Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Sebuah Undangan


__ADS_3

Reva dan Ericka bergantian bercerita tentang masa lalu mendiang ibu mereka, termasuk harta warisan yang diberikan oleh kakek mereka untuk sang ibu, dan sekarang menjadi milik mereka.


Ericka juga menceritakan semua tentang penculikan dirinya yang dilakukan oleh Zacky dan saudara-saudaranya, salah satunya adalah Arlon, dalang dibalik semua teror ini. Mereka juga menceritakan perihal kakek Harja yang datang disaat hari kematian sang ayah.


"Dan itu semua berkaitan dengan harta warisan itu, Ren.." ujar Reva mengakhiri ceritanya.


"Kalau begitu, Zacky dan keluarganya pasti tau tentang aku ya kan? Secara mereka berani menculik Ericka, tidak mungkin mereka tidak tahu tentang aku.. Apalagi mereka bergerak sangat terencana dan teratur sekali.


Dan ini sudah pasti direncanakan jauh-jauh hari, mungkin selama aku sekolah dan kuliah kali yah" kata Rendy berusaha mengaitkan semuanya.


"Lebih lama dari itu, Ren.. Mungkin sejak kematian ibu, atau.. Saat beliau lahir mungkin" sahut Reva lagi.


"Waah, mereka benar-benar psikopat! Sampai segitunya menyangkut soal harta, keluarga itu sangat berbahaya. Bagaimana bisa kakek berada di keluarga toxic!" ujar Rendy bergidik ngeri.


"Tidak semuanya, Ren. Ada tante Sonia dan om Seno yang tidak seperti itu. Mereka adalah anak-anaknya oma Mariani, mereka tidak seperti ibu dan pamannya, mereka sangat waras dan masih berpikir jernih.


Hanya saja suami dan istri juga anak-anak mereka tidak seperti mereka, semuanya gila harta," sahut Nico juga.


"Wah, kasihan ya mereka, terjebak diantara keluarga itu.." gumam Rendy.


Ericka terlihat melamun tiba-tiba ingatannya melayang pada hari di saat pemakaman sang ayah, dia teringat dengan seorang bapak bersama istri dan anak perempuannya.


"Dia bilang, adik sepupu ibu.." gumamnya tak sadar.


Membuat ketiga kakaknya menoleh kearahnya, mereka bingung apa yang diucapkan oleh Ericka. Kemudian anak itu tersadar jika saat ini dirinya sedang diperhatikan oleh mereka.


"Apa yang kau ucapkan tadi, Ericka?" tanya Reva penasaran.


"Ah, aku hampir lupa menceritakan semuanya kepada kalian pada saat di pemakaman ayah. Kakak tau pada saat pemakaman ada seseorang yang datang ke makam ibu, dia bilang adik sepupu mendiang ibu.


Kak Nico, waktu itu ada kakak juga kan? Masih ingat dengan paman itu, yang kakak sapa dengan ramahnya?!" tanya Ericka senang karena mengingat sesuatu.


"Paman? Oh! Om Richard, tentu saja dia kan teman bisnis mendiang ayahku, dia juga orangnya sangat baik" ujar Nico juga baru ingat.


"Kak, waktu itu aku belum bisa mendengarkan semua ucapannya dengan jelas dan masih belum mengerti semuanya, sekarang aku baru bisa memahami ucapannya dulu.


Dia om Richard, adik sepupu mendiang ibu. Katanya, saat ibu lahir dulu sempat dinyatakan meninggal, dan ibu ditukar saat di rumah sakit dengan bayi yang telah meninggal. Dan ibu ditaruh ke panti asuhan sampai dia besar.


Mereka baru mengetahui setelah mendiang eyang uyut meninggal, makanya mereka berusaha menemukan ibu. Tapi sayangnya mereka baru menemukan ibu setelah ibu juga tiada," ujar Ericka menceritakan kejadian pada saat dipemakaman ayahnya.


"Terus, dia cerita apa lagi?" tanya Reva penasaran.


"Belum sempat cerita semuanya, mereka buru-buru pulang karena anak mereka sudah kelelahan, sepertinya mereka datang dari luar kota atau mungkin diluar negeri" ucap Ericka lagi.


"Seingat aku dia tinggal di salah satu kota besar di negeri ini, tapi sudah lama tak berhubungan jadi tak tahu dimana dia sekarang. Tapi perusahaannya termasuk perusahaan besar di negeri ini dan terus berkembang dan maju.


Jika ingin bertemu dengannya, gampang aja, kita temui saja dia di perusahaannya. Dan aku yakin dia pasti bisa ditemui jika mendengar nama kalian" ujar Nico lagi.


"Apa bisa bertemu begitu saja tanpa membuat janji?" tanya Rendy lagi.


"Kita coba dulu cari tahu, takutnya dia tak ada di kota ini. Terakhir aku dengar katanya dia sangat sibuk bolak-balik keluar negeri untuk mengembangkan usahanya sampai ke luar negeri" jawab Nico lagi.


"Waah, itu mah bukan pengusaha menengah lagi, tapi sudah sekelas level atas. Konglomerat!" sahut Rendy lagi.


"Jadi, kapan kita akan kesana? Menemuinya.." tanya Reva tak sabar.


"Kita cari tahu sekarang aja.." ujar Ericka.


Sedari tadi dia diam ternyata sedang mencari informasi tentang sang paman, dan benar kata Nico dia merupakan salah satu pengusaha sukses dan maju, saat ini sedang mengembangkan perusahaannya sampai keluar negeri.


"Belum lama ini dia sedang melakukan wawancara di salah satu media televisi, katanya saat ini dia ada disini, di Jakarta. Apa besok kita langsung saja ke kantornya?

__ADS_1


Aku juga sudah menemukan alamat kantor pusat dan email-nya juga, mungkin saja bisa tersambung ke alamat email pribadinya.." ucap Ericka lagi.


"Boleh saja, coba kau kirim email ke mereka untuk membuat janji untuk bertemu besok.." ujar Rendy.


"Emang bisa buat janji lewat email? Ini diluar jam kerja loh!" ucap Reva heran.


"Bisalah, banyak kok perusahaan menyediakan email buat pelanggan ataupun umum, menanyakan perihal produk ataupun layanan mereka, coba saja.. Siapa tahu bisa" sahut Rendy lagi.


Ericka benar-benar mengirimkan permintaan bertemu dengan bos besar perusahaan itu, ada tiga alamat email, dia kirimkan semua permintaannya itu, berharap salah satunya berhasil.


Ting!


Dan ternyata benar, salah satu email-nya membalas pesan Ericka, dan balasannya sangat kasual sekali, bukan formal seperti biasanya.


[Selamat malam, apakah kami bisa membuat janji dengan bapak Richard Pohan. Jika berkenan, tolong buatkan janji untuk besok siang, terima kasih..


By. Ericka Victoria Wijaya]


[Siapa ini?]


[Apa ini dengan pak Richard Pohan?]


[Tidak ada yang menyebutkan namaku dengan nama belakang seperti itu, kecuali..]


[Karena kita memang keluarga, Om]


[Siapa kamu?! Karena aku tak punya keponakan, kecuali anak kakak sepupuku..]


[Bagaimana kalau besok kita bertemu? Nanti kita akan bertemu lagi..]


[Baiklah, sampai ketemu besok. Temui aku di restoran sushi di jalan X, letaknya tak jauh dari kantorku. Jam makan siang yah, sekitar jam 12, aku tunggu kehadiranmu!"]


Semuanya terkejut melihat responnya begitu cepat, menurut Nico om Richard orangnya sensitif, dia juga tak suka berinteraksi dengan orang banyak kecuali dengan orang-orang yang sudah dekat dengannya sejak lama.


Baru kali ini dia merespon pesan email yang begitu cepat, dengan reaksi yang mengagumkan.


"Mungkin saat Ericka menyebutkan nama belakang keluarga, makanya dia tertarik.." sahut Reva juga.


"Tapi dia tak menyadari nama belakang keluarga ayah?" tanya Rendy bingung.


"Keluarga ayah memang keluarga besar dan salah satu konglomerat besar di kota ini, tapi itu dulu. Sebelum keluarga ini hancur, dan di media hanya ada berita sampah semua!" ucap Reva kesal.


"Sabar, sabar.." ucap Nico menenangkan istrinya itu.


"Oke, jadi besok siang kita semua akan berkumpul di restoran itu, ya?" tanya Ericka meminta persetujuan semuanya.


"Baiklah, besok aku akan cepat mengerjakan pekerjaanku agar tak terlambat datang dipertemuan itu!" ucap Rendy bersemangat.


"Cepat sih cepat! Tapi harus teliti yah, gak boleh ada kesalahan!" sahut Reva pula.


"Siap, Bos!" ucapnya lantang.


Buk! Buk!


Reva memukulinya dengan bantal di sofa tempatnya duduk, dia kaget mendengar suara Rendy yang begitu kencangnya. Sedangkan Ericka hanya melongo saja melihat kerandoman tingkah kedua kakaknya itu.


"Tenang, sudah biasa.." sahut Nico kepada Ericka yang terlihat bingung itu.


Kemudian Ericka hanya tersenyum saja, dan Nico hanya menggelengkan kepalanya dia hanya khawatir dengan kandungan sang istri saja.


.

__ADS_1


.


Keesokan harinya.


Sesuai dengan rencananya, Rendy segera membereskan pekerjaannya secepat mungkin, dia meminta Andriana membereskan pekerjaannya yang belum selesai.


Kali ini dia tak membawa Andriana bersamanya, menurutnya belum saatnya Andriana mengetahui soal rahasia lain keluarga ibunya itu. Untungnya Andriana mengerti dan membiarkan Rendy pergi bersama saudara-saudaranya.


"Aku titip kantor yah, kalau ada masalah cepat hubungi aku!" ucap Rendy.


Setelah menyerahkan pekerjaannya, Rendy pamit mau keluar, dia tak tahu apakah akan kembali ke kantor atau tidak, jika sudah sore dia belum kembali, dia meminta Andriana pulang duluan saja.


Sementara di kantornya Ericka, suasana dan kesibukannya juga tak jauh beda. Dia juga bergegas pergi dari kantornya menuju tempat janji mereka semalam.


Kalau Reva sudah dijemput oleh Nico sejak tadi, bahkan mereka telah sampai duluan sebelum jam janji temunya.


"Apa tidak apa kita datang duluan?" tanya Nico enak juga dia.


"Sudah diam saja, ikuti saja saranku!" ucap Reva cuek.


Bukan apa, soalnya jam sebelas siang mereka sudah ada di restoran itu, masih satu jam lagi pertemuannya, sedangkan Nico mulai gelisah, dia tak betah duduk berlama-lama di sana kecuali ada pekerjaan.


"Tenang, sekarang udah setengah dua belas lebih, sebentar lagi Ericka dan Rendy sampai.." ucap Reva dengan santainya.


Alasan lainnya dia memilih datang duluan adalah agar bisa makan duluan, dia takut nanti ketemu malah sibuk membahas ataupun bercerita soal masalah mereka, hingga makan siang pun terlewatkan.


Saat hamil wajar saja jika wanita makannya lebih banyak, makanya dia dengan lahap makan di sana dengan santainya, menikmati setiap gigitannya, tak peduli dengan sang suami sudah menggerutu bosan.


"Sabar ya, Pak.. Punya istri yang lagi hamil dan lagi banyak-banyaknya makan, tenang semua makanan juga mengalir ke anakmu ini" ucap Reva terkekeh melihat sang suami melihatnya aneh makan begitu banyaknya.


Tiba-tiba pandangan Nico teralihkan oleh seseorang yang berjalan menuju restoran ini, seorang lelaki bersama seorang gadis, mereka nampak begitu mesranya.


"Reva, menunduk!" ujarnya sambil meraih kepala sang istri agar ikut menunduk bersamanya.


"Nico, apa-apaan sih? Sakit nih, ntar kalau aku kelolojotan gimana?!" ujar Reva kesal.


"Diamlah, Reva. Gak akan terjadi apapun kepadamu selama aku ada disini, diam dan nurut saja.." ujarnya setengah berbisik.


Dan benar saja, orang yang mau mereka ghibahin semalam ada disini. Arlon merangkul Rania menuju tempat duduk di restoran itu.


Nico memberi perintah anak buahnya yang berjaga di luar untuk meminta manajer restoran untuk tidak menerima Arlon dan Rania di restoran itu.


Tentu saja Nico bisa melakukan hal itu, karena restoran itu milik salah satu rekan sekaligus teman bisnisnya, yaitu William, makanya tak heran jika Arlon datang untuk makan gratis di sana. Mereka selalu mengejek William, tapi hampir tiap hari minta makan gratis di restorannya, memuakkan!


"Maaf, Pak. Sesuai instruksi pak William agar tak menerima dan melayani kalian lagi untuk makan disini, kecuali jika kalian bisa membayar semua bill yang kalian tinggalkan selama ini" ujar manajer restoran masih sopan.


Tentu saja itu membuat Arlon dan Rania malu, apalagi mereka tengah diamati oleh beberapa pengunjung di sana.


"Sombong sekali dia! Baru punya restoran kecil dan rasanya tak seberapa belagunya gak ketulungan, jangan kira aku tak sanggup bayar yah!" teriak Arlon tak terima dipermalukan.


Akhirnya dia pergi, mereka pikir dia pergi untuk mengambil uang untuk membayar utangnya, tapi ternyata dia tak kembali juga sampai saat ini juga.


"Rasakan! Bilang restoran kecil dan rasanya tak enak, tapi tiap hari makan disini. Mana bangga-banggain yang punya lagi, giliran ada orangnya dihina mulu, itu yang disebut orang munafik!


Amit-amit, jangan sampai kamu kayak gitu ya sayang, harus akur sama saudaranya, jangan pelit dan makan tulang saudara, ingat itu baby's?!" ujar Nico sambil mengusap perut Reva.


...----------------...


Bersambung


Mohon dukungannya 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2