Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Sebuah Kenyataan Hidup


__ADS_3

Kembali ke Ericka yang masih dalam sekapan para penjahat itu.


Saat ini Ericka berada disebuah rumah besar dan mewah, rumah bergaya Eropa dengan tiga lantai dilengkapi dengan fasilitas mewah dan glamor.


Kali ini dia dipekerjakan sebagai asisten rumah tangga atau pelayan di rumah itu, tapi dia tidak tahu siapa yang harus dia layani atau siapa tuan dari rumah itu.


Ada puluhan pelayan di rumah itu, sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dari puluhan pelayan itu tidak termasuk dengan driver dan bodyguard nya.


Kehidupan Ericka disini agak berbeda saat dia didalam pabrik atau apalah itu, jika disana mereka bekerja dalam pengawasan dan dipaksa kerja rodi.


Tapi disini tak ada pengawal atau pengawas yang menjaga dan mengawasi mereka, mereka bekerja dengan sadar diri sesuai tugas masing-masing.


Jika di sana mereka mempunyai waktu istirahat sedikit dan tidak bisa memilih makanan dan dibatasi, sedangkan di sana dia bebas mau makan apa saja dan bisa istirahat ketika selesai bekerja.


Dengan kata lain, kehidupan disini lebih baik dari sana. Satu yang membuat Ericka bingung dan bertanya-tanya, siapa pemilik rumah besar ini? Setiap hari mereka memasak sarapan dan makanan lainnya, siapa yang menikmatinya?


"Hei, kau jangan melamun! Selesaikan pekerjaanmu agar bisa istirahat cepat" ujar salah satu pelayan yang disana.


"Iya, maaf..." ujar Ericka pelan.


Meskipun hidupnya jauh lebih baik disini, dia merasa tak nyaman. Karena orang-orang ini sibuk dengan urusan dirinya sendiri, tidak mau berkumpul atau sekedar menyapa saja.


Berbeda dengan dia ditempat itu, dia memiliki teman banyak. Mungkin ini definisi lebih baik hidup sederhana tapi bahagia daripada hidup mewah tapi tak bahagia.


"Hei kau, ditunggu oleh mr. Alfred di ruangannya" seorang lelaki Afrikan menegurnya.


Mr. Alfred adalah pengawas juga ketua pelayan yang di sana, meskipun begitu dia sangat mempercayai pekerjaan rumah itu kepada para pelayan yang di sana dan dia memperlakukan mereka dengan baik.


Tok! Tok! Tok!


Ericka mengetuk pintu kayu lebar didepannya, pintu dengan ukiran yang khas itu terbuka lebar oleh seseorang.


"Ericka? Masuklah" ujarnya dengan senyuman ramahnya.


"Kita baru bertemu langsung hari ini, maaf waktu itu aku tak sempat menyapamu" ujarnya ramah sambil menuangkan air teh ke cangkir didepannya.


Ericka menatap ke sekeliling ruangan itu, ruang kerja sekaligus ruang baca pribadi mr. Alfred. Begitu estetik dan mewah.


"Ericka, apa kau tau maksudku memanggilmu kesini?" tanyanya sambil memandang lekat wajah Ericka.


"Ti-tidak, Tuan.." ucap Ericka gugup.


"Hehe, santai saja denganku tidak perlu kau gugup begitu" ujarnya sambil menyeruput tehnya.


"Ericka, aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu. Dengarkan baik-baik... Aku memiliki hubungan baik dengan orang tuamu" ucapnya sambil menatap Ericka dingin.


"Ma-maksud Tuan apa? Apa tuan tahu semuanya tentangku?" tanya Ericka penasaran.


"Sebelumnya aku ingin mengatakan kepadamu, kalau pemilik rumah ini sangat menyukaimu. Namanya mr. Robert dialah yang sebenarnya berhubungan langsung kepada orang tuamu.


Aku hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh atasanku, dan kau adalah salah satu tugas yang harus aku laksanakan sesuai perintahnya" ujar mr. Alfred menjelaskan.

__ADS_1


"Aku tak tahu apa-apa tentangmu ataupun keluargamu, yang aku tahu orang tuamu berhutang banyak kepada tuanku. Dan kau, adalah jaminan mereka" sambung mr. Alfred pelan, sepertinya dia tak tega menyampaikan hal itu kepadanya.


"Apa maksud, Tuan? Hutang? Jaminan? Tolong jelaskan aku tak mengerti?!" ujar Ericka, dia takut apa yang akan dia didengarkan nanti menjadi nyata.


"Aku rasa kamu mengerti apa yang aku maksud, Ericka" jawab mr. Alfred sambil menghela nafas berat.


"Tapi aku tak mau tahu dan gak mau apapun itu, Tuan! Tolong, lepaskan aku! Kumohon" ujar Ericka sambil menangis.


"Maaf, Ericka. Aku tak sanggup menolongmu karena ini adalah perintah langsung dari atasanku. Bersiaplah, kau akan dijemput nanti karena kita akan pergi ke suatu tempat" ujar mr. Alfred sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Tunggu dulu, aku harus bersiap untuk apa? Kemana kita akan pergi?!" tanya Ericka kesal.


"Nanti kau akan tahu juga, silakan keluar. Sore nanti kita akan pergi" ucapnya seraya menuju meja kerjanya kembali.


Ericka keluar dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk dan juga berbagai pertanyaan di kepalanya. Saat dia berjalan sambil berpikir, tidak sengaja dia menabrak seseorang.


"Akh, maaf..." ujarnya sambil menengok kearah orang itu.


"Hi-Hiro?!" katanya terkejut melihat orang didepannya itu.


"Apa yang kau lakukan disini? Aku pikir kau hilang tersesat di lorong itu! Kau tahu, Ayumi sampai menangis sedih kehilanganmu!


Dan sekarang, dan sekarang mereka... Mereka harus kehilangan segalanya" ujar Ericka sambil menangis memukuli Hiro.


"Maafkan aku, aku terpaksa melakukan semua itu. Karena aku lelah, aku juga manusia punya perasaan dan keinginan sendiri, Ericka" jawab Hiro pelan.


"Setidaknya kau jangan pergi begitu saja, jika kau ingin pergi kenapa tidak kau ajak kami?! Setidaknya kau harus bawa Ayumi!" ujar Ericka marah padanya.


"Hiro, bukan salahnya jika kamu harus berada disini. Bahkan dia juga tak mengira kalau nasibnya akan seperti ini, jika kau marah dan ingin mencari orang yang ingin disalahkan, salahkan saja para penculik itu dan orang-orang yang berbuat jahat selama ini" ucap Ericka memberikan penjelasan kepada Hiro.


"Aku tahu, aku egois. Aku ingin selamat sendiri, tapi apa yang terjadi bukan sepenuhnya salahku. Lihat, kau pun akhirnya berada disini juga kan? Itu berarti kau juga memilih kabur juga, sendirian" jawab Hiro egois.


"Pertama, kami semua tertangkap karena Raymond dan anak buahnya menemukan kami. Kedua, semua teman-teman dieksekusi didepan semua orang di aula besar itu.


Aku sampai disini karena aku dibawa oleh mereka, aku dipaksa hidup untuk melayani tuan mereka! Kau pikir ini apa? Apa kau berpikir kau sudah bebas?!" teriak Ericka kesal.


"A-apa maksudmu? Jadi ini rumah bos ini?!" tanya Hiro kebingungan.


"Iya, ini rumah besar mr. Robert sang pemilik semua usaha bisnis hitam ini termasuk perdagangan manusia" jawab seseorang yang menghampiri mereka.


"Ikut aku kalian berdua, ada yang ingin aku jelaskan kepada kalian berdua" ucap lelaki Afrikan itu.


Hiro dan Ericka mengikutinya tanpa tahu dari maksudnya, mereka memasuki sebuah ruangan di sana sudah ada beberapa orang yang menunggu. Hiro tampak terlihat kaget dan kebingungan.


"Ka-kalian? Kalian masih hidup?!! Dan ada disini semuanya!" teriaknya.


"Syut, pelankan suaramu. Jangan terlalu menarik perhatian orang diluar sana" ucap lelaki Afrikan tadi.


"Duduklah, aku akan menjelaskan sesuatu kepada kalian agar tak ada kesalahpahaman lagi. Kami semua yang ada disini adalah orang-orang yang pernah mencoba kabur dan berani menolak peraturan yang ada di pabrik itu.


Kami juga adalah orang-orang yang pernah dieksekusi oleh mereka, hilang keberadaan kami ditengah semua orang, isu-isu sengaja disebarkan untuk menakuti semua orang. Agar lebih patuh dan menurut kepada mereka.

__ADS_1


Tapi yang sebenarnya terjadi ialah, kami semua selamat dan dibawa ke rumah ini dan dipekerjakan seperti ini. Kenapa mereka malah memberikan kehidupan lebih baik kepada kami meskipun kami sudah mencoba memberontak?


Karena dia memang sedang mencari orang-orang yang berjiwa tangguh, yang berani berbeda. Kau tahu kita semua ada disana bukan karena diculik atau apa, tapi ada peran penting orang terdekat kita sampai kita dijadikan sebuah jaminan untuk mereka.


Aku yakin teman-teman kalian yang dieksekusi itu akan dibawa juga kesini atau tempat lain yang jauh lebih baik lagi daripada disana" ujar orang itu.


"Tapi aku mendengar dengan jelas suara tembakan itu" jawab Ericka.


"Itu hanya peluru kosong ditembakkan ketempat lain, aku yakin semua temanmu akan berpikir sama sepertimu kalau ada salah satu dari kalian atau mungkin semua temannya sudah dieksekusi.


O ya, Ericka dan Hiro. Kenalkan namaku Mawabe, kalian pasti kenal dengan adikku Malika. Dan yang itu Zahrah adiknya Zain dan beberapa teman yang lainnya" kata Mawabe memperkenalkan diri dan juga teman-temannya.


"Ya Tuhan, kalian... Aku sama sekali tak menyangka akan bertemu dan berkumpul dengan kalian disini. Kau tahu, adikmu Malika terus menangisimu.


Dan kau Zahrah, kakakmu Zain rela melakukan apa saja demi menyelamatkan kamu" ujar Hiro tak percaya.


"Maafkan aku, akibat kecerobohanku membuat masalah, aku akhirnya menyeret kakakku dalam masalah. Semoga aku dapat dipertemukan kembali dengannya" ucap Zahrah.


"Aku harap kalian tidak berbohong dan benar itu adanya, jika kalian diberikan kesempatan bertemu dengan mereka lagi aku harap kalian terus bersama.


Dan kau Hiro, jangan sakiti Ayumi. Dia begitu percaya dan berharap padamu, jika kau merasa tertekan atau tak mencintainya lebih baik jujur dan katakan semuanya kepada Ayumi" ucap Ericka sembari meninggalkan ruangan itu.


Ketika dia membuka pintu itu alangkah terkejutnya dia melihat mr. Alfred sudah didepan pintu dengan wajah dingin menatap kearahnya.


"Apa yang kau lakukan disini? Bersiaplah sebentar lagi kita akan pergi. Dan kalian, jika sudah istirahatnya silakan kembali pada pekerjaan kalian" ujarnya sambil berlalu pergi.


Semuanya nampak tegang setelah diketahui oleh mr. Alfred, mereka tidak tahu apa saja yang sudah didengar olehnya. Yang jelas setelah kejadian ini mereka tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya.


Ericka mengikutinya dari belakang, mr. Alfred membawa Ericka kesebuah ruangan disana sudah ada beberapa orang yang berkumpul menunggu kedatangannya.


"Mereka ini adalah para perias, mereka akan mendandanimu menjadi lebih baik lagi. setidaknya bekas luka di wajahmu itu harus tertutup rapi" ucapnya sambil meninggalkan Ericka bersama orang-orang itu.


"Silakan duduk, Nona. Kami akan merubahmu menjadi secantik bidadari. Haha!" ucap salah satu dari mereka sambil bergurau.


Ericka hanya diam memandanginya dari pantulan cermin, didalam pikirannya begitu ruwet dan mumet. Dia masih belum mengerti apa yang terjadi sebenarnya kepada dirinya.


Jadi, ayahnya dan Elena sengaja membiarkan mereka membawanya ke mr. Robert untuk dijadikan pelunas hutang?


Dan dia juga bersyukur teman-temannya masih hidup jika itu benar, dan dia berharap mereka berkumpul kembali lagi ditempat yang lebih baik lagi.


Ericka semakin kebingungan ketika dia memakai gaun pengantin serba putih lengkap dengan mahkota indah di kepalanya.


"A-apa ini?" tanyanya gugup.


"Loh, Nona tidak tahu jika hari ini akan menikah?" tanya salah satu perias itu.


Bagaikan disambar petir dan kena cambukan perih dia mendengar kabar itu. Apa, menikah?!


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2