Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Berusaha Bangkit


__ADS_3

Nico menatap kepergian Reva dan Rendy dengan tatapan menyedihkan, dia bisa merasakan kekecewaan dan sakit hati Reva karena merasa dibohongi oleh orang yang dia percayai.


Tetapi Nico juga tidak bisa menerima sikap Reva yang menurutnya sedikit keterlaluan, seharusnya dia memikirkan perasaannya juga bagaimanapun juga Nico sudah banyak membantunya. Bukan mengharapkan imbalan, Nico hanya ingin membuktikan perasaannya yang tulus kepada Reva.


Dan dia melakukan itu semua dengan ikhlas, karena itu juga salah satu tujuannya melindungi dan menjaga keluarga Larasati Pohan yang sering digaungkan oleh ayahnya terdahulu.


"Kau lihat, kan. Apa reaksinya setelah tahu kebenaran ini, bukannya berterima kasih kepadamu tapi dia malah menuduhmu yang bukan-bukan.


Jujur saja aku tak suka dengan sifatnya itu, keras kepala sekali berbeda sekali dengan mendiang ibunya yang lemah lembut. Tapi semua terserah padamu, Nico...


Jika kamu masih mencintainya, pertahankan dia dan raih kembali kepercayaannya. Jika kamu tak sanggup lagi, tinggalkan dia kembalikan aset warisan mendiang ibunya bagaimanapun caranya, setelah itu putuskan hubungan kalian selamanya" ujar dokter Anwar.


Dokter Anwar sedikit banyaknya tahu tentang mendiang ibunya Reva, karena dia juga turut andil dalam mencari jati diri Larasati Pohan. Dia tidak punya masalah apapun dengan mereka, tapi menurutnya sikap Reva ke Nico keterlaluan dan dia tidak terima keponakannya itu dihina begitu saja.


Dia pergi meninggalkan Nico yang masih termangu didepan lobby itu, sedangkan dokter Anwar saling bantu membantu dengan para pegawainya yang masih kena efek obat bius yang mereka minum tadi, mereka meminum obat penetral racun yang ada di dalam tubuh mereka.


Nico memutuskan kembali ke rumahnya, dia mengurung diri di kamarnya itu dan tak sekalipun keluar kamarnya. Itu membuat kepala pelayannya merasa khawatir dengan majikannya itu.


Hingga pagi pun datang, dia juga tak keluar kamar sampai sarapannya harus diantarkan ke kamarnya tersebut. Akhirnya kepala pelayannya menelpon dokter Anwar dan menceritakan permasalahan majikannya itu.


"Biarkan saja dia seperti itu sementara waktu, yang penting jangan lupa beri dia makan dan minum. Jangan biarkan dia sampai sakit, takutnya sakitnya tambah parah" ujar dokter menjelaskan.


"Memangnya tuan muda sakit apa, Dok?" tanya kepala pelayan itu.


"Sakit hati! Sudah tidak usah terlalu dipikirkan, perhatikan saja kesehatan dan makannya saja" ujar dokter Anwar sewot.


Dia sebenarnya kesal dengan keponakannya itu, tapi bagaimana lagi namanya anak muda yang lagi patah hati, ya begitulah.


Hal yang sama juga dirasakan oleh Reva, dia lebih banyak mengurung diri di kamarnya. Dia tidak mau makan dan minum, membuat Rendy harus bawel seharian hingga akhirnya dia mau makan juga, itu juga agar Rendy diam tidak mengomel sepanjang waktu.


"Dasar anak muda, kalau sakit hati suka menyiksa diri! Emang kalau nangis dan mengurung diri akan membuat kenyang? Bisa selesai sendiri itu masalah?!" ujar Rendy masih mengomeli kakaknya itu.


"Emang situ anak tua?! Lagakmu kayak orang berpengalaman saja, Ren. Ntar kalau kamu merasakan jatuh cinta terus dikhianati oleh orang yang kamu sayangi, apa gak sakit tu hatinya" balas Reva sewot sambil memaksakan menyuap nasi ke mulutnya.


"Tapi setidaknya aku akan tetap makan dan tidur nyenyak, tidak akan mengurung diri terus menerus kayak Kakak! Emang orang yang Kakak tangisi akan merasakan penderitaanmu?


Jika Kakak kelaparan, apa dia ikut kelaparan? Enggak kan, makanya berhenti mengasihani diri sendiri!

__ADS_1


Mending kita urus aja permasalahan kita ini, ingat banyak PR yang harus kita kerjakan. Gara-garanya masalah ini, urusan kita tentang masalah perusahaan dan yayasan milik mendiang ibu jadi terbengkalai." Ujar Rendy seperti orang tua yang sedang menasehati anaknya.


"O iya, aku jadi lupa. Bagaimana dengan perusahaan dan yayasan itu, Ren? Apa kita sudah mengambil alih semuanya?" tanya Reva.


Memang seharusnya dia mengalihkan perhatiannya sementara waktu untuk mengurus perusahaan dan yayasan milik mendiang ibunya itu.


"Kita memang menang di persidangan, tapi sampai saat ini perusahaan dan yayasan itu masih atas nama Elena sebagai pemimpin tertinggi. Meskipun pengadilan dan pengacara juga notaris sudah memberikan pernyataan resmi kesemua pemegang saham yang berinvestasi di perusahaan itu juga termasuk para petinggi-petinggi di semua perusahaan dan yayasan lainnya. Mereka yang sudah belasan tahun bekerja dengan Elena pasti loyal dengannya.


Mereka tidak akan mendengarkan siapapun kecuali Elena, ingat semua petinggi dan pemimpin perusahaan dan yayasan tersebut kebanyakan orang-orang yang dipilih langsung oleh Elena, mereka itu orang kepercayaan Elena.


Jika kita nanti mengambil alih itu semua, apakah mereka semua diganti atau kita harus mengambil kepercayaan mereka dulu? Itu semua keputusan kita nantinya" ujar Rendy menjelaskan semuanya.


"Jadi begitu ceritanya, baiklah. Lalu bagaimana dengan Elena, apakah dia berhasil disidang atas kasus korupsi dan penyimpangan dana gelap yang selama ini dia lakukan?" tanya Reva lagi.


"Sebelum sidang dilakukan, dia sudah membayar denda dan menyogok sejumlah orang yang berwenang dalam kasus ini. Kita tidak terlalu fokus dengannya hingga dia bisa melakukan sesuatu untuk melindungi dirinya sendiri. Meskipun sesuatu itu dengan cara kotor sekalipun" ujar Rendy geram.


"Kenapa kalian lengah sekali, sampai kecolongan kayak gitu!" ujar Reva gusar.


Rendy menatapnya tajam dengan pandangan mengintimidasi, dia tak berkedip sekalipun menatap kakaknya itu, hingga membuat Reva serba salah.


"Iya, iya... Kalian sibuk mengurus ini dan itu, sedangkan aku hanya mengurung diri saja" ujar Reva tak enak dipandang terus-menerus oleh adiknya itu.


"Ya sudah, jika Kakak sudah merasakan enakan badannya mulai besok kita akan mensidak perusahaan satu persatu termasuk semua yayasan.


Aku akan mencari orang-orang yang bisa kita andalkan, dan merekrut orang-orang kepercayaan mendiang ibu yang dulu Elena pecat semua.


Aku juga akan meminta tolong kak Nico untuk-" perkataannya dipotong langsung oleh Reva ketika dia mendengar nama Nico disebutkan.


"Rendy, mulai sekarang jangan hubungi lagi Nico. Jangan libatkan dia dalam masalah kita, kita harus mandiri dan harus berdiri tegak dengan kaki kita sendiri! Faham?!" kata Reva tegas.


"Gak usah dijelasin aku juga tahu, Kak. Bukankah selama ini kita sudah berdiri tegak dengan kaki sendiri?" ujar Rendy berusaha melucu.


"Tidak lucu, tau! Sudahlah, kumpulkan semua berkas-berkas mengenai perusahaan dan yayasan tersebut. Aku harus banyak belajar dulu tentang semua itu.


Dan satu lagi, untuk hal ini biarkan Kakak yang bertanggung jawab. Ingat kamu masih bekerja di perusahaan ayah, jangan sampai ayah lupa kalau dia masih punya anak kandung!


Meskipun kita sibuk dengan dua perusahaan ini, jangan lupakan soal Ericka! Ingat dia adik kita, mungkin saja saat ini dia masih menunggu kita. Ingat itu!" ujar Reva memberi peringatan kepada Rendy.

__ADS_1


Rendy mengangguk setuju, dia masih terbayang atas kematian Julia. Dia tak ingin adiknya juga jadi korban keganasan Elena. Ngomong-ngomong soal Julia, Rendy baru ingat dengan Andriana.


Semenjak hari itu mereka belum saling menghubungi lagi, dia buru-buru menelepon Andriana tanpa sadar berbicara begitu lembut dengan sekretarisnya itu lewat telponnya.


Reva mendengarnya menelpon dengan nada begitu lembut mencibirkan bibirnya sambil tersenyum-senyum ngeledek Rendy.


Rendy sadar jadi bahan olokan kakaknya langsung pergi ke kamarnya, menelpon dengan tenang bersama Andriana tanpa gangguan kakaknya.


"Dasar bocah, baru saja ngatain orang! Eh, dianya sendiri malah bucin sendiri" ujar Reva sambil tersenyum menggelengkan kepalanya.


//


"Tumben nelpon, ada apa?" tanya Andriana.


"Masa ngomong begitu ke bosnya, gak sopan" ujar Rendy, meskipun kata-katanya agak kasar ataupun keras tetap nadanya menjadi lembut.


Andriana sedikit curiga dengan bosnya itu, ini anak agak aneh menurutnya. Biasanya orang kalau nada bicaranya berubah pasti ada maunya nih? pikirnya.


"Kan Katanya kalau diluar jam kerjaan, boleh bicara biasa saja. Masa nanya gitu gak sopan" kata Andriana mencoba sedikit ketus bicaranya, apakah Rendy akan marah atau tidak?


"Oh, iya. Aku lupa... Maaf yah" ujar Rendy lembut.


Andriana tercengang lagi dengan reaksi bosnya itu, dia merinding sendiri dengan sikap Rendy yang tiba-tiba berubah begitu.


"Ohh.. Aku baik-baik saja, Ren. Terima kasih sudah menelepon. Besok kamu masuk kan?" tanya Andriana mencoba lembut berbicara.


Dia merasa harus berubah juga dalam bersikap menghadapi bosnya itu, apalagi sang bos sedang berusaha bersikap baik padanya.


"Iya, tapi tidak akan lama. Masih ada pekerjaan lain yang harus aku lakukan" jawab Rendy, dia merasakan ada kehangatan menjalar dihatinya saat mendengar suara lembut Andriana.


"Baiklah kalau begitu, sampai ketemu besok. Bye" ujar Andriana buru-buru menutup telponnya.


Lama-lama jantungnya bisa copot kalau terus-terusan berbicara seperti itu dengan bosnya itu, apalagi Rendy juga menanggapi tak kalah lembutnya.


Apakah keduanya sudah menyadari ada benih-benih cinta diantara mereka berdua?


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2