
Sementara itu, di negara yang sangat jauh dari mereka semua.
Ericka dan kelompok barunya baru selesai mengadakan pertemuan, pertemuan ini membahas tentang rencana selanjutnya yaitu rencana untuk kabur kembali.
"Kenapa mereka selalu melakukan hal yang sia-sia? Bukankah mereka sendiri tahu kalau itu takkan mungkin bisa?
Mereka ingin cari mati rupanya" gumam Ericka sendiri didalam kamarnya, dia punya beberapa jam saja untuk istirahat sebelum pagi datang dan kembali bekerja.
Siangnya, mereka kembali bekerja seperti biasanya. Pekerjaan mereka itu sebenarnya bukan pekerjaan sulit tapi jika dikerjakan tanpa istirahat dan tak ada waktu untuk libur, maka itu akan sangat berat dan melelahkan.
"Apa kalian benar-benar akan melakukan misi itu? Apa tidak terlalu berbahaya? Mengingat selama ini tidak ada yang berhasil keluar" bisik Ericka pelan kepada Belinda dan Annie.
"Kita sudah puluhan kali mencoba dalam satu tahun ini, semuanya gagal kali ini harus berhasil. Kamu pikir setiap kali mencoba kami tak mengingat semua jalan atau jalur rahasia yang akan dilewati?
Kami ingat dan catat semua Ericka, setiap orang yang hilang itu pasti meninggalkan catatan terakhir mereka, dan itu bisa jadi acuan dan jalan kita untuk keluar dari neraka ini!" ujar Belinda bersemangat.
Bagaimana tidak, diusianya yang sudah tua ini dia masih terkurung ditempat yang dia tidak tahu dimana dia berada. Puluhan tahun dia disini, sudah pasti dia lelah dan ingin menghirup udara kebebasan.
"Aku tahu, tapi..." Ericka ragu mengucapkan kata-katanya.
Dia tidak yakin akan semua ini, dia pesimis ini akan berhasil. Dia sebenarnya ingin juga pergi dari sini, dia juga ingin hidup bebas. Tapi apakah mungkin? Selama ini dia selalu berada bayang-bayang intimidasi ibu dan saudara-saudara tirinya.
Dan selalu dibantu oleh kakak-kakaknya dan juga para pelayan, apakah dia mampu menjalani ini semua? Apakah dia bisa menjadi lebih kuat lagi?
"Kamu tidak usah terlalu khawatir, kami akan selalu ada buat kamu. Kami akan selalu mendampingimu karena kamu gak sendirian, Ericka" ujar Belinda dengan senyuman tulusnya.
Sebelumnya Ericka juga menceritakan sedikit kisah hidupnya kepada mereka pada malam itu, karena ada sedikit desakan dari mereka yang ingin tahu siapa dan cerita apa yang membuatnya sampai berada di sana.
"Terimakasih atas perhatian dan kebaikan kalian selama disini, seumur hidupku baru kali aku mendapatkan kasih sayang yang tulus dari orang lain.
Kecuali kakak-kakakku yang begitu peduli dan sayang padaku, dan juga para pelayan eh! Maksudku orang yang bekerja di rumahku yang peduli kepadaku" Ericka hampir saja menceritakan jati dirinya.
Dia memilih untuk tidak menceritakan semua asal usulnya, karena dia tidak mudah percaya kepada semua orang. Rasa trauma yang membuatnya menjaga jarak kepada orang lain.
"Tidak apa, kita semua disini adalah saudara dan keluarga. Kalau bukan kita yang saling tolong dan membantu, mungkin sudah perang dunia di dalam 'gua' ini" ujar Belinda.
Dia mengistilahkan gua pada tempat itu karena mereka terkurung disana, dan tidak tahu suasana dan keadaan diluar seperti apa.
Mereka kembali bekerja setelah melihat petugas berwajah kasar melihat kearah mereka, petugas itu memperhatikan mereka karena terlihat mengobrol. Setelah yakin mereka bekerja dengan cepat, dia pun akhirnya pergi.
Ericka dan yang lain akhirnya bernafas lega, jika petugas itu tidak pergi dan mendapatkan mereka mengobrol lagi maka alamat mereka akan dipisahkan lalu di bawa pergi entah kemana.
"Kalian bisa gak sih kerja yang benar dan cepat?! Kita semua lelah disini, jika salah satu dari kita tidak menyelesaikan pekerjaan sesuai target, maka semuanya kena hukuman!
Karena kita ini satu tim! Jangan menyusahkan orang lain terus dong!" teriak seorang wanita berkulit putih kemerahan dengan rambut blonde.
"Baiklah, maafkan kami. Semuanya..." ujar Belinda dengan sabar dan lembut.
Wanita itu hanya mendengus kesal, lalu kembali ke kerjaannya. Suasana kembali hening kecuali suara-suara benda-benda yang mereka kerjakan.
//
Malamnya, mereka kembali berkumpul didalam ruangan rahasia mereka. Ericka tidak tahu pasti tempat apa itu, karena setiap tengah malam dia dijemput dalam keadaan gelap gulita.
Yang dia ingat perjalanan kesana memakan waktu cukup lama, kini semuanya sudah berkumpul. Dia melihat ada beberapa barang yang terletak diatas meja depan mereka.
"Apa ini? Kita mau apa?" tanya Ericka bingung.
Semuanya menatap kearahnya, sepertinya hanya dia yang tidak tahu semua rencana ini. Ericka hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal itu.
__ADS_1
"Malam ini kita akan bergerak, semuanya tanpa terkecuali. Kita tak bisa menunggu lama lagi, mengingat kegiatan kita ini sudah mulai dicurigai" ujar Zain, si lelaki Arab.
"Mulia dicurigai? Maksudmu kegiatan kita ini ada orang lain yang mengetahui? Bukankah hanya kita semua yang disini yang tahu rencana ini?" tanya Malika sedikit panik.
"Tenanglah, apa semua orang sudah ada disini?" tanya Hiro.
"Semuanya sudah ada dan lengkap, tidak mungkin kan salah satu dari kita ada yang berkhianat" ucap Annie melirik kesemua orang.
Semuanya saling pandang, dan tatapan saling mencurigai pun dimulai. Ericka mulai jengah dengan semua ini, dia lelah.
"Sudah cukup! Jangan saling mencurigai diantara kita, yang penting kita jalankan saja misinya" Ericka pun setuju dengan rencana itu, dan mencoba mengalihkan pikiran mereka yang mulai saling mencurigai itu.
"Tumben kamu setuju, bukankah kamu dari awal tak setuju dengan misi ini?" tatap Anne tajam kearahnya.
"Bukan begitu, aku hanya lelah. Mari kita lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan, jika misi ini berhasil maka kita semua akan hidup bebas.
Dan jika ini tidak berhasil apalagi ada teman yang menghilang lagi, maka lupakan saja dengan semua misi ini" ujar Ericka.
Semua orang menatapnya aneh, mereka mencurigainya sebagai pengkhianat itu.
"Apa lagi ini, apakah kalian mencurigaiku?" tanya Ericka polos.
Semuanya kompak mengangguk, spontan Ericka melongo. Dia tidak percaya semua orang begitu mudah diprovokasi.
"Tenanglah semuanya, kita ini-" ucapnya terpotong oleh Hiro.
"Ayo kita pergi, ini sudah semakin larut. Jangan sampai petugas patroli sadar ketidakhadiran kita" ucapnya sambil mengambil beberapa peralatan.
Diatas meja bundar berwarna putih didepan mereka ada beberapa peralatan, mulai dari tali, senter kepala, masker dan kaca mata anti radiasi dan juga beberapa perkakas untuk perlindungan diri.
"Jangan lupa bawa air minum dan makanan secukupnya, kita tidak tahu seberapa panjang dan lamanya perjalanan kita" Ujar Belinda.
Mereka mulai menyusuri lorong panjang dan gelap didepan ruang rahasianya itu, lorong panjang dengan jalan berliku, menanjak dan curam membuat mereka sangat kesulitan melaluinya.
"Kita istirahat dulu" ucap Zein.
Mereka duduk berjejer ditepi dinding lorong itu, minum dan makan sedikit untuk menghilangkan rasa haus dan lapar itu, sekaligus untuk menambah energi mereka.
Semuanya kembali bergerak berjalan dan tiba-tiba kaki Malika tergelincir dan jatuh..
"Akh!" dia berteriak kesakitan.
"Kita istirahat dulu, mari kita liat lukamu seberapa parahnya" ucap Zein.
Zein sudah seperti ketua kelompok yang memberikan banyak perhatian kepada anggotanya.
"Lukamu tidak terlalu parah, hanya lebamnya itu membuatku khawatir. Apakah kamu bisa berjalan kembali?" tanya Zein.
"Akan kucoba dulu" ucap Malika.
Dia mencoba berdiri dengan kakinya, tapi sayangnya rasa nyeri dan perih tak tertahankan. Semuanya mencoba membantunya berdiri dan kembali berjalan tapi tak bisa.
Dia terus terjatuh dan kesakitan, dia nampak kelelahan dan rasa putus asa menderanya. Malika menangis karena kesal dengan kakinya itu.
"Sudahlah, tinggalkan saja aku disini. Aku tidak akan memaksakan diri lagi, karena akan sia-sia saja" ujarnya sambil menangis.
"Tidak, kami tidak akan meninggalkan teman yang sedang kesusahan" ucap Ayumi.
"Tapi aku akan menyusahkan kalian semua nantinya, pergilah tidak usah pedulikan aku" ucapnya lirih.
__ADS_1
"Terus kamu akan disini selamanya?" tanya Annie kesal dengan sifat keras kepala Malika.
"Tidaklah, aku akan kembali ketempat itu" ucap Malika.
"Bodoh kamu yah! Jika kamu kembali pasti ketahuan, ingat kita sudah berkeliling lama di tempat ini mungkin hari sudah pagi atau siang, jika kamu balik lagi sudah pasti kamu akan ditangkap.
Lebih baik kamu ikut kami atau tinggal saja disini selamanya, daripada nantinya membuat kami semua celaka!" ujar Hiro kesal.
Semuanya setuju dengan ucapnya, hanya saja kata-katanya kurang pantas dan sangat kasar sekali.
"Baiklah, aku akan mencoba berjalan lagi" ucap Malika pelan, kata-kata Hiro membuatnya berpikir lagi.
Ketika dia mencoba beberapa langkah berjalan dia kembali terjatuh, dia meringis kesakitan sepertinya dia memang tidak bisa melanjutkan perjalanan.
"Maafkan aku teman-teman" ujarnya lirih sambil menangis.
"Sudah, tenangkan dirimu! Jika kami menemukan jalan keluarnya, kami akan kembali menjemputmu. Tunggu saja kami disini" ucap Ayumi memberi semangat kepadanya.
Hiro menarik tangannya dengan kasar, dia berbisik kepada Ayumi dan menatap tak percaya kepada teman sekaligus kekasihnya itu.
"Kenapa kau berkata begitu, apakah kau tega meninggalkan temanmu sendirian disini?" tanya Ayumi dingin kepadanya.
"Bukan begitu, akan sangat melelahkan jika harus kembali. Kita tidak tahu seberapa lama perjalanan kita nanti, apakah masih ingat dengannya atau tidak" ujar Hiro tanpa bersalah.
"Hiro! Kenapa kamu sampai berpikir begitu?!" Ayumi menatapnya dengan perasaan kecewa, dia meninggalkan Hiro dibelakangnya.
Dia kecewa dengan sikap Hiro, lelaki itu tiba-tiba berubah sikapnya. Dia yang lembut dan penyayang, tidak mungkin bersifat kasar dan egois seperti itu.
Setelah sekian lama berputar-putar mereka tak kunjung menemukan jalan keluar itu, dan ada yang aneh mereka sepertinya berputar-putar dijalan itu.
"Tunggu dulu, ini sepertinya jalan yang sudah kita lewati. Jika begitu..." Annie langsung berlari kedepan langsung mengejarnya.
Dan ternyata benar, mereka melihat Malika sedang tertidur di sana. Mereka menghampiri gadis malang itu, Malika terbangun dan terkejut melihat mereka kembali.
"Kenapa kalian masih disini? Apa kalian datang untuk menjemputku?" ucapnya senang.
"Bukan begitu, tapi-"
Bruukk!
Belinda pingsan didepan Malika, untuk Malika sigap menangkapnya jika tidak wanita paruh baya itu akan terbentur kepalanya Kedinding lorong itu.
"Sepertinya kita harus beristirahat lagi disini" ucap Zein setengah putus asa setelah berkeliling tanpa menemukan jalan keluar.
"Setelah kalian beristirahat, pergilah! Biarkan Belinda bersamaku, dia sudah kelelahan. Untuk usianya itu tak mungkin dia lanjutkan lagi" ucap Malika.
Mereka semuanya mengerti dan kembali menjalankan misinya, mereka terus berjalan tak tentu arah hingga Ayumi menyadari sesuatu.
"Hiro?! Dimana Hiro?!" ujarnya panik.
Semua orang baru menyadari bahwa mereka kehilangan satu anggotanya, semuanya panik dan berteriak memanggilnya.
Mereka melihat bayangan orang didepan, mereka pikir itu Hiro dan kembali bernafas lega. Bukannya Hiro yang datang melainkan Malika.
"Malika apa yang kau lakukan disini? Apa kakimu sudah sembuh? Belinda mana?" tanya Ericka.
Malika tak menjawab mereka dia hanya menangis.
"Maafkan aku..." ucapnya lirih.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung