Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Kepulangan Pramudya


__ADS_3

Elena sampai dirumahnya, ternyata suaminya sudah menunggu kedatangannya. Dia menatap Elena dengan pandangan penuh selidik.


"Dari mana saja kau? Akhir-akhir ini aku perhatikan kau sering sekali berada diluar dan nampak sibuk sekali." Kata pak Dewantoro sambil menghisap cerutunya.


"Aku sibuk, mengurus ini dan itu. Kau tak perlu tahu nantinya kau akan berterima kasih padaku dengan apa yang kulakukan saat ini" ujar Elena sambil sibuk membersihkan riasan wajahnya.


"Kenapa kau nampak berubah denganku? Sikapmu semakin tidak sopan saja kepada suamimu ini" pak Dewantoro kesal dengan sikap istrinya itu.


"Berubah? Aku? Haha! Kau berlebihan sayang, tak ada yang berubah denganku" jawab Elena dengan senyuman sinisnya.


"Aku ingin bertanya kepadamu, apa yang kau lakukan pada anak itu? Kemana kau membawanya?" tanya pak Dewantoro.


"Anak? Siapa maksudmu? Ahh, Ericka yah... Dia baik-baik saja, lagi belajar penuh semangat karena dia akan pergi kuliah ketempat impiannya" jawab Elena sambil tersenyum penuh arti.


"Jangan berbohong denganku, Elena. Sejak kapan kau peduli dengan anak itu? Kau tahu, kedua pengasuhnya kebingungan mendapatinya tidak ada di kamar.


Siapa yang kau takuti sehingga kau ingin menyembunyikan anak itu? Rendy atau Reva? Kedua anakku sudah pergi dari rumah ini, tidak ada lagi yang mengganggumu dan anak-anakmu lagi disini.


Jadi, tidak ada ancaman lagi bukan? Aku tahu semuanya, Elena. Kau banyak menyimpan rahasia dariku, termasuk orang yang kau kirim menyelidiki kasus kecelakaan anak itu.


Aku tahu semuanya, bahkan anak itupun harus dirawat juga di rumah sakit. Itu ulahmu juga kan?!" tanya pak Dewantoro penuh selidik.


"Kalau kau tau semuanya, kenapa masih bertanya? Bukankah bagus aku membalaskan rasa sakit anak itu kepada orang yang telah melukainya? Seharusnya berterima kasihlah kepadaku.


Dan satu hal lagi, aku mempersiapkan anak itu untuk membawanya ke mr. Robert. Apa kau tahu, dia selalu menghubungiku menanyakan perihal janji kita untuk menyerahkan anak itu? Kalau tidak hutang kita akan berbunga-bunga berkali-kali lipat!" Elena mendengus kesal.


"Kenapa kau tidak cerita kepadaku soal itu?!" tanya pak Dewantoro kepada istrinya itu.


"Untuk apa? Apa hutangnya langsung lunas jika aku bicarakan hal ini kepadamu?! Kamu kalau bahas soal ini jawabnya ini itu, gak jelas!


Sudahlah, serahkan saja semuanya kepadaku. Dan satu hal lagi, suruh anak buahmu untuk bersikap sopan dan berhentilah mengawasiku!


Aku tidak nyaman dan sama sekali tidak suka hal itu" ujar Elena dingin, dia membaringkan tubuhnya membelakangi suaminya itu.


Setelah mematikan cerutunya, pak Dewantoro ikut tidur di samping istrinya itu dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.


//


Malam semakin larut, keadaan diluar sangat sunyi dan sepi. Malam ini agak berbeda dengan malam-malam sebelumnya, angin kencang menusuk kulit membuat para pengawal yang berjaga didepan rumah pak Dewantoro masuk kedalam rumah itu.


"Gila, anginnya kenceng banget! Menggigil ni badan!" ucap salah satu pengawal itu.


Sayup-sayup mereka mendengar suara lolongan seperti tangisan pilu, mereka menajamkan pendengarannya dan suara itu semakin kencang kearah mereka, seperti meminta tolong.


"Tolong... Tolong ..." suara lirih semakin mendekati mereka.


"Njirr, suara apaan tuh! Bikin merinding aja!"


"Kamu periksa sana, coba lihat didepan ada apa"

__ADS_1


"Apa?! Enak saja, kamu aja yang periksa!"


"Kenapa? Takut?"


"Bukan takut, njir. Gila aja tengah malam ada yang minta tolong kayak gitu"


"Ya udah, kita periksa sama-sama. Jangan sampai tuan dan nyonya terbangun gara-gara ini"


Para pengawal itu bersama-sama memeriksa keadaan didepan rumah itu, samar-samar mereka melihat sosok manusia berkulit putih bertelanjang bulat menghampiri mereka dengan berjalan terpincang-pincang.


"Apaan tuh?!"


"Tuyul kali, liat tuh telanjang cuma pakai semp*k doang"


"Dimana-mana tujul tuh bogel, lah ini tinggi jangkung begitu"


"Eh, tunggu dulu. Perhatikan dia, sepertinya itu mirip seseorang"


Mereka memperhatikan sosok itu, semakin dekat sosok itu kepada mereka semakin jelas juga penampakkannya.


"Tuan Pramudya?!"


Mereka semua nampak kaget melihat salah satu tuan mudanya dalam keadaan mengenaskan, mereka langsung membawanya kedalam rumah dan memberikan selimut hangat.


Salah satu pengawal membangunkan tuan rumahnya dan menceritakan kejadian tersebut, Elena dan pak Dewantoro buru-buru menemui Pramudya didalam kamarnya.


Apalagi saat itu mereka melihat dia pulang dalam keadaan mengenaskan tanpa pakaian ditubuhnya hanya memakai cel*na dalam saja.


Pramudya diam saja, dia hanya menangis dipelukan ibunya, dia tidak mungkin menceritakan semuanya itu akan membuatnya semakin dalam posisi bahaya.


SEBELUMNYA.


Didalam penjara itu, Nico menatap sinis kepada Pramudya. Rendy sudah pulang ke apartemennya diantar anak buahnya, dalam keadaan seperti itu tidak mungkin dia pulang sendirian.


Nico mengkhawatirkan kondisinya yang semakin terpukul itu ketika tahu kenyataan apa yang terjadi menimpa kakaknya itu.


"Kau lihat, kan. Apa yang terjadi jika seseorang yang sudah terlalu membenci, sudah hilang rasa apapun terhadapmu. Bahkan untuk marah ataupun berteriak saja dia sudah tak mau, karena apa? Karena dia tahu, orang sepertimu itu sampah, dan tak ada gunanya melayani sampah sepertimu!" ujar Nico menatap sinis kepadanya.


"Sesuai keinginan Rendy, kau akan aku lepaskan. Tak ada gunanya mengurungmu disini, membuang tenaga saja.


Aku rasa ini sudah cukup memberimu pelajaran, jika aku serahkan kau ke polisi maka hidupmu akan hancur.


Kau tahu kenapa, Orang tuamu akan mengusirmu dan kau tak memiliki apapun lagi. Jangankan harta, posisi jabatan di kantor ayah tirimu itu akan lenyap. Ditambah lagi kau akan menjadi bulan-bulanan para napi lain.


Nama baikmu akan rusak, semua orang membencimu bahkan ibu dan adikmu pergi menjauh, kau mau tahu reaksi pak Dewantoro jika tahu anak gadisnya kau culik dan lecehkan?


Dia akan melakukan hal yang sama sepertiku, mungkin saja lebih dari ini. Dia akan memotong jari-jarimu, setelah itu baru tangan dan kakimu!


Kau pikir sedang berurusan dengan siapa, hah?! Bajing*an tengik, kau ini manusia tak berguna sama sekali!

__ADS_1


Pergilah, dan jangan pernah kembali. Bersembunyilah sebaik mungkin, jika aku melihatmu lagi... Aku pastikan kau tidak akan selamat" ujar Nico menatap tajam kearahnya.


Mereka membawa Pramudya dengan menutup kepalanya, bagaimanapun juga dia tidak boleh tahu keberadaan mereka saat ini. Dan tempat itu rahasia.


Mata, telinga dan hidungnya mereka tutup. Mereka tak memberikan celah untuknya mengetahui keberadaan tempat rahasia itu, jangankan penglihatan, dia bahkan dilarang mencium aroma atau mendengar apapun yang ada di sana.


Mereka menurunkan Pramudya didepan pintu gerbang perumahan elit keluarganya. Saat sampai di sana, semuanya sepi karena sudah tengah malam. Security yang berjaga didepan saat itu sedang berpatroli jadi tak melihat kedatangan Pramudya.


Dengan tertatih-tatih dia berjalan sambil menahan rasa sakit dan nyeri di bagian selangkangannya, dia menyusuri jalan menuju rumahnya yang letaknya lumayan jauh.


Sampai akhirnya didepan rumah bertemu dengan para pengawal yang berjaga didepan rumah itu.


WAKTU SEKARANG.


"Kita bawa dia ke rumah sakit sekarang, tidak bisa menunggu besok pagi. Keadaannya semakin parah saja, lihat 'burungnya' meneteskan darah campur nanah. Menjijikan sekali" ujar pak Dewantoro bergidik ngeri melihat 'burung' sudah terpotong abis itu.


"Aku akan membawanya ke rumah sakit kepercayaanku, aku tidak ingin membawanya ke sembarang tempat.


Bagaimana jika mereka tahu, bahwa salah satu anak Dewantoro Wijaya konglomerat besar di kota ini bisa mengalami hal ini?


Mau dibawa kemana mukaku?! Apalagi kalau media tahu, akan merusak citra kita dan saham kita bisa turun nantinya." Ujar Elena, dalam keadaan ini dia masih memikirkan reputasinya.


Padahal anaknya dalam bahaya, masa depannya sudah hancur tapi dia tidak memikirkan hal itu. Pramudya menangis sedih, ternyata ibunya sama sekali tak mengkhawatirkan keadaan dirinya sepenuhnya.


Mereka memberikan pakaian hangat dan makanan untuknya, Pramudya makan dengan lahap dia seperti sudah tak makan berhari-hari saja. Setelah itu dia tertidur pulas, karena merasa aman sudah kembali pulang.


"Anak itu aneh sekali, dari tadi hanya menangis saja dan tak menjawab pertanyaan apapun dari kami" gumam pak Dewantoro merasa aneh dengan sikap Pramudya tadi.


Apalagi dia selalu menghindari kontak langsung dengannya, seperti orang ketakutan dan punya salah saja. Dia curiga kalau Pramudya berkaitan dengan perginya anak-anaknya.


"Tidak mungkin jika Rendy ataupun Reva melakukan hal itu kepadanya" gumamnya lagi.


Sementara itu, Elena menghubungi dokter Anwar jika dia sebentar lagi akan membawa anaknya ke rumah sakitnya. Dan minta disiapkan kamar khusus untuknya.


"Elena akan membawa anak itu kesini, bagaimana? Aku harus berbuat apa?" tanyanya kepada Nico.


Saat itu Nico juga sudah di rumah sakit menemani Reva di sana, setelah membuang Pramudya di jalanan dia langsung menuju kesana.


"Biarkan saja, ikuti saja maunya. Jika kau menolak atau banyak tanya lagi seperti kemarin dia akan semakin curiga kepadamu.


Lagian ini akan lebih mudah juga buat kita mengawasinya, biarkan dia satu lantai dengan Ericka dan Reva agar mudah kita melihat pergerakan mereka" ujar Nico dingin.


"Baiklah, jika itu maumu. Tapi kau juga harus berhati-hati, jangan terus-terusan berkeliaran disini. Percayalah kepada timku, kami akan menjaga dan merawat Reva dan Ericka dengan baik" ujar dokter Anwar.


Nico masih mengkhawatirkan kondisi keduanya, apalagi mereka dalam pengawasan Elena. Dia takut Reva menyadarinya dan nekat keluar menemui mereka.


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2