Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Kejutan!


__ADS_3

Suasana Aula besar itu menjadi tegang, semua orang menatap mereka dengan berbagai ekspresi, ada berekspresi marah, sedih dan ada juga beberapa wajah yang terlihat senang melihat mereka tertangkap.


"Aku harus bagaimana? Aku tidak ingin mati disini!" gumam Ericka disela tangisnya.


Ericka dan teman-temannya ditodongkan senjata, mereka diikat kaki dan tangannya bahkan mulut mereka diplaster agar tak bersuara.


"Kalian akan melihat mereka mati hari ini!" teriak Raymond kejam.


Semua mata mereka ditutupi oleh kain hitam, seketika pandangan Ericka gelap dia tak bisa melihat apa-apa, dia menangis ketakutan tiba-tiba saja dia teringat dengan semua keluarga dan teman-temannya di sekolah.


Semua hinaan dan siksaan yang dia dapatkan dari mereka, hingga harus mendapatkan luka parah membekas seumur hidupnya. Belum cukup dengan itu ditambah lagi dia harus diculik dan disiksa begini.


[Cukup! Aku sudah lelah atas semua ini, aku lelah dengan semua hinaan ini! Aku capek, aku ingin hidup kembali!!] teriaknya dalam hati.


Doorr!


Terdengar suara tembakan yang kencang menggema di seluruh ruangan itu, lalu terdengar suara riuh jerit ketakutan orang-orang yang ada di sana.


Ericka masih belum tahu apa-apa, matanya tertutup ketika dia mendengar suara letupan itu dia refleks bangun tapi dia ditahan oleh anak buah Raymond yang berjaga dibelakangnya.


Dia kembali terduduk bersimpuh di sana, tangisnya semakin kencang dia tidak tahu siapa yang tertembak. Setelah itu tubuhnya ditarik paksa oleh beberapa orang keluar dari ruangan itu.


Ericka lemas dia tak memiliki tenaga lagi, baru saja dia mendapatkan keluarga baru sekarang dipisahkan lagi, meskipun hanya sebentar kenangan tentang mereka masih membekas dihatinya.


Mereka orang-orang malang berhati baik kepadanya, mungkin karena mereka senasib walaupun background mereka berbeda-beda. Ericka mengingat Belinda dan Annie yang selalu bersamanya.


"Tidak, tidak! Kumohon lepaskan aku, tinggalkan aku disini! Biarkan aku bersama mereka!" teriak Ericka.


Akhirnya dia bisa mengeluarkan suaranya juga setelah dilepaskan plester yang melekat di mulutnya tadi, tapi ikatan tangan dan kakinya belum dilepaskan, matanya pun masih tertutup.


"Kau masih bersyukur dibiarkan hidup oleh bos, jika tidak kau akan menjadi onggokan daging dan akan dimakan oleh para anjing penjaga itu!" bentak salah satu anak buah Raymond.


Ericka terdiam, dia bergidik ngeri saat mengingat beberapa anjing penjaga yang pernah ikut berpatroli. Anjing berjenis Herder dan Pitbull bertubuh besar, dia menjadi takut menjadi makanan mereka.


"Bagus, diamlah dan berhentilah menangis" ujar orang itu lagi.


Meskipun bersusah payah dia berhenti menangis, tetap saja dia tak bisa mengendalikan emosinya. Dia terus terisak dan akhirnya jebol juga pertahanannya, dia kembali menjerit mengingat kembali teman-temannya yang sudah berkumpul dengannya beberapa bulan ini.


Anak buah Raymond kesal dengannya, dia memukul pelipis kanan Ericka dengan kuat hingga berdarah membuat Ericka pun pingsan juga.


Mereka membawa Ericka ke sebuah mobil, dan membawanya pergi melaju membelah kota London dengan sejuta misteri.

__ADS_1


Apakah semua teman-temannya mati, atau ada hal lain yang tak diketahui oleh Ericka?


//


Masih di gedung yang sama, dan perusahaan yang sama pula.


"Kamu?!!" teriak wanita itu.


Dia membelalakkan matanya ketika melihat Reva, dengan anggunnya Reva melambaikan tangannya kearah wanita itu. Membuat semua orang yang di sana bingung.


"Kau kenal dengan bos mereka ini, Grace?" tanya wanita yang tadi.


"Tidak! Tapi aku tahu betul orang macam apa dia ini!" geram Grace, dia masih kesal dengan kejadian tempo hari.


Reva masih terbayang dengan kejadian dia pertama kali bertemu dengan Grace dan pacarnya itu, eh sekarang malah bertemu disini. Sepertinya mereka memang ditakdirkan untuk bertemu kembali.


"Apa maksudmu, Grace?" tanya temannya tak mengerti.


"Wanita jal*ng ini, yang mempermalukan aku waktu itu! Menyebalkan, kenapa aku harus bertemu kembali dengannya!" ujarnya kesal.


"Hei, jaga bicara anda! Anda tidak tahu sedang berbicara dengan siapa?!" Susy tak terima bosnya direndahkan.


"Aku tak peduli, dia orang hebat atau konglomerat darimana aku tak peduli!" ujar Grace marah.


"Mas, sudah mulai rapatnya?" tanya Grace menghampiri lelaki itu sambil membetulkan dasinya.


"Iya, dan tolong jangan berisik sebentar lagi rapat akan dimulai semua dewan direksi akan datang termasuk para investor itu. Kita tidak tahu akan bagaimana dengan nasib perusahaan ini" ujar lelaki itu, dan ternyata dia itu pacarnya Grace.


"Jadi, mereka pacaran satu kantor. Tipikal bos pacaran sama sekretarisnya gitu, tapi salah server. Ckck" Reva bergumam.


Grace menoleh kearah mereka dan kembali dengan tatapan mata tajamnya, dia memerintahkan yang lain untuk mengusir Reva dan rombongannya.


"Kau harus pergi, kau akan membuat kekacauan jika terus berada disini. Jangan sampai para atasan tau soal ini" ujar Grace dengan mata melotot.


"Kami disini memang ingin membuat keributan" ujar Reva sambil melenggang menyusul lelaki tambun tadi.


Mereka semua ingin menghalangi Reva masuk ke ruangan rapat itu, tapi dicegah oleh bodyguard dan asistennya Reva. Sedangkan Reva pergi bersama sekretarisnya, Mona namanya.


"Hei, apa yang kau lakukan. Jangan ikuti aku, nanti Grace berpikir yang tidak-tidak tentang kita" ujar lelaki tua itu sok keren.


Reva tak menanggapinya malah dia mencibirkan bibirnya, dia merasa geli mendengarnya.

__ADS_1


Pintu kayu berukuran besar itu dibuka lebar oleh lelaki tua itu untuk masuk disusul oleh Reva dan sekretarisnya.


Semua orang yang hadir di sana nampak kaget melihatnya, ada sekitar dua puluhan orang yang di sana menatapnya dengan heran.


Kecuali tiga orang yang duduk depan, mereka itu adalah pengacara dan notaris keluarga Reva. Terutama mantan pengacara mendiang ibunya Reva juga ada di sana, kurang lebih ada lima orang yang berpihak padanya, selebihnya adalah pengganggu.


"Ngapain kalian ikut sampai kesini?!" bentak lelaki tua itu gusar.


Mungkin dia takut affair nya dengan sekretarisnya ketahuan, atau apalah. Yang jelas sikapnya menambah membuat mereka semua penasaran dengan Reva.


"Nona, anda sudah datang. Silakan duduk disini" ujar pengacaranya.


Reva dan Mona duduk didepan berbaris dengan orang-orangnya, sedangkan yang lain duduk berhadapan dengan mereka. Sudah seperti konferensi pers aja mereka.


"Ada apa ini, Pak Pengacara? Bukankah masa jabatan Bu Elena belum selesai, kenapa harus diambil alih sekarang?" tanya seorang lelaki tua yang ada di sana.


Lelaki itu memancarkan aura kepemimpinan, dia nampak berwibawa sekali. Lelaki ini tipikal orangnya bossy dan suka menyuruh-nyuruh, dibalik wajah tenangnya itu Reva tahu dia penuh dengan kelicikan.


"Orangnya Elena ini, fix orang pertama yang aku usir nanti" gumam Reva.


"Dan satu hal lagi, siapa wanita muda ini? Kita tak menghadirkan orang luar untuk menghadiri rapat internal ini" ujar lelaki tua itu dingin, diiringi dengan anggukan semua orang.


Reva tersenyum sinis, dia memperhatikan semua orang dia menilai mereka secara diam-diam. Dia tahu mana pegawai baik dan buruk diantara mereka, yang raut wajahnya terlihat angkuh dan selalu menegakkan kepalanya mereka pasti orang-orangnya Elena, apalagi sorot mata tajam mereka saat menatap Reva menandakan jelas sekali mereka tak suka kehadiran orang asing.


Mungkin mereka takut kelakuan mereka selama di kantor akan ketahuan, apalagi dengan tanda setuju bersama lelaki tua tadi, itu sudah cukup membuat Reva mengambil kesimpulan sendiri.


"Semuanya, perkenalkan ini adalah Nona Revalina Wijaya anak kandung dari mendiang ibu Larasati Pohan, beliau ini juga ahli waris mendiang ibu Larasati Pohan bersama adik-adiknya." Ujar pengacara Reva menjelaskan tanpa basa-basi lagi.


Semua orang terdiam melongo mendengar perkataan dan pernyataan dari pengacara itu tadi.


"Dengan kata lain beliau ini adalah Ceo dan pemimpin besar perusahaan-perusahaan juga termasuk yayasan-yayasan milik mendiang ibunya.


Mulai hari ini dia aktif di kantor ini, setuju dan tidak setuju kalian keputusan sudah bulat. Dan saya yakin kalian semua tahu bahwa bu Elena sudah tidak menjabat posisi apapun di perusahaan ataupun di yayasan.


Jadi tak ada alasan apapun untuk menolak semua ini, jika tak setuju silakan keluar dan angkat kakin kalian dari perusahaan ini!" ujar pengacara Reva dengan tegas sambil melihat kearah mereka semuanya.


Semuanya nampak begitu gugup sekali dan tidak tahu harus berbicara apa dan bereaksi seperti apa, semuanya begitu cepat bagi mereka.


Tanpa pemberitahuan apapun, tiba-tiba saja CEO baru mereka sudah datang dan mereka akan di sidak begitu saja, bayang-bayang akan dipecat sudah didepan mata mereka terutama lelaki tua pacar Grace itu.


"Seharusnya aku sudah menduganya, ah! Si*l sekali hidupku!" gumam lelaki tua itu mengacak-acak rambutnya.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2