Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Rencana Pak Dewantoro


__ADS_3

Saat Rendy masih asyik mengintip Pramudya yang masih sibuk dengan laptopnya, dia tidak sadar ada orang lain yang mengawasinya.


"Dia sangat mencurigakan, aku sudah menduganya tidak mungkin dia sepolos itu," kata Andriana, asisten Pramudya.


"Tapi sebelumnya, aku harus melapor pada bos soal temuan ku ini." Katanya dengan senyum mengembang.


Andriana adalah asisten Pramudya, dia ditugaskan oleh pak Dewantoro untuk mengawasinya.


Mereka semua salah menduga, mengira lelaki tua itu mudah dibohongi dan ditipu.


Dewantoro Wijaya, merupakan pengusaha handal. Dia sudah puluhan tahun menjalankan bisnisnya.


Bisnis yang dia jalankan dari mendiang ayahnya, ditambah bisnis yang dia bangun sendiri.


Hartanya yang bernilai ratusan triliun rupiah itu takkan habis oleh tujuh turunannya, dia sudah berpengalaman dalam bisnisnya.


Dari bisnis yang bersih sampai kotor dia jalani, pengkhianatan, kekecewaan, sakit hati saat ditipu oleh rekan bisnisnya membuatnya semakin kuat.


Melalui semua pengalaman itu dia belajar membangun kerajaan bisnisnya menjadi lebih besar, dia bukan orang tua bodoh yang mudah ditipu.


Meskipun dia sudah menikahi Elena dan menerima anak-anak tirinya, bukan berarti dia percaya sepenuhnya dengan mereka.


Justru saat ini dia sedang menguji mereka, apakah mereka setia dan loyal padanya? Atau hanya ingin hartanya saja?


Sebenarnya dia sudah tahu jawabannya, dari menilai sikap perilaku istri dan anak-anak tirinya itu bahwa mereka hanya mengincar hartanya saja.


Tetapi lelaki tua itu, sedang mengalami puber keduanya. Kadang cinta mengalahkan segalanya.


Tetapi urusan anak-anaknya itu, dia masih berpikir secara logika. Meskipun dia mempercayai kepemimpinan Pramudya di salah satu perusahaannya, dia tetap harus mengawasinya.


Disinilah Andriana ditempatkan oleh pak Dewantoro untuk menjadi asisten Pramudya sekaligus mengawasi gerak-geriknya.


Segala sesuatu yang mengenainya, dia laporkan semuanya kepada pak Dewantoro tanpa terkecuali.


Seperti saat ini, saat dia melihat Rendy mengintip keruangan Pramudya, ini menjadi temuan besar untuknya.


*


Tok! Tok! Tok!


Andriana mengetuk pintu ruang kerja pak Dewantoro, dia mendengar suara bosnya itu mempersilakannya masuk.


"Permisi Pak," Andriana masuk keruangan itu.


"Ada apa? Apa kau melihat temuan besar hari ini?," tanya pak Dewantoro seakan-akan dia tahu maksud dari kedatangan Andriana.


Andriana menunjukkan sedikit keterkejutannya, dia takjub akan pemikiran bosnya itu. Pria tua itu hebat juga intuisinya.


"Benar Pak, seperti yang anda duga. Tuan Rendy tak sepolos itu, saya tadi melihatnya mengawasi tuan Pramudya." Ucap Andriana.

__ADS_1


"Aku jadi menduga, semua kerusuhan yang pernah terjadi di perusahaan waktu dulu itu juga ulahnya," katanya lagi.


"Kenapa kau bisa menduga itu semua ulah Rendy?" tanya pak Dewantoro.


"Saat ini, tuan Pramudya sedang dalam kesulitan. Saya melihat sekilas, dia terlihat panik saat mengutak-atik laptopnya.


Menurut perkiraan saya, ini juga menyangkut soal presentasinya nanti siang." Kata Andriana terlihat sedang berpikir.


"Terus, apa hubungannya dengan Rendy? Apa kau ingin mengatakan bahwa dia juga akan mengacaukan presentasinya Pramudya?" tanya pak Dewantoro.


"Benar Pak," ucap Andriana nampak tak ragu sama sekali.


Pak Dewantoro menyukai cara berpikirnya Andriana, meskipun dia gadis biasa tetapi dia memiliki pola pikir yang tak biasa.


Andriana merupakan anak dari sahabatnya, pendidikannya tak terlalu tinggi. Dia lulusan D3 jurusan IT dan komunikasi.


Tetapi dia anak yang memiliki IQ yang lumayan tinggi, dia memiliki kecerdasan dalam berpikir. Setiap keputusannya merupakan pilihan yang tepat dan benar.


Andriana dititipkan oleh ayahnya kepada pak Dewantoro, sebelum beliau meninggal ayahnya sempat mengenalkannya dengan sahabatnya itu.


Pak Arman sahabatnya pak Dewantoro itu hanya memiliki seorang anak saja, istrinya sudah lama meninggal.


Mereka sahabat karib, tetapi harus dipaksa berpisah. Kesenjangan ekonomi dan ketimpangan strata sosial membuat mereka menjauh.


Bukan karena pak Dewantoro sombong dan tak mau bergaul lagi dengan ayahnya.


Tetapi jaman dulu orang tuanya yaitu ayah dari pak Dewantoro tak ingin anaknya bergaul dengan orang-orang dibawah mereka.


Itu juga jalan yang dia temui saat menemukan jodohnya, Larasati Pohan. Gadis yatim-piatu yang dia temui dalam acara badan amal yang dilaksanakan oleh perusahaannya.


Yayasan milik orang tuanya memberikan donasi yang cukup besar kepada rumah anak yatim, dimana disitu juga tempat Larasati tinggal.


Gadis cantik dan lugu itu, nampak sopan dan baik hatinya. Dia juga wanita yang kuat dan mandiri, dia juga membantu para ibu asuhnya mengurus anak-anak panti lainnya.


Sehingga dia menjadi kakak yang paling disayangi oleh adik-adik pantinya.


Meskipun hubungan mereka tak direstui oleh orang tuanya, Dewantoro muda nekat menikahi gadis pujaannya.


Meskipun orang tuanya sudah menjodohkannya dengan wanita lain, dia tak ingin berpisah dari istrinya itu.


Elena Bexxa ternyata wanita pilihan orang tuanya, setelah mendengar Dewantoro sudah menikahi wanita lain diapun menikah dengan sahabatnya sendiri.


Dari pernikahannya itu memiliki anak kembar, yaitu Pramudya dan Pricilia. Elena pun bercerai dengan mantan suaminya dan kembali masuk ke kehidupan pak Dewantoro.


Dan berusaha menjauhkannya dari istrinya itu, segala cara dia lakukan termasuk fitnah yang dia berikan kepada Larasati.


Entah apa yang dia beritahukan kepada pak Dewantoro, sehingga mempercayainya. Larasati meninggal saat melahirkan putri cantiknya.


Dia meninggal karena kekurangan darah, dikarena stress dan depresi yang dia alami. Penyebabnya tentu saja ulah Elena.

__ADS_1


**


Pukul 10.30 siang mereka mengadakan pertemuan dengan para direksi.


Pertemuan ini diadakan untuk acara pengenalan kepada Rendy, dimana dia akan menduduki posisi CEO yang saat ini masih diduduki oleh Pramudya.


"Pastikan acara dilaksanakan sesuai jadwal, setelah makan siang kita akan lanjut lagi ke rapat kedua.


Kita akan melihat hasil dari presentasi Pramudya, apakah hasil presentasinya memuaskan atau tidak? Anak itu memiliki obsesi yang kuat.


Aku yakin dia takkan semudah itu menyerahkan jabatannya, saat ini Rendy yang memimpin. Kita lihat Pramudya akan bertahan atau tidak," senyum pak Dewantoro mengembang.


Begitulah bisnis, tak memandang siapapun. Siapa yang kuat dia yang berkuasa, itu prinsip yang dipegang teguh oleh pak Dewantoro.


Dia ingin melihat kesungguhan Rendy untuk mempertahankan keinginannya, didalam hatinya sempat berpikir, Rendy mirip dengannya dalam berpikir.


Keinginan kuat itulah membuatnya sukses, dia juga ingin Rendy sepertinya. Sebagai penerusnya, tentu saja pak Dewantoro akan memilih darah dagingnya.


Tetapi tergantung situasi, jika Rendy tak bisa diharapkan maka terpaksa posisinya akan diberikan kepada orang lain.


Dia berharap anak itu, bisa mengikuti jejaknya. Agar bisa sukses melampauinya.


***


acara pertemuan telah dilaksanakan, pak Dewantoro sedang menyampaikan pidato penyambutannya kepada Rendy.


Tepuk tangan meriah dari para Direksi, mereka nampak antusias sekali saat menyambut calon pemimpin mereka selanjutnya.


"Halo semuanya, selamat siang. Perkenalkan saya Rendy Putra Wijaya, putra kedua dari Bapak Dewantoro Wijaya.


Saya mengucapkan terima kasih banyak atas sambutan yang hangat dari kalian, saya benar-benar tersanjung sekali saat kalian menerima dan memperlakukan saya dengan baik.


Saya akan berusaha sebaik mungkin, menjalankan amanah yang diberikan kepada saya. Mohon dukungan dan bantuannya," ucap Rendy sambil membungkukkan badan memberi salam hormat.


Mereka takjub sekali dengannya, anak ini punya etika dan sikap yang baik.


Mereka mulai membanding-bandingkannya dengan Pramudya saat pertama kali memperkenalkan diri.


Waktu itu Pramudya terlihat angkuh dan arogan saat berkenalan. Sebelumnya sempat memarahi OB yang tak sengaja menumpahkan air kepadanya.


Benar-benar berbeda sekali sifatnya, ketika dipikirkan lagi, wajar saja mereka dalam 'didikan' dari orang yang berbeda.


Saat itu, Pramudya seperti merasa semua orang mulai berbisik membandingkannya dengan Rendy.


Dia sangat geram, pikirannya kalut. Dia masih pusing memikirkan bagaimana cara melakukan presentasi nanti siang.


Tiba-tiba senyumnya mengembang, selintas pikirannya memikirkan seseorang.


"Aku yakin, dia bisa melakukannya. Apa yang tak bisa dia lakukan? Aku pikir tidak ada" dia terus menyunggingkan bibirnya.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2