
Menjelang makan siang, semua orang berkumpul di restoran milik salah satu sahabat pak Dewantoro.
Mereka sepakat untuk makan siang di sana, sekalian memperkenalkan Rendy sama yang punya restoran.
"Selamat datang, silakan dinikmati hidangannya. Saya akan merekomendasikan menu istimewa dan spesial milik kami ini.
Ini menu baru, tapi rasanya dijamin enak sekali. Semoga Bapak dan Mas Rendy suka yah," ujar manajer restoran tersebut.
"Baik, terima kasih. Ini pasti enak sekali," ucap Rendy ramah.
"Pak Cahyo ada dimana? Biasanya dia yang menyambut kami?" tanya pak Dewantoro.
"Bapak ada keperluan Pak, beliau menitipkan kepada saya untuk melayani Bapak dan Mas- nya." Kata manajer itu sopan.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih hidangannya" kata pak Dewantoro seraya menyantap makanan lezat di mejanya.
"Yah, ini kenapa kita harus meja sendiri makannya? Kenapa tidak gabung saja dengan mereka?" tanya Rendy penasaran.
Saat ini mereka makan dengan meja sendiri didalam ruangan khusus, didalamnya ada pak Dewantoro, Rendy dan Andriana.
Sedangkan para direksi dan manajer lainnya berada di ruangan berbeda.
"Kita ini lagi makan siang, bukan rapat atau sedang presentase. Yang ada nanti pada bahas pekerjaan bukannya makan.
Ayah tidak ingin membebani mereka terlalu banyak, mereka sudah pusing dengan tekanan pekerjaan jangan ditambah lagi dengan yang lainnya.
Biarkan mereka makan dengan nikmat," kata pak Dewantoro dengan santai menikmati makanannya.
Rendy baru melihat sisi baik ayahnya itu, dia pikir ayahnya itu lelaki egois dan keras kepala yang tak memikirkan keluarganya.
Ternyata dibalik itu semua, dia sosok pemimpin yang baik dan bijaksana kepada bawahannya.
"Dengar Rendy, kamu harus banyak belajar. Bukan masalah pekerjaan atau statistik menaikkan harga jual produk atau meningkatkan kualitas atau etos kerja saja.
Tapi kamu juga harus belajar dari mereka, mereka yang sudah bekerja belasan atau puluhan tahun disini.
Mereka lebih banyak pengalamannya, mereka bukan hanya sibuk bekerja tapi pikirkan juga kondisi psikologis mereka.
Jangan sampai mereka stress dengan kerjaan apalagi banyak tekanan dari atasan. Ayah akan selalu memberi apresiasi bagi mereka yang bekerja keras dan konsisten.
Tapi tidak bagi yang bekerja malas-malasan, apalagi hanya mengandalkan rekan atau anak buahnya.
Ayah takkan bisa mentolerir hal semacam itu," ucapnya tegas.
Rendy tersenyum mendengar petuah dari ayahnya itu. Pak Dewantoro masih bercerita soal pengalaman dia bekerja dan memberi motivasi kepada Rendy.
Sampai dia lupa memperkenalkannya dengan Andriana yang masih duduk santai menikmati makanannya.
"Ayah ..." Rendy melirik arah Andriana, memberi kode pada ayahnya itu untuk mengenalkan padanya.
"Ah, maaf Ayah sampai lupa. Rendy ini Andriana asisten pribadi Pramudya, dia anak sahabat Ayah.
Kalian seumuran, cuma Andriana lebih cepat menyelesaikan studinya." Ujar pak Dewantoro.
"Hai, salam kenal. Maaf tidak sopan, gak bisa jabat tangan. Lagi makan," kata Andriana masih sibuk dengan makanannya.
"Hai, gak apa santai aja" kata Rendy, dia menatap gadis didepannya ini.
Masih bingung dia, harus takjub atau merasa aneh dengannya. Didepan bos dan calon pemimpinnya, dia cuek makan tanpa ada rasa canggung sama sekali.
"Ngomong-ngomong Pramudya dimana? Kenapa dia tak ikut bergabung makan bersama dengan kita?" tanya pak Dewantoro.
"Beliau tidak bilang apa-apa kepada saya Pak, tadi saya melihatnya terburu-buru pergi keluar sambil membawa laptopnya." Ujar Andriana.
__ADS_1
"Dia sendiri atau bersama seseorang?" tanya pak Dewantoro.
"Kayaknya sendiri Pak, tadi saya lihat dia menyetir sendiri mobilnya" sahut Andriana.
"Oh, oke... yang penting dia tidak terlambat datang saat meeting nanti.
Baiklah, makan siangnya sudah selesai. Mari kita kembali ke kantor.
O ya, Andriana tidak lama lagi Rendy akan menjadi atasanmu. Tolong bantu dan ajarin dia, pastikan dia tahu semua peraturan di perusahaan ini," kata pak Dewantoro.
"Baik Pak, dimengerti" jawab Andriana sambil menundukkan kepalanya.
*
Persiapan meeting sudah dilaksanakan, para direksi sudah mulai berkumpul satu-persatu untuk menghadiri rapat yang dipimpin oleh Pramudya itu.
Tapi sampai saat ini Pramudya belum datang juga, semua orang mulai gelisah. Apa dia pergi dan membatalkan presentasinya.
"Aku akan menemui sekretarisnya Pramudya, dia yang menjadwalkan semua kegiatannya." Ucap Andriana.
Dia berinisiatif sendiri ingin mencari keberadaan bos keduanya itu, bos pertamanya tentu saja pak Dewantoro.
Saat dia menuju ke meja sekretaris Pramudya, dia tak melihat wanita itu. Dia ingin membalikkan badannya, tapi...
"Aaahh!"
Terdengar suara des*han didalam ruang kerja Pramudya, Andriana penasaran lalu mengintip disela-sela jendela kaca yang mengarah ke ruangan itu.
Betapa terkejutnya dia, melihat adegan doogy style didalam.
"Dasar brengsek, semua orang menunggunya gelisah dia malah enak-enak disini" katanya geram.
Tok! Tok! Tok!
Dia mengetuk pintu ruangan itu dengan keras, tentunya itu mengejutkan mereka yang didalam.
Andriana tersenyum nyengir, dia menikmati momen dua orang tak tahu diri itu.
"Biar tahu rasa mereka, emang enak lagi nanggung digangguin" kata Andriana cekikikan sendirian.
"Ada apa?!" bentak Pramudya, penampilannya berantakan.
Sangat terlihat sekali dia asal memakai pakaiannya, rambutnya sedikit berantakan dengan baju kemeja setengah dikancing.
Dia begitu kaget melihat kedatangan Andriana, playboy cap tengik itu kelabakan. Pramudya sudah terkenal dengan tingkahnya yang plamboyan dan suka mengajak para wanita cantik berkencan.
Nancy, sekretarisnya yang cantik dan seksi itu sudah lama dia kencani. Tetapi tetap saja dia masih menggoda wanita lain, seperti Andriana ini.
Berbeda dengan wanita lain, Andriana sangat sulit dia taklukkan. Semakin tertantang untuk dia mendapatkannya.
Saat Pramudya masih terpaku menatap Andriana didepannya, Nancy menghampiri mereka dari dalam.
Terlihat dia sedang merapikan rambut dan rok mininya itu, dia berjalan kearah mereka. Dengan senyuman menggoda dia memeluk pinggang Pramudya.
Andriana rasanya ingin muntah melihat kelakuan orang-orang Dakjal ini.
"Kenapa kamu disini? Ganggu orang aja!" Ketus Nancy, dia benar-benar terlihat kecewa permainan mereka tak selesai.
"Maaf mengganggu kalian yang sedang 'bermain', tapi semua orang sudah menunggu Pak Pramudya.
Dalam lima menit anda tak datang, maka pak Dewantoro dan semua direksi sepakat bahwa Rendy akan memimpin perusahaan mulai hari ini." Kata Andriana.
"A-apa?! Astaga aku lupa hari ini ada presentase, ah... ini gara-gara kamu yang menggodaku!" bentak Pramudya kepada Nancy.
__ADS_1
"Kok gara-gara aku, 'kan kamu nya lagi pengen" kata Nancy dengan nada merajuk, dia menyusul Pramudya kedalam ruangan lagi.
Dan membantunya menyiapkan segala keperluan presentasinya.
Andriana melihat geli dan jijik mereka, "benar-benar tak tahu diri sekali mereka ini" pikirnya.
Pramudya tergesa-gesa menuju ruang rapat, dia sesekali membetulkan letak dasi dan kemejanya.
Andriana menyusulnya diikuti Nancy, sesekali Nancy melirik Andriana tajam. Andriana cuek tak menanggapinya.
Pramudya masuk kedalam ruangan tersebut, sedangkan Andriana dan Nancy menunggunya diluar.
"Dengar yah, kamu tak perlu berharap pak Pramudya akan mendekatimu lagi. Dia sudah memilihku," kata Nancy dengan angkuh.
"Saya tak berminat ataupun tertarik, ambil saja kalau mau" jawab Andriana cuek, masih sibuk dengan buku dan map ditangannya.
Merasa dicuekin dan tak dianggap, Nancy menampik tangan Andriana yang sibuk memegang barang-barangnya itu.
Otomatis semuanya berjatuhan dan berserakan dilantai, dia tersenyum puas. Dia senang bisa membuat wanita saingannya itu kelabakan.
"Apa-apaan sih kamu! Kalau tidak bisa membantu, cukup jangan membuat orang kesusahan. Mengerti?!" bentak Andriana.
Dia sibuk memungut barang-barang itu, Nancy tidak terima dibentak dan diremehkan oleh Andriana yang menurutnya hanya anak baru tak tahu apa-apa.
"Heh, jangan merendahkan ku! Bagaimana pun juga aku seniormu, kau harus sopan dan hormat padaku!
Kau baru bekerja dengan pak Pramudya, tetapi sudah berhasil menggodanya. Apa kau tak lihat aku yang sudah lama menunggunya?!" bentak Nancy.
Lalu dia berlalu pergi meninggalkan Andriana yang masih sibuk merapikan buku dan berkas-berkas berserakan akibat ulah Nancy tadi.
"Huh, dasar nenek sihir. Bisanya hanya dandan sama menggoda bosnya saja, kerjanya gak bisa apa-apa." Andriana mencibirkan bibirnya.
*
Sementara itu, diruang rapat Pramudya masih panas dingin menghadapi pak Dewantoro.
Dia tak sanggup melihat tatapan tajam dan dingin lelaki tua itu, sedangkan Rendy terlihat menikmati pemandangan didepannya.
"Pak Pramudya, apa anda serius dengan presentase yang anda buat ini.
jujur saja saya kurang puas, baiklah untuk isi materinya cukup baik tapi kami masih kecewa dengan sikap anda yang terkesan main-main dengan pekerjaan anda ini." Ucap pak Dewantoro.
Semua mengangguk tanda setuju dengannya, mereka akui presentasenya berjalan dengan baik tetapi tetap saja kecewa dengan prilakunya yang kurang disiplin itu.
"Lain kali jangan seperti itu lagi, faham?! Baiklah rapat hari ini ditutup, selesai sampai disini.
Good job, tapi ingat berusaha dan belajar lagi buat mendisiplinkan diri!" tegas pak Dewantoro.
"Ba-baik Pak, terima kasih atas pengertiannya " ucap Pramudya dengan perasaan gugup dan tak menentu.
Semua orang keluar dari ruangan, mereka nampak puas dengan hasil.presentase Pramudya.
Meskipun masih ada yang membicarakan keterlambatannya dan juga penampilannya sedikit berantakan tadi.
Seperti orang tak berdosa, Pramudya berjalan santai sambil mengedipkan matanya kearah Rendy.
Seolah-olah mengatakannya takkan ada yang bisa mengalahkannya, dan tak semudah itu menyingkirkannya.
Rendy tersenyum kecut, bagaimana bisa si cunguk ini melakukan presentasinya dengan baik? Bukankah dia sudah menghapus dan mengacaukan presentasinya?
Sementara itu, pak Dewantoro mengamati ekspresi Rendy yang terlihat kecewa itu.
Dia tersenyum, dia senang melihat jiwa berkompetisi dari anaknya itu. Dia tak sabar melihat langkah Rendy selanjutnya.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung