keluar.
Bagaimana sambil menunggu makanan makan, kita pemanasan dulu, olahraga kecil-kecilan aja yah, hehe!" terdengar suara me.sum itu.
Rendy harus menutup mata dengan apa yang dia saksikan saat ini, karena lelaki tua itu bersama selingkuhannya itu melakukan hal yang lebih gila lagi.
Mereka berhubungan intim di sofa tamu di ruangan itu, Rendy muak harus melihat itu terlintas ide gila di kepalanya.
Pluk!
Dia melempari mereka dengan batu kerikil kecil yang dia ambil dari pot bunga di samping meja itu, membuat pak Herman maupun sekretarisnya itu terkejut.
"Apa ini?! Siapa yang berani mengganggu kita?!" ujar pak Herman kesel.
Setelah itu mereka melakukan kegiatan itu lagi, dan Rendy mengulangi perbuatannya lagi dan lagi sampai mereka benar-benar merasa risih.
"Sudah ya Pak, kayaknya emang disuruh kita berhenti deh, mungkin para penunggu kantor ini tidak nyaman oleh perbuatan kita," ujar sekretarisnya itu.
"Tidak ada yang seperti itu! Itu hanya rumor tak jelas, ayo kita pindah saja dari sini! Kita bisa melakukan hal itu di ruangan saya, hehe!" ujarnya sambil menggendong wanitanya itu.
Mereka masuk kedalam ruangan pak Herman, dan melanjutkan 'kegiatan' mereka yang sempat tertunda tadi.
"Sialan mereka, benar-benar tidak tahu diri! Aku harus memisahkan mereka, tapi bagaimana caranya? Hem,, aku suruh Andriana saja. Dia punya ide yang gila dalam mengurus orang-orang seperti mereka itu" ujar Rendy sambil keluar dari kolong meja itu.
Dia pergi dari tempat itu, ia berusaha secepat mungkin turun dan ingin menemui Ericka, tapi tentu saja tidak mungkin karena Ericka sudah lama pergi dari tempat itu.
__ADS_1
"Ah, sial! Coba aku lebih cepat lagi mungkin aku tidak akan kehilangan lagi" ujarnya sambil merutuki diri sendiri.
Dia menuju mobilnya di area parkiran itu, saat dia masuk kedalam mobil itu dia melihat begitu banyak panggilan masuk dari ponselnya yang tidak sengaja tertinggal olehnya tadi.
"Kak Reva? Kenapa yah? Hemm, mungkin dia lagi menunggu makanan yang tak sampai-sampai. Sorry kak, ada urusan yang lebih penting daripada makanan ini" ujarnya sambil melajukan mobilnya kejalanan lagi.
Dia sedikit merasa beruntung saja karena ponselnya tertinggal, jika tidak bunyi ponsel itu akan mengungkapkan persembunyiannya tadi.
"Untung saja, tapi.. Apakah benar gadis itu tadi adalah Ericka? Aku sangat penasaran sekali, seperti apa wajahnya? Apakah dia benar-benar adikku yang sudah lama menghilang itu?" ujarnya sambil mengemudikan mobilnya.
Sebelumnya, saat di apartemen tadi. Reva sangat terkejut mendapat pesan singkat yang disertai oleh foto itu. Dia berulang kali memastikan kalau foto itu asli.
"Ini benar-benar adikku, Ericka! Sudah pasti, tapi sejak kapan dia kembali? Kenapa ayah tak memberitahuku?
Ah, lelaki tua itu takkan mau memberitahukan apapun kalau soal itu, baginya kami ini adalah ancaman dan gangguan bagi dirinya dan istrinya itu" ujar Reva tersenyum sinis saat menyadari realita yang ada.
Dia memutuskan memastikan sendiri untuk mengecek kebenaran ini, dia langsung pergi dari tempat itu menuju rumah ayahnya. Berulang kali dia menelepon Rendy tapi tak pernah diangkat oleh anak itu.
"Dasar bocah ini, ngapain sih telponku gak diangkat?! Beli makanan kok lama banget, emang sejauh mana dia beli makanannya itu?!" gerutunya kesal.
Dengan berat hati dia menurunkan egonya untuk datang kembali ke rumah itu, dia mau gak mau harus kembali bertemu ayah dan istrinya itu.
"Hufft, jika karena bukan Ericka.. Aku paling malas ke rumah ini" ujarnya sambil tersenyum getir.
"Apakah ayahku ada?" tanyanya kepada pengawal yang berjaga didepan pintu rumah itu.
"Ada, Nona" jawab mereka sambil membukakan pintunya itu.
Dengan langkah kaki berat dia menuju ruang kerja pribadi ayahnya itu, dia tahu betul kebiasaan ayahnya itu. Karena ruang kerja pribadi itu sudah menjadi tempat favoritnya merenungkan hidupnya itu.
"No-Nona?!" kata Bram kaget melihat kedatangan Reva.
"Ayah?" tanyanya.
"Ada.." jawab mas Bram.
Ceklek!
Dia membuka pintu itu dan melihat ayahnya duduk di kursi kerjanya itu, pak Dewantoro sangat kaget melihat kedatangan Reva itu. Sudah berbulan-bulan lamanya mereka tak pernah bertemu ataupun berkirim pesan.
"Reva, anakku! Ya Tuhan, ayah sangat merindukanmu, Reva.." ujar pak Dewantoro ingin memeluk dirinya.
Kali ini Reva membiarkannya, dia tak membalas pelukan itu. Tubuhnya sekejap kaku saat dipeluk ayahnya itu, perasaannya sudah hilang digantikan rasa benci yang mendalam.
"Apa yang membuatmu datang kemari, sayang? Apakah lelaki bajingan itu menyakitimu? Apakah dia berselingkuh?" tanya pak Dewantoro terlihat cemas saat melihatnya itu.
__ADS_1
Reva tersenyum sinis mendengar perkataan ayahnya itu, dia duduk di kursi depan meja ayahnya itu. Kini mereka saling berhadapan, menatap serius dan mendadak suasana menjadi tegang, dan hening.
"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan" ujar pak Dewantoro.
"Aku tak pandai berbasa-basi, anda tahu betul pasti sifat saya seperti apa. Katakan saja padaku, apakah ini benar?" tanyanya sambil menunjukan foto Ericka didalam ponselnya itu.
"Darimana kamu mendapatkannya?" tanya pak Dewantoro sedikit terkejut melihat Reva mengetahui kedatangan Ericka.
"Berarti benar adanya foto ini? Anak tirimu itu sepertinya benar-benar risih sekali dengan kedatangan Ericka.." ujar Reva tersenyum pahit.
Ternyata yang mengirimkan foto itu adalah Pramudya, mungkin dia tak ingin ada Ericka di rumah itu. Karena dia tak ingin menjadi target selanjutnya Ericka.
"Kamu datang kesini hanya ingin menanyakan hal itu, Reva? Bukan karena merindukan ayah?" tanya pak Dewantoro sedih.
Reva mengabaikan pak Dewantoro, tidak peduli dengan keadaannya saat ini. Dia tahu tak ada gunanya berlama-lama tinggal di sana, ayahnya pasti akan menahannya dengan segala cara.
"Baiklah, terima kasih atas informasinya Pak. Saya permisi dulu" ujar Reva sambil bangun dari tempat duduknya itu.
Pak Dewantoro berusaha mencegah dirinya, Reva berbalik kearahnya dan menatap ayahnya itu.
"Semoga kedatangan Ericka membawa perubahan baik dalam rumah ini, aku harap anda memperlakukan dirinya dengan baik.
Mau anda berulang kali mengatakan dan tidak mengakui keberadaan dirinya, tetap fakta tak bisa menyembunyikan identitas asli anak itu sebagai anak kandungmu, yang sempat tak anda akui dulu.." ujarnya meninggalkan pak Dewantoro diam tercenung saat mendengarkan Reva berbicara seperti itu.
Saat dia membuka pintu ruangan itu, sudah ada Elena yang terpampang didepannya. Wanita paruh baya itu menatapnya curiga dengan pandangan sinis.
"Apa yang kau lakukan disini?!" tanyanya ketus.
"Bukan urusanmu!" jawab Reva cuek.
"Kau pasti sudah mendapat berita atas kepulangannya bukan, kalau begitu tak perlu basa-basi menyapa ayahmu itu, datang dan tengok saja dirinya.
Tapi sayangnya anak itu sudah pergi sejak tadi belum pulang juga, mungkin dia sedang menikmati jadi wanita cantik dan kuat bisa menindas orang-orang" ujar Elena itu.
Reva mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Elena itu, dia menatap wanita itu tidak percaya. Tapi Elena hanya tersenyum sinis dan masuk ke ruangan ayahnya itu. Reva melihat kearah mas Bram, lelaki itu hanya tersenyum saja melihatnya.
"Apa yang dia katakan itu benar, Nona. Gadis kecil kita itu sudah tumbuh besar, dia sekarang sudah bisa menjaga dirinya sendiri" ujar mas Bram, seolah dia tahu kalau Reva meminta penjelasan atas perkataan Elena tadi.
Tapi dia harus menelan pil pahit karena tak bisa bertemu dengan Ericka, karena dia sedang keluar. Tak ada yang tahu kemana dan mau apa gadis itu pergi.
Dengan langkah lesu Reva meninggalkan tempat itu, dia mengemudikan mobilnya sambil keluar dari area itu. Disaat mobilnya melaju keluar dari perumahan itu, dia tak sengaja berpapasan dengan mobil Ericka yang baru datang masuk ke dalam perumahan itu.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1