Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Awal Sebuah Pembalasan


__ADS_3

Semua orang di ruangan itu terdiam melihat sosok gadis muda yang baru datang itu, mereka bukan hanya takjub dengan kecantikannya, tapi mereka masih tak percaya jika sosok didepan mereka itu adalah orang yang sama mereka kenal dulu.


"Itu, Nona Ericka?"


"Masa sih?!"


"Aku yakin dia melakukan operasi kecantikan, masa jadi cantik begitu?!"


"Kemana saja dia selama ini menghilang?"


"Aneh gak sih, udah lama menghilang tiba-tiba datang dengan begitu?!"


Begitulah kira-kira bisik-bisik yang dilontarkan oleh beberapa pelayan dan orang-orang yang ada di sana tentangnya, dia tak peduli dengan segala tanggapan ataupun penilaian mereka tentang dirinya.


"Ibu, benarkah itu Ericka?! Jika benar, jangan-jangan yang kita lihat waktu itu--" Pramudya terkejut ketika membayangkan kejadian di gudang tua saat masih di London dulu.


"Diamlah! Aku mau lihat seperti apa dia sekarang ini?! Apa masih pengecut seperti dulu, atau berubah sombong karena bantuan orang-orang itu?!" ujar Elena penuh tanda tanya, sambil memperhatikan Ericka disamping Stanley dan Jessy.


"Tapi, Bu--" Pramudya terlihat khawatir sekali.


"Diam kamu! Kamu kenapa sih?! Semenjak kejadian itu kau berubah menjadi pengecut dan penakut seperti ini!" geram Elena melihat perilaku putranya itu.


"Semua itu membuatku trauma, Bu.." ujar Pramudya.


Dia masih terbayang sakitnya luka 'itu', apalagi selalu merasa terintimidasi disaat bersama orang-orangnya mr. Robert. Jadi begitulah kenapa dia jadi seperti itu, saat dia melihat gadis yang dikiranya mirip Ericka waktu itu, dia takut melihat apa yang dilakukan oleh gadis itu dan ternyata benar Ericka.


"Kau ini, takut dengan hal-hal itu tapi masih getol mendekati para wanita itu! Apakah mereka tahu kalau 'burungmu' itu sudah tak berfungsi?!" bentak Elena.


"Ibu! Jangan keras-keras nanti mereka semua bisa mendengar" bisik Pramudya kesal dengan ibunya itu.


Kini perhatian mereka teralihkan oleh Ericka lagi, gadis itu duduk dengan santainya di sofa ruang tamu itu, dia melipat kakinya dengan anggun dan mengabaikan semua tatapan mata mereka.


"Ambilkan aku minum!" perintahnya.


Entah karena sudah terbiasa oleh pekerjaan mereka atau terhipnotis oleh Ericka, para pelayan itu buru-buru mengambilkannya minuman.


Ericka melihat dibalik pintu ruangan itu, bi Mirna dan Milah menatapnya haru. Entah kenapa mereka tidak mau mendekatinya, apa mereka malu atau pandangan mereka sudah berubah tentang dirinya?


"Aku lelah, siapkan aku kamar!" perintahnya.


"Baik, Nona" jawab para pelayan itu.


"Tunggu dulu! Siapa kau berani-beraninya datang ke rumahku dengan sikap tak sopan seperti itu?!" bentak Elena tak terima.


"Kenapa? Ini rumahku juga, kau tau betul itu. Btw, kenapa kau dan kakakku tercinta itu pergi meninggalkanku begitu saja? Kita berangkatnya bersama, berarti pulang pun harus bersama bukan?!" ujar Ericka dengan senyuman sinisnya.


"A-apa?!" sontak Elena gelagapan mendengar jawaban Ericka itu.


Dia tak pernah menyangka kalau gadis itu akan berbicara seperti itu kepadanya, apalagi setelah mendengar perkataannya tadi semua orang di ruangan itu saling pandang heran dan mulai berbisik-bisik tentangnya.


"Diam kamu! Jangan asal bicara, sejak kapan kita pergi bersama?! Dan a-aku tak mengerti dengan ucapanmu itu!" ujar Elena dengan gugup.


"Tidak apa jika anda tidak mengakuinya, emm... Mungkin anda lupa, atau mau aku ingatkan kembali lagi kejadian lima tahun yang lalu?!" tanyanya kembali.


"Diam kau! Tidak ada yang mengakuimu disini, pergi dari sini!" ujar Elena masih dengan sok berkuasa.


"Seharusnya kau yang pergi dari sini, pelakor! Sudah mengambil hak kami dan sok berkuasa juga kau rupanya!" teriak Ericka marah.


Dia mengatur nafasnya yang sudah naik turun karena emosi, dia mencoba menenangkan dirinya kembali dengan minum air yang sudah disiapkan oleh para pelayan tadi.


Para tamu dan beberapa pelayan yang ada di sana masih kasak-kusuk tentang mereka lagi, Elena begitu marah dan malu dibuatnya, dia melihat kearah suaminya tapi tak mendapatkannya di sana.


"Dimana pengecut itu?! Disaat seperti ini dia malah menghilang!" geramnya.


"Kalian disini silakan pulang, pestanya sudah selesai! Dan kalian kenapa masih ada disini? Apa kebiasaan kalian menguping pembicaraan para majikan disini?!" bentak Ericka kepada para pelayan itu.


Semuanya begitu takut melihat perubahan sikapnya itu, sesaat dia menjadi gadis cantik dan anggun dan sekarang dia tiba-tiba menjadi sangat menakutkan dengan ekspresi marah dengan wajah dingin dan sorot mata tajam miliknya.


"Ma-maaf, Nona.." jawab mereka membubarkan diri, dan kembali dengan aktifitasnya masing-masing.


"Jeng, kita pulang dulu yah! Nanti kita kabar-kabarin lagi yah.." pamit teman sosialita Elena itu.

__ADS_1


"Ta-tapi pestanya belum selesai?!" tanya Elena panik karena pestanya bubar dan tamunya pergi begitu saja.


"Urus saja dulu urusanmu itu! Kami tak ingin mendengar perdebatan kalian itu" sahut temannya lagi.


Mereka pergi dengan sejuta tanda tanya mengenai perubahan anak tiri teman mereka itu, dan kepo juga masalah rumah tangga orang.


"Nona, kamarnya sudah siap" ujar pelayan yang disuruh membersihkan kamarnya.


"Baik, emm.. Ah, kamarku itu terlalu kecil dan sempit! Tidak akan muat dengan barang-barangku ini, carikan aku yang kamarnya lebih besar daripada itu!


Ah, aku masih ingat! Ada kamar yang aku idam-idamkan sejak dulu, bersihkan kamar dilantai atas pojok sebelah kiri itu! Aku menginginkan kamar itu" perintah Ericka santai.


"Ta-tapi, Nona.. Itu kamar nona Pricilia" ujar pelayan itu ragu-ragu.


"Aku tahu! Singkirkan barang-barangnya taruh di kamarku dulu, dia lebih pantas tinggal di sana" perintahnya lagi.


"Apa-apaan ini?! Kau baru datang sudah membuat onar saja disini! Berhenti sekarang, jangan ganggu kamar anakku!" bentak Elena marah.


"Ini rumah orang tuaku, aku berhak atas semuanya! Jika tak ingin membuat masalah denganku, pergi dan jangan mengganggu!" ketus Ericka.


Dia berlalu pergi dari sana berjalan keluar bersama Stanley dan Jessy diikuti oleh orang-orangnya. Elena begitu geram dibuatnya.


"Jangan kau pindahkan barang-barangnya Pricilia, jika dia tahu bisa mengamuk dia!" perintah Elena kepada pelayan tadi.


"Tapi, Nyonya.. Saya tak berani melawan nona Ericka.." ujar pelayan itu.


"Alah, sejak kapan kalian patuh dengannya?! Bukankah kalian suka menggunjingnya?! Sudah lakukan!" perintahnya lagi.


"Tapi--" pelayan itu masih ragu.


Sekilas Elena melihat bayangan dibalik pintu depan rumahnya itu, dia takut itu adalah orangnya Ericka dan membuat masalah lagi dengannya.


"Su-sudah kalau begitu! Pindahkan saja barang-barangnya dikamar tamu saja, tak sudi aku melihat anakku tinggal dikamar babu itu!" ujarnya.


"Baik, Nyonya" jawab pelayan tadi.


Sangat miris bukan nasib Ericka dulu, bahkan kamar tamu bisa lebih besar dan luas dibandingkan kamarnya itu, sekarang dia tak ingin itu terjadi lagi.


Sementara itu, diluar rumah itu Ericka bersama Stanley dan Jessy berbicara tentang rencana mereka, dari kejauhan Ericka bisa melihat Elena sedang mengintip mereka dari balik dinding kaca rumahnya itu.


"Baik, Bos!" ucap Stanley menggodanya.


"Aku bukan bosmu!" sungut Ericka lucu.


"Tapi aksimu tadi luar biasa sekali, aku sangat kagum padamu" ucap Stanley.


"Memangnya kamu mengerti semua yang yang terjadi didalam tadi?" tanya Ericka.


"Bisa sedikit, tapi melihat reaksinya tadi berarti kamu berhasil membuat mereka kagum dan segan padamu" ujarnya lagi.


"Aku kurang begitu yakin soal itu, aku lihat wanita itu masih berani denganku.." ucap Ericka tak percaya diri.


"Untuk awalan itu sudah bagus, kita tak bisa membuat pandangan orang langsung berubah tentang kita ataupun langsung tunduk begitu saja.


Bersabar saja, dan tetap tunjukkan mereka siapa sebenarnya dirimu itu sekarang" ujar Stanley.


Ericka mengangguk setuju kemudian mereka semua pamit pulang untuk beristirahat, tinggallah Ericka bersama beberapa pengawalnya, mereka ditugaskan untuk menjaga keamanan Ericka selama di sana.


Ericka kembali masuk kedalam rumah itu, dia tak melihat siapapun didalam sana dan dia teringat dengan bi Mirna dan Milah, dia begitu rindu dengan mereka dan berniat mencari mereka di sana.


Saat dia melangkah ke ruangan tempat para pelayan beristirahat, dia mendengar percakapan beberapa pelayan yang ada di sana.


"Nona Ericka sudah kembali lagi ke rumah ini, kira-kira apa ada perubahan posisi tidak diantara kita?" terdengar suara pelayan yang berbicara.


"Aku tak tahu, yang jelas tidak mudah. Kau lihat nyonya begitu murka tadi, dan aku juga yakin tuan besar akan mendukungnya lagi" jawab temannya.


"Kau tahuz dulu bi Mirna dan Milah begitu dekat dengan Nona Ericka, bahkan merekalah yang dipercaya untuk membantunya. Sekarang mereka tersingkirkan begitu saja, kepala pelayan sekarang Nia yang menjabatnya, apakah kepala pelayan akan diambil lagi sama bi Mirna?" tanya lagi pelayan itu.


"Aku tak tahu, sepertinya pertarungan akan dimulai lagi. Kita hanya jadi penonton saja disini, menang ataupun kalah kita tak mendapatkan apa-apa" sahut lagi temannya itu.


"Kau benar juga, pelik sekali keadaan rumah ini. Bukan antar majikan saja yang bersaing, para bawahannya juga ikut bersaing.."

__ADS_1


"Satu hal yang kutau soal pengangkatan si Nia itu atas rekomendasi nona Pricilia, dengar-dengar mereka dulu pernah melakukan kerjasama gitu"


"Kerja sama? Kerja sama apa?"


"Aku kurang tahu, yang jelas ada sesuatu yang mereka tutupi dan mereka rahasiakan, dan aku yakin si Nia memegang rahasia itu dan nona Pricilia menutup mulutnya dengan jabatan itu"


"Ooh, aku yakin sih begitu. Ck, jaman sudah edan!"


Ericka mendapatkan fakta baru soal beberapa kejadian baru yang dia ketahui soal permasalahan di rumah itu.


"Apa saja yang terjadi disini selama aku pergi? Benarkah apa yang mereka katakan itu?" gumamnya dalam hati.


Dia pergi dari tempat itu dan menuju kamar bi Mirna dan Milah, dia yakin mereka ada di sana sekarang ini.


"Aakh!" terdengar suara jeritan, dan diiringi suara tawa beberapa orang didalam kamar itu.


Ericka bergegas menuju kamar itu, dan melihat apa yang terjadi di sana dibalik pintu jendela yang terbuka itu. Dia melihat bi Mirna dan Milah terduduk di lantai meringis kesakitan.


Dia juga melihat ada beberapa orang yang ada di sana berpakaian pelayan, dan satu lagi memakai seragam kepala pelayan.


"Dengar, jangan sok hebat kau! Saat ini akulah kepala pelayan di rumah ini, dan kau hanya pelayan rendahan saja! Tugasmu hanya mencuci semua perabotan yang menghitam itu.


Gosok hingga bersih dan mengkilap lagi, jangan berhenti sampai pekerjaanmu selesai! Dan satu hal lagi, keberadaan Nona Ericka disini tidak berarti bagiku, dia bukan siapa-siapa disini.


Dan kalian berdua tetaplah jadi seperti ini, mngerti?!" ujar kepala pelayan yang masih muda itu.


Ericka geram mendengarnya, dia tak terima dua orang yang dia sayangi diperlakukan seperti itu.


"Ehem!" ujarnya merusak momen mereka itu.


Betapa terkejutnya mereka melihat ada Ericka sudah berdiri didepan pintu kamar itu menatap tajam kearah mereka.


"No-Nona?!" kepala pelayan itu, Nia namanya begitu gugup melihat Ericka yang menatapnya tajam.


"Kau... Kepala pelayan disini?" tanya Ericka.


"Be-benar, Nona.." jawabnya pelan, dia melirik ketiga temannya tadi semuanya terdiam menunduk.


"Aku dari tadi mencarimu, ada tugas untukmu! Tunggu aku diluar!" perintahnya.


Mendengar itu ekspresi wajah Nia langsung sumringah, dia pikir akan dihukum karena mengganggu bi Mirna dan Milah, dan ternyata dia malah dipercaya melakukan sesuatu oleh nona mudanya itu.


"Baik, Nona!" jawabnya.


Dia langsung keluar diiringi oleh teman-temannya tadi, mereka terlihat berbisik-bisik senang karena tidak dimarahi tadi.


"Apa kubilang, dia takkan berani menghukumku. Dia masih sama seperti dulu, pengecut dan penakut, lagaknya saja sok berani" ujar Nia, dia tidak tahu jika Ericka mendengar semua percakapannya tadi, hingga sekarang pun masih.


"Hem!" ujar Ericka menegur mereka.


Sadar diperhatikan sejak tadi, mereka buru-buru pergi dari sana. Ericka memperhatikan keadaan bi Mirna dan Milah, keadaan mereka sangat mengkhawatirkan sekali.


Sekarang, mereka tinggal bersama dikamar yang begitu kecil. Untuk tidur saja pasti saling berdesakan, isi kamar itu hanya kasur tipis, dan lemari pakaian saja, setelah itu tidak ada apa-apa lagi.


Sangat berbeda dengan dulu, keduanya memiliki kamar yang sama seperti pelayan yang lain, malah sebagai kepala pelayan, bi Mirna memiliki beberapa fasilitas lengkap dikamar itu.


Dan kini berbanding terbalik dengan semuanya, hati Ericka teriris melihat semua itu, dia mendekati keduanya, dia ingin mencurahkan rasa rindunya, tapi dia mendapatkan reaksi yang berbeda dari keduanya.


"Apa yang kau lakukan disini, Nona? Jika tuan besar melihatmu disini, nanti Nona akan dihukum juga.." ujar bi Mirna pelan.


Meskipun wajahnya terlihat datar melihatnya, tapi sorot matanya tak bisa membohongi jika dia juga merindukan Ericka.


"Bi, aku merindukanmu.." ujar Ericka tanpa sungkan memeluk wanita yang sudah membesarkannya itu.


Dengan rasa sakit dideritanya dia menangis haru sambil memeluk nona mudanya itu, dia mencurahkan segala rasa rindunya itu.


"Jangan pergi lagi, Nona! Kami sangat mengkhawatirkanmu, jangan tinggalkan kami" ujar Milah sambil menangis haru.


"Aku takkan pergi lagi, jika aku harus pergi lagi.. Aku akan membawa kalian juga bersamaku, aku janji.." ucap Ericka sambil memeluk keduanya.


Ericka tak kuasa menahan rasa sakitnya melihat orang-orang yang dia sayangi begitu menderita, dia semakin memantapkan hatinya untuk membalas orang-orang itu satu persatu.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2