
Reva terkejut melihat apa yang ada didepannya saat ini, salah satu orang yang paling tidak dia sukai ada disini.
"Ada apa kamu datang kemari? Jangan buat keributan di kantor ini!" ujar Reva terlihat tegas.
"Alah jangan sok kamu, ini kan kantorku juga!" jawab Pricilia sambil duduk di sofa ruang tunggu tamu.
"Aku tak melihat nama pegawai seperti namamu di perusahaan ini, jika benar kau pegawai disini kau harus di skor karena datang terlambat!" jawab Reva ketus.
"Hei, jangan kaku amat jadi orang! Ini kan perusahaan keluarga, jadi aku bebas dan berhak berada disini" jawab Pricilia dengan senyum sinisnya.
"Apa katamu? Perusahaan keluarga?" tanya Reva dengan nada mengejek.
"Tentu saja, ibuku sudah bertahun-tahun mengelola perusahaan ini hingga semakin maju! Dan ayah selalu men supportnya, terus apa lagi? Toh aku juga sering kok kesini, biasa aja." Imbuh Pricilia berlagak angkuh didepannya.
"Aku kehilangan kata-kata menghadapi orang macam kau ini, dibilangin ngeyel, gak dibilangin gak tahu diri!
Harus disebut apa orang macam kau ini?! Sadar diri yah, ini perusahaan mendiang ibu yang direbut paksa oleh ibumu itu. Dan lelaki yang mengaku seorang ayah merupakan orang yang sudah tua, sudah pikun makanya dia lupa mana yang benar dan mana yang salah!" teriak Reva kesal kepadanya.
"Sabar, Bu. Tahan emosinya, menghadapi orang seperti ini tidak perlu pakai emosi" bisik Mona ditelinga Reva.
"Apa maumu?" tanya Reva sambil memandanginya dengan tatapan tajam.
"Nah gitu dong, seharusnya dari tadi kau tanya begitu kepadaku! Jadi gak perlu belibet kan ngomongnya, haha!
Baiklah aku langsung saja, kau kan orang sibuk jadi mungkin tak punya waktu untuk ini" ujar Pricilia mulai serius bicaranya.
"Nah itu kan tau!" gumam Susy dongkol.
Sayangnya ucapannya tadi terdengar oleh Pricilia, dia mendapat tatapan sinis darinya. Pricilia yang notabene paling tidak suka diremehkan kalau mendengar orang membicarakannya, pasti akan mengamuk siang malam.
Tapi hari ini dia tak ingin meladeni Susy, dia sepertinya buru-buru atau tak ingin lama-lama di sana makanya dia tidak menghiraukan ejekan itu.
"Katakan saja apa maumu?!" ucap Reva sekali lagi.
"Aku tak akan muluk-muluk kok, yang penting kau penuhi saja keinginanku satu ini. Setelah itu aku akan pergi selamanya dari kehidupanmu dan keluargamu" ucap Pricilia sambil menyunggingkan bibirnya.
"Heh, kau tidak tahu atau pura-pura tak tahu! Kehidupan keluargamu sudah tamat, semua perusahaan dan yayasan milik ibuku yang direbut oleh ibumu itu sudah kembali ke tangan kami, pewaris yang sah!
Apa kau tidak tahu, kemana ibu dan saudaramu itu pergi?! Mereka menghilang tanpa jejak, mereka pergi tanpa mengajakmu!
Karena apa? Karena mereka sudah tak memiliki apapun lagi disini, dan lagian ibumu itu buronan.
__ADS_1
Kakakmu itu juga terbukti korupsi dan melepaskan tanggung jawab pekerjaan begitu saja, mereka itu buronan. Apakah kau datang kesini untuk menyerahkan diri untuk menggantikan ibu dan kakakmu itu?!" tanya Reva dengan senyuman sinisnya.
Apa yang dikatakan oleh Reva itu benar adanya, tapi dia hanya sedikit melebihkan saja agar terlihat lebih dramatis untuk menakuti dan menyudutkan Pricilia.
Dan benar saja, Pricilia terlihat ketakutan dan dia terlihat kebingungan. Setelah beberapa menit dia berpikir, dan kembali berkata.
"Itu bukan urusanku, dan tak ada hubungannya denganku! Berikan saja apa yang aku minta, kalau tidak aku akan terus datang mengganggumu!" ancam Pricilia tanpa takut.
Reva dan lainnya menggelengkan kepala melihat perilaku dan sikapnya, seperti mendarah daging sifat ibunya itu turun ke anak-anaknya.
"Baiklah, tapi ada syaratnya" ucap Reva dingin, dia menyerah melawan manusia yang satu ini.
"Tidak masalah asal tidak merugikanku dan aku dapat untung banyak" jawabnya santai.
"Kau tidak akan rugi, tapi kau harus menyetujui persyaratan yang kubuat. Tidak ada bantahan atau pengkhianatan, kau tahu aku paling benci dengan pengkhianatan.
Jika kau melanggar maka akan kubuat kau menyesal seumur hidupmu! aku akan menyiapkan dokumen yang akan kau tanda tangani dan juga berkas-berkas yang akan kau terima" ucap Reva seraya meninggalkan Pricilia.
Dia meninggalkan Pricilia diluar dengan segala tingkahnya, dia seenaknya menyuruh pegawai untuk melayaninya, minta ini minta itu dan lainnya.
"Apa Ibu yakin akan memberikan apa yang dia minta? Meskipun dia menyetujui persyaratan yang Ibu buat, belum tentu dia akan menepati janjinya" ucap Mona khawatir.
"Aku sangat mengenalnya, jadi aku tahu bagaimana cara menghadapinya" ucap Reva dengan sinisnya.
'Maaf harus menunggu lama, ada banyak dokumen yang harus aku siapkan" ucap Reva berbasa-basi.
"Tidak masalah, aku dilayani dengan baik oleh mereka" ucapnya sumringah.
Tentu saja, mereka harus disibukkan oleh Pricilia untuk mengalihkan perhatiannya sejenak. Agar rencana Reva bisa berjalan sesuai keinginannya.
"Ini adalah berkas-berkas kepemilikan atas nama ibumu, aku serahkan kepadamu. Karena ibumu sudah banyak menabung selama mengurus perusahaan ini dan membuat sebuah perusahaan untuk dirinya kelak.
Jadi, aku serahkan kepadamu, karena aku gak mau disibukkan oleh pekerjaanmu ini!" ujar Reva dingin.
"Jadi ini ceritanya menyerahkan hartaku sendiri dong, bagianku mana dari perusahaan in! Kalau yang ini memang sepantasnya milikku, aku juga ingin bagian dari perusahaan ini!" ujar Pricilia kesal.
"Dasar tak tahu malu" gumam Susy kesal melihatnya.
"Diam kau, dasar pegawai rendahan!" teriak Pricilia mulai kesal dengannya.
Mendengar itu emosi Susy hampir saja terpancing olehnya, untung saja dicegah oleh Reva.
__ADS_1
"Baiklah, aku tak ingin berlama-lama berurusan denganmu. Ini adalah beberapa perusahaan kecil tapi sangat menguntungkan karena banyak investor baru menanamkan modalnya disini.
Karena mereka lihat perusahaan ini menjanjikan karena meskipun masih baru, perusahaan ini mampu bertahan dan bersaing dengan perusahaan lainnya seperti perusahaan ini" ucap Reva Menyakinkan Pricilia.
Sejenak Pricilia terlihat masih ragu, lama setelah berpikir dia melihat dan membaca beberapa isi dari berkas dan dokumen itu.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menerimanya. Tapi jangan coba-coba kau menipuku yah?!" ujar Pricilia tetap waspada.
"Percaya saja padaku" ucap Reva dengan senyum penuh arti.
Beberapa saat kemudian Pricilia mendapat telpon dari seseorang, sepertinya itu penting terlihat dia begitu tergesa-gesa mengangkat telpon itu dan menjauhi mereka.
"Sepertinya dia mendapatkan berita baik" gumam Reva sinis, karena melihat Pricilia nampak senang menerima panggilan itu.
"Maaf tadi ada telpon penting, sampai mana tadi?" ucapnya kembali fokus ke berkas-berkas itu.
"Sebaiknya kita bicarakan dulu persyaratannya, agar-" pembicaraannya langsung dipotong oleh Pricilia.
"Tidak perlu, yang mana harus aku tanda tangani? Aku tak punya waktu, lagi banyak urusan" ujarnya sok sibuk.
"Apa kau tak ingin membacanya dulu?" tanya Reva hati-hati.
"Tidak usah! Aku sedang buru-buru, cepatlah" ujar Pricilia sedikit memaksa.
Reva memandangi Mona dan Susy dengan senyuman manis penuh arti, dan dibalas juga oleh Mona dan Susy dengan senyuman yang sama.
"Baiklah, kau harus tanda tangani di semua dokumen ini. Nanti akan dibantu oleh sekretarisku, jangan lupa bubuhkan cap jari tanganmu dan materainya. Ini akan di sahkan ke notaris besok" ucap Reva.
"Baiklah!" jawab singkat Pricilia dia langsung menyambar beberapa dokumen diatas meja itu dan langsung menanda tangani tanpa melihat ataupun membacanya terlebih dahulu.
Setelah itu dia langsung pergi begitu saja dengan setumpuk map berisikan dokumen-dokumen penting lainnya.
"Dasar ceroboh, tak pernah berubah. Masih saja bodoh!" gumam Reva dengan senyuman sinisnya.
Setelah itu dia langsung memerintahkan Susy untuk membawa beberapa berkas dan dokumen serah terima tadi termasuk dokumen persyaratan yang ditandatangani oleh Pricilia.
"Langsung datang ke pengacara dan notarisnya, langsung sahkan dokumen ini. Agar Pricilia tak bisa menggugat lagi, jika dia mencoba melakukannya maka sudah pasti dia akan kalah" ucap Reva lagi.
Perintahnya langsung dilaksanakan oleh Susy, dan Reva kembali dengan berbagai rencananya lagi.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung