
Sebelumnya.
Pak Dewantoro yang hampir kehilangan semua anggota keluarganya merasa hancur, dia lebih banyak berdiam diri di rumahnya. Semua urusan kantor perusahaan dan yayasan milik Wijaya Grup diurus oleh Rendy semua.
Sedangkan Reva dibuat sibuk dengan bisnis perusahaan dan yayasan milik mendiang ibunya, dan dia juga harus mengurus perusahaan pribadinya juga.
Ketika dia merasa hampa merindukan istri mudanya yang pergi tanpa kabar, tiba-tiba anak tirinya yaitu Pricilia menghubunginya.
"Ayah, apa aku bisa menemuimu?" tanya Pricilia lewat telpon.
"Boleh, kita ketemuan dimana?" tanya pak Dewantoro.
"Apa tidak bisa kita bertemu di rumah saja?" jawab Pricilia dengan nada lesu.
"Nak, Ayah lagi sedih karena merindukan ibumu. Dia pergi tanpa kabar, dan tak tahu kapan dia akan kembali" ujar pak Dewantoro pelan, dari nada bicaranya dia nampak begitu sedih sekali.
Mendengar hal itu, Pricilia tiba-tiba punya ide untuk mendapatkan hati dan kepercayaan ayah tirinya itu.
"Ayah, aku punya tempat makan yang enak untuk tempat pertemuan kita nanti" ucap Pricilia bersemangat.
"Kamu atur saja sendiri" jawab pak Dewantoro tak bersemangat.
Maka keesokan harinya, Pricilia membawa beberapa orang pergi bersamanya lengkap dengan beberapa berkas dan dokumennya. Mereka bertemu dengan pak Dewantoro disebuah restoran Sunda berkonsep alam, dan di sanalah juga tempat Reva dan Nico makan pada waktu itu.
"Ayah, aku datang ingin memberikan sebuah solusi untuk ayah agar keluarga kita kembali lagi seperti dulu" ucap Pricilia.
"Solusi apa maksudmu?" tanya pak Dewantoro penasaran.
"Ayah, apakah Ayah tahu kalau ibu pergi untuk menemani kak Pramudya berobat, tapi dia tak bisa kembali karena terhalang biaya di sana.
Mereka terpaksa tertahan sampai urusan mereka selesai baru mereka kembali, Ayah apa benar kalian memiliki sejumlah hutang yang lumayan besar kesalah satu pengusaha di London itu?
Jika benar, berarti semuanya menjadi jelas. Kenapa ibu menjualkan semua perhiasannya dan juga menggadaikan beberapa barang berharga miliknya, itu semua untuk membiayai pengobatan kakak dan untuk membayar hutang kalian" terlihat Pricilia berkaca-kaca, seperti sedang menahan tangisnya.
Pak Dewantoro juga terlihat sedih dan kelihatan menyesali sesuatu, dia terduduk lemas mengetahui pengorbanan istrinya demi anak dan dirinya. Itu kira-kira dipikirannya, dia tak tahu bahwa dirinya telah masuk perangkap Pricilia.
"Maka dari itu, Ayah. Aku dengar Ayah pernah memberikan sebuah perusahaan kecil untuk ibu, bagaimana perusahaan itu kita jual dan uangnya bisa kita pakai untuk membantu pengobatan kakak.
Dan untuk membayar hutang kalian, sehingga ibu dan kakak bisa cepat kembali bersama kita lagi" ujar Pricilia lagi, mencoba menyakinkan ayah tirinya itu.
__ADS_1
Karena kondisi emosinya kurang stabil, terlalu merindukan istri mudanya ditambah kecewa terhadap perilaku Reva dan Rendy kepadanya.
Tanpa pikir panjang, akhirnya pak Dewantoro menyetujui permintaan dan usul dari Pricilia itu. Dia tak tahu dampak dari perbuatan dirinya.
Alih-alih ingin menjual perusahaan itu, malah pak Dewantoro juga menjual beberapa aset berharganya.
Karena terlalu fokus dengan topik pembicaraan mereka, hingga mereka tak menyadari ada orang lain yang ikut mendengarkan pembicaraan mereka, dan tak tahu juga bahwa pondok mereka berdekatan dengan Reva dan Nico pada saat itu.
Saat ini sekarang.
Pak Dewantoro dan Pricilia berhasil menjual perusahaan kecil miliknya dan juga beberapa aset berharga miliknya, tentu saja itu tanpa persetujuan istri mudanya itu.
Dia terlalu termakan omongan manis anak tirinya itu, dan dia juga tak memeriksa kembali perusahaan mana yang membeli semua aset dan perusahaan kecil milik dirinya juga istrinya itu.
"Jadi betul, Mas. Kamu sudah memiliki uang untuk membayarkan utang-utang kita kepada mr. Robert?! Jika itu benar, syukurlah! Aku dan Pramudya bisa cepat pulang" ucap Elena senang mendapat kabar gembira dari suaminya langsung.
"Iya, itu benar. Jika Pramudya masih dalam pengobatan, pakai saja sisa uangnya dan cepatlah kembali, karena aku sudah rindu" ujar lelaki tua itu mncoba merayu istrinya itu.
"Iya, Mas. Sudah pasti aku akan kembali karena aku juga sudah rindu sekali kepadamu" jawab Elena kembali mencoba mengambil hati suaminya itu.
Seketika dia lupa soal Ericka dan rencana mereka untuk membalas dendam kepada suami dan anak-anak tirinya itu.
"Nak, kita akan segera bebas dari bajingan itu! Haha! Akhirnya kita akan pergi juga dari sini!" ujar nampak senang sekali.
//
Malam itu, Ericka bersama Aaron merencanakan sesuatu untuk memulai misi balas dendamnya.
"Sebelum pulang, aku ingin membebaskan para tawanan yang dikurung oleh mr. Robert. Karena aku sudah janji kepada teman-temanku yang ada di sana" ujar Ericka.
"Baiklah jika itu keinginanmu, lagian aku sudah tahu keinginanmu yang satu itu. Sebelumnya aku sudah mencari tahu seluk beluk tentang bisnis haram mr. Robert dan juga semua kelemahannya.
Aku sudah cukup bukti untuk menjebloskan dia dipenjara, tapi sebelum itu mari kita buat bisnisnya bangkrut dan membebaskan mereka semua" jawab Aaron.
Ericka tersenyum puas mendengar usaha Aaron untuk membantunya, di kepalanya sudah terbayang ide-ide gila untuk mengerjai mr. Robert.
Sebelumnya mereka menyamar menjadi pengusaha ilegal yang menginginkan banyak karyawan imigran gelap untuk dijadikan buruh-buruh pabrik di perusahaannya.
Mr. Robert yang mata duitan itu langsung setuju tanpa membaca surat perjanjian dan kontraknya, dia tak tahu sedang dijebak dan hampir semua pekerja buruh dan pelayan dari imigran gelap itu terlepas dari dirinya.
__ADS_1
"Terima kasih, Ericka sudah membantu kami semua terbebas dari siksaan dan kekangan penjahat itu" Ayumi, dia sudah bertemu dengan Hiro dan memaafkannya.
"Aku tak sangka kau masih mengingat janji kita bersama dulu, jika kau benar-benar akan membebaskan kami semua" ucap Anne, sambil menangis dan memeluk Ericka.
"Ericka..." terlihat Zahrah menghampirinya dan memeluknya juga.
"Terima kasih, berkat kau aku bisa bertemu kembali dengan kakakku" ucapnya lirih.
Semua teman-temannya satu persatu mengucapkan ucapan terima kasih kepadanya karena telah menolong mereka, bukan itu saja mereka bahkan diberikan pekerjaan yang layak dan tempat tinggal yang nyaman untuk mereka, dan tentu saja di gaji.
"Jika kalian ingin kembali ke tanah kelahirannya, boleh. Sebisa mungkin aku bantu, tapi jika tidak kalian tahu harus apa. Jika kalian kembali dan tak menemukan keluarga kalian di sana, kalian boleh kembali lagi kesini, kami akan membukakan pintu selebar mungkin untuk kalian" jawab Ericka dengan setulus hati.
Melihat itu, Aaron nampak begitu terharu melihat ketulusan gadis itu. Dia semakin ingin semakin dekat dengannya, tapi seketika senyumnya memudar ketika melihat Stanley.
"Saingannya lumayan ya coy" tiba-tiba Jessy berdiri disampingnya sambil berbicara seperti itu.
"Kamu ngomong apa sih, Jess?!" ucap Aaron kesal dan berlalu pergi.
"Dasar, gengsi di gedein. Ntar ceweknya beneran pergi gimana, hayoo" ucap Jessy nyerocos tanpa peduli yang diomongin sudah pergi.
//
//
Pada hari itu, Reva mendapat kabar bahwa ayahnya bersama Pricilia sedang berusaha mencari pembeli dalam acara pelelangan perusahaan dan beberapa aset berharga milik ayahnya dan ibu tirinya itu.
"Kalau urusan mereka, dia begitu cepat sampai rela kehilangan banyak harta tanpa memikirkan kedepannya nanti bagaimana" gumam Reva saat memikirkan ayahnya.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi, Bu. Kita berhasil mendapatkan perusahaan dan termasuk aset-asetnya yang lain" ujar Susy sambil menyerahkan beberapa berkas dan dokumen hasil pelelangan waktu itu.
"Good job, aku beruntung mendapatkan apa yang seharusnya milikku" jawab Reva sambil menyunggingkan senyumannya.
Sementara itu, disebuah apartemen Pricilia nampak senang sekali melihat beberapa uang tunai didalam koper dan ditangannya juga.
"Haha, gampang sekali menipu abege tua itu! Soal ibu nanti saja aku pikirkan, yang penting aku sudah memiliki banyak uang sekarang. Haha!" ujarnya sambil tertawa puas.
Dia juga tak tahu, bahwa suatu saat nanti dia akan menyesali perbuatannya itu.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung