Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Rencana Selanjutnya


__ADS_3

Waktu hampir mendekati tengah malam, semua tamu undangan dan para wartawan sudah pergi membubarkan diri. Mereka pulang dengan perasaan syok, kaget melihat kejadian yang tak pernah mereka pikirkan sama sekali.


Suasana rumah saat itu benar-benar kacau sekali meja, kursi dan beberapa dekorasi jadi berantakan karena sempat terjadi kehebohan tadi. Para pelayan membersihkan tempat itu, banyak perabotan yang pecah, padahal semuanya barang-barang mahal, Elena rugi banyak sekali akibat kejadian semalam.


"Tidak menyangka, akan seperti ini kejadiannya. Ckck, kasihan sekali nona Pricilia dan nyonya Elena"


"Aku pikir mereka pantas mendapatkannya, bukankah nona Pricilia juga begitu? Tidak menyangka ternyata dia juga seperti itu"


"Ini yang dinamakan karma, setelah apa yang mereka lakukan pada nona Ericka, mereka kini dapat balasannya"


"Benar, ini seharusnya menjadi pesta nona muda Ericka dan mereka ambil alih dan menghancurkannya"


Itulah beberapa komentar para pelayan tentang kejadian tadi, mereka membersihkan tempat itu sambil bergosip tentang permasalahan keluarga majikannya.


"Ehem! Kerjakan saja pekerjaan kalian sampai bersih dan rapi, tidak usah ikut-ikutan ngurusin permasalahan orang lain! Lakukan, agar kalian juga cepat istirahat," ujar bi Mirna menegur mereka.


"Ba-baik, Bu!" jawab mereka semua dengan gugup karena kaget.


Bi Mirna memperhatikan mereka, dia mulai menyadari satu persatu para pelayan itu mulai mengakui Ericka di rumah itu sebagai nona muda di keluarga majikannya.


Sementara Ericka berdiri diatas balkon lantai atas memperhatikan sisa-sisa kekacauan yang terjadi, dia juga memperhatikan betapa sibuknya para pelayan di rumah itu harus malam-malam membersihkan itu semua.


Kemudian dia masuk kedalam kamarnya untuk menenangkan diri, sedikit banyaknya dia juga mengalami guncangan atas kejadian tadi.


"Maafkan aku atas semua kekacauan ini, aku hanya ingin mengungkapkan fakta yang sebenarnya terjadi, aku tak pernah mengira akan menyebabkan kekacauan besar seperti ini.


Ibu, kamu pasti marah apa yang telah aku berbuat sekarang. Maafkan aku, harus melakukan ini semuanya karena aku sudah lelah dengan semua ini, bu.. Aku tak pernah merasakan apa itu cinta, apa itu kasih sayang orang tua, hingga harus berpisah dengan kakak-kakakku..


Bu, sekali saja datang ke mimpiku. Aku ingin merasakan dipeluk olehmu, sebentar saja... Hanya sebentar saja, bu.. Aku tak pernah menginginkan apapun, tidak pernah!


Aku hanya ingin diakui, disayang dan dipeluk sebagai seorang anak..." gumamnya sambil memandangi foto lusuh mendiang ibunya.


Ericka meneteskan air matanya, dia tahu apa yang dia lakukan ini mungkin tidak pantas dan salah, tapi dia juga manusia biasa yang memiliki perasaan, dia bisa sakit, bisa marah, ataupun kecewa.


Dia menangis sambil memeluk foto ibunya, sambil membayangkan seolah ibunya ada disampingnya, memeluknya untuk menenangkan dirinya. Hingga dia tertidur lelap.


Sementara diluar sana, disalah satu sisi taman samping rumah itu ada Reva bersama Nico dan Rendy juga Andriana. Sebenarnya mereka sudah ada di sana sejak awal acara dimulai, mereka hanya memperhatikan saja apa yang terjadi di sana.


Mereka tidak ingin terlibat, karena tidak ingin menambah kekacauan yang ada, bukan karena tidak mau membantu sama sekali, bukan karena itu.


"Aku tak menyangka Ericka bisa merencanakan ini semuanya, adik kecilku sudah besar rupanya.. Dia sudah bisa menjaga dirinya, tidak membutuhkan pertolongan dariku lagi.." ujar Reva sambil berkaca-kaca menatap arah balkon tempat Ericka berdiri tadi.


"Dengan semua kejadian yang menimpanya selama ini, membuatnya belajar banyak hal. Tentang rasa sakit, kecewa dan marah, jadi... Ini adalah bentuk kekecewaan darinya selama ini, dia hanya membalas apa yang di terima selama ini.

__ADS_1


Sudahlah, mari kita pulang. Kita juga perlu istirahat dan menenangkan diri dengan apa yang terjadi, ini benar-benar diluar perkiraan" ujar Nico.


"Aku ingin menemuinya.." sahut Reva sambil berjalan menuju rumah itu.


"Hei, mau kemana? Besok saja yah, dengan semua ini tidak mungkin kita tiba-tiba datang begitu saja, bertamu tengah malam, dan pesta inipun sudah berakhir. Ayo, kita pulang saja.." ujar Nico lembut kepadanya.


"Tidak! Aku harus berbicara dengannya, aku harus tau kemana saja dia selama ini?!" ujar Reva gusar.


"Kan masih ada waktu besok harinya, sayang.. Ayo, jangan ngeyel kalau dibilangin suami" ujar Nico masih sabar ngadepin istrinya yang keras itu.


Mau gak mau Reva ngikutin perintah suaminya itu, daripada di cap istri durhaka, kan repot jadinya. Sedangkan Rendy masih diam menatap kearah balkon itu, sejenak pikirannya melayang jauh..


Mengingat kenangannya bersama Ericka untuk pertama kalinya mereka saling menegur sapa, di balkon itu, sebagai saksinya. Tidak sadar air matanya menetes, betapa dia merindukan momen itu, untuk pertama kalinya, Ericka memanggilnya kakak.


"Kamu... Ingin menemuinya juga?" tanya Andriana dengan hati-hati.


"Ingin, ingin sekali. Tapi tidak sekarang, aku malu bertemu dengannya.. Seandainya waktu itu, aku sedikit saja peduli dengannya, mungkin kami tidak akan berpisah selama ini.


Seandainya waktu itu, aku berusaha lebih keras lagi, mungkin aku tidak akan membiarkannya pergi, mungkin dia tidak akan terluka dan diculik oleh Elena. Dan dia tidak terpisah jauh dengan kami.." ucap Rendy sambil terisak didepan Andriana, dia tidak malu melakukannya didepan kekasihnya itu.


"Sabar yah,, tenangkan dirimu, aku yakin Ericka anak yang baik, dia tidak akan mendendam sebesar itu, dia juga tidak akan menyakiti ataupun membenci kalian.


Bagaimanapun juga ini bukan salahmu, ataupun salah kak Reva, takdir yang memisahkan kalian dengan cara seperti itu, dan aku percaya takdir juga akan mempertemukan kalian dengan cara yang indah.." ucap Andriana berusaha menghibur kekasihnya itu.


Tanpa malu dan canggung, Rendy menangis di pelukan Andriana, dia sangat merindukan adiknya itu, dia sangat menunggu momen-momen dimana dia nantinya bertemu dengan Ericka, dan bersama kembali menjadi keluarga seperti dulu.


Pakaiannya acak-acakan dengan rambut kusut masai, dia sudah seperti orang stress saja. Bahkan dia tidak tahu apa yang terjadi dengan Pricilia saat ini, anaknya itu menghilang begitu saja semenjak kekacauan itu dimulai.


Suaminya pergi tanpa kabar, sedangkan Pramudya malah pergi ke club malam dengan alasan ingin menenangkan diri, dia berteriak histeris didalam kamar itu sambil menangis pilu.


Semua pelayan yang masih bersih-bersih menjadi kaget mendengar suara teriakannya, tapi mereka memilih untuk tidak ikut campur urusan majikannya itu.


//


Besok paginya berjalan seperti biasanya, Ericka bangun dengan tubuh lebih segar dari biasanya, entah kebetulan atau apa dia bisa bermimpi indah bersama keluarganya meskipun tanpa ayah dan ibunya.


Dia bermimpi bermain bersama kedua kakaknya, dia merasa mereka masih anak-anak didalam mimpi itu, bermain di sebuah taman bermain, dia sangat menikmati momen itu bersama kedua kakaknya.


Ketika terbangun dari mimpinya, ada guratan kecewa diwajahnya karena mimpi itu cepat sekali berlalu, tapi setelah itu dia kembali tersenyum setidaknya didalam mimpi dia bisa merasakan kebahagiaan walaupun cuma sebentar saja.


"Selamat pagi semuanya.." sapanya kepada para pelayan dengan ceria.


"Selamat pagi, Nona" jawab mereka ikutan tersenyum melihatnya.

__ADS_1


"Kita sarapan apa pagi ini?" tanyanya sambil duduk di meja makan itu dengan santainya.


"Kami hanya membuat sarapan sederhana, Nona. Ada nasi goreng suwir ayam dengan telor dadar, ada sandwich juga, dan telor rebus, ada juga jus buah, susu, teh hangat. Kami juga menyediakan buah dan roti selai madu. Maaf, kami tidak tahu Nona akan bangun seperti biasa, kami pikir sejak kejadian semalam--


Ah, tidak! Maaf, kami hanya membuat sarapan seperti ini saja" jawab bi Mirna.


Mereka pikir dengan kejadian semalam, semua majikan mereka termasuk Ericka akan bangun siang dan akan makan sedikit untuk mengisi perutnya saja.


Daripada memasak banyak dan mubasir tidak dimakan, lebih baik membuat sarapan sederhana tapi penuh gizi, bernutrisi dan tentunya enak dan bikin kenyang.


"Tidak apa, segini aja lebih dari cukup. Lagian yang makan juga hanya beberapa orang saja, dan kalian juga bisa lihat lebih banyak makannya sedikit dan paling makannya cuma satu atau dua macam saja.


Mulai hari ini dan seterusnya kita harus berhemat, dan bisa mengatur pengeluaran yang tidak penting. Jangan terlalu mengikuti gaya hedon nyonya besar rumah ini" ujar Ericka menjelaskan semuanya.


"Apanya yang tak perlu diikuti?!" tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara keras dibelakang mereka.


Ternyata itu Elena dengan berpenampilan lebih ngejreng daripada biasanya, mungkin dia stress akibat kejadian semalam, pikir Ericka berdecak aneh.


"Tidak ada yang boleh berubah di rumah ini, semua harus diatur sesuai keinginanku! Tidak ada yang berubah apapun alasannya" ucapnya angkuh sambil duduk diatas meja makan itu sambil melahap nasi goreng.


"Kita harus mengatur keuangan rumah ini, kita harus minimalisir pengeluaran yang kira-kira tidak terlalu penting, dan tidak berguna lainnya.


Kita harus ingat terlalu boros juga tak bagus, lebih baik kita menggunakan uangnya untuk lebih bermanfaat lagi daripada gaya hidup mewah tapi gak ada hikmahnya sekalipun" sahut Ericka santai sambil menyeruput teh melati kesukaannya itu.


"Kau mana tahu soal gaya hidup atau bukan, aku sudah lama berkecimpung dengan dunia ini! Aku tak ingin merendahkan seleraku hanya gara-gara mengimbangi kehidupanmu yang berjiwa miskin itu!" jawabnya kasar dengan merendahkannya.


"Tapi kita harus mengimbangi keuangan juga, iya aku tahu apa yang tidak buat keluarga ini, semuanya bisa, semuanya mampu! Tapi lama-lama kita bisa bangkrut juga kalau begini terus, ibu!


Apa kau tidak tahu apa yang dialami oleh ayah selama ini? Perusahaan? Bisnis? Dan usaha-usahanya yang lain? Tidak kan, anda hanya tau tentang hidup sosialita anda juga perhiasan dan uang saja" ujar Ericka, dan itu hampir menyulut emosi Elena.


Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara barang pecah cukup keras dari arah ruang tamu, mereka semua berlari kearah sana dan melihat apa yang terjadi.


Ternyata Pramudya pulang pagi lagi dengan kondisi mabuk parah, dia berjalan dengan oleng hingga memecahkan pot guci kesayangan Elena.


"Ya ampun, Pram! Ini sudah berapa guci udah kamu pecahin! Kamu tau kan barang ini mahal dan cukup susah mendapatkannya, bagaimana sih?!" ujarnya kesal.


"Nah, ini contohnya! Buat apa beli-beli barang beginian hanya buat dipecahin doang!" sahut Ericka ikutan kesal juga.


"Diam kamu! Gak usah ikut-ikutan!" bentak Elena marah.


Ericka hanya tersenyum sinis, dia kembali ke ruang makan sambil melanjutkan sarapannya. Pikirannya jauh ke depan sambil memikirkan rencana selanjutnya.


"Sekarang giliran si brengsek itu!" gumamnya sambil merencanakan sesuatu.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2