
Reva terbangun dari tidurnya, dia mendengar suara berisik dari kamar sebelah tadinya dia tidak menghiraukan tetapi suara itu sangat mengganggu. Dia memutuskan untuk keluar dan melihat ada apa didalam sana.
"Berisik sekali, mereka ngapain sih?! Sepertinya mereka harus ditegur agar bisa diam!" gumam Reva kesal.
Saat dia keluar disepanjang koridor lantai itu sangat sepi dan sunyi, dia memperhatikan setiap sudut ruangan atau tempat dilantai itu tidak ada siapa-siapa. Dia melihat kearah pintu kamar disebelahnya, suasana juga sepi begitu juga kamar disampingnya.
Di setiap pintu yang ada disana tertulis nama tempat itu, apakah itu laboratorium atau ruang farmasi. Hanya ada tiga kamar pasien yang ada di sana, kamarnya dan dua kamar lainnya.
"Sepertinya mereka juga pasien khusus sepertiku, tapi siapa? Saat dikamar tadi kamar ini sangat berisik sekali, kenapa pas aku keluar jadi hening sekali. Aneh" gumamnya lagi.
Tiba-tiba ada yang menegurnya dari belakang, dia sangat terkejut sekali. Seorang lelaki bertubuh besar dan berotot memakai setelan serba jeans, dari celana dan jaketnya terbuat dari jeans.
"Apa yang kau lakukan didepan pintu ini, Nona?" tanya lelaki itu.
"Ah, ma-maaf tadi saya mendengar ada suara berisik dari dalam. Makanya aku ingin melihat apa yang terjadi" jawab Reva memberi alasan.
"Pergilah, tidak ada apa-apa didalam sana. Kau hanya salah mendengar saja" ujar lelaki itu menatap tajam kearahnya.
"Tetapi aku jelas mendengarnya" sanggah Reva.
"Nona! Masuk saja ke kamarmu!" lelaki itu semakin dingin sikapnya.
Reva tidak ingin berdebat tapi jelas dia merasa ada yang ditutupi oleh lelaki itu, dia masuk ke kamarnya dengan perasaan tidak enak.
"Perasaan apa ini, kenapa aku merasa gelisah sekali" ujarnya, dia mencoba membaringkan tubuhnya.
Kembali suara berisik dari kamar itu mengganggunya, kali ini dia benar-benar menghiraukannya karena dia tidak ingin berurusan dengan lelaki itu tadi.
Suara itu sampai keluar kamar, Reva dengan jelas mendengar suara seperti ditarik atau digeser. Dia juga sempat mendengar suara rintihan seperti tangis anak perempuan, tapi ikut kecil sekali.
Setelah itu suasana kembali sepi kembali, Reva jadi tak bisa tidur. Dia mencoba menghubungi semua orang lewat Hpnya tak ada yang menjawabnya. Sebelumnya dia baru mendapatkan Hpnya kembali dari Nico tadi sore.
Ditempat lain, Nico yang pingsan terbangun ketika tubuhnya diguncang oleh seseorang. Dia mendengar suara dokter Anwar yang terus-menerus memanggil namanya.
"Nico, bangunlah! Bangunlah, cepatlah nanti kita bisa terlambat!" kata dokter Anwar panik.
"Dok-Dokter, apa yang terjadi?" katanya sambil meringis memegangi kepalanya.
Kepalanya terasa sakit sekali seperti habis dihantam palu besar saja, dia melihat ekspresi dokter Anwar begitu panik. Dia bangun berlahan, badannya masih terasa lemas.
"Sudah nanti saja aku menjelaskannya, cepatlah sebelum mereka pergi terlalu jauh" ujarnya panik.
Nico mengikuti dokter Anwar yang sedang berlari menuju lobby luar rumah sakit itu, dengan badannya yang masih lemah dia ikut berlari mengejar dokter Anwar dan masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Ah, Sia*l! Mereka sudah pergi, bagaimana ini?!" kata dokter Anwar gelisah dan panik sekali.
"Dokter, katakan padaku apa yang terjadi? Kenapa aku tertidur di sana, dan apa yang kau kejar??" tanya Nico terengah-engah mengatur nafasnya.
Dia nampak kelelahan habis berlarian tadi, dia melihat disekelilingnya lobby itu nampak sepi dan sunyi. Jangankan pasien atau kerabatnya yang lewat, security, perawat dan staff yang ada di sana tidak ada.
"Dengar Nico, ternyata kita selama ini dijebak. Tanpa sadar kita masuk ke permainan seseorang. Sial!
__ADS_1
Nico, ada seorang pengkhianat diantara kita. Salah satu asistenku mengkhianati aku, dia memberitahu mereka tentang kita termasuk keberadaan Reva. Selama ini mereka berpura-pura tidak tahu tentang kita!
Malam ini mereka melakukan aksinya dengan membawa Pramudya dan Ericka, ada banyak pengawal yang menjaga dan membantu mereka.
Dan si pengkhianat itulah yang membuat kita pingsan dan tak menyadari aksi mereka, para staff, dokter dan perawat juga asistenku yang lain dia juga buat pingsan seperti kita!
Sehingga tidak seorang pun yang tahu aksi mereka tadi, sekarang mereka sudah pergi, jika benar dugaan kita selama ini, mereka pasti akan kabur ke London!
Tapi London itu luas, kita harus mencarinya kemana?!" kata dokter Anwar menjelaskan semuanya.
Sementara itu,
Rendy dalam perjalanan menuju rumah sakit dokter Anwar, setelah mengurus jenazah Julia dan memberikan sedikit bantuan kepada orang tua Julia, dia kembali ke rumah sakit dokter Anwar.
Bagaimanapun dia sudah berjanji akan menemui kakaknya tadi, sedangkan Andriana dan Stefan ikut turut mengantarkan jenazah Julia ke kampung halaman orang tuanya.
Saat diperjalanan, dia berpapasan dengan rombongan mobil berwarna hitam berkaca gelap beriringan dengan Ambulans. Dia berpikir mungkin ada pasien orang penting dari rumah sakit dokter Anwar ingin diantar pulang.
Saat dia sampai, dia melihat dokter Anwar dan Nico berdiri didepan lobby mereka terlihat gelisah dan panik sekali. Dia menepikan mobilnya, dokter Anwar dan Nico makin tegang saja saat melihat Rendy.
Membuat Rendy semakin curiga saja kepada mereka, pada saat bersamaan para staff, security dan dokter juga perawat sadar dari obat bius mereka menghampiri dokter Anwar dan Nico.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi kepada kalian?!" tanya Rendy penasaran, semua orang terlihat limbung dan lemah.
"Kami semua tidak tahu, yang kami ingat terakhir kami disuguhi minuman oleh pak Adi. Setelah itu kami tak ingat apa-apa lagi, saat terbangun kami semua berada di ruangan penyimpanan barang" jawab salah satu dokter yang ada di sana.
"Rupanya kalian dibius olehnya memakai minuman yang kalian minum!" sahut dokter Anwar geram.
"Rendy, Nico! Kita kecolongan, Elena berhasil membawa Ericka kabur! Dia membawanya bersama Pramudya juga. Seharusnya aku sudah curiga ini akan terjadi, tidak mungkin rasanya jika dia tidak menyadari hal ini!" kata dokter Anwar.
Rendy terduduk lemas, sekali lagi dia harus kehilangan lagi. Penderitaan yang menimpa dirinya membuat air matanya terkuras habis, sekarang tak ada air mata lagi. Ingin menangis pun susah rasanya.
"Aku sudah menduganya, dialah dalang dari segalanya. Dia penyebab kecelakaan dan membuat mendiang Julia meninggal juga!
Saat Julia mengatakan bahwa ada orang yang sudah merencanakan semuanya, orang itu juga ingin membuat kami hancur dan ingin merampas milik kami, aku sudah menduga itu pasti Elena siapa lagi kalau bukan dia yang bisa melakukan itu semua." Ujar Rendy.
"Apa maksudmu? Julia siapa? Apa dia berhubungan dengan ini semua?" tanya dokter Anwar.
"Secara tidak langsung, iya. Dia yang membuat luka di wajah Ericka, dan dia juga korban dari Elena. Gadis itu harus mati mengenaskan tanpa diberi kesempatan untuk bertobat" jawab Rendy.
Nico menghela nafasnya berat, dia tahu begitu berat masalah yang harus mereka selesaikan.
"Apa maksudmu, Julia meninggal? Dan Ericka kenapa?!" tiba-tiba saja Reva sudah ada dibelakang mereka.
semua orang terkejut dengan kedatangannya, bagaimana bisa dia ada di sana sekarang? Reva menatap wajah mereka satu persatu dia sedang mencari jawaban dari pertanyaannya itu, tapi tak satupun yang menjawabnya.
Sebelumnya, dia merasa bosan karena tak bisa tidur ditambah lagi rasa penasarannya atas suara-suara berisik itu tadi. Dia keluar dari kamarnya dan melihat dua kamar disampingnya pintunya terbuka lebar.
Dia mencoba melihat kedalam tetapi tidak ada siapapun didalam, bahkan barang-barangnya pun tak ada. Hanya tersisa sedikit sampah saja, sepertinya mereka pergi tergesa-gesa sekali.
Reva pun turun ke lantai itu dan melihat semua orang ada di sana berkumpul, termasuk dokter Anwar, Nico dan Rendy adiknya. Saat dia menghampiri mereka, dia mendengar mereka mengatakan soal Pramudya, Elena dan Ericka membuatnya semakin penasaran saja, hingga akhirnya dia mendengar berita mengejutkan bahwa Julia sudah meninggal.
__ADS_1
"Katakan padaku, ceritakan semuanya. Tidak ada gunanya kalian menyembunyikan sesuatu lagi dariku, karena aku juga akan tahu nantinya apa saja yang kalian sembunyikan selama ini" ujar Reva menatap mereka dengan tajam, matanya berkaca-kaca menahan rasa sakit dihatinya.
"Reva..." Nico mencoba sekuat mungkin untuk menceritakan semuanya.
"Nico, sebaiknya biarkan Rendy saja yang menceritakan semuanya" kata dokter Anwar mencegahnya mengatakan itu semua.
Dia tidak ingin keponakannya ini disalahkan atas semua kejadian jika ada kejadian apa-apa lagi.
"Kak, aku ingin kamu mendengarkan semuanya atas penjelasan ini dan kumohon jangan salah faham dulu. Kami merahasiakan semua ini demi kebaikan Kakak, agar Kakak fokus dengan kesehatanmu dulu.
Biarkan aku yang mengerjakan tugas ini, aku adalah anak laki-laki yang harusnya bertanggung jawab atas kalian semuanya" ujar Rendy berusaha memberi penjelasan kepada kakaknya itu.
Setelah itu dia menjelaskan semuanya kejadian itu kepada Reva tanpa terkecuali, dari awal Ericka berniat baik ingin membantu Julia hingga Julia melukai wajahnya. Sampai Elena harus mengurung Ericka dijadikan jaminan untuk utangnya kepada mr. Robert.
Sampai dia harus menjelaskan soal penculikannya yang dilakukan oleh seorang lelaki, lelaki yang begitu dekat dengan Elena. Rendy tidak tega harus menceritakan kalau Pramudya lah yang menculik Reva, dia tidak ingin kakaknya merasa terpuruk dan terhina oleh kelakuan lelaki bejat itu.
"Seharusnya aku tidak terlalu keras kepadanya, jika pada saat itu aku mengikuti mau Ericka untuk membantu Julia, mungkin dia tidak akan terluka dan menjadi korban Elena.
Tidak, seharusnya aku tidak pergi dari rumah malam itu! Mungkin saja aku bisa mencegah ataupun menyelamatkan adikku, dan Julia bisa saja selamat dari Elena.
Dan, dan... Aku mungkin saja tidak akan diculik dan, dan ..." katanya berusaha kuat, ucapan begitu lirih menyayat hati.
Air matanya yang coba dia tahan akhirnya tumpah juga, dia berjalan sendirian keluar dari rumah sakit itu. Dia ingin pergi menjauh dari mereka semua.
"Kakak! Mau kemana?!" teriak Rendy.
"Reva!" Nico pun berusaha mencegahnya pergi.
"Jangan mendekat! Selangkah saja kau maju, kau takkan pernah melihatku lagi!" teriaknya kepada Nico.
Nico tertegun dengan ucapan Reva, kenapa dia begitu membencinya? Bukankah selama ini dia menolongnya dan berusaha sekuat mungkin bertahan untuknya?
"Kakak tidak boleh begitu kepada Kak Nico, dia sudah banyak membantu kita!" teriak Rendy kesal dengan sikap kakaknya itu.
"Diam kamu! Ayo kita pulang, tidak seharusnya kita berada disini!" ujar Reva marah.
"Tapi Kak Nico..." Rendy bingung harus bagaimana lagi menghadapi kakaknya yang keras kepala itu.
"Kak, Kak! Sejak kapan kamu memanggilnya Kakak?! Aku tidak mau mendengarkan alasan kamu lagi, jika kamu masih menganggapku Kakak, pulang sekarang!" teriak Reva.
Mau gak mau Rendy terpaksa mengikuti kakaknya itu, sebelumnya dia menoleh kearah Nico dan dokter Anwar. Keduanya memberikan isyarat agar dia mengikuti maunya Reva untuk saat ini.
"Maaf, Kak..." ujar Rendy kepada Nico pelan, seakan mengerti Nico hanya tersenyum dan melambaikan tangannya untuk menyuruh Rendy pulang.
Saat ini Reva lagi labil dia belum bisa mengendalikan emosinya, disepanjang perjalanan pulang dia hanya menangis. Rendy membiarkan kakaknya meluapkan emosinya itu dan berusaha mengerti keadaannya.
"Maafkan aku, Nico..." ucap Reva lirih.
Dia masih terbayang ekspresi kekecewaan Nico terhadap sikapnya tadi.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung