Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Aku Tahu Isi Hatimu


__ADS_3

Nico menunggu kedatangan mereka bersembunyi dibalik pintu kamar Reva, Sedangkan Reva sudah tertidur di kasur bangsalnya.


Elena datang membawa Pramudya bersama beberapa pengawalnya, dia sengaja membawa anaknya kesana ingin menutupi aib yang dibawa Pramudya, menurutnya.


Dia tidak ingin membawa suaminya ikut kesana, dia tidak mau pak Dewantoro menyadari atau mengetahui keberadaan Ericka yang ada di sana.


Meskipun suaminya sudah percaya dan terpengaruh oleh ucapannya, tidak bisa dipungkiri jika dia mulai menyadari kemiripan wajah Ericka dengan mendiang istrinya itu.


"Saya sudah menyiapkan kamar khusus buat tuan Pramudya, Nyonya. Tapi sebelum itu dia harus dibawa ke ruang operasi dulu untuk menangani luka potong pada alat kelam*nya" ujar dokter Anwar.


Sebelumnya Pramudya memang ditangani dulu di ruang ICU untuk penanganan darurat, setelah itu baru dibawa ke ruang operasi.


"Baiklah, lakukan yang terbaik. Jika kau bisa membuat kondisinya lebih baik aku akan mendanai rumah sakitmu ini lebih besar lagi" ujar Elena.


Dokter Anwar hanya tersenyum dan mengangguk lalu pergi masuk keruang operasi itu, dia berpikir aneh terhadap wanita paruh baya itu. Jika dia mau, dia bisa saja membuat rumah sakit yang lebih besar dari punyanya.


Dia tidak ingin melakukan hal itu karena takut bisnis dan organisasi yang mereka buat akan terungkap, dia membuat rumah sakit itu untuk membantu rakyat miskin berobat secara gratis. Mereka sengaja merahasiakannya karena tidak mau jadi pusat perhatian.


Sedangkan diluar rumah sakit itu, nampak pak Dewantoro dan pengawalnya yaitu pak Johan sedang mengamati mereka dari dalam mobilnya.


"Jadi ini rumah sakit yang menjadi kepercayaannya, ada didalam sana? Kenapa dia bersikeras ingin mengantarnya sendiri? Lihat, anak buahnya lebih bisa percaya dibandingkan denganku, suaminya sendiri" ujar pak Dewantoro kesal.


"Mau saya selidiki dari dalam, Pak?" ujar pak Johan menawarkan diri.


'Tidak usah, lebih baik kau menjauh dulu darinya. Dia sudah memperingatiku untuk memintamu menjauh dan berhenti mengawasinya.


Dia menyadari kalau selama ini diawasi olehku, dasar wanita aneh! Aku ini suaminya tapi dia tidak percaya sekali denganku" pak Dewantoro mendengus kesal.


//


//


Didalam apartemen itu, Rendy duduk melamun sendirian di balkon apartemennya. Dia masih mengingat kejadian sore tadi saat Pramudya bersikap seperti orang gila, meremehkan mereka seakan tak ada artinya.


Dia memainkan gawainya, dia terkejut tiba-tiba Hpnya berbunyi dan hampir saja jatuh dari balkon apartemennya itu.


"Halo?" jawabnya.


"Pramudya dirawat ditempat yang sama Reva dirawat, menurutmu bagaimana? Ingin menjemput Reva sekarang?" tanya Nico.


Dia berubah pikiran, jika Reva dibiarkan saja disana lama-lama dia akan tahu sebenarnya. Apalagi Elena bersama anak buahnya lalu lalang dilantai rumah sakit itu, pasti dia akan tahu juga.


"Besok aku akan datang ke sana, kita lihat saja nanti bagaimana kelanjutannya" jawab Rendy.


Dia masih bingung harus mengambil keputusan apa, selama ini Nico selalu mengambil keputusan sendiri dan sekarang dia menyerahkan semuanya kepada Rendy. Bagaimanapun juga, Rendy lebih berhak mengambil keputusan untuk keluarganya.


"Baiklah kalau begitu, aku akan tetap disini menjaga Reva. Sampai ketemu besok" ujar Nico menutup telponnya.

__ADS_1


Rendy menekan no Hp Andriana, dia masih gengsi dengan sekretarisnya itu. Tapi mau gimana lagi dia saat ini butuh bantuannya.


"Iya, Pak?" tanya Andriana, dia kesal dengan bosnya itu menelpon tidak mengenal waktu.


"Besok pagi temui aku di rumah sakit besar tempat kita bertemu kemarin, besok aku juga tidak akan masuk kantor lagi. Ada pekerjaan lain yang tak bisa ditunda, kau juga tak perlu masuk juga" ujar Rendy.


"Tapi, Pak. Besok ada rapat penting yang harus anda hadiri, seharusnya hari ini tapi tertunda karena anda menundanya. Kalau bisa jangan ditunda lagi karena ini menyangkut proyek baru yang kita rencanakan sejak lama" ujar Andriana gusar dengan bosnya itu.


"Batalkan saja!" ucap Rendy tegas.


"Hufft, iya!" jawab Andriana kesal.


"Kamu mengeluh? Mau saya pecat?!" tanya Rendy menggertak.


"Iya, iya... Maaf" ujar Andriana sambil mencibirkan bibirnya.


"Kamu ngeledek aku yah?!" ujar Rendy, dia merasa kalau sekretarisnya itu sedang melakukan sesuatu dibelakangnya.


"Ya ampun, Pak. Tolong yah dikondisikan pikirannya, tidak baik berburuk sangka kepada orang apalagi orang itu yang selalu membantu anda, kapanpun anda butuh dia selalu ada untuk anda" ujar Andriana gemas campur kesal dengan bosnya itu.


"Iya, iya! Jangan lupa besok datang, awas kalau gak!" kata Rendy langsung menutup telponnya.


"astghjklmjl! Dasar psikopat!" umpatnya.


//


//


"Bagaimana, Dok. Apakah dia sudah sadar?" tanyanya kepada dokter yang bertanggung jawab atas pengobatan Julia.


"Dia sudah siuman, tapi kondisinya masih lemah. Anda boleh melihatnya tapi jangan membuatnya banyak berpikir, karena cidera di kepalanya belum sembuh total" kata dokter itu.


"Baik, Dok" ucap Rendy.


Dia memasuki ruangan Julia, dia melihat anak itu menatap kosong kearah jendela kamarnya itu. Dia masih terbaring lemah, kepalanya masih dibalut perban.


"Halo, Julia. Bagaimana kabarmu, sudah baikkah?" sapa Rendy seramah mungkin.


"Kau... Siapa?" tanya Julia bingung.


Rendy nampak heran dengan sikapnya, kenapa dia seperti kebingungan seolah tak mengenalnya? Rendy mencoba positif thinking, mungkin itu efek dari cidera dikepalanya.


"Aku Rendy, kakaknya Ericka. Bukankah kalian berteman?" tanya Rendy berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


"Ooh... Iya, aku ingat" jawab Julia sambil tersenyum.


Rendy masih belum bisa menerka sikapnya, apakah dia benar-benar lupa karena cidera itu atau dia berpura-pura saja untuk menghindari hukumannya?

__ADS_1


"Julia, apa kau ingat apa yang terjadi kepadamu sebelumnya? Apa kau juga tahu apa yang membuatmu kecelakaan?" tanya Rendy kepadanya.


"Emm, aku tidak tahu. Tapi aku ingat saat kecelakaan itu, aku sedang berlari dan ditabrak oleh sesuatu. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi" jawab Julia sambil menerawang.


"Kau ingat kendaraan apa yang menabrakmu waktu itu?" tanya Rendy lagi.


"A-aku tidak ingat apapun" ucap Julia seperti sedang gugup memikirkan sesuatu.


Rendy menatapnya curiga, sepertinya anak ini menyembunyikan sesuatu. Awalnya dia tidak curiga karena dia seperti orang benar-benar kebingungan tapi setelah ditanya soal kendaraan itu dia nampak gugup.


"Oh, ya udah kalau begitu. Jangan terlalu dipikirkan, kamu istirahat saja yang baik tidak usah dipikirkan soal biaya rumah sakit. Aku sudah mengurusnya" ujar Rendy tersenyum lalu berlalu pergi.


Julia menatapnya penuh arti, entah apa yang didalam pikirannya hanya dia tahu. Tapi satu hal yang pasti, dia tahu semuanya yang menimpa dirinya.


Rendy berjalan sambil memikirkan sesuatu tanpa sadar dia sedang menabrak seseorang, refleks dia langsung membantu orang itu memungut barang-barangnya yang terjatuh.


"Maaf yah, maaf... Saya tidak sengaja" ujarnya sambil menyodorkan berkas-berkas yang berserakan tadi.


"Ti-tidak apa-apa, Pak" ujar orang itu, seorang lelaki memakai pakaian perawat rumah sakit itu dan memakai masker.


Rendy nampak curiga dengannya, dia nampak tak asing dengan orang itu dan kenapa pula dia begitu gugup melihatnya.


"Astaganaga!" teriaknya terkejut karena seseorang menepuk bahunya dari belakang.


"Ya ampun, Pak Rendy. Ternyata anda latah juga" ledek Andriana dibelakangnya, ternyata dia yang menepuk bahunya.


"Kau ini! Bisa tidak untuk menyapa dulu tanpa harus mengagetkan orang!" teriaknya lagi kesal.


"Sudah dari tadi, Pak. Sampe kering nih tenggorokan! Bapaknya saja yang bengong" jawab Andriana kesal.


"Kenapa kau baru sampai, bukannya datang dari tadi?!" ujar Rendy dengan tampang datar.


"Aku ke kantor dulu, Pak. Karena-" dia belum sempat meneruskan ucapannya sudah dipotong oleh Rendy.


"Duh, sudah kubilang kan tidak usah ke kantor langsung saja temui aku. Ngeyel banget jadi orang!" ujar Rendy nampak gusar sekali, dia sesekali melirik jam tangannya.


"Tapi aku harus laporan dulu sama bos besar, Tuan Rendy Putra Wijaya" ucap Andriana dengan pengucapan penuh penekanan.


Tiba-tiba Rendy menarik lengannya bersembunyi dibalik dinding penyekat yang berada di lobby rumah sakit itu, jarak mereka begitu dekat. Rendy sedang fokus memperhatikan sesuatu dibalik dinding itu.


Jantung Andriana berdegup kencang, jarak mereka begitu dekat nyaris berpelukan. Dia menatap lekat bos mudanya itu, semakin dilihat ketampanan semakin jelas.


"Ya Tuhan, jantungku" gumamnya sambil menelan salivanya.


Aroma tubuh Rendy menghipnotis Andriana, dia tak bisa berkedip menatap bosnya itu.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


Maaf ya semuanya, author lagi gak fokus nulisnya. Anak lagi sakit, mohon doanya ya semuanya baik-baik saja. Agar author bisa berkarya lebih produktif lagi 🙏🙏


__ADS_2