
Di ruangan itu, pak Dewantoro sibuk dengan pekerjaannya. Didepan laptopnya, dia senyum-senyum sendiri.
Dia melihat video Ericka di atas podium saat mendapatkan penghargaan itu.
Dia mendapatkan rekaman video tersebut dari pihak sekolahnya, dia menyuruh salah satu asistennya untuk menghubungi sekolah.
Dengan alasan ingin melihat putrinya itu, karena tak sempat datang ke sekolah menemaninya.
Apalagi saat dia melihat video Reva yang berbicara di sana, ada perasaan bangga juga.
Setidaknya, sudah menyelamatkan reputasi keluarga. Agar tidak dinilai buruk karena tak peduli dengan Ericka.
Tok! tok! tok!
Suara ketukan itu mengalihkan pandangannya, asistennya masuk dan memberitahu bahwa Reva sudah datang.
"Katakan padanya, aku menunggunya disini" kata pak Dewantoro.
"Baik Pak" jawab asistennya
*
Di kamar Ericka, Reva lagi asik ngobrol bareng berdua dengan adiknya.
Sekali-kali dia memeriksa luka bekas cakaran di bahu, leher, lengan tangan dan wajah Ericka.
"Bagaimana, masih sakit lukanya?" tanya Reva.
"Tidak terlalu Kak, kadang masih nyeri-nyeri sedikit" kata Ericka sedikit meringis.
"Ingat kata Kakak, lain kali kalau ada yang mencoba mengusik mu lagi balas balik. Oke?!" katanya memberi semangat.
Ericka mengangguk senang, Reva lagi mengajari adiknya cara berdandan.
Dia sibuk memilihkan gaun atau pakaian yang pas untuk Ericka, tetapi tak satupun pakaian yang didalam lemari Ericka yang cocok untuknya.
Semua pakaiannya model lama, baju biasa yang harganya grosiran. Ibu dan saudara tirinya takkan membiarkan dia hidup bermewah-mewah seperti mereka.
Bahkan, Ericka pun tak diberi kesempatan untuk belanja atau memilih sendiri pakaian yang dia mau.
Semua keputusan hidupnya ada ditangan orang lain, Reva sedih seandainya dia bisa lebih baik lagi menjaga adiknya.
Itu takkan terjadi pada Ericka, dia ingin sekali berbelanja atau sekedar hangout berdua saja dengan adiknya.
Tapi itu tak mungkin, gerak-geriknya selalu diawasi salah sedikit Ericka yang akan menanggungnya sendirian.
Setelah itu, pintu luar kamar Ericka ada yang mengetuk pintunya.
"Siapa? Masuk!" sahut Reva.
Pintu terbuka dan ternyata itu asisten pak Dewantoro, dia meminta Reva menemui ayahnya di ruang kerjanya.
__ADS_1
"Baiklah, katakan padanya aku akan turun" ujarnya.
Asisten itu langsung turun dan menyampaikan pada ayahnya bahwa dia akan turun.
"Eri, Kakak turun dulu yah. Teruskan belajar dandannya.
Kakak mau menemui ayah dulu" kata Reva sambil mengelus kepala adiknya itu.
"Kakak kenapa ketemu ayah? Jangan bilang ini soal Eri lagi, aku gak mau Kakak berantem terus karena aku" kata Ericka sedih.
"Gak ada hubungannya denganmu, ini juga paling ngomongin soal karir Kakak.
Kamu tidurnya jangan malam-malam yah, jangan lupa kunci pintu dan jendelanya" kata Reva lalu pamit keluar.
Ericka langsung menutup pintu kamar dan langsung menguncinya.
Dia ingin sekali seperti kakaknya cantik, elegan dan mandiri.
Tapi dia hanyalah seorang Ericka, bukan siapa-siapa. Setelah itu dia murung lagi memikirkan nasibnya yang tak sama seperti kakaknya itu.
**
Reva mengetuk pintu ruang kerja itu, seseorang membukakan pintu itu. Ternyata asisten pak Dewantoro.
"Masuklah, Ayah sudah menunggu dari tadi" kata ayahnya dari dalam.
Reva masuk keruangan itu, tata ruang dan letaknya sama persis saat dia terakhir masuk ke sana. Belasan tahun yang lalu, saat mendiang ibunya masih ada.
"Kenapa Ayah harus merubahnya? Ayah suka tata letaknya. Sesuai dengan selera Ayah" ucap pak Dewantoro.
"Bukan karena Ayah masih merindukan ibu, 'kan?" tanya Reva sambil menatap ayahnya lekat.
"Apa maksudmu? Setiap hari Ayah bertemu dengan ibumu. Hehe!" Ucap pak Dewantoro sambil mengalihkan pandangannya.
Terlihat sekali pandangannya sempat nanar dan suaranya bergetar saat berbicara tadi, meskipun dia berusaha menyembunyikan perasaannya itu.
"Sudahlah Yah, Ayah takkan bisa membohongi hati dan perasaan Ayah sendiri.
Meskipun bibir dan otak berbicara tidak, tetapi hati Ayah mengatakan iya" kata Reva berbicara lembut pada ayahnya.
Pak Dewantoro tersentuh dengan Reva, sudah beberapa tahun ini hubungan mereka memburuk.
Mereka jarang sekali bertemu, bahkan pernah tak bertemu berbulan-bulan lamanya.
Itu semua akibat ulah istri dan anak tirinya itu, yang berusaha memisahkan mereka dan menciptakan konflik diantara keduanya.
Pak Dewantoro berusaha mengalihkan pembicaraannya, Reva hanya tersenyum. Dia tahu, ayahnya masih punya hati.
"O ya, Reva. Ayah sudah dengar semuanya, katanya Ericka mendapat penghargaan bergengsi dari sekolahnya?," tanya ayahnya.
"Iya Ayah, ternyata Eri hebat yah. Dia juga bisa membanggakan Ayah dan menaikkan reputasi keluarga lebih baik.
__ADS_1
Dengan usahanya sendiri Yah, tanpa bantuan orang lain apalagi keluarga" kata Reva, masih berusaha membuka hati ayahnya itu untuk Ericka.
"Sudahlah, Ayah memanggilmu kesini bukan untuk membahas soal itu" kata ayahnya dengan nada dingin.
Reva menghela napas berat, ternyata tidak segampang itu membuat ayahnya berubah.
Yah, jika memang gampang tidak akan butuh bertahun-tahun lamanya dia membujuk ayahnya itu.
Pelet nenek sihir itu ternyata kuat juga, pikir Reva. Dia sangat kesal dan kecewa sekali.
"Baiklah, apa mau mu?" kata Reva tak kalah dinginnya.
Pak Dewantoro menyunggingkan bibirnya, akhirnya kembali lagi sifat asli putrinya itu. Ternyata sikap manis dan lembutnya tadi hanya berpura-pura saja.
Terlihat raut kecewa di wajah tua itu, dia tak tahu sebenarnya sikap yang pertama itulah sifat asli putrinya itu.
"Ayah dengar kamu akan mengadakan pesta untuknya?" tanya pak Dewantoro.
"Dia siapa?" tanyanya balik, Reva masih bersikap cuek.
"Adikmu, Ericka." Jawab ayahnya dengan tatapan kesal.
"Oh adikku, berarti dia anakmu juga yah?" kata Reva dengan nada mengejek.
Pak Dewantoro menatapnya dengan tajam, dia pikir ini anak semakin hari semakin kurang ajar.
"Iya, anda benar Pak. Saya akan mengadakan pesta yang sangat mewah untuk adikku itu.
Aku akan menunjukkan apresiasi ku kepadanya, aku tunjukan padanya bahwa dia tak sendirian di dunia ini.
Sekalian memberitahu dunia, bahwa aku akan melindunginya selalu tak peduli jika tidak ada yang mendukungku.
Aku juga tak perlu meminta izin anda juga untuk itu semua, karena aku takkan menggunakan uang anda sepersen pun untuk itu.
Sehingga istri dan anak-anak anda tak perlu menghina kami nantinya!" kata Reva penuh ketegasan.
Dia berlalu pergi dengan membanting pintu ruangan itu dengan kencang, membuat asisten ayahnya yang menunggu diluar kaget.
"Revalina!" teriak pak Dewantoro marah dengan sikap dan perilaku putrinya itu
"Nona sudah mau pulang?" tanya asisten ayahnya.
Reva tak menggubris pertanyaan itu, dia terus berlalu pergi dengan perasaan kesal menyelimuti hatinya.
"Sampai kapanpun ayah tetap takkan berubah selama masih ada nenek sihir bersama anak-anaknya itu" ucapnya geram.
Dia keluar dari rumah besar itu, dia membalikkan tubuhnya kearah rumahnya.
Ada perasaan sedih, sakit dihatinya. Rumah penuh kenangan ini berubah menjadi neraka baginya.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung