Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Pelarian Yang Sia-Sia


__ADS_3

"Apa maksudmu? Menikah?! Aku tidak akan menikah dengan siapapun hari ini! Aku hanya pergi bekerja hari ini!" teriak Ericka tak mengerti.


Dia kebingungan dan takut mendengar kabar yang baru saja dia ketahui, orang-orang yang ada di sana juga tak kalah kebingungan. Baru kali ini mereka merias calon pengantin yang tak tahu hari pernikahannya.


"Oh, mungkin kami semua salah mendengar. Maaf ya Nona, sebentar lagi riasannya selesai. Bersabar dulu yah..." salah seorang wanita paruh baya yang ada di sana dengan sabar menenangkan Ericka.


"Tapi gaun ini?!" tanya Ericka bingung dengan dirinya yang masih memakai gaun pengantin itu.


"Tidak apa, anda hanya menjadi model gaun ini sementara. Haha!" ujarnya lagi berusaha membuat suasana sesantai mungkin.


Tapi Ericka tidak bisa menerima semua ini, dia tahu pasti ada sesuatu dibalik kepergian bersama mr. Alfred. Setelah bertahun-tahun dia disiksa dan segala hinaan ditambah lagi sering kali diabaikan, dibohongi dan selalu jadi pelampiasan emosi mereka.


Dia tahu pasti ada yang tak beres, memberontak bukan jalan yang benar saat ini, dia sekarang lagi dalam pengawasan. Tidak ada tempat untuk mengadu ataupun tempat berlindung baginya, dialah satu-satunya yang bisa menolong dirinya sendiri.


"Bagaimana? Apa sudah selesai?" tanya mr. Alfred.


Dia kembali lagi ke ruangan itu untuk mengecek persiapan Ericka, si calon pengantin itu.


"Sudah, Tuan. Apa ada yang perlu ditambahkan lagi?" tanya wanita paruh baya tadi.


"Cukup, aku rasa cukup. Kalian boleh pergi, dan kau Ericka ayo ikut denganku" ucap mr. Alfred dingin.


Sikap yang sangat berbeda dia tunjukkan dari yang tadi, Ericka tidak tahu harus menjawab apa. Takutnya salah bicara, dia hanya mengikuti mr. Alfred berjalan menyusuri koridor lantai itu menuju lantai bawah.


Di sana ternyata sudah banyak pelayan yang menunggunya di sana, mereka berbaris membentuk sebuah jalan dari tangga menuju pintu keluar.


Ericka berjalan melewati mereka bak seorang putri, banyak tatapan sinis kearahnya dan yang lainnya berekspresi datar.


"Kau tunggulah disini sebentar, aku akan kembali" ujar mr. Alfred sambil berlalu pergi.


Di sana Ericka ditemani oleh beberapa pelayan untuk menjaganya sekalian merapikan gaunnya, termasuk juga Zahrah ada di sana.


"Ericka, aku tau tak pantas aku mengatakan hal ini tapi setidaknya kamu harus tahu. Kamu akan menikah dengan mr. Robert hari ini, dan menjadi isterinya yang ke- 15 nya.


Tapi setidaknya kamu memiliki hidup lebih baik dari kami, kamu lihat mereka semua? Mereka iri denganmu karena bisa menikah dengan mr. Robert dan jadi salah satu nyonya besar rumah ini" ujar Zahrah berbisik kepada Ericka sambil merapikan gaunnya.


Dia melirik kearah para pelayan itu, dia sengaja berbisik agar tak ada yang mendengarnya.

__ADS_1


"Aku tahu, tapi siapa sangka akan dijadikan istri ke- 15! Aku gak mau, Zahrah! Jika ada yang mau menggantikan aku, silakan. Asalkan aku bisa bebas kembali" ujar Ericka setengah terisak.


"Seandainya itu bisa, tapi tidak mungkin. Tidak ada yang bisa mengelabui mr. Robert" ujar Zahrah.


Setelah itu mr. Alfred datang dan membawa Ericka masuk kedalam sebuah mobil mewah, Rolls-Royce. Ericka menatap kearah Zahrah, gadis itu hanya melambaikan tangannya dengan senyum sedih.


"Kenapa? Kenapa harus aku?! Aku lelah, aku tak ingin diperlakukan seperti boneka lagi oleh mereka!" teriaknya dalam hati.


Ericka menatap kearah kaca jendela dengan perasaan hancur, dia meremas gaun itu melampiaskan emosinya yang tertahan.


Setelah setengah perjalanan, rombongan mobil itu berhenti dibahu jalan, ada beberapa orang yang turun. Entah apa yang mereka lakukan, saat itu mr. Alfred sedang sibuk menelepon, Ericka mengambil kesempatan itu untuk kabur.


Dia membuka pintu mobil itu secepat mungkin dan dia berlari sekuat tenaga tak tentu arah, dengan gaun panjang dan sedikit mekar itu Ericka berlari mengelilingi sekitaran jalan di London itu, tanpa perduli dengan pandangan semua orang.


"Apa yang kalian lihat?! Kejar dia, jangan sampai kehilangan dia!" teriak mr. Alfred.


Agak aneh juga, seolah dia sudah tahu apa yang terjadi atau memang dia sengaja membiarkan Ericka kabur, dia nampak tenang-tenang saja. Hanya dia yang tahu isi hatinya.


"Sial, gaun dan sepatu ini menghalangiku bergerak!" gumam Ericka.


Dia mencopot sepatu high heels nya, hanya itu saja yang bisa dia lakukan. Karena tak mungkin juga dia harus melepaskan gaunnya di sana.


"Ah! Maaf-maaf!" ucap Ericka kepada orang itu.


"Ericka?!!" dua orang wanita itu kaget melihat Ericka di sana dengan penampilan seperti itu.


"Ka-kalian?!" Ericka tak kalah kagetnya melihat mereka di sana.


"Hei, Nona! Kemarilah!" teriak orang yang dibelakang mereka.


Melihat itu Ericka kembali lagi berlari meninggalkan dua orang wanita yang terlihat syok melihatnya ada di sana, padahal mereka ingin menyampaikan sesuatu yang penting untuknya.


"Stella, sepertinya Ericka dalam bahaya" ujar Stellie.


"Aku tahu, dua orang lelaki itu pasti ingin melakukan sesuatu kepadanya" menatap dua orang yanga akan berlari mengejar Ericka.


Yah, benar. Stella dan Stellie akhirnya berkuliah juga di London sesuai janji Reva, mereka juga berniat ingin mencari Ericka juga. Siapa tahu setelah bertemu mereka tak bisa berbuat apa-apa, karena terlalu cepat dengan situasi yang begitu mendadak.

__ADS_1


"Aakh!" kedua lelaki itu terjatuh terjerembab.


Stella dan Stellie menggunakan kaki mereka untuk menghalangi kedua lelaki itu mengejar Ericka.


Mereka nampak tersenyum puas, karena berhasil melakukan trik itu. Dimana trik itu pernah mereka lakukan kepada Ericka waktu sekolah dulu.


Siapa tahu trik biasa itu juga yang mereka lakukan untuk menyelamatkan gadis yang pernah mereka bully, sayangnya kesenangan mereka hanya sementara saja.


Dari kejauhan mereka melihat Ericka sudah ketangkap lagi sama orang lain, dua orang lelaki bertubuh besar menyeret tubuh Ericka kedalam mobilnya tadi.


"Ah! Sia*l, ketangkap lagi. Kita harus melaporkan apa yang kita lihat ini" ujar Stellie kesal.


"Benar, tapi apa yang akan kita laporkan? Melaporkan kalau kita membiarkan Ericka pergi begitu saja dan tak pergi menolongnya, gitu?!" tanya Stella kesal.


"Tapi keadaannya memang begitu, kau lihat ada berapa mobil yang mengiringi? Ditambah parah lelaki yang mengejarnya tadi bertubuh besar, belum lagi yang didalam mobil.


Bukannya menolong malah kita yang harus ditolong oleh orang-orang" ujarnya lagi menambahkan.


"Kau benar..." jawab Stellie pelan.


Mereka merasa bersalah karena tak bisa menyelamatkan Ericka dan membiarkan dirinya tertangkap oleh para preman tadi.


"Tapi ada yang aneh lagi, kau lihat kan? Ericka memakai gaun pengantin dengan wajahnya terluka, apa dia terlibat dengan sesuatu?!" tanya Stellie.


"Aku gak tahu, hanya dia tahu apa yang terjadi padanya saat ini" ujar Stella menatap mobil yang membawa Ericka pergi menjauh dari sana.


Sedangkan Ericka didalam mobil itu hanya menangis ketakutan, dengan sedikit keras mereka mengikat kaki dan tangannya.


"Kau tahu, sia-sia saja bagimu jika ingin mencoba kabur dari pernikahan ini. Karena itu tak mungkin, kau pikir sedang berhadapan dengan siapa?!" ujar mr. Alfred dingin menatap Ericka.


Dari kejauhan, nampak seseorang berdiri menatap rombongan mobil itu melaju kencang.


Seorang pria bertubuh tegap dan atletis, tidak nampak seperti apa dirinya. Dia memakai setelan serba hitam jaket kulit dan celana jeans berwarna hitam, juga sepatu dan sarung tangan hitam.


mengendarai motor Ducati Monster dengan helm full face, mengejar rombongan mobil itu.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2