
Sesampainya di rumah, Ericka melarang Geraldine langsung pulang ke rumahnya. Dia memintanya untuk ikut bergabung dengan yang lainnya dan menceritakan perihal penyelidikannya.
"Azzam, mereka ini semua adalah keluarga kita. Yang itu dua itu aku pikir kamu sudah melihatnya.." ujar Ericka mengenalkan semua yang ada di rumah saat ini kepada Azzam, termasuk kedua kakaknya yaitu Rendy dan Reva.
"Iya, aku tau! Mereka adalah pemimpin dan pemilik panti asuhan tempat aku tinggal ya kan? Tapi apa hubungannya dengan kakak? Emm, kakak gak akan jual aku kan.." ucap Azzam setengah takut-takut melihat semuanya.
Membuat mereka semua yang berada di sana keheranan dan juga bingung dengan perkataannya tadi. Reva, Nico, Rendy dan Andriana termasuk William dan Erick juga Aaron saling tatapan tak mengerti kecuali Geraldine dan Ericka yang tau dengan maksud dari ucapan Azzam tadi.
"Tidak, mereka semua orang baik. Meskipun mereka itu adalah pemimpin dan pemilik panti asuhan bukan berati mereka sama dengan ketua panti itu, kamu jangan takut yah..
Mereka itu, adalah kakak-kakakku.. Kami semuanya bersaudara, kami akan membantu teman-temanmu di panti agar tidak kesusahan lagi oleh dan menemukan mereka yang hilang juga.." ujar Geraldine mencoba menenangkan Azzam dengan memeluknya.
Melihat itu, wajah William berubah ditekuk dan masam, dia berharap dialah yang dipeluk dan tentu saja tidak terima dianggap saudara juga oleh Geraldine, melihatnya begitu tentu saja Erick tau isi kepala kakaknya itu.
"Tenanglah, satu-satunya orang yang tidak dianggap sebagai saudaranya disini hanya kamu, dan mungkin juga tidak dianggap ada di hidupnya" bisik Erick membuat William makin kesal saja dengannya.
"Nah, Azzam.. Yang baru datang itu Milah, dia juga bagian dari keluarga ini. Nanti kalau ada apa-apa minta saja sama kak Milah yah.." ujar Ericka juga saat melihat Milah datang bersama pelayan lainnya membawakan mereka minuman juga camilan.
"Iya, Kak.." sahut Azzam sambil tersenyum.
"Hai, namaku Milah, kamu siapa?" tanya Milah ramah sambil mengulurkan tangannya kearah Azzam.
"Azzam, Kak.." sambut Azzam ramah juga.
"Mil, tolong jagain Azzam yah.. Nah, Azzam boleh ikut kak Milah dan kamu bisa beristirahat di kamarmu ataupun mau main ke taman sebelah juga boleh, asal jangan jauh-jauh yah.." ujar Ericka.
"Beneran, Kak?" tanya Azzam senang.
"Iya, hati-hati yah.." jawab Ericka juga senang.
"Yeaaayy.." Azzam terlihat begitu senang.
Milah mengajaknya bermain ke taman bunga samping rumah, dia juga membawakan Azzam cemilan dan juga minuman untuk menemaninya bermain.
__ADS_1
"Sepertinya kamu sangat senang sekali dengan kehadiran anak itu?" tanya Nico sambil tersenyum saat melihat Ericka begitu ceria sekali.
"Iya, Kak. Setidaknya rumah ini kembali ramai kembali, tidak begitu sepi karena akan ada canda tawanya atau juga suaranya yang bawel, yah.. Setidaknya aku bisa merasakan jadi kakak juga, ya kan?" ujar Ericka sambil tersenyum menggoda kearah kedua kakaknya.
"Iya juga yah, Besok acara pertunanganku dengan Andriana akan dilaksanakan, dan sebentar lagi kami akan menikah, otomatis kau akan sendirian disini.. Baguslah, setidaknya kau punya teman dan tidak takut sendirian lagi.." ucap Rendy juga.
"Tapi, kau tidak akan lupa dengan kami kan?" tiba-tiba saja Reva berkata seperti itu, ada rasa kekhawatiran dihatinya.
"Tenang, Kak. Aku memiliki dua kakak dan satu adik, tidak akan lupa akan hal itu" sahut Ericka sambil tersenyum.
"Bukan, bukan begitu.." ucap Reva.
"Maksudnya, jika kau memiliki adik kecil.. Nanti kau bisa lupa dengan keponakanmu yang ini.." balas Nico dengan cepat, memahami maksud dari sang istri.
"Ish, kamu ini!" ujar Reva kesal, dia malu nanti dianggap Ericka cemburu kepada anak kecil.
"Tapi benar, kan?" goda Nico lagi.
"Hahaha! Tenang saja, aku mana mungkin melupakan keponakanku ini. Kasih sayangku dengan Azzam tidak akan pernah menggantikan kasih sayangku kepadanya, karena semuanya memiliki porsi yang sama tapi prioritas yang berbeda.
"Ada benarnya juga ucapanmu, dan.. maksud aku sebenarnya, aku tak ingin kita melakukan kesalahan yang sama lagi, aku tak ingin kita memperlakukan mereka secara tidak adil seperti apa yang ayah lakukan dulu.." ujar Reva menyahutinya.
"Kak, aku memang menyayanginya sepenuh hati. Dan aku ikhlas dan tulus merawatnya dan menganggapnya adik, tapi bukan berarti aku mempercayai ini semua kepadanya.
Pendidikan dan kesehatan, tempat tinggal dan hidup dengan layak, juga pelajaran attitude juga agama dengan baik, cara menghormati dan menghargai orang, mungkin itu yang bisa aku berikan kepadanya saat ini.
Dan mengenai semua harta dan warisan, akan diberikan kepada anak-anak dan cucu kita yang sah kelak, tapi.. Kita juga harus memastikan jika anak-anak kita bukan anak-anak yang serakah dan ceroboh, dia juga harus memiliki sikap yang baik seperti orang tuanya.
Sampai disini, aku harap kalian semua bisa memahami maksud dariku. Dan tidak terjadi kesalahpahaman lagi, aku juga berharap kalian semua bisa menerimanya dan menganggap Azzam bagian dari keluarga ini.." pinta Ericka dengan tulus kepada mereka semuanya.
Semuanya terdiam lalu tersenyum dan mengangguk tanya setuju dengan keputusannya tersebut, membuat Ericka begitu bahagia dan berharap kebahagiaan akan terus bersama dengan mereka.
"Tapi ingat, mengasuh anak itu tidak mudah. Kau pasti akan mengalami kesulitan juga, entah dia sakit atau terluka, atau mungkin ada masalah di sekolahnya, dan mungkin juga lingkungan dia bermain, belum lagi kalau dia telah melewati masa puber.
__ADS_1
Apa kau siap dengan semua itu, Ericka? Kau telah mengadopsinya, jadi wali nya yang sah saat ini, berarti semua tentang dirinya menjadi tanggung jawabmu. Dan ingat juga, mengadopsi anak bukan seperti kita memungut anak kucing di jalan.
Jika kau suka, di sayang-sayang dan bila tidak suka lagi kau main buang saja. Dan jangan sekali-kali kau berucap kasar kepadanya, apalagi sampai melakukan kekerasan fisik, jika dia pergi, sudah dipastikan dia takkan kembali lagi.
Intinya, kau harus bertanggung jawab semuanya atas dirinya, tapi ingat kau tidak sendirian. Jika kau butuh bantuan, hubungi kami dan jangan sungkan yah! Karena kita ini keluarga.." ucap Nico, dia senang menjadi bagian dari keluarga itu.
"Iya, Kak. Terima kasih atas nasehat dan wejangannya, akan aku ingat selalu.." sahut Ericka sambil berkaca-kaca, terharu sendiri.
"Sudah-sudah, acara terharunya sudah selesai. Sekarang kita bahas dulu nih permasalahan yang ada di panti, bagaimana caranya agar kita bisa menangkap basah si ketua panti tak tahu diri ini!" ujar Rendy, membatalkan rasa haru Ericka tadi, sehingga gadis itu nampak kesal dengannya.
"Menurut daftar transaksi miliknya yang berhasil aku hack laptopnya, besok adalah transaksi berikutnya. Kita jebak dan tangkap saja mereka sekaligus, bandar termasuk pengadahnya!" sahut Erick semangat.
"Kamu pasti pikir kita ini polisi mau nangkap transaksi narkotika!" ujar William sambil menggetuk kepalanya.
"Ish, sama saja! Malah ini manusia yang di perdagangan, lebih berbahaya lagi!" ucap Erick lagi.
"Bagaimana jika kita sedikit mengacaukan acaranya mereka besok? Kita ganti saja jadwal pertemuan mereka, kalau hari rasanya tak mungkin karena sudah mepet juga, bagaimana kalau tempat dan waktunya saja kita ganti?" tiba-tiba saja Andriana ikut berbicara dan mengeluarkan idenya itu.
"Wah, bagus juga! Tapi bagaimana caranya agar tak ketahuan?" ucap Ericka lagi.
"Kalau soal itu, kita serahkan saja pada ahlinya.." ujar Reva sambil tersenyum kearah Erick.
"Gampang itu mah, aku tinggal hack aja no ponsel keduanya termasuk email atau alat transaksi mereka yang lainnya, aku bisa berpura-pura menjadi salah satu dari mereka dan merencanakan perubahan jadwal pertemuan, bagaimana?" tanya Erick sambil tersenyum bangga dengan dirinya sendiri, membuat William melengos melihat tingkah adiknya itu.
"Bagus juga, tapi bagaimana jika nanti ada yang curiga dan menghubungi balik?" tanya Nico juga.
"Soal itu, aku juga akan merencanakan perubahan jadwal seolah-olah memang di jadwalkan seperti itu, aku dengar ketua panti itu tidak terlalu pintar, aku rasa ini tidak akan membuatnya curiga kok, tenang.. Aku kubuat sehalus mungkin," ujar Erick lagi.
"Oke, kita mulai saja sekarang sebelum mereka melakukan hal lainnya.." ucap Rendy tak sabar.
Mereka mulai merencanakan jadwal penjebakan itu, termasuk mengacaukan transaksi yang akan dilakukan oleh ketua panti asuhan bersama calon pembelinya nanti.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung