
Saat ini Ericka telah berada di bandara, dia memperhatikan sekelilingnya seperti sedang menunggu seseorang, Stanley menghampirinya.
"Apa yang kamu cari? Dia takkan datang.." ucapnya.
"Memangnya kau tahu apa yang aku cari?" tanya Ericka dengan mata nanar mencari seseorang disekitaran sana.
"Aku tahu, dia yang selama ini selalu berada didekatmu itu.." jawab Stanley.
Ericka langsung berhenti dari kegiatannya tadi, dia langsung menatap wajah Stanley. Lelaki menatapnya dengan senyuman kaku, dibalik senyuman itu tersimpan hati yang terluka.
"Kamu bicara apa? Antara aku dan dia tidak ada hubungan seperti itu, kami hanya rekanan seperti aku dan kamu" jawab Ericka.
"O ya, tapi aku lihat dia tidak seperti itu ke kamu. Perhatiannya melebihi seorang rekan, bahkan teman biasa saja tak seperti itu.." ucap Stanley memancing Ericka, dia ingin tahu seperti apa perasaan Ericka kepada bosnya itu.
"Mungkin kamu benar, tapi saat ini aku hanya fokus dengan tujuan hidupku saat ini. Aku tak ingin pikiranku terbagi dua, karena perasaan seperti itu untuk saat ini tidak penting!" sahut Ericka.
Mendengar perkataannya itu, Stanley hanya tersenyum simpul saja. Meskipun dia berharap juga bisa bersama dengan Ericka, dia cukup tahu diri dengan dirinya.
Dia hanya ingin gadis itu bahagia, walaupun dia tak bisa bersama seperti keinginannya, setidaknya bersama sebagai rekan seperti ini saja sudah cukup baginya.
Tidak lama kemudian, pengumuman pemberitahuan pesawat tujuan mereka akan segera berangkat, mereka semua bersiap-siap menuju pintu pesawat ingin memulai perjalanan mereka yang cukup jauh itu.
Sementara itu dibalik dinding pintu tempat Ericka tadi, ada seseorang yang sedang memperhatikan dirinya, tatapannya begitu sendu, begitu banyak harapan dihatinya pada gadis itu.
Sebelum masuk kedalam pesawat, Ericka menyempatkan diri untuk terakhir kalinya melihat disekelilingnya, berharap yang ditunggunya datang, tapi sayang orang itu tidak datang juga.
Dengan perasaan kecewa dia memasuki pintu pesawat itu, tiba-tiba tangannya ada yang menariknya dari belakang, betapa terkejutnya dia orang itu sekarang berada tepat dibelakangnya.
"A-Aaron?!" ucap Ericka terpana.
Aaron tersenyum dan langsung memeluknya hangat, entah mengapa Ericka merasa hatinya begitu hangat dipelukkan lelaki itu.
"Maaf aku datang terlambat.." ucap Aaron dengan tatapan lembut.
Wajah mereka terlalu dekat, Ericka sedikit merasa tak nyaman dia berusaha menjauh sedikit tetapi lelaki itu menahan pundaknya agar tak bergeser sedikit pun.
"Aaron, aku kira kau tak akan datang.." ucap Ericka pelan, hembusan nafas keduanya saling beradu membuat keduanya sama-sama merasakan debaran tak menentu.
"Aku sudah bilang akan menyusulmu tadi, dan sekarang aku ada disini" kata Aaron.
"Apakah kau akan pergi bersama kami?" tanya Ericka lagi.
"Belum, aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan dulu baru bisa menyusul kalian" ucap Aaron.
"Ericka, ayo! Sebentar lagi pesawat akan terbang" ujar Stanley diseberangnya.
Ada semburat merah dipipinya merasa cemburu melihat kedekatan mereka, dia tahu dia bukan siapa-siapa, tapi hati dan perasaan tak bisa dibohongi.
"Aku pamit yah, sampai jumpa lagi di Indonesia.." ucap Ericka dengan senyuman manisnya.
Cup!
Aaron melayangkan kecupan kecil dikeningnya, entah sudah berapa kali lelaki itu sembarangan menciumnya begitu saja tanpa persetujuannya.
Ericka mendelik marah, dia malu kalau diliatin semua orang, entah sudah berapa banyak orang-orang yang menggosipkan hubungan mereka, meskipun dia tahu kalau Aaron menyukainya, tapi dia berusaha menepis semua rasa itu.
Dia memeluk sekali lagi lelaki itu, lalu ingin pergi masuk ke pintu pesawat. Dan tanpa diduganya, Aaron malah mencium bibirnya dengan hangat didepan Stanley!
Ericka sangat terkejut sampai terpaku beberapa detik dan langsung mendorong tubuh Aaron, tapi bukannya melepaskan tapi tubuhnya semakin dipeluk erat oleh lelaki itu.
"Emmffh,, Lepaskan! Ummmff, Aaron! Aahh.. Akuuu, ummfhh.." dia berusaha sekuat mungkin lepas tetapi pelukan lelaki itu begitu kuat.
__ADS_1
Stanley yang berdiri dari sana, hanya terdiam terpaku apa yang dia lihat. Dia syok harus melihat itu semuanya, diapun tak bisa berbuat apa-apa. Dia masuk kedalam pesawat dengan perasaan kecewa dan sakit.
Jason alias Jessy yang mencari mereka terkejut melihat perubahan ekspresi wajah Stanley setelah dari luar, wajah lelaki itu merah padam, dan terlihat matanya seperti menahan air mata agar tidak jatuh.
Penasaran apa yang dilihat oleh Stanley, Jessy pun melihat keluar dan tahu apa yang terjadi, dia tersenyum simpul.
"Sudah ay duga, ini pasti terjadi. Sudahlah Stanley, you memang tidak ditakdirkan bersama nona muda itu" gumamnya.
"Ehem! Nona, ayo! Sebentar lagi pesawat akan berangkat, maaf Tuan.." ujar Jessy menegur mereka.
Melihat Jessy keduanya melepaskan bibir keduanya yang saling berpagutan tadi, Jessy bisa melihat dengan jelas kekecewaan keduanya, dia tersenyum geli melihat dua orang yang sedang kasmaran itu.
Ericka seperti sedang tersadar apa yang dia lakukan tadi, dia terkejut kenapa dia bisa melakukan hal itu, bukannya terus menolak ciuman itu tapi dia malah membalasnya dengan ganas.
"Dasar bodoh! Apa yang kau lakukan?!" ujarnya dengan kesal pada diri sendiri.
"Sampai jumpa lagi, sayang... Ciuman ini takkan pernah aku lupakan, ini adalah sebuah janji untukku pada dirimu" ucap Aaron tersenyum senang.
Ericka tak dapat membalas ucapan Aaron, dia hanya tertunduk malu dengan apa yang dia lakukan, dia langsung berlalu pergi menuju pintu pesawat yang sebentar lagi lepas landas.
Jessy hanya tersenyum menggoda ketika Ericka berlalu melewatinya, melihat Jessy menggodanya membuatnya semakin malu saja, sedangkan Jessy menggelengkan kepalanya dihadapan bosnya itu.
"Jaga dia untukku!" ucap Aaron.
"Baik, Bos!" balas Jessy.
Kini pesawat itu sudah lepas landas mengudara di langit kota London meninggalkan sejuta kenangan bagi Ericka, terutama ciuman hangat tadi, dia tak bisa mengendalikan perasaannya.
"Tunggu aku, Ericka..." gumamnya sambil melihat pesawat itu lepas landas.
Sementara itu didalam pesawat, Ericka sedang bergumul dengan pikirannya, gejolak hati dan logikanya yang bertentangan.
Akh! Bodoh, apa yang aku lakukan! Jangan bayangkan, jangan bayangkan!" ujarnya sambil menggelengkan kepalanya sambil sesekali memukul kepalanya sendiri.
Jessy hanya tersenyum melihat tingkahnya yang konyol itu, dilain sisi Stanley malah murung, dia sengaja menutupi wajahnya dengan topi agar tak ada yang melihat ekspresi wajahnya saat ini.
"Berpura-pura tidur mungkin lebih baik untukmu, daripada memperlihatkan isi hatimu sendiri seperti itu.." gumam Jessy kasihan melihat rekannya itu.
//
Setelah melewati beberapa jam perjalanan, hingga harus transit ke bandara negara lain, akhirnya mereka sampai juga di Indonesia.
Beribu perasaan dihatinya saat ini, dia harus kembali lagi kesini. Perasaan rindu, sakit, sedih, marah, kecewa.. Dia tidak tahu bagaimana lagi harus menggambarkan suasana isi hatinya saat ini.
"Hai, aku kembali lagi... Apa kau merindukanku, wahai penderitaan! Aku datang untuk membalasmu, bukan menerima penyiksaanmu lagi.." gumamnya dalam hati.
Dia harus menenangkan kembali hatinya, dia harus melawan semua perasaan itu, dia tidak ingin terlihat lemah oleh siapapun lagi.
Sementara itu, di lobby bandara itu sudah ada beberapa orang yang menunggu kedatangan mereka, orang-orang itu adalah suruhan Aaron atas perintah Nico untuk membantu juga melayani Ericka selama di Indonesia, dan juga akan membantu misi balas dendam nya.
Hanya Nico lah satu-satunya yang tahu kepulangan Ericka, dan dia harus merahasiakan itu semuanya demi misi Ericka sendiri.
Ericka memutuskan pulang ke rumah ayahnya, dia harus mengejutkan orang-orang yang ada di rumah itu, selain rasa rindunya kepada bi Mirna dan Milah, dia juga harus menunjukkan kepada semua orang yang ada di sana, siapa dirinya sekarang.
Tak terasa perjalanan mereka menuju rumah ayahnya berjalan cepat dan lancar, dan kini mereka sudah didepan pintu gerbang rumah itu.
Ada perasaan sakit dihatinya saat melihat setiap sudut sisi rumah itu, pagar itu, pohon besar samping rumahnya... Tiba-tiba tubuhnya sedikit terguncang saat melihat pohon itu, kenangan malam itu tak pernah dia lupakan, bagaikan mimpi buruk yang selalu menghantuinya.
"Tidak, aku harus kuat! Aku tak boleh lemah dan cengeng seperti ini, aku adalah Ericka yang baru!" ujarnya menguatkan hatinya.
Pintu gerbang itu terbuka lebar, mobil yang ditumpanginya melaju memasuki pekarangan rumah itu. Dia melihat disekeliling area sekitaran rumah itu, masih sama terakhir dia meninggalkannya.
__ADS_1
Dia melihat mang Ujang, sopirnya dulu sedang beristirahat dipohon samping halaman rumahnya itu, ada rasa rindu dihatinya melihat lelaki tua itu, lelaki tua yang selalu menemaninya kemanapun dia pergi.
"Beliau masih kuat dan sehat saja, syukurlah kalau begitu.." gumamnya sambil tersenyum haru.
Akhirnya mobil itu berhenti juga didepan pintu utama rumah itu, ada beberapa pengawal yang berjaga di depannya bingung dengan tamu yang baru datang.
Mereka tidak menyadari bahkan tidak mengenali Ericka, ada tiga mobil yang mengiringinya, semua orang didalam mobil itu turun mengawal Ericka di sana.
Ada sekitar lima koper miliknya diturunkan diatas mobil itu, mereka membawa semuanya masuk kedalam rumah itu tapi sebelumnya dicegah dulu orang para pengawal itu.
"Kalian siapa?! Kalian tidak bisa masuk sebelum memberikan tanda pengenal ataupun membuat janji kepada tuan kami!" ujar salah satu pengawal itu.
"Kami sudah diberi masuk oleh pengawal didepan, berarti kami juga diperbolehkan masuk kedalam rumah kan??" tanya pengawal utusan Aaron yang berada di Indonesia.
Sedangkan Stanley dan Jessy belum terlalu mahir berbahasa Indonesia, mereka baru bisa sedikit-sedikit saja. Ericka dengan sikap anggunnya yang berwibawa berjalan lurus masuk ke rumah itu.
Sedangkan para pengawal tadi tak bisa berbuat apa-apa, mereka sudah ditahan oleh beberapa pengawal Ericka.
Pintu utama rumah itu terbuka lebar, dia masuk dengan anggunnya berjalan tegak dengan pandangan lurus kedepan dengan senyuman tipis diwajahnya.
Entah sedang ada perayaan apa di rumah itu, dia melihat di ruang tamu itu begitu banyak tamu, dan Ericka tak mengenal mereka. Dia juga melihat ayahnya sedang berbincang-bincang dengan beberapa orang sambil berdiri lengkap dengan minumannya.
Elena sedang tertawa sambil mengobrol seru dengan geng sosialitanya, dan dia juga melihat Pramudya yang sok keren dikelilingi wanita-wanita cantik dan seksi.
"Astaga, ini rumah atau pub? Kenapa begitu ramai dengan orang-orang ini?" gumamnya heran.
"Kau datang tepat waktu, disaat mereka berkumpul semua begini.. Bukankah waktu yang tepat untuk menunjukkan siapa dirimu sebenarnya?!" ujar Stanley menyemangatinya.
Ericka tersenyum kembali, dia tahu bukan saatnya untuk bingung melihat mereka, justru mereka lah yang harus bingung melihatnya.
Dia berjalan kearah kerumunan itu diiringi oleh beberapa orang-orangnya sambil membawa barang-barang Ericka juga.
Mereka semua terdiam melihat tamu yang tak di undang itu, gadis cantik memiliki kaki jenjang dengan kulit putih mulus, wajah cantik berseri memiliki aura yang luar biasa mampu menghipnotis mereka semua yang ada di sana oleh kecantikannya.
Dengan memakai gaun rancangan desainer terkenal dengan harga fantastis dia mampu membungkam mulut para sosialita itu, mereka takjub dengan semua pakaian ataupun aksesoris yang melekat pada tubuh gadis itu.
Semuanya mahal dengan nilai ratusan juta rupiah, yang mereka saja belum tentu bisa mampu membelinya.
Sedangkan pak Dewantoro hanya diam terpaku melihatnya, lidahnya keluh dengan menelan salivanya kasar, bayang-bayang masa lalu kini ada didepan matanya.
"Laras..." gumamnya menyebut nama mendiang istrinya itu.
Melihat itu Elena dan Pramudya menjadi ingin tahu siapa sebenarnya gadis itu, tapi kenapa wajahnya nampak tak asing begitu.
"Halo semuanya, aku kembali!" sapanya dengan senyuman licik penuh percaya diri.
"Kau.. Siapa?!" tanya Elena, ada perasaan cemburu melihat wajah itu.
"Apa kau tak mengenaliku? Ibuuu??" tanya Ericka dengan nada sarkasme menyindir Elena.
"Nona Ericka, mau dibawa kemana barang-barang anda ini?" tanya Jessy dengan bahasa Inggris.
Semuanya melongo kaget mendengar ucapannya, bagi yang mengerti terkejut tak percaya dan tak faham apa yang diucapkan Jessy hanya planga-plongo saja.
Di sana tadi, ada beberapa pelayan yang melayani para tamu itu terkejut saat mendengar nama Ericka disebutkan, mereka mengintip dibalik pembatas ruangan tersebut.
Mereka takjub melihat perubahan nona muda mereka, siapa tahu si upik abu itu sudah berubah menjadi Cinderella yang kuat dan berani.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1