
Beberapa hari kemudian, Ericka dan Geraldine akan melakukan transaksi sesuai kesepakatannya dengan bu Weni, ketua panti asuhan tersebut, bak mendapatkan angin segar bu Weni pun menyambutnya dengan gembira.
Setelah beberapa bulan dia tak mendapatkan pelanggan, akhirnya dia mendapatkan pelanggan yang membutuhkan banyak anak untuk dipekerjakan, dan dia akan mendapatkan banyak uang untuk itu semua.
"Kapan mereka akan datang?" tanya bu Weni gelisah setelah sekian lama menunggu.
"Kata mereka sebentar lagi, Bu. Lagi diperjalanan.." sahut salah satu asisten dan juga orang kepercayaan bu Weni.
Bu Weni bersama asistennya hari ini menunggu kedatangan mereka dengan perasaan was-was, mereka sempat merasakan sesuatu yang janggal usai asistennya melihat keberadaan Geraldine ditengah-tengah anak-anak panti juga para pengasuhnya.
Sempat berpikir Ericka akan membatalkan transaksi mereka, tapi semuanya kembali tenang setelah mendengar kesepakatan yang dibuatnya dengan nona muda itu.
"Bu, entah mengapa saya merasa anak-anak dan para pengasuhnya tidak seheboh seperti biasanya, mereka terlihat tenang seolah tak terjadi apa-apa. Biasanya mereka akan heboh jika mengetahui akan ada anak yang akan pergi.." ucap asistennya sedikit gelisah.
"Itu hanya perasaanmu saja, aku yakin mereka sudah diiming-imingi oleh asistennya nona Ericka waktu itu, aku lihat.. Mereka cukup cerdas dalam menyikapi permasalahan ini, kamu tenang saja jangan gelisah seperti itu.." ucap bu Weni tenang.
Meskipun didalam hatinya ada perasaan takut juga sedikit, tapi karena hatinya sudah gelap mata saat melihat nominal uang yang tertera didalam cek, dia mengesampingkan perasannya itu.
Tok!
Tok!
Tok!
"Sebentar, Bu.." ucap asistennya kepada bosnya itu.
Dia membuka pintu ruang kerja bu Weni, dia melihat ada temannya sesama asisten bu Weni yang badannya kurus itu datang bersama Ericka juga Geraldine.
"Mereka sudah datang.." ucap temannya itu.
Setelah itu Ericka dan Geraldine dipersilahkan masuk kedalam ruangan tersebut, mereka berempat duduk saling berhadapan. Ericka meletakkan tasnya yang bermerek internasional dengan harga ratusan juta diatas meja tersebut, semakin membuat bu Weni sudah menelan ludahnya, karena tak bisa membayangkan jika dirinya akan memiliki benda seperti itu.
Satu hal yang tak diketahui oleh bu Weni dan asistennya, didalam tas Ericka ada kamera kecil berteknologi tinggi ciptaan Erick untuk memantau aktivitas mereka didalam, sementara Nico, Rendy juga William menunggu mereka diluar dengan mobil sambil mengawasi mereka dengan mengamati laptop yang sudah terhubung dengan kamera kecil tersebut.
"Bagaimana, apa kita akan hanya diam saja disini tanpa harus melakukan sesuatu?" tanya Rendy tak sabar.
"Kita tunggu dan lihat dulu, jika terjadi sesuatu diluar kendali barulah kita bertindak. Aku yakin Ericka dan Geraldine pasti bisa!" sahut William optimis.
" Dan soal transaksi tersebut?" tanya Rendy lagi.
"Mereka dalam mode penyamaran, Rendy. Jangan kacaukan usaha mereka dan percayakan saja semuanya kepada mereka.. Mereka saat ini sedang mengumpulkan beberapa bukti lainnya soal transaksi ilegal ini, dan jangan khawatir juga karena Ericka bisa membela diri jika terjadi sesuatu.." kali ini Nico ikut menyahuti adik iparnya itu.
"Bagaimana jika lapor polisi saja setelah transaksi berhasil?" Rendy masih kurang yakin dengan ide mereka tersebut.
"Pasti, pasti kita akan melapor kepada polisi setelah yakin dan berhasil mendapatkan bukti juga mengetahui dalang ini semuanya, karena aku yakin dia tak bekerja sendirian, ada seseorang yang membantunya selama ini, apalagi ini sudah terjadi belasan tahun lamanya.." ujar Nico lagi, masih fokus dengan layar laptopnya.
"Aku masih tidak percaya selama ini kami dibohongi oleh orang-orang kepercayaan ibu dan ayah.. Sampai akhir hayatnya, ibu tidak tau kebenarannya. Saat ibu tiadapun, ayah juga tak peduli dengan nasib panti ini dan membiarkan ini semua terjadi, sampai ke tangan kami pun juga sama ..." lirih Rendy sedih dan tidak percaya.
"Yang sudah berlalu, biarkan saja dan ambil saja pelajarannya agar kita tak mudah percaya dengan orang begitu saja. Sekarang tugas kita menyelesaikan sesuatu yang seharusnya sudah dilakukan sejak dulu.." ucap Nico menenangkannya.
Rendy hanya diam sambil menerawang memikirkan semuanya yang terjadi, dia benar-benar lelah dengan semua permasalahan yang terjadi didalam keluarganya itu.
"Sabar, Bro! Sebentar lagi lu mau tunangan, jangan terlalu menguras energi badan juga pikiranmu. Gw yakin kita pasti bisa menang dan melewati ini semua!" sahut juga William.
"Kak Willy aneh deh, ngomongnya gak konsisten, kadang ngomongnya formal kadang juga gak jelas kayak gini, absurd!" sungut Rendy.
"Gw ngomong sesuai dengan mood booster gw sekarang, gw udah gak sabar menyelesaikan misi ini. Setelah lu tunangan ama Andriana, gw harus ngelamar Geraldine, gak ada yang namanya tunangan-tunangan segala, langsung gas kawin gw!" seloroh William semangat.
"Kawin-kawin.. Emang kambing langsung kawin aja, nikah woy nikah!" ucap Rendy agak keki juga dengan saudara sepupu jauhnya itu.
__ADS_1
"Hahaha,, gw berusaha mengalihkan perhatian lu Ren, daripada mikir yang nggak-nggak kan.." cengir William.
Nico hanya menggelengkan kepalanya saja melihat kelakuan keduanya, dia masih fokus mengamati layar laptop dan memperhatikan setiap gerak-gerik juga hasil transaksi Ericka bersama bu Weni.
Sementara didalam, transaksi berjalan lancar. Mereka keluar dari ruangan tersebut dan menuju ruangan dimana beberapa anak panti sudah disiapkan, bu Weni juga beberapa asistennya sedikit khawatir akan ada penolakan dari beberapa anak panti juga pengasuhnya, seperti yang dulu-dulu.
Saat mereka mendatangi mereka, bu Weni dan ketiga asistennya itu sedikit terkejut melihat anak-anak itu sudah bersiap dengan wajah berseri, tak ada penolakan sedikitpun.
"Apa aku bilang, mereka tidak akan macam-macam lagi, aku yakin asistennya nona Ericka telah menyakinkan mereka.." bisik bu Weni kepada asistennya dengan senyum jumawah.
"Justru itu yang aku khawatirkan.." gumam asistennya, tanpa didengar oleh bu Weni.
"Sudah siap anak-anak? Mari, ikut nona ini pergi sekarang juga!" ucap bu Weni senang.
Mereka semua pergi keluar dari bangunan tersebut, dan sekarang ini mereka berkumpul didepan halaman panti tersebut, ada beberapa pengasuh yang terlihat berat melepas mereka dan anak-anak tersebut juga ikut menangis sedih karena harus berpisah dengan pengasuh mereka.
Anak-anak itu diangkut dengan mobil berjenis mobil travel yang sudah ditunggu oleh Erick, dan bersiap mengakut mereka pergi dari sana. Sedangkan Ericka dan Geraldine akan naik ke mobil lain terpisah dengan mereka.
Sebelum naik mobil, Ericka sempat berpikir sejenak, lalu berbalik lagi kearah bu Weni, dia tersenyum penuh arti.
"Bu, apa bu Weni gak mau ikut sekalian bersama kami? Mau lihat seperti apa tempat anak-anak ini akan saya tempatkan?" ajak Ericka.
"Haha! Tidak usah, Nona! Saya hanya mengantar sampai disini saja, saya sudah tak sabar melihat isi rekening saja, haha!" kata bu Weni menolaknya, karena dia lagi bahagia mendapatkan uang banyak hasil dari menjual anak-anak tersebut.
"Ibu yakin? Saya masih banyak koleksi-koleksi tas mewah dan juga beberapa baju juga sepatu yang tidak pas denganku, itu semuanya hadiah dari beberapa brand terkenal yang sengaja dibuatkan khusus untukku, biasalah mereka itu semua mengukur tubuhku dengan tubuh mereka.
Tahu sendiri, ukuran tubuh wanita asia itu lebih kecil dibandingkan wanita-wanita Eropa, apalagi kita yang dari Asia tenggara ini, kecil-kecil cabe rawit!" senyum Ericka.
Mendengar ucapan Ericka, tentu saja bu Weni tak bisa menolaknya, sedari tadi matanya tak lepas dari arah tas mewah milik Ericka, dan itu memang salah satu strategi Ericka dalam memikat lawannya.
"Baiklah kalau begitu, saya akan membawa salah satu asisten saya dan membawa mobil sendiri.." ucap bu Weni, dia masih tetap berhati-hati.
"Apa tak masalah membiarkan mereka pergi sendiri tanpa ikut dengan kita? Aku perhatikan asistennya cukup pintar, Nona.." ujar Geraldine.
"Tidak apa, aku sudah tahu akan seperti ini jadinya. Makanya aku sudah menyiapkan semuanya.." ucap Ericka sambil tersenyum simpul.
Mobil travel berjalan lebih dulu disusul oleh mobil Ericka diiringi oleh mobilnya bu Weni, mereka meninggalkan panti asuhan itu dengan tenang, tanpa memikirkan apapun lagi. Sementara bu Weni memikirkan apa saja akan yang dia bawa dan ambil nanti, berbanding terbalik dengan asistennya dengan segala pemikirannya yang berkecamuk, dia merasa ada yang aneh dan janggal dengan semua ini.
Sementara itu, mobil dimana Nico Cs berada tidak terlalu jauh dari tempat itu menatap kepergian mereka dengan perasaan lega, dan mereka kembali dengan misi mereka selanjutnya.
"William, kau tetap berada disini dan awasi panti ini jangan sampai beberapa asisten wanita itu pergi dari sini sebelum polisi datang menerobos, dan kau Rendy awasi Ericka jangan sampai dia melakukan kesalahan dalam mengintrogasi wanita itu, apalagi wanita itu juga datang bersama asistennya yang cukup pintar juga.." ucap Nico memberikan arahan.
"Tenang aja, Geraldine pasti bisa membantunya jika terjadi sesuatu nantinya,, dia tak semanis yang kalian lihat. Meskipun begitu, aku akan tetap mengatasinya dan ingin tahu juga siapa saja yang membantu wanita itu selama ini.." ucap Rendy lagi.
"What?! My honey itu juga kuat? Dia bisa bela diri juga Ren?!" tanya William penasaran.
"Iya, aku tau semua tentangnya. Dia itu wanita kuat dan hebat, dia bisa menyelesaikan permasalahannya sendiri, soal ini baginya kecil.." ucap Rendy menyahuti William yang makin terpana dengan wanita incarannya itu.
"O my god, sweet honey ku.." gumam William tak percaya.
.
.
Sementara itu, di persimpangan jalan mobil travel yang mengangkut anak-anak berbelok kearah lain sementara mobilnya Ericka terus berjalan lurus didepannya membuat bu Weni sedikit bingung.
"Halo, nona? Kita mau pergi kemana? Aku melihat mobil yang mengangkut anak-anak tersebut berbelok di persimpangan tadi.." tanya bu Weni diseberang telponnya.
"Tujuan kita berbeda, Bu. Mereka akan pergi ketempat mereka langsung, sedangkan aku akan membawamu pergi ketempat ku, apa kau masih penasaran dengan barang-barang mewah tersebut atau ingin mengikuti anak-anak tersebut?" tanya balik Ericka.
__ADS_1
"Untuk apa mengikuti mereka, aku sudah tak ada urusannya lagi dengan mereka, lebih baik aku mau melihat barang-barang mewah tersebut, haha!" jawab bu Weni sambil tergelak.
Ericka hanya tersenyum miris setelah sambungan telponnya terputus, dia merasa sangat kasihan sekali dengan anak-anak itu dibuang dan dilupakan begitu saja. Seandainya bu Weni mengikuti anak-anak tersebut, maka dia akan diarahkan langsung ke kantor polisi dan ditahan begitu saja, karena anak-anak itu segera dibawa ke tempat perlindungan anak-anak yang mengalami kekerasan, dan Reva juga Andriana sudah menunggu mereka di sana bersama beberapa polisi yang sudah bekerja sama dengan mereka sebelumnya.
"Bu.." asistennya bu Weni sudah merasa gelisah sejak dari tadi.
"Sudah diamlah!" ucap bu Weni tak menghiraukannya.
Setelah beberapa saat mereka tiba berada disebuah bangunan cukup besar dan mewah, berada cukup jauh dari pemukiman warga, bukan di komplek perumahan ataupun pedesaan, melainkan sebuah paviliun milik Nico, tempat persembunyian para pengawal bayarannya selama ini, ditempat ini juga Pramudya pernah ditahan.
"Tempat apa ini, mengerikan! Lihatlah bangunan tua itu, begitu kotor berlumut, banyak sekali tanaman merambat disekelilingnya, pagarnya saja sudah berkarat seperti ini.
Apa Ibu yakin dengan semua ini? Lihatlah, kita berada di tengah hutan, ini terlihat angker sekali.." ucap asisten bu Weni bergidik mengerikan.
Bu Weni juga berpikir demikian, otaknya langsung bekerja dan memutar arah laju mobilnya kearah sebaliknya, tapi sayangnya mereka tak bisa keluar dari sana begitu saja, ketika mereka sudah memasuki kawasan tersebut, maka mereka sudah memasuki kawasan berbahaya.
Saat mereka mau meninggalkan tempat itu, tiba-tiba saja ada dua mobil Jeep sudah menghadang mereka, dan keluar beberapa orang dari dalam sana, beberapa lelaki dengan tubuh besar penuh tato mengerikan.
Asistennya bu Weni berniat melarikan diri dan meninggalkan mobil tersebut. Tiba-tiba..
Bhug!
Kepalanya langsung dihantam oleh siku seorang lelaki entah datang dari mana, langsung menyekap dan menghajarnya, pingsan begitu saja.
"Sialan! Ini sebuah jebakan! Mau apa gadis itu sebenarnya, apa dia ingin mengambil semua anak-anak di panti begitu saja?!" gumam bu Weni kesal.
Sepertinya dia masih belum mengerti situasi dirinya saat ini, tak ingin mengulangi kesalahan asistennya dia mengunci semua pintu mobilnya dan berniat kabur dengan menerjang semua penghalang didepannya. Tapi..
Brakk!
"Aakhh!!" teriaknya.
Tanpa dia sadari ada sesuatu yang mengangkut mobilnya dari belakang, dia menoleh kebelakang dan terkejut melihat ada alat forklift sedang mengangkat separuh mobilnya begitu saja.
"Sial, mereka ini siapa?! Dan kapan datangnya!" dia sangat panik apalagi saat melihat asistennya sudah pingsan dan dibawa kedalam mobil oleh orang yang memukulnya tadi.
Tok!
Tok!
"Hah?!" bu Weni terkejut saat mendengar suara pintu kaca mobilnya diketuk pas disampingnya.
"Halo, Nyonya!" seorang lelaki bertubuh kekar menyapanya, dan..
Prangg!
Sekali tinju kaca mobil tersebut pecah, saking kuatnya tinjunya juga mengenai bu Weni, dan tentu saja wanita paruh baya tersebut langsung pingsan.
"Aish, perasaan udah selembut mungkin eta teh! Masih aja kekencangan mukulnya, kumaha atu iyeu?!" ujar lelaki tersebut sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal tersebut bingung.
"Ari kumaha kang Dadang, tuh pingsan kan jadinya.." ucap temannya juga.
"Ya namanye aje kagak sengaja tong! Ude, lu bawa aje die kedalam, nyang penting tiati lu bawanya, jangan sampai lecet tuh babon, etdah si enyak badannya gede beut!" sahut temannya yang lain berlogat sedikit betawi.
Kemudian beberapa pengawal tersebut membereskan kekacauan yang mereka buat, setelah yakin semuanya beres dan rapi seperti semula, mereka kembali masuk kedalam bangunan tua nan megah berkesan angker tersebut.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1
Mohon maaf, akhir-akhir ini saya tidak update cukup lama dikarenakan ada beberapa problem di dunia nyata yang harus saya selesaikan, mohon pengertiannya 🙏 Akan saya usahakan cerita ini akan diselesaikan sebaik mungkin meskipun sehari sekali updatenya, terima kasih atas dukungannya selama ini 🙏