Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Salah Faham


__ADS_3

"Seharusnya kamu jujur saja sama aku sejak awal, agar aku tidak berpikir buruk tentangmu dan lainnya. Tapi maaf aku gak bisa kita terus saling membohongi diri sendiri, lebih baik kita akhiri saja hubungan ini" ujar Reva sambil menangis.


"Tidak, aku mohon sayang jangan kayak gini! Kasih aku kesempatan sekali lagi, aku akan jujur semua sama kamu, aku akan perbaiki ini semua" ujar Nico memohon kepada Reva.


"Tidak bisa Nic, aku sudah tekad ingin sendiri dulu!" ucap Reva sambil menghindari Nico.


"Rev, Reva! Dengarkan aku dulu sayang..." Nico terus membujuk Reva, sambil mencoba meraih tangannya.


Reva mencoba menghindari Nico dengan menepiskan tangannya, tapi Nico terus berusaha mendekatinya.


"Jangan kayak gini, Nico! Aku gak suka!" teriak Reva.


"Dengarkan aku dulu!" ujar Nico.


Reva yang berusaha menghindari Nico tidak sadar kakinya tergelincir dan jatuh dari ketinggian gedung itu.


"Revaaaa!" teriak Nico.


Dia mencoba meraih tangan Reva, sedangkan Reva menggantung disisi atap gedung itu. Tangannya berpegangan pada sisi pagar tembok.


"Nic, Nico! Tolong aku..." ujar Reva dengan sekuat tenaga berusaha meraih tangan Nico.


"Raih tanganku, cepatlah!" teriak Nico berusaha meraih tangan Reva.


"Akh! Aku gak bisa, aku gak kuat!" ujar Reva, berlahan pegangan tangannya melemah.


"Tidak, tidak! Kamu harus kuat, pegang sisi itu kuat-kuat! Jangan lepas, aku mohon" Nico panik.


Dia berusaha mencari cara agar bisa menyelamatkan Reva, tapi tak ada benda satupun yang bisa menyelamatkan Reva.


"Nico, aku sudah gak kuat!" ujar Reva sambil menangis.


Dia meringis kesakitan, tangannya sudah tak kuat berpegangan pada sisi pagar itu. Dia pun pasrah kepada keadaan.


"Nico, maafkan aku. Aku sangat..." seketika pegangan tangannya lepas, dan Reva jatuh melayang bagaikan kapas tertiup angin.


"REVAAA!" teriak Nico.


Dia terbangun dari tidurnya, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Dia meraih air diatas nakas samping tempat tidurnya.


Nico meminum air didalam gelasnya sampai habis, keringatnya tak henti-hentinya mengalir. Detak jantungnya terus berdegup kencang.


"Sialan, hanya mimpi! Ya Tuhan, Reva..." dia mengusap keringat dingin mengalir di dahinya dengan kasar.


Untungnya itu terjadi didalam mimpinya, seandainya itu benar terjadi mungkin Nico juga akan terjun dari atap gedung itu menyusul Reva.


Dia teringat kejadian hari itu saat dia menemukan Reva diatap gedung itu, setelah memberikan ciuman lembut dan hangat, Nico menatap wajah kekasihnya itu.

__ADS_1


Mata sembab Reva tak bisa dibohongi, gadis itu sudah terlalu banyak menangis. Dia mungkin sangat kecewa dengan dirinya, Nico tak bisa mengelak karena semuanya memang berawal darinya.


Dia mendekati keluarga itu, agar bisa dekat dengan anak-anak Larasati Pohan untuk memudahkan dirinya menyerahkan harta warisan mendiang keluarga ibu Larasati.


Siapa tahu pertemuannya dengan Reva membuatnya jatuh cinta, berlahan misinya berubah menjadi misi untuk mendapatkannya.


Nico yang dingin, kejam melaksanakan berbagai cara untuk mendapatkan garis itu. Tapi gadis itu juga yang merubah hidupnya menjadi lebih baik lagi, menjadi lebih penyayang dan baik hati.


Nico melakukan semua rencana dengan matang untuk menyelamatkan keluarganya, dirinya dan adik-adiknya, itu semua demi Reva. Demi orang yang dia cintai.


//


Sementara itu, ditempat lain. Berbeda dengan Nico yang menyesali perbuatannya dan mengkhawatirkan dirinya.


Reva makan dengan lahapnya ditemani Rendy di apartemennya mewahnya itu, dia tak peduli adiknya itu menatapnya heran dan jijik melihatnya makan dengan belepotan begitu.


"Kenapa? Mau? Nih masih banyak!" ujar Reva cuek menawari Rendy makanan.


Diatas meja makan mereka sudah tersajikan makanan yang banyak, Reva memesan makanan cepat saji. Rendy heran, tengah malam begini kakaknya malah order fast food. Untung ada yang menerima pesanannya, jika tidak dia akan kerepotan mengabulkan permintaan kakaknya yang aneh itu.


"Kamu kenapa sih, Kak?! Sakit atau ngidam lu?! Tengah malam makan beginian, gak takut gendut? Aneh nih bocah" ucap Rendy melihat kakaknya tengah asik menikmati ayam bulgogi, makanan khas Korea.


"Emang kenapa? Hei anda, bocah! Gak usah ngurusin isi perutku. Kalau mau, silakan dimakan. Kalau gak mau, tidur sana. Besok harus kerja kan?!" usir Reva.


"Aish, siapa pula yang mau minta! Aku hanya mengkhawatirkan kamu aja, Kak. Kenapa, habis nangis lagi?!" tanya Rendy sambil nyomot ayam goreng Krispy.


"Ish, pelit!" gerutu Rendy sambil mengunyah ayamnya.


"Jadi beneran nih, lagi sedih? Habis nangis? Kenapa, kerjaannya banyak? Perlu bantuan gak? Atau jangan-jangan..." ujar Rendy terus menebak pikiran kakaknya itu.


"Jangan aneh-aneh kamu yah! Aku ini Revalina, aku Superwoman! Gak ada yang tak bisa aku lakukan, aku lagi pengen makan makanan begini apa masalahnya?!" ujarnya melotot sambil mengunyah ayamnya.


Kalau sudah melihat kakaknya dalam mode marah, Rendy lebih baik memilih pergi daripada kena tendangan mautnya.


"Baru kali ini aku melihatnya begitu?! Kenapa yah? Coba aku hubungi kak Nico, siapa tahu dia tau sesuatu" ujar Rendy.


Beberapa kali dia menghubungi Nico tapi tak tersambung juga, Rendy berpikir mungkin karena sudah tengah malam Nico pasti sedang tidur.


Dia tidak tahu, Nico sekarang ini sedang berkendara menuju apartemennya. Dia yang begitu khawatir dan gelisah terhadap Reva, tak bisa tidur. Apalagi gadis itu tak mau mengangkat telponnya.


//


//


Sedangkan di negara lain, dimana Indonesia sudah malam sedangkan di sana malah siang.


Ericka yang tak tahu arah tujuannya kemana, terpaksa mengikuti lelaki tak dikenalnya itu. Lelaki itu menawarinya tempat tinggal sementara, selagi dia masih mencari tempat baru.

__ADS_1


Ericka sekarang berada ditengah kota London, tapi siapa sangka ditengah kota itu masih ada tempat terpencil, tempat para kelas menengah kebawah tinggal. Mereka tinggal di apartemen atau rumah susun kelas dua, yang kehidupan mereka nampak sederhana. Meskipun begitu, hidup mereka nampak bahagia.


Saat ini Ericka tinggal disalah satu rumah susun itu, semua tetangga yang ada di sana nampak begitu ramah padanya, lingkungannya juga begitu mendukungnya.


Pernah ada sesekali orang asing masuk ke kawasan itu, mereka nampak begitu sigap dan kompak melindungi kawanan yang ada di sana, bagaikan keluarga.


"Kalau ada apa-apa, bilang saja pada kami, tidak perlu sungkan atau malu. Stanley sudah mengatakan semuanya kepada kami soalmu, dia meminta kami menjagamu seperti keluarganya" ujar salah seorang warga yang ada di sana.


Stanley Miller, seorang pemuda yang usianya tak jauh berbeda dengannya. Hidup yang keras membuatnya menjadi lebih mandiri dan berpisah dengan keluarganya.


Dia berasal dari suatu daerah di pedesaan di suatu wilayah negara Inggris itu, cukup jauh dari kota London.


Dia sudah tinggal cukup lama di wilayah itu, sehingga semua orang sudah mengenalnya cukup baik. Meskipun sifatnya yang cuek dan slengean, dia pemuda yang baik hati.


"Terima kasih sudah menerimaku disini, aku tak tahu bagaimana caranya membalas semua kebaikan kalian kepadaku. Semoga Tuhan membalas semuanya dengan kebaikan yang lebih dari ini untuk kalian semuanya" ujar Ericka mengucapkan terima kasihnya kepada semuanya.


Ada satu hal yang tidak diketahui oleh Ericka, Stanley mengatakan kepada semua orang bahwa dia adalah istrinya, what's?!


"Aku terpaksa, jika tak begitu mereka mungkin takkan menerima dirinya di rumahku. Aku seorang pemuda sendirian membawa seorang gadis tak dikenal di rumahnya?


Aku tak ingin jadi bahan pergunjingan para tetangga nantinya" ujar Stanley mengatakan itu semua kepada salah satu rekannya.


"Kenapa tak kau hubungi saja, si bos. Nanti dia akan diserahkan kepadanya, biarkan saja jadi tanggung jawab bos nantinya" ujar rekannya.


"Masalahnya, bos tak ada disini. Dia ada di Indonesia, sedang menyelidiki sesuatu bersama keluarganya. Aku tak tahu apa hubungannya dia dengan si bos, aku hanya menjalankan tugas saja.


Hanya saja, gadis itu terlalu manis jika ditinggalkan begitu saja di rumah besar itu, aku takut dia tak betah malah kabur lagi. Dan akan menjadi pekerjaanku lagi mencarinya.


Kau tahu sendiri kan, orang-orang di rumah itu terlalu kaku. Bahkan para pelayannya juga begitu" ujar Stanley.


"Hei, jangan berlebihan. Kita ini hanya seorang pengawal biasa, pengawal bayaran. Kita tak ada apa-apanya dimata mereka, berbuat baik itu bagus, tapi kau juga harus ukur juga kemampuanmu.


Jangan sampai keterlibatanmu ini suatu saat nanti akan menyusahkanmu juga, ingat gadis itu klien kita. Wajib melindunginya, tapi jangan libatkan perasaanmu juga.


Dalam pekerjaan kita ini, tidak boleh melibatkan emosi" ucap rekanannya itu.


Stanley hanya diam mendengarkan, apa yang diucapkan oleh temannya itu ada benarnya juga. Tapi sudah beberapa hari mereka tinggal bersama membuat hatinya yang keras menjadi lembut dengan segala sikap dan perlakuan Ericka padanya.


Padahal Ericka hanya ingin membalas kebaikannya saja, dengan cara menjaga dan membersihkan rumahnya, mencucikan pakaiannya dan memasakan makanan untuknya.


Lama kelamaan Stanley jadi baper juga, diperhatikan segitunya oleh Ericka. Dan membuat para tetangga salah faham mengira mereka pasangan suami istri, Ericka yang polos manggut-manggut saja sedangkan Stanley yang ingin melindunginya harus menutupi semuanya dengan berbohong kalau dia istrinya.


...----------------...


Bersambung


Siapakah bos Stanley? Kenapa dia ingin melindungi Ericka? yuk dukung author dengan like,koment juga vote kamu yah ✍️🌹😘🙏

__ADS_1


__ADS_2