
KISAH OLAF DAN BOCAH BISU
Disebuah pulau paling utara di dunia, pulau Rudolf atau biasanya disebut pulau Frans Joseph. Pulau ini terletak di negara Rusia. Pulau ini biasanya digunakan oleh kamp para militer di sana, dan sebagian daratannya adalah bongkahan es.
Ada seorang lelaki tua mantan seorang veteran, dia tinggal di sana sudah puluhan tahun. Menjaga kamp-kamp itu jika ditinggalkan para tentara untuk bertugas atau sedang ada latihan diluar pulau.
Lelaki itu tidak sendirian, dia memiliki seorang anak lelaki bernama Marco. Anak itu yatim piatu, ditemukan olehnya saat terjadi peperangan di wilayah konflik.
Semua keluarganya meninggal, saat itu rumah mereka hancur kena bom dan semua orang yang didalamnya meninggal. Pada saat itu Marco bermain diluar, maka dari itu dia selamat dari bencana itu.
Saat itu Marco masih terlalu kecil dan tidak mengerti tentang perang dan lainnya, saat dia melihat rumahnya hancur dia hanya bisa menangis tidak tahu apa-apa.
Dia mengalami trauma yang lumayan berat, sehingga dia tidak bisa bicara cukup lama. Dia tidak memiliki kerabat ataupun keluarga yang lain untuk membantunya.
Seorang militer yang bertugas saat itu merasa kasihan melihatnya, Olaf sebut saja begitu namanya. Olaf yang sebentar lagi pensiun dan tak memiliki keluarga berkeinginan mengadopsi anak itu dan membawanya pulang ke negaranya.
Marco diperlakukan dengan baik, diberikan kehidupan yang layak bahkan dia bersekolah. Anak itu sehat dan hidup normal, dan entah kenapa dia memilih untuk tidak bicara, dan memiliki ekspresi datar tanpa emosi. Dia tak memiliki teman, karena semua orang enggan berteman dengannya.
Dia tak peduli, dia hanya ingin menghabiskan waktunya bersama ayah angkatnya itu saja. Pada suatu saat, Marco sedang pergi ke danau untuk memancing bersama ayahnya.
"Nak, jika suatu saat nanti ayah pergi cobalah untuk membuka diri ke dunia. Bergaullah dengan orang banyak dan biarkan dunia mendengar suara indahmu" ujar sang ayah.
Marco hanya menanggapinya dengan mengangguk saja, dan meneruskan kegiatannya. Ayahnya pamit pulang sebentar karena umpan cacing untuk ikan sudah habis.
Sudah beberapa menit dan hampir satu jam ayahnya tak kembali, Marco berniat menyusul sang ayah.
Braak!
Dari kejauhan dia mendengar ada suara benda terjatuh cukup keras, dia penasaran dengan suara itu.
Brakk!
Kembali terdengar suara itu dan semakin kencang suaranya, Marco dapat memastikan jika suara itu berasal dari rumah mereka. Dia berlari kencang menuju rumah itu, berharap tidak ada kejadian yang tak diinginkan.
Tapi sayang, harapannya sia-sia. Di depan matanya, dia melihat sekelompok pria berpakaian militer memukuli ayahnya. Dia berusaha melindungi ayahnya, tapi anak itu sendirian dan melawan sekelompok lelaki berbadan kekar, tentu saja dia akan kalah.
Marco saat itu sudah berusia 8 tahun, tapi untuk anak seusianya dia memiliki tubuh yang cukup besar seperti anak menginjak usia saat masuk SMP saja, ditambah lagi fisiknya sangat kuat.
Meskipun tinjunya cukup kecil tapi bisa untuk membuat nyeri perut siapapun kena pukulannya.
"Anak ini jika dijadikan seperti kita, sepertinya dia jauh lebih hebat dibandingkan dengan kita" ujar salah satu tentara itu.
"Kalau begitu bawa saja dia, dia bisa menggantikan ayahnya yang sudah tua itu. Haha!" jawab temannya.
"Jangan, jangan ambil anakku!" teriak Olaf tidak terima.
"Kalau begitu, terima saja tawaran kami tadi" kata mereka.
"Tidak, aku tak ingin mengkhianati negeri ku seperti kalian" teriak Olaf.
__ADS_1
"Kalau begitu, anakmu sebagai jaminannya. Jika kau berubah pikiran kami akan mengembalikan anakku dengan baik, jika tidak dia akan menggantikan posisimu" ujar salah seorang tentara itu.
"Marco, Marco! Tidak!" teriak ayahnya sekuat mungkin.
Tapi sayang tubuh tua itu tak sekuat dulu, dia jatuh tersungkur saat mencoba mengejar mereka membawa Marco secara paksa.
"A-yah! A-ayah! Ayah!" tanpa disadari suaranya keluar pada saat itu juga, berteriak memanggil sang ayah.
Olaf kaget bercampur haru mendengar anak angkatnya itu berteriak memanggilnya, yang menyakiti hatinya karena tak bisa mengejar dan memeluk anaknya, tak bisa menyelamatkannya.
Dia hanya menangis dan menatap dari kejauhan kepergian Marco, dia menyesali hidupnya. Olaf di paksa oleh mereka untuk menjadi mata-mata dari musuhnya, untuk mengkhianati negaranya sendiri.
Tentu saja dia tak mau, tapi karena penolakannya anak satu-satunya itu menjadi korban para manusia-manusia kejam.
"Ya Tuhan, lindungilah selalu anakku. Kuatkanlah fisik dan hatinya agar bisa menjadi lebih kuat lagi" ujarnya dalam doa dan pingsan karena kehabisan darah saat terluka dihajar tadi.
Marco pun dibawa ketempat itu, dia juga tak mengerti dengan semua ini. Seorang anak kecil dikumpulkan ditempat orang dewasa, dan dipaksakan bekerja layaknya orang dewasa lainnya.
Karena hal itulah mentalnya menjadi kuat, dan fisiknya juga sangat kuat. Dia bertekad ingin kembali dan bertemu dengan sang ayah.
"Kenapa kalian selalu memiliki kisah menyedihkan" ucap Annie sambil mengusap air matanya dengan kasar.
"Dasar cengeng, denger kisah sedih sedikit langsung mewek" Belinda mencoba menggodanya.
Yang lain hanya terkekeh kecil melihat ekspresi mereka berdua. Tibalah kisah terakhir dari seorang gadis hitam manis.
KISAH MALIKA
Di benua Afrika disalah satu negara di sana, khususnya di daerah-daerah terpencil seperti di desanya merupakan hal yang wajar jika anak-anak sudah dilamar, setelah dia memasuki usia remaja sudah dinikahi oleh tunangan masa kecilnya.
Malika memiliki seorang kakak lelaki yang sangat overprotektif sekali, setiap ada orang tua lelaki ingin melamar adiknya maka dia harus melihat atau menyeleksi sendiri calon adik iparnya itu.
Tibalah kedatangan orang tua anak laki-laki yang ingin melamar adiknya, saat dia lihat anak lelaki itu disekolahkan dengan baik oleh orang tuanya dan mereka juga memiliki latar belakang yang bagus.
Maka dari itu sang kakak menyetujuinya, malam pertunangan akan tiba keduanya dipertemukan. Sebelum acara dimulai, keduanya bermain ditaman samping rumah itu, Malika melihat ada sebuah layangan putus tersangkut di atas pohon. Dia ingin mengambilnya.
"Biarkan aku saja yang mengambilnya, ini sudah gelap dan layangan itu berada jauh" ucap anak lelaki itu.
Malika kecil setuju dengannya, anak lelaki itu menaiki pohon itu hati-hati, tiba saat berada di salah satu dahannya dia mencoba mengambil layangan tersangkut di salah satu ranting pohon itu.
Dia senang akhirnya bisa mendapatkan layangan itu hingga berjingkrak dan terpeleset jatuh dan tidak sadarkan diri, teriakan Malika menyadarkan semua orang dan berlari menuju suara itu.
Kedua orang tua anak lelaki itu histeris dan membawa anaknya ke rumah sakit dan membatalkan acara pertunangan itu secara sepihak.
Anak lelaki itu hidup dengan kaki patah, dengan kondisi seperti itu tidak akan ada lagi yang mau menerimanya sebagai menantunya.
Mereka kembali lagi ke keluarga Malika dan menuntut tanggung jawab, mereka menyalahkan Malika atas kecelakaan itu padahal itu keinginan anak lelakinya sendiri.
Orang tua Malika merasa bersalah akan hal itu dan menerima kembali lamaran itu.
__ADS_1
Sang kakak merasa khawatir, dia takut adiknya akan dimanfaatkan oleh mereka. Dan benar adanya, setelah remaja Malika menikah dengan pemuda itu dan dijadikan pelayan di rumah mertuanya itu.
"Kau haru patuh dan taat pada suamimu dan kami mertuamu, ingat kau dan suamimu tinggal dan makan dirumahku. Maka sewajarnya jika kalian harus melayani kami dengan baik" ujar sang ibu mertua sinis.
Padahal jika Malika dan suami tak tinggal dan hidup dengan mereka, hal sewajarnya mereka patuh dengan orang tua termasuk mertua.
Tapi sepertinya mertua Malika memiliki dendam padanya, mereka menganggap Malika pembawa sial dengan membuat anak mereka cacat seumur hidupnya.
Pada saat itu mereka kedapatan sedang menyiksa Malika karena sebuah kesalahan kecil, kakaknya yang datang berkunjung sangat murka sekali dan menarik paksa Malika untuk pulang ke rumahnya.
Sang mertua tidak terima, dan mulai menyebar gosip tentang kedekatan kedua kakak adik itu.
"Hal yang aneh bukan, masa kakaknya segitu perhatian dan sayangnya pada adiknya itu. Padahal adiknya sudah besar dan menikah tapi sering dikunjungi, bahkan sering duduk berduaan saja.
Gila kan mereka, masa masih ada ikatan persaudaraan masih melakukan hal-hal aneh padahal keduanya sama-sama sudah menikah, emang istrinya itu tidak curiga sama suami dan adik iparnya itu?!" ujar sang mertua dengan teknik hasutan yang cukup handal.
Dan anehnya warga desa percaya, sang kakak ditinggalkan oleh istri dan anaknya pulang ke rumah mertuanya. Orang tua mereka menanggung beban dan rasa malu yang tak pernah mereka lakukan.
Merek diusir dari desa itu, dan membangun rumah kecil untuk keluarga mereka di dalam hutan. Karena kemanapun mereka pergi selalu dihina dan diusir.
Sampai saatnya, Malika bertemu dengan seorang pemuda tampan yang mengajaknya pergi bekerja di luar negeri dan memberikan kehidupan layak untuk mereka.
Malika yang putus asa dan sudah jengah dengan kehidupan mereka yang menyedihkan itu setuju untuk ikut tanpa persetujuan dan izin dari orang tuanya beserta kakaknya.
Bahkan dia juga tidak tahu pasti perusahaan apa itu, maka dari itu kakaknya curiga bahwa itu pasti sebuah penipuan.
"Jangan pergi, aku khawatir jika itu hanya sebuah penipuan" ujar sang kakak.
"Tidak mungkin, Kak. Ngapain coba dia jauh-jauh ke negara miskin dan tempat terpencil seperti ini untuk menipu. Apa keuntungannya bagi mereka, disini tidak ada apa-apanya" ucap Malika putus asa.
"Baiklah jika begitu, aku akan ikut juga. Aku tak ingin kau pergi sendirian, jika terjadi apa-apa padamu maka aku pasti akan menyesal seumur hidupku" ujar sang kakak.
"Tapi bagaimana dengan ayah dan ibu?" tanya Malika penuh kekhawatiran.
"Jangan khawatir, mereka akan tinggal sementara waktu bersama paman dan bibi di desa sebelah. Para warga menolak kita, bukan ayah dan ibu, tenanglah mereka pasti akan aman tinggal di sana" ucap sang kakak mencoba menenangkan adiknya.
Maka pergilah keduanya tanpa tahu apa-apa dan akhirnya menyesali keputusan gegabah mereka berdua itu. Hingga akhirnya sang kakak menghilang entah kemana.
Semenjak misi untuk kabur itu gagal, dia didatangi beberapa anggota keamanan setelah itu dia hilang tak kembali.
"Huaaahh! Kenapa kalian punya cerita menyedihkan seperti itu, huhu!" Annie kali ini benar-benar menangis pilu mendengar cerita orang-orang itu.
"Dasar anak ini..." gumam Belinda.
Mereka semua larut dalam kesedihannya masing-masing, setelah bercerita tentang masa lalu membuat mereka teringat kembali kehidupan mereka terdahulu bersama orang-orang yang mereka sayangi.
Rindu itu memang berat...
...----------------...
__ADS_1
Bersambung