
Besok harinya.
Seperti biasanya Reva menjalani kehidupannya dengan rutinitas berolahraga, dia harus menjaga kesehatannya apalagi saat ini kondisinya lagi hamil. Dia memilih olahraga ringan agar kehamilannya tetap terjaga.
Pagi-pagi dia berjalan santai menyusuri taman hijau di area perumahan kompleks mewahnya, ada beberapa orang juga ikutan berolahraga, ada yang jogging, senam santai, sepedaan, dan lainnya.
Dia duduk sejenak di kursi taman, saat dia sedang menikmati matahari pagi ada seseorang yang datang menghampirinya, seorang gadis cantik dan masih muda, dia memakai hot pant dan tank top lengkap dengan sepatu kets dan rambutnya diikat keatas.
Terlihat sekali dia sedang tebar pesona ke beberapa orang yang ada di sana, tapi sayangnya semuanya cuek dan tak peduli dengannya, karena kebanyakan yang olahraga juga para lansia dan ibu hamil seperti Reva ini.
"Sendirian aja, Kak?" sapanya ramah kepada Reva.
"Iya.." Reva pun menjawabnya dengan ramah juga.
"Lagi isi yah? Kok olahraga sendirian, gak ditemani sama suami?" tanya gadis itu kepo.
"Iya nih, dia lagi sibuk. Banyak kerjaan katanya.." jawab Reva masih ramah, padahal Nico lagi di luar negeri.
"Oh, begitu.." sahut gadis itu sambil tersenyum penuh arti.
"Kamu sendiri bagaimana, sudah menikah? Kayaknya aku baru liat kamu disini.." tanya Reva baru menyadari tentang gadis itu.
"Aku belum menikah, kak.. Hem, aku menginap di rumah temen yang berada di kompleks ini," jawabnya santai.
"Hem, berani juga dia keliling komplek dengan pakaian seperti ini. Padahal dia juga tamu disini, penasaran.. Tamu siapa sih dia?" gumam Reva dalam hati.
"Maaf ni Kak, kalau aku lancang.. Em, apa tidak apa dibiarin aja suaminya sibuk sendiri begitu, gak takut gitu kalau suaminya macam-macam diluar? Apalagi kalau dia tampan dan kaya.
Sudah pasti banyak para gadis-gadis yang mengincarnya, dari tempat tinggal juga sudah kelihatan kalau kompleks ini tempat orang-orang kaya tinggal, dan katanya.. Lelaki cenderung lebih suka tinggal diluar jika istrinya hamil.
Mereka akan mencari kepuasan diluar, karena istrinya tidak bisa melayaninya maka dia akan mencari yang lain di luaran sana, aku peringatin ya kak, hati-hati" ucap gadis itu sok tau.
Reva hanya tersenyum saja mendengar ucapannya tadi, dia gak tau aja kalau suaminya hampir setiap malam selalu menelponnya hanya sekedar nanyain udah minum belom, udah makan belum, vitaminnya jangan lupa diminum atau sekedar pengen ditemani dia kerja di sana.
Dia percaya jika Nico setia dan sangat memegang janjinya, lagian yang ada Nico yang sangat posesif dengan dirinya semenjak Reva hamil. Jadi gak ada alasan buatnya mencurigai sang suami, yang ada dia curiga dengan gadis yang baru ditemuinya ini.
"Nama kamu siapa?" tanya Reva sambil tersenyum paksa.
"Rania, kak.." jawab gadis itu dengan sok cantiknya.
"Kamu pengen punya suami dan tinggal di komplek ini juga?" tanya Reva lagi.
"Mau dong, mau banget! Sekarang aja aku sengaja nginap disini, buat curi-curi pandang siapa tahu ada cowok yang naksir sama aku, hihi.." jawab gadis itu sambil tertawa genit, tanpa malu sedikit pun.
"Kamu tau, rata-rata yang tinggal disini itu kebanyakan pasangan muda. Laki-laki mapan yang tinggal disini itu kebanyakan sudah beristri dan punya anak. Jangan tertipu oleh penampilan, hati-hati.." ucap Reva berusaha memperingati gadis itu.
"Masa' sih?! Hah, aku mah biasa dideketin lelaki macam itu, tapi kalau dia mau ceraikan istrinya.. Why not's?! haha.." ujar gadis itu tergelak tawa senang.
Reva menatapnya sinis, hatinya miris dengan kelakuannya, gadis sekarang tidak malu jadi pelakor malah dia bangga. Amit-amit jangan sampai suami kita ketemu gadis modelan kayak gini ya bun!
"Ya udah, kak.. Aku pamit yah, udah siangan mau kuliah, sampai ketemu lagi. Bye!" ujar gadis itu beranjak meninggalkan Reva sendirian lagi.
Reva tidak menyahutinya, dia hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkahnya itu, lalu dia pun pergi meninggalkan taman itu, pulang ke rumah karena dia juga mau pergi ke kantor.
Sedangkan gadis itu tadi diam-diam mengikutinya, saat didepan gerbang rumah Reva, dia menyeringai sambil menelpon seseorang.
"Aku telah menemukan lokasi rumahnya, tapi katanya suaminya sibuk bekerja. Apa kita pindah saja targetnya?" tanya gadis itu kepada seseorang ditelpon itu.
"Jangan, kau awasi saja rumah itu. Tunggu suaminya pulang dan cari perhatiannya, ajak kenalan dan goda dia, seterusnya urusan kamu bagaimana caranya dia takluk ditanganmu" ujar orang yang ada ditelpon itu.
"Baik, tapi jangan lupa transferannya. Karena untuk mendekati lelaki sekelas dia butuh penampilan yang mempesona.." ucap gadis itu sambil menyeringai.
"Baiklah, tunggu saja.." jawab orang itu.
Kemudian saluran telpon mati dan tidak lama kemudian bunyi notifikasi Hpnya berbunyi menandakan transferan berhasil, gadis itu tersenyum sumringah.
"Tunggu aku, aku akan berpenampilan lebih menarik daripada istrimu itu. Dan aku akan memberikan pelayanan lebih memuaskan, sehingga kau akan sukarela meninggalkan istri gendutmu itu!" ujar gadis itu tadi sarkasme.
Kemudian dia pergi dengan percaya diri tanpa tahu kalau sedari tadi dia diawasi oleh pemilik rumah, Reva dan kepala pelayan juga beberapa pengawal memperhatikan gadis itu dilayar monitor yang tersambung Cctv didepan gerbang rumahnya.
"Siapa dia, Nyonya? Apa dia kenalan tuan?" tanya kepala pelayan rumahnya.
__ADS_1
"Saya baru mengenalnya tadi pagi saat sedang bersantai di taman sana, dia sangat pandai berbicara, menasehatiku agar menjaga suamiku dengan baik, jika tidak dia akan diambil wanita lain.
Dan siapa tahu jika dia sedang membicarakan dirinya sendiri, dia pikir siapa yang harus hati-hati? Sebaiknya kalian jauhkan dia dariku jika tak ingin aku hancurkan mulutnya itu!" geram Reva sambil memandangi layar monitor dengan tajam.
"Ba-baik, Nyonya!" sahut para pengawal.
Mereka sendiri agak ngeri menghadapi majikan mereka satu ini, gak beda sama suaminya jika mode galaknya lagi on, Reva mungkin lebih galak dan dingin dari sang bos.
"Pak, perketat lagi penjagaan rumah ini, aku tak mau jika ada penyusup masuk ke rumah!" ujar Reva kepada kepala pelayan.
"Baik, Nyonya.." jawab kepala pelayan sopan.
Semuanya pergi dari sana dan bersiap dengan perintah sang bos, apalagi Nico sudah mewanti-wanti mereka agar menjaga nyonya rumah dengan baik selama dia tidak ada di rumah.
"Tidak ada tuan Nico, tidak mengurangi kehororan rumah ini.." ujar para pelayan jika melihat sang nyonya jika lagi bad mood.
Reva pergi ke kantor seperti biasa, dia naik mobil Porsche keluaran terbaru dengan supirnya.
Dia juga dikawal oleh beberapa anak buah Nico dibelakang mobilnya, melihat itu para security yang berjaga di kompleks melipir mundur, tak ingin berurusan dengan mereka, dan juga karena rasa segan dan hormat.
Saat Nico masih bujangan, dia memang sudah biasa berbagi dengan para security itu, tapi dengan tampang yang dingin dan sangar, sehingga para security itu agak sungkan dengannya.
Tapi ketika Nico sudah menikah, dia malah lebih hangat menyapa mereka, dan bantuannya tambah banyak saja. Apalagi saat tahu Reva hamil, maka salah satu bos kompleks itu tambah royal dengan mereka.
"Apa tidak apa membiarkan gadis itu, Nyonya?" tanya sopirnya merangkap asisten juga.
"Selama dia tidak melakukan hal yang berbahaya, maka awasi saja dia. Kalau dia mulai bergerak untuk melakukan sesuatu, gagalkan saja tanpa bersuara, mengerti kan?" tanya Reva.
"Mengerti, Nyonya!" jawab Asistennya itu sambil tersenyum penuh arti.
Melihat senyuman asistennya sekaligus sang supir, Reva agak khawatir juga. Jangan-jangan dia salah mengartikan maksudnya lagi.
"Maksudku tadi, gagalkan rencananya tanpa diketahui olehnya, biarkan dia bingung sendiri dengan kegagalannya itu, jangan kau bunuh dia!" ucap Reva mengulangi perintahnya.
"Iya, Nyonya!" jawabnya asistennya itu sambil terkekeh.
Reva memang orangnya tegas dan berprinsip, tapi dia tidak kejam seperti suaminya, meskipun Nico mulai berubah dikit. Dia lebih hati-hati dan berencana dengan matang tanpa tergesa-gesa, belajar dari pengalaman masa lalu.
.
.
"Aku yakin Rania bisa melakukannya, yang aku dengar suami sepupuku itu mantan playboy dan sang Casanova. Meskipun dia sudah menikah, aku yakin dia masih bermain dengan banyak wanita lain diluar sana" gumamnya sambil menyeringai.
Sedangkan Erick dengan santainya mengamatinya, tentu saja itu jadi bahan laporan buat sang bos. Ericka yang mendapatkan laporan beserta bukti dari Erick, sangat kesal dan geram sekali dengan perbuatan Arlon.
"Bagaimana, apa kita langsung 'bantai' saja dia?" tanya Erick lagi.
"Ubah kata-katamu itu, aku gak suka!" ujar Ericka kesal.
"Sorry-sorry, kebiasaan waktu sama kak Nico, haha! Tenang, itu adalah istilah doang kok!" ucap Erick langsung meralat ucapannya, ketika Ericka mendelik ngeri kepadanya.
Ericka mendengus kesal, dia tidak peduli jika wanita itu sedang berusaha mendekati keluarga kakaknya, bukannya apa-apa.. Karena dia tahu jika Nico tak ada di rumah dan kakaknya Reva itu sangatlah susah dipengaruhi.
Jadi, mau sekeras apapun mereka menghancurkan rumah tangganya, tidak akan pernah berhasil. Karena Ericka tahu, kakak iparnya itu sangat bucin kepada sang kakak, ditambah lagi pengalaman masa lalu menguatkan cinta mereka.
"Yang aku takutkan kak Rendy dan kak Andriana, karena kondisi kak Rendy kurang stabil dan mereka baru berbaikan, aku takut ini malah akan memperburuk hubungan mereka" gumam Ericka.
"Halo?" terdengar suara seseorang diteleponnya.
"Ini no ponselnya kak Rendy kan? Kok kamu yang angkat, kemana dia?" tanya Ericka.
Dia sangat bingung saat menelpon sang kakak, ada wanita lain yang mengangkat telponnya, dan dia yakin itu bukan Andriana.
"Oh, Rendy lagi di toilet. Kamu siapa?!" tanya orang itu ketus.
Membuat Ericka panas dingin, pikirannya kacau. Dia langsung mematikan saluran telponnya, bahkan dia mengulangi telponnya lagi, dan masih sama wanita itu lagi yang mengangkat telponnya.
"Ini beneran, bukan aku yang salah denger!" gumamnya syok.
"Sebaiknya aku telpon kak Andriana untuk memastikan semuanya baik-baik saja.." gumamnya khawatir.
__ADS_1
Dan lagi-lagi tak diangkat juga, apalagi ada notifikasi pesan dari Andriana mengatakan jika dia tak ingin diganggu dulu, sehingga menguatkan praduga Ericka selama ini.
"****! Jangan sampai mereka terpengaruh oleh muslihat murahan itu!" ujarnya kesal.
Ericka kesal, dia menghubungiku beberapa anak buahnya untuk menemaninya mencari sang kakak. Menurut gps yang dia lacak keberadaan sang kakak ada dipinggiran kota.
"Apa yang dia lakukan di sana?!" gumamnya kesal dan khawatir.
"Cepat, aku tak ingin kita terlambat!" ujar Ericka kepada supirnya.
"Baik, Bu!" jawab sang supir sambil menambah kecepatannya.
Tidak lama kemudian mereka sampai juga di tempat dimana alamat GPS itu sebutkan, di sebuah pedesaan yang cukup asri. Ericka terkejut dipinggir kota ternyata masih ada desa yang seperti itu.
"Bu, bukankah itu tuan Rendy?" tanya salah satu pengawalnya menunjuk kesebuah arah.
Mata Ericka terbelalak lebar dengan apa yang dia lihat, dia melihat sang kakak ditengah sawah bermandikan lumpur hanya kepalanya doang yang bersih.
Dan di sana juga ada Andriana, yang tengah asik menertawakan Rendy yang seperti itu. Ericka masih bingung dengan apa yang terjadi, jadi apa-apaan ini?
Terus yang mengangkat telpon kakaknya tadi siapa? Dan apa sebab ini Andriana tak mau mengangkat telponnya dengan alasan menyendiri?
"Jadi, ini penyebabnya kita harus buru-buru seperti tadi, hanya untuk melihat sepasang kekasih yang sedang bermesraan?" sindir salah satu pengawalnya.
"Syut, diam!" ujar temannya sambil menyikut dirinya.
Ericka hanya mendelik tajam kearahnya, sang pengawal hanya berdiri cengengesan malu dan takut. Sedangkan Ericka sendiri juga malu dan kesal dengan dirinya sendiri.
"Kenapa aku gak kepikiran buat nyuruh orang saja untuk mencari keberadaannya, kenapa aku malah ikut-ikutan kemari?!" gerutunya kesal.
Lantas, apa yang dilakukan oleh Rendy dan Andriana di sana? Dan Ericka masih penasaran dengan suara gadis ditelpon tadi.
"Kalau kakakku macam-macam, maka akulah orang yang pertama yang menghajarnya!" gumamnya dalam hati.
"Ayo kita kembali ke kantor lagi!" perintahnya kepada para pengawalnya.
"Baik, Bu!" jawab para pengawalnya.
Mereka semua pergi meninggalkan Rendy dan Andriana di sana, setelah mereka pergi, Rendy menengok kearah Ericka berdiri tadi, tapi tak ada siapapun di sana.
"Ish, kok aku merinding yah! Kayak habis diawasi tadi," ujarnya bergidik.
"Kata pamanku, di desa ini masih banyak demitnya!" canda Andriana.
"Benarkah?!" parahnya Rendy percaya.
Keduanya menghentikan aktivitasnya ketika sang paman datang, beliau memperhatikan sawahnya lumayan bersih, tinggal dibajak lagi baru akan ditanami benih padi.
"Bagaimana, Om? Bersih kan?" tanya Andriana senang dengan hasil pekerjaan Rendy.
"Lumayan, tapi beneran kamu bersihin sendiri kan? Gak dibantu oleh Andriana ataupun kamu upah orang lain buat ngerjainnya?!' tanya sang paman curiga.
"Gak kok, Om. Aku sendiri yang mengerjakannya, lihat badanku penuh lumpur karena terjatuh beberapa kali tadi" ucap Rendy berusaha meyakinkan pamannya Andriana.
"Baiklah, hari makin siang. Istirahat dulu, bersihkan dirimu terus kita makan bersama!" ucap sang paman lagi.
"Baik!" jawab Rendy dan Andriana kompak.
Pamannya mendengus kesal, tapi dalam hatinya senang ternyata Rendy pekerja keras dan sangat berbeda dengan mendiang ayahnya itu, tiba-tiba..
"Rendy, tadi ada telpon?" seorang gadis remaja berlari kearahnya.
"Siapa Mika?" tanya Andriana.
"Gak tau, aku tanya siapa dia eh malah dimatiin sama dia!" sungut gadis itu.
Dia adalah Mika, sepupu Andriana anak sulung sang paman. Saat itu Andriana sedang menemani Rendy yang sedang menjalani tes dari pamannya, makanya dia tak mau diganggu siapapun.
Apalagi saat Ericka menelponnya, dia tak mau Ericka tau jika mereka saat ini lagi dalam misi penyelamatan harga diri.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung