Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Pendekatan Rendy Kepada Ericka


__ADS_3

Rendy terdiam membisu memandangi Nico dan rekan setimnya pergi meninggalkannya sendiri di sana, pandangan penuh kebencian terhadap Nico begitu besar dimatanya.


"Aku tahu, apa yang ada dipikiran mu bangs*t! Kau sengaja melakukan hal ini kepadaku, agar kau bisa mendekati kak Reva. Tidak semudah itu, aku akan menemukan kakakku bagaimanapun caranya." Gumam Rendy penuh kebencian.


Sementara itu, dibalik pintu ruang rapat itu Elena memperhatikannya dari tadi.


"Rupanya mereka tidak sedekat itu, pasti ada kesepakatan lain diantara mereka. Aku harus cari tahu, terutama keberadaan Reva. Gadis itu adalah kunci dari segalanya, hem... Ini semakin menarik saja" ujar Elena sambil tersenyum sinis.


*


saat ini di rumah, Ericka merasa gelisah dan khawatir. Karena sudah dua hari tidak mendengar kabar tentang kakaknya Reva.


Biasanya Reva selalu menghubunginya, atas sekedar mampir sebentar untuk menemuinya. Dia sangat merindukan kakaknya itu, dia yang selalu ada untuknya.


Saat itu dia sedang duduk di bangku balkon lantai atas menghadap kearah taman yang lumayan luas di kawasan rumahnya itu, rumahnya yang begitu besar dan megah namun nampak begitu sempit dan kecil baginya.


Dia dilarang leluasa dirumahnya sendiri, hanya kamar dan balkon inilah tempatnya bisa menghabiskan waktunya.


Saat itu, Rendy ingin sedang keluar kamar tak sengaja melihatnya sedang duduk melamun di balkon itu. Ragu-ragu dia menghampirinya, dia ingin sekali menyapa atau sekedar basa-basi padanya.


Saat ini mereka semua tidak tahu keberadaan Reva sekarang dimana, Rendy merasa dialah sekarang yang harus mengambil alih tanggung jawab Reva sekarang.


Termasuk mengurus adiknya ini, dia harus berubah dan harus tegas mulai sekarang. Dia menghampiri Ericka dengan perasaan gugup, baru kali ini dia harus menghadapi adiknya sendirian.


Entah, apa responnya nanti yang penting dia harus mencobanya dulu. Tanpa disangka, ternyata dia keduluan oleh Ericka. Gadis kecil itu sudah terlanjur melihatnya, mau gak mau dia harus menghampirinya.


"Ha-hai..." dia menyapa Ericka dengan gugup.


"Hai, Kak" ujar Ericka tersenyum manis, dia merasa senang sekali kakaknya yang tertutup ini mau menyapanya.


Diluar dugaan Rendy, ternyata Ericka menyambutnya dengan hangat. Dia merasa terharu ingin rasanya dia langsung memeluk adiknya itu.


"Lagi apa kamu disini sendirian, sudah makan?" Tanya Rendy berusaha menunjukkan perhatiannya.


"Sudah Kak, lagi pengen disini aja. Sekalian nunggu kak Reva datang," ujarnya sambil menatap kearah taman itu.


Perasaan Rendy semakin sedih melihat adiknya itu, menunggu kakaknya datang tapi entah sampai kapan dia harus menunggunya.

__ADS_1


"Kakakmu itu tidak akan pernah datang lagi menemuimu!" Ujar seseorang yang datang dari belakang mereka.


Siapa lagi kalau bukan Pricilia, dia tersenyum mengejek kearah mereka. Pricilia menatap keduanya penuh curiga, dia merasa keduanya mulai dekat. Secara Rendy orangnya tertutup dan tidak pernah berkumpul dengan orang-orang.


"Apa yang kalian lakukan berdua disini?" Tanyanya lagi dengan sinis.


"Apapun yang kami lakukan bukan urusanmu, ini rumah kami dan kami berhak atas apa yang ingin kami lakukan disini," jawab Rendy sinis menatap tajam kearah Pricilia.


Tidak hanya Pricilia, Ericka pun terkejut mendengar pernyataan Rendy. Mereka tidak menyangka dia akan menjawab seperti itu, dia yang biasanya terlihat culun dan penakut sekarang berubah menjadi berani.


"Ka-kau, beraninya kau berkata seperti itu kepadaku!" Bentak Pricilia kepada Rendy.


"Mulai sekarang kau harus bersikap sopan di rumah ini, terutama kepada kami." Kata Rendy menatapnya tajam.


Perasaan Pricilia sangat tertekan, aura intimidasi dari Rendy begitu kuat. Siapa sangka, pria pengecut itu seberani ini, apakah ini adalah sifatnya yang asli?


"Awas kau, akan kuadukan semuanya kepada ayah dan ibu!" ujarnya berteriak sambil meninggalkan mereka berdua.


"Kamu tidak usah takut kepadanya atau yang lain, mereka itu bukan apa-apa. Kau lihat, diancam sedikit saja sudah takut 'kan. Hehe!" Ucap Rendy sambil tertawa kakuk.


"Iya Kak, tapi aku belum berani. Kak Reva dulu juga pernah berkata begitu, harus berani melawan mereka" ucapnya sambil tertunduk lesu.


Dia begitu merindukan kakaknya Reva, entah mengapa sikap Rendy tadi mengingatkannya kembali kepada kakak perempuannya itu.


Rendy semakin sedih dibuatnya, ternyata kehadirannya tak semerta-merta akan cepat menggantikan Reva dihatinya, dia sadar terlalu cepat dia berpikir begitu.


Dia harus berusaha lagi mendekati Ericka, agar dia percaya kepadanya dan mengerti betul bahwa dia benar-benar peduli kepadanya.


"Kamu mau main ke kamar Kakak?" katanya sambil tersenyum kepada Ericka.


"Emang boleh, Kak?" Tanya Ericka tidak percaya, dia sedikit merasa heran kepada Rendy. Karena tiba-tiba begitu perhatian dan tidak seperti biasanya dia bersikap begitu.


"Bolehlah, kenapa gak. Mulai sekarang, kalau ada apa-apa kamu boleh nanya atau minta sama Kakak yah?" kata Rendy sambil tersenyum ramah.


Ericka merasa ada yang aneh, dia teringat ucapan Reva dulu untuk tidak terlalu percaya setiap omongan orang terutama orang-orang yang di rumah ini. Apakah Rendy termasuk juga?


Dia masih terlihat bingung dan ragu, dia hanya percaya kepada kakaknya Reva sama bi Mirna dan juga asistennya bi Mirna, Milah. Meskipun begitu dia juga masih takut untuk mengatakan semuanya.

__ADS_1


"Kenapa, kamu masih ragu kepada kakak?" Tanya Rendy penasaran.


Ditanya begitu tentu saja Ericka merasa tidak enak, dia juga bertambah bingung harus bersikap bagaimana.


"Bu-bukan seperti itu, emm... Kak, apa yang dikatakan oleh kak Pricilia tadi benar yah? Kalau kak Reva tidak akan kesini lagi? Apa kak Reva sedang marah kepadaku?" Cecar nya kepada Rendy.


Sekarang malah Rendy yang bingung harus bicara dan menjawab apa pertanyaan Ericka.


"Itu-" belum selesai dia menjawab pertanyaan Ericka, Pramudya datang bersama Pricilia.


"Kakakmu itu tidak akan datang, dia sedang sibuk menyusun rencana ingin mengambil semua harta ini untuk dia sendirian bersama pacarnya, kalau tidak percaya tanya saja kepadanya" Pramudya memotong pembicaraan mereka.


"Hei, jaga mulutmu yah!" Geram Rendy, dia begitu kesal kenapa mereka selalu datang diwaktu yang tidak tepat.


"Memang faktanya begitu 'kan?! Kita semua tahu, bahkan para pelayan juga tahu semua keinginan busuknya itu!" Balas Pramudya.


Mereka saling tatapan mata, beradu kuat siapa yang paling berani. Suasana persaingan semakin memanas saja.


"Aku sudah curiga selama ini, kau yang selalu diam dan mengurung di kamar ternyata memiliki niat tersembunyi. Kami kira kau ini pengecut dan bodoh, ternyata penuh muslihat" Pramudya kembali memancing amarah Rendy.


Dia berusaha memecah belah kedua kakak beradik ini, mungkin dia tidak bisa mempengaruhi Reva tapi tidak dengan Rendy. Akan mudah dia memancing emosi dirinya.


"Tutup mulutmu itu, kau tidak tahu apa-apa tentang aku atau kami!" Bentak Rendy.


Pramudya tersenyum sinis, lalu dia menatap Ericka yang masih terlihat kebingungan dengan arah pembicaraan mereka.


"Dan kau gadis kecil, ternyata kau serakah juga rupanya. Diam-diam kau bersama kedua kakakmu telah merencanakan semuanya, mau mengambil semuanya. Dasar tidak tahu malu!" Bentaknya kepada Ericka.


Ericka yang labil dan lembut itu terkejut saat di fitnah seperti itu, apalagi saat dibentak tadi dia sedikit terguncang sehingga mundur beberapa langkah darinya.


Hampir saja dia terjatuh dari balkon jika Rendy tak menariknya, emosi Rendy sudah memuncak dia ingin sekali memukul Pramudya.


Berani-beraninya dia memojokkan adiknya, dan hampir membuatnya terjatuh karena ketakutan. Apalagi Ericka memiliki trauma berat dengan suara teriakan dan perlakuan kasar lainnya.


Kali ini Rendy tidak ingin gegabah, dia harus menahan emosinya. Dia jadi teringat kejadian dia dengan Robin, jika terlalu emosi maka dia dia sendiri yang akan celaka.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2