Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Karyawan Baru


__ADS_3

Sementara itu di kantor Wijaya Grup, Rendy masih berkutat dengan pekerjaannya yang semakin banyak. Semua pekerjaan Pramudya dialihkan ke dia, dan Rendy sudah resmi diangkat menjadi CEO di perusahaan itu.


Tidak ada penjelasan ataupun keterangan kenapa Pramudya tidak lagi menjabat atau bekerja lagi di perusahaan itu, semua orang seakan menutup mulutnya untuk tidak berkomentar apapun tentangnya.


"Sepertinya ini ulah Elena yang meminta ayah menutupi keadaan Pramudya ke semua orang, tentu saja ini adalah aib bagi keluarganya" gumam Rendy sambil memandangi laptopnya.


Tok! Tok! Tok!


"Siapa?" tanya Rendy yang masih fokus ke pekerjaannya.


"Permisi, Pak. Manajer baru kita sudah datang, silakan Bu..." ujar Andriana mempersilahkan tamu itu masuk ke ruangan Rendy.


"Halo Pak, perkenalkan nama saya Geraldine. Saya Manajer bagian pemasaran yang baru, saya yakin Bapak mengenal saya dengan baik..." ujar sang manajer itu.


Geraldine adalah karyawan baru yang ditunjuk sebagai manajer pemasaran di perusahaan itu, semenjak Pramudya tidak bekerja lagi divisi nya dirombak total.


Karena dianggap tidak kompeten dalam bekerja, saat Pramudya tidak ada mereka seperti tidak ada pegangan ataupun kendali. Sehingga banyak laporan yang tidak masuk ke Rendy.


Dengan persetujuan ayahnya, dia merombak lagi divisi itu dan digantikan oleh pegawai-pegawai yang lebih kompeten dan lebih produktif lagi.


Ada beberapa pegawai yang baru masuk kedalam divisi itu, termasuk Geraldine. Gadis blasteran Indo-Jerman, dengan tinggi yang profesional berkulit putih bersih rambut blonde dan hidung mancung, membuatnya begitu cantik dan jadi pusat perhatian semua orang termasuk para adam yang ada di sana.


"Geraldine?? Hai, apa kabar? Kok kamu ada disini?" cecar Rendy kaget melihat sahabatnya ada di sana.


Mereka tidak hanya berjabat tangan, terlihat Geraldine juga mencipika-cipiki si Rendy, bahkan mereka begitu nampak akrab sekali. Andriana yang masih ada di sana merasa dongkol sekali melihatnya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu Pak, Bu..." pamit Andriana seraya menutup pintu ruangan itu.


Rendy menatapnya dengan senyum simpul, dia melihat kepergian Andriana yang terlihat gusar dibalik dinding kaca ruangannya.


"Jadi, dia yang menjadi kandidat calon istri si Rendy Putra Wijaya? Cantik juga..." goda Geraldine.


"Aku gak tahu" jawab Rendy sambil duduk di sofa tamu di ruangannya diikuti oleh Geraldine.


"Hei, aku gak bisa kamu bohongi yah! Aku bisa lihat tatapan mata kalian berdua, jadi ceritanya nih cinta dalam diam" Geraldine kembali menggoda Rendy sambil cekikikan sendiri.


Andriana yang duduknya berhadapan di ruangan Rendy, melihat mereka dibalik dinding kaca itu begitu akrab sekali, ditambah lagi Geraldine duduk berdekatan dengan Rendy membuatnya hatinya semakin bergemuruh.


"Memangnya kenapa jika mereka memiliki hubungan?! Ga ada hubungannya denganku! Bodo amat!" gumamnya keki.


Rendy sadar kalau mereka dari tadi diam-diam diawasi oleh Andriana, dia tersenyum menikmati rasa cemburunya Andriana. Sekali-kali boleh kan? pikir Rendy.


"Jadi, kamu sama dia belum ada hubungan resmi? Hanya sebagai bos dan karyawannya saja?! Ish, kamu ini Ren. Ntar keduluan sama yang lain loh" ucap Geraldine heran dengan sikap Rendy itu.


"Aku tahu, tapi terus terang aku gak tahu bagaimana caranya menghadapi wanita! Setiap kali aku mencoba selalu gagal. Kau tahu sendiri kalau aku selalu gugup didepan mereka" kata Rendy kesal.


"Tapi denganku kamu gak kayak gitu?!" tanya Geraldine.


"Kalau sama kamu tuh beda, kita berteman dari SMA sampai kuliah dan juga sekarang. Lagian aku juga gak nafsu sama kamu, malah kita ini saingan kalau urusan begitu" jawab Rendy cuek.

__ADS_1


"Maksud looo??!" Geraldine keki dengan jawaban Rendy sambil menjewer telinganya.


Melihat itu hati Andriana semakin panas saja, dia melampiaskan emosinya dengan meminum teh panasnya langsung sampai habis, tidak peduli dengan panasnya teh itu karena hatinya lebih panas dari itu.


"Ya Tuhan, Andrianaaa... Itu teh panas, baru bikin dari air mendidih menggluduk! kagak baret tuh tenggorokan!" teriak Fahmi, teman kantornya.


Andriana tak menggubris celotehan Fahmi, dia sibuk dengan urusannya sendiri sambil sekali-kali melirik kearah ruangan bosnya itu.


"Fix, kena saraf ni anak!" Fahmi menggelengkan kepalanya.


Sementara di ruangan itu, Rendy menahan tawanya melihat tingkah Andriana. Sementara itu Geraldine nampak sibuk berbalas pesan di Hpnya.


"Siapa? Cewe mana lagi nih yang jadi korban?" tanya Rendy sambil menatap layar Hpnya Geraldine.


"Jangan begitu dong, enggak ada yang jadi korban ataupun tersangka yah disini. Kita tuh suka sama suka!


Dan satu lagi ya Ren, tolong rahasiakan soal aku ini kepada semua orang di kantor ini. Aku gak mau dimusuhi ataupun di pecat lagi dari perusahaan gara-gara hubungan seksualitasku" ujar Geraldine.


"Ga janji, kalau kamu berulah ataupun membuat masalah di perusahaan ini mau gak mau aku harus memecatmu. Kita kalau di kantor harus profesional ya, abaikan dulu persahabatan kita disini" ujar Rendy serius.


"Iya, soal itu aku tahu. Aku hanya ingin bekerja tenang saja disini, aku butuh biaya hidup" ucap Geraldine.


Mendengar hal itu membuat Rendy merasa tak enak juga dengannya, Geraldine berpamitan kembali ke divisinya. Saat berpapasan dengan Andriana, diapun tersenyum manis kepada gadis itu.


"Dia kenapa senyum-senyum begitu?" gumam Andriana heran.


"Wiih, tipikal cewek idaman banget! Gw banget nih, montok depan belakang. Haha!" ucap Fahmi dengan mata jelalatan melihat Geraldine keluar dari ruangannya Rendy.


"Ish, nimbrung aja lo Ndri! Tapi bener loh, dia cantik banget!" jawab Fahmi masih membayangkan Geraldine.


"Cantikan gw!" ujar Andriana keki.


"Iya sih, lo cantik. Pake banget lagi, tapi sayang..." ujar Fahmi sambil tersenyum ngeledek Andriana.


"Tapi sayang apa?!" tanya Andriana galak dengan melototinya.


"Tapi sayang galak! Heyyy, anda jangan galak-galak ya wahai manusia yang tak pernah salaah" ujar Fahmi menyerah meladeni Andriana.


"Ehem, hem!" mereka kaget tau-tau si bos udah didepan mereka.


"Pak..." keduanya sopan menyapa Rendy dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.


"Andriana, bisa ke ruanganku sekarang?" tanya Rendy, wajahnya nampak serius.


"Baik, Pak" ucap Andriana.


Rendy kembali ke ruangannya, Fahmi bertanya kepada Andriana apa yang terjadi.


"Meneketehe! Kali aja dia denger lo ngomongin ceweknya" bisik Andriana.

__ADS_1


"Emang mereka tadi pacaran?" tanya Fahmi penasaran.


Andriana hanya mengangkat bahunya lalu masuk keruangan Rendy, mendengar itu Fahmi bergidik ngeri. Satu kantor tahu sifat Rendy yang dingin itu, dia tak ingin membuat masalah dengan bosnya itu.


"Permisi, Pak ..." sapa Andriana pelan.


Dia menghadapi bosnya itu yang begitu nampak sibuk didepan mejanya yang penuh berkas-berkas.


"Hari ini kamu lembur, bantu aku mempersiapkan semuanya. Besok kita ada presentasi, jangan sampai ada berkas yang terlewatkan.


Perhatikan hal-hal kecil, jangan membuat kesalahan sedikit pun. Aku ini juga aku akan pulang telat lagi, jika ada yang tak mengerti kamu boleh menemui aku" ujar Rendy menjelaskan semua pekerjaannya itu kepada Andriana.


Andriana menelan salivanya, tiba-tiba tenggorokannya terasa kering ketika melihat tumbukan berkas yang menggunung, dan dia harus mengerjakan semuanya sendirian.


Dia melihat jam didinding, waktu sudah mendekati sore hari.


"Dasar bos gila, mau sampai kapan aku berada disini?! Bisa keder dan mati kering aku jika mengerjakan ini semuanya" gumamnya dalam hati.


"Ada apa? Ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Rendy mendongak menatap Andriana yang masih berdiri didepannya.


"Ti-tidak ada, Pak. Permisi..." ujarnya sambil mengambil tumbukan berkas itu.


"Kerjakan dulu yang ini, baru yang itu. Jika yang ini sudah selesai, serahkan padaku biarkan aku periksa dulu. Kalau sudah benar, kamu kerjakan yang lainnya" perintah Rendy.


"Baik Pak" sahut Andriana dengan sedikit memaksakan senyumnya.


Dia membawa tumbukan berkas yang begitu banyak, dengan wajah cemberut dia berlalu keluar.


"Dasar, bos aneh! Bisa-bisanya dia memberikan aku pekerjaan menumpuk begini, padahal sudah sore. Aku ingin rebahaaann!" ujar Andriana mengeluh.


"Haha! Kenapa lo? Kirain ada apa, eh ternyata dirimu disuruh lembur lagi yah? Dengan tumpukan ini? Hihi" Fahmi kembali menggodanya.


Andriana kesal dia menaruh setumpuk berkas lagi di meja Fahmi, melihat itu tentu saja Fahmi melongo bingung.


"Apaan nih?" tanyanya heran.


"Lihat sendiri kan, itu pekerjaanmu yang harus diselesaikan sekarang juga! Bos nungguin didalam, awas jangan coba-coba kabur yah?!" ancam Andriana.


Melihat itu Fahmi terlihat kecewa, dia mengerjakan tugas itu setengah hati. Padahal dia pengen pulang cepat agar bisa ngedate sama pacarnya.


"Hihi! Rasain lo, siapa suruh ngeledekin aku terus!" gumam Andriana menertawakan Fahmi.


Sedangkan didalam ruangan itu, Rendy masih teringat ucapan Geraldine tadi [ jika ingin mendekati wanita yang kau sukai dekati dia secara personal, biarkan hubungan kalian menjadi lebih dekat lagi ].


Tapi sayangnya, Rendy yang polos soal wanita tak bisa memvisualisasikan hubungan itu. Dia tak bisa mendekati Andriana dengan cara yang diajarkan oleh Geraldine.


Dia malah memberikan pekerjaan yang banyak, dan membuat Andriana semakin kesal saja sama dirinya.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


Kasihan ya Rendy๐Ÿ˜ yuk bantuin Rendy lebih dekat lagi dengan Andriana dengan cara kasih like, komen dan juga vote hadiah buat keduanya. Makasih ๐Ÿค—๐ŸŒน๐Ÿ™


__ADS_2