
Ericka pulang ke rumahnya, dia merasa lelah sekali. Dia masih memikirkan anak itu, entah kenapa dia merasa bersalah saja padanya. Dia masih duduk istirahat diruang keluarga, Milah datang membawakan teh hangat untuknya.
"Diminum dulu, Non..." ucapnya pelan.
"Makasih ya, Mil.." sahut Ericka sambil meminum tehnya habis.
"Mau lagi, Non? Sebentar saya buatkan lagi.." tanya Milah karena Ericka menghabiskan tehnya begitu saja.
"Gak usah, Mil. Makasih yah, mau langsung ke kamar aja, mandi.." jawab Ericka dengan ramahnya.
Dia naik ke lantai atas dengan langkah gontai, sepertinya dia sangat lelah sekali, Milah melihatnya jadi merasa kasihan dengannya.
"Kasihan, Nona. Mungkin beban pekerjaannya bertambah semenjak tuan besar tiada.." gumamnya sendirian.
Ericka masuk kedalam kamarnya, setelah mandi dan menunaikan ibadah sholat magrib nya, mencoba mencari tahu seperti apa keluarga pamannya itu.
"Tidak ada yang aneh dengan ini, seperti biasa isinya tentang keluarga bahagia tanpa cela. Tentu saja, mana mungkin om menceritakan dengan detail tentang keluarganya.
Bagaimanapun juga, kehidupan pribadi itu privasi. Untung saja aku cepat menyadari jika anak tengil itu sepupuku, huft.. Apa yang terjadi dengannya jika aku kakak sepupunya, haha!" gumamnya sendiri sambil membayangkan reaksinya Azka.
Drrt.. Drrt..Drrt!
"Ya, halo?" sapanya saat mengangkat telponnya.
"Nona, kami sudah menemukan mobil yang menabrak anak itu. Seperti biasa, mobil sewaan. Sesuai dugaan kami, ini sudah direncanakan sebelumnya oleh mereka.
Kami tidak tahu ada masalah apa anak itu dengan para preman itu, apa karena persaingan bisnis orang tuanya? Atau, memang anak ini yang mencari masalah dengan mereka..
Yang jelas mereka ini bukan preman biasa, mereka dibawah naungan para mafia besar di kota ini.." ucap salah seorang anak buahnya, dia meminta tolong mereka mencari tahu identitas mobil dan pengemudi yang menabrak si Azka.
"Mafia? Kak Nico?" tanyanya asal tebak.
"Tidak, Nona. Tuan Nico bukan mafia seperti itu, dia hanya menghimpun orang-orang untuk melindungi, bukan mencelakai. Dan tak ada catatan kriminal apapun di sejarah bisnis keamanannya.
Tapi yang ini berbeda, mereka seperti sudah terorganisir. Yang aku dengar, mereka ini milik salah satu pengusaha terkenal di jamannya dulu, kalau tidak salah namanya Harjamukti Kusumo.
Itu puluhan tahun yang lalu, ada yang bilang sudah pindah kepemilikannya, dan ada juga yang bilang dia masih memimpinnya hanya saja, dia lebih suka dibalik layar daripada aksi" ujar anak buahnya itu menjelaskan lagi.
"Sebentar, siapa namanya tadi? Harjamukti Kusumo? Bukankah nama itu sangat familiar?" tanyanya penasaran.
"Memang betul perkiraan, Nona. Dia adalah adik mendiang kakek Nona, seorang lelaki sepuh yang pernah datang ke rumah waktu itu.." jawab pengawalnya lagi.
Ericka ternganga tak percaya, bagaimana bisa bocah itu berurusan dengan para mafia itu? Itu sangat berbahaya, atau mungkin saja ada sesuatu yang tak dia ketahui?
"Baiklah, terima kasih infonya. Tetap awasi mereka semua, jangan sampai ketahuan. Dan jika anak itu kembali beraktivitas, awasi juga dia, agar tak bersinggungan lagi dengan mereka.." perintah Ericka.
"Baik, Nona.." sahut mereka lagi.
__ADS_1
Ericka menutup telpon dari pengawalnya itu, dia masih bingung dengan semuanya ini, dia berusaha mengingat sesuatu yang mungkin saja terlewatkan olehnya. Apa ada potongan-potongan atau puzzle lainnya yang masih tersambung dengan semua permasalahan ini terjadi.
"Apa hubungannya dengan opa Harja dengan semua ini? Apa dia penyebab semuanya ini terjadi? Selain fitnah dan perebutan kekuasaan, apa dia juga terlibat dengan semua masalah yang berkaitan dengan mendiang ibu?
Kalau semua dugaanku ini benar, berarti.. Opa Harja, wah.. Ini diluar dugaan, aku pikir ini hanya urusan harta warisan saja, ternyata masih ada rahasia lain yang belum terungkap.
Aku penasaran, sebaiknya aku turun langsung untuk menyelidiki ini semua. Siapa tahu akan ketemu titik terangnya, tunggu dulu! Sebelumnya aku pernah mendengar perseteruan antara ayahnya nenek dengan ayahnya kakek, apa ini berurusan dengan daerah kekuasaan? Bisnis? Atau perihal harga diri?
Kalau begitu, om Richard mungkin juga tau sesuatu. Berarti perseteruan dua keluarga ini sudah terjadi puluhan tahun yang lalu, sudah lama sekali. Wah, aku tak tahu kisah cinta nenek dan kakekku lebih seru dari semua kisah cinta ini.
Sudah seperti Romeo dan Juliet saja, dan berimbas ke mendiang ibu dan kami juga. Wah, sekarang mereka malah mau mengincar cucu dan cicitnya, apa dendam itu sudah membekas dihatinya?" ucapnya bermonolog sendirian.
"Bisa jadi, kalau menurut semua runutan apa yang kamu ucapkan tadi sih masuk akal, apalagi tabel dan grafik yang kamu buat ini sangat pas dengan semua kejadian yang pernah kita lalui selama ini.." tiba-tiba saja ada yang menyahutinya dari samping ikutan memperhatikan laptopnya dengan segala pemikirannya yang tertuang di sana.
"Astaghfirullah al'aziim! Kakak! Ngagetin aja!" teriak Ericka terkejut melihat kakaknya sudah ada disampingnya.
"Kamu yang bikin kaget, suaranya kenceng banget! Kayak lihat hantu saja," sungut Rendy sambil mendelik kearahnya sambil mengelus dada.
"Iya, kakak hantunya!" ucap Ericka mengomel sendiri.
"Ada apa?!" tanyanya pada sang kakak.
"Dari tadi aku ketuk pintu gak ada yang nyahut, aku masuk dan lihat kamu sangat fokus melototi layar laptopmu. Aku ucap salam aja gak dijawab!
Asik bener bercerita sendiri, aku pikir lagi ngerjain pekerjaan yang tertunda tadi siang, gak taunya lagi main detektif-detektifan" ledek Rendy.
"Aku gak lagi main ataupun ngarang cerita, Kak.." ucap Ericka membela diri.
"Wah, ini mah kejahatan yang sudah sangat matang direncanakan, sangat terorganisir sekali. Berarti opa Harja ini bukan orang sembarangan, aku yakin saat ini juga dia sudah menyiapkan sesuatu untuk rencana selanjutnya.
Kita juga gak boleh diam, Dek. Kita juga harus menyiapkan sesuatu untuk menghadapi serangan entah datang darimana, dan kapan datangnya. Karena sekarang kita tahu, seperti apa lawan kita.
Huft, baru aja damai hidup tenang, gak taunya permasalahan datang lebih besar lagi, em.. Apa kamu gak merasa aneh dengan semua ini? Jangan-jangan kejahatan yang dilakukan oleh Elena pada ibu dan ayah, juga ada sangkut pautnya dengan opa Harja dan sekutunya lagi?" ujar Rendy mulai menebak sendiri.
"Itulah yang aku takutkan, jika itu benar berarti selama ini kita salah sasaran, tidak hanya Elena yang harus kita usir, tapi mereka juga harus kita usir dari kehidupan kita" sahut Ericka lagi menyambung teori sang kakak.
"Tapi, terlalu dini untuk menyimpulkan ini semua, kita butuh bukti yang konkrit untuk membuktikan itu semua. Apa kau punya teman atau kenalan yang bisa dimintai tolong untuk kerjaan jadi detektif bayaran kita?" tanya Rendy serius.
"Emm, ada sih... Tapi aku gak tau dia mau atau gaknya.." jawab Ericka agak ragu.
"Fasilitasi semua keperluannya dalam bertugas, berikan yang dia mau, kasih bayaran yang tinggi kapan perlu, jadi gak ada alasan dia nolak kan..
Kecuali kalau kamu suruh dia mata-matai keluarganya, mungkin saja dia gak mau. Gila aja ya kan, masa mau aja ngawasin keluarganya sendiri hanya demi uang, haha.." ujar Rendy berasumsi sendiri.
"Kakak benar, meskipun dia benci dengan mereka, aku yakin dia gak bakalan mau juga soal itu, tapi ternyata dia mau..," sahut Ericka pelan.
"Hah?! Jadi beneran dia keluarganya?! Siapa?! Gila! Sejak kapan kamu bergaul ama anak ular?!" cecar Rendy terkejut.
__ADS_1
"Siapa yang kakak maksud anak ular?!" tanya Ericka tak suka.
"Ya, dialah! Teman kamu itu, dia kan bagian dari keluarga itu, kita baikin dia.. Setia, nurut. Entar udah kenyang, gedenya ngelunjak bisa jadi dia gigit kita dari belakang.." jawab Rendy.
"Ih, Kakak! Suka banget su'udzhon sama orang, belum tentu juga kan! Lagian dia tidak seperti itu. Malah hidupnya juga gak jauh beda dengan kita dulunya.." sahut Ericka tak terima.
"Ericka, kakak pernah merasakan percaya dengan orang dengan sepenuh hati, menceritakan semua tentang kehidupan kita, percaya dan yakin mereka orang baik.
Tapi apa yang terjadi, kakak dikhianati dan dibohongi oleh mereka. Malah otak kakak di cuci agar tak mempercayai kalian, keluarga kakak sendiri." Rendy kembali teringat dengan kejadian itu.
"Itu memang niat mereka dari awal sudah gak baik, kak.." sahut Ericka.
"Bagaimana dengan temanmu itu? Apa kau yakin dia dapat dipercaya nantinya?" tanya Rendy mencoba menyakinkannya.
"Iya, yakin. Masalahnya, aku sudah melakukan hal itu.." sahut Ericka pelan merasa tak enak hati.
"Maksudnya?!" tanya Rendy tak mengerti.
"Aku sudah memintanya mengawasi mereka, dan dia mau. Dan sekarang sudah berjalan beberapa hari ini, maaf.." ucapnya pelan sambil menunduk.
Dia tak berani menatap sang kakak, karena dia tahu melakukan sesuatu tanpa berbicara dulu kepadanya atau sekedar berdiskusi dulu dengannya. Ini diluar dugaan Rendy.
"Ericka, kok bisaaaa??" tanya Rendy tak percaya.
"Maaf, kak. Aku tau aku mengambil keputusan sendiri tanpa memberitahu kakak dan kak Reva terlebih dahulu, ini karena aku sudah terbiasa bekerja sendiri sejak dulu.
Dan, maaf... Lain kali aku akan berbicara atau berdiskusi dulu dengan kalian, maaf.." ucapnya gugup.
"Huuft.. Sekarang bagaimana dengannya, apa sesuai perkiraanmu? Pekerjaannya?" tanya Rendy sambil menatapnya datar, menakutkan bagi Ericka.
"Setiap hari dia selalu melapor padaku, bisa sehari dua kali, tiga kali, tergantung ada informasi atau berita yang penting atau tidak. Setiap melapor dia juga menyertakan berkas dan rekaman hasil intaiannya.
Dia juga profesional kok, dia selalu melaporkannya sendiri setelah mengintai mereka, karena dia tak percaya dengan orang begitu saja, sudah terjamin sertifikasi nya!" jawab Ericka dengan hati-hati.
"Memangnya siapa dia? Bukan kak William kan?" tanya Rendy lagi, penasaran.
"Bukan, semua sudah tau rahasianya. Lagian dia juga pasti gak mau juga, pekerjaannya sudah banyak!" sahut Ericka lagi.
"Lalu, siapa?!" tanya Rendy lagi, tak sabaran.
"Dia... Erick, adik tiri kak William.." jawab Ericka pelan, takut.
"Apa??! Gila kamu yah, dia kan juga kerja sama kak Nico, nanti kalau kak Nico dan kak Reva tau, mau dibejeg kamu nya?! Untuk saat ini jadikan rahasia kita berdua tanpa melibatkan keduanya, tau?!" kata Rendy diiringi anggukan Ericka.
"Rahasia apa?" tau-tau yang diomongin sudah nongol didepan pintu.
Tentu saja itu mengagetkan keduanya, mereka belum siap dengan apa yang terjadi nanti, apa harus jujur cerita semua, atau berbohong lagi.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung