Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Cerita Azka


__ADS_3

Dengan setengah hati Ericka duduk di sofa ruang inap itu, dia menatap bocah itu dengan malasnya, sebelumnya Azka sudah banyak merepotkan dirinya dengan meminta ini dan itu, ada benarnya juga kata guru BK nya tadi, ini bocah benar-benar ngeselin banget.


"Sampai kapan Kakak melototi aku kayak gitu? Gak capek tuh mata!" ucap bocah tengil itu.


"Aku sudah menghubungi orang tuamu, sebentar lagi mereka akan datang, setelah itu aku akan pergi. Ah, tidak! Sepertinya aku harus pergi sekarang, karena ada kencan dengan pacarku, kau kalau ada perlu minta tolong suster aja yah.." ucap Ericka berbohong.


"Ah, gak asik! Masa nolongin setengah-setengah sih?! Gak ikhlas kayaknya, aku gak bisa gerak sendiri nih, mau ke toilet sendiri juga belum bisaa~~ Susternya pasti lagi pada sibuk kan, kasihan~~" ucap Azka sok manja.


"Gak usah sok manja begitu, aku bukan kakakmu! Lagian kewajiban sebagai sesama manusia sudah aku laksanakan, kau gak boleh ngelunjak! Bye, aku pulang.." ucap Ericka sambil beranjak dari duduknya.


"Ya udah, kalau aku jatuh karena sendiri, kakak dalam masalah karena ninggalin aku sendirian.." ucap Azka sambil menyunggingkan bibirnya licik.


"Dasar anak kadal kamu yah, bisa-bisanya anak pitik macammu bicara seperti itu kepadaku!" ucap Ericka gusar.


Tidak lama kemudian ada seorang dokter dan perawat datang ke ruangan itu, mereka datang untuk memeriksa anak itu setelah kembali sadar dari pingsannya.


"Kamu termasuk kuat juga yah, meskipun tadi sempat pingsan dan kakimu mengalami keretakan pada tulangmu, tapi kekebalan tubuhmu sangat bagus.


Tidak ada luka yang berarti, hanya ada beberapa luka baret dan pada tangan dan kakimu, kepalamu sedikit bocor karena aman terlindungi oleh helm yang kamu pakai.


Tapi kaki, sepertinya harus istirahat dulu untuk tidak memakai motor lagi, dan jangan menggunakan aktivitas yang berat dulu menggunakan kaki.." ucap dokter itu sambil memeriksanya.


"Yah dokter.. Paling juga kaki buat jalan ama lari doang, paling gak buat ngedance dikit, hehe.. Btw, soal motor.. Gimana dong, aku kan anak motor banget, dia adalah cinta pertamaku, habis itu kakak cantik itu yang kedua.." ucap Azka menimbali dokter itu.


"Haha! Kamu lucu juga yah, btw.. Kamu harus berterima kasih dengannya, untung dia cepat bawa kamu kesini, kalau gak kamu bakalan lama tidurannya di jalan!" ujar dokter itu menimbali guyonan Azka.


"Dokter lucu juga ternyata! Haha!" Azka jadi ikutan tertawa juga.


"Ya udah, pemeriksaan sudah selesai, nanti kamu disediakan makan malam dan obatnya, setelah itu langsung istirahat lagi, kalau bisa langsung tidur agar obatnya cepat bekerja yah.." ucap dokter itu ramah.


Kemudian dokter dan perawat itu berlalu pergi dan diikuti oleh Ericka juga, Azka nampak tak suka Ericka pergi dari sana, tapi gadis itu memang harus pergi.


"Dokter, bagaimana keadaan anak itu? Apa benar dia baik-baik saja?" tanya Ericka penasaran.


"Sesuai testimoni dan hasil pemeriksaan sih, benar dia baik-baik saja, keretakan pada tulangnya juga gak terlalu parah, masih bisa beregenerasi lagi kok.


Dan maaf jika tadi penjelasan agak lebay, agar anak itu sementara bisa istirahat dulu, biasanya anak-anak jika tak diberitahu seperti itu dia akan terus melawan dan mencoba lagi.." ucap dokter itu membuat Ericka lega.


"Ah, syukurlah kalau begitu, tapi anak itu ditabrak dari belakang, saya melihatnya langsung karena saya berada persis dibelakang mobil yang menabraknya.." ucap Ericka lagi.


"Untuk itu kau bisa mengatakan semuanya ke polisi nanti sebagai saksi kecelakaan itu, untuk orang tuanya sepertinya sudah dihubungi oleh polisi, tapi yah begitu.. Orang sibuk, paling juga asisten rumah tangganya lagi yang datang.." jawab dokter itu lagi.


"Kok dokter bisa berkata seperti itu?" tanya Ericka.


"Sepertinya sangat mengenalnya dengan baik, dia pasien langganan di rumah sakit ini?" sambungnya lagi.


"Hehehe! Mana ada pasien langganan, Nona! Orang tuanya sahabat saya, tentu saja saya mengenalnya, kebetulan anak saya juga berteman dengannya.


Yah, saya akui orang tuanya sangat sibuk merintis karir mereka, terutama sang bapak yang juga punya kesibukan lainnya, katanya sih lagi nyariin keluarganya yang lain, kurang tau juga sih, karena sejak remaja emang begitu dia orangnya" ucap dokter itu.


"Jadi, anak itu merasa diabaikan dan tidak diperhatikan oleh mereka karena kesibukannya itu, sedangkan dirinya juga butuh perhatian yah.." sahut Ericka pelan sambil menunduk.


"Yah, begitulah.." ucap dokter itu lagi.

__ADS_1


"Baiklah, Dok.. Saya pamit sekarang aja yah, kebetulan ini sudah sore banget, permisi.." ucap Ericka berlalu pergi.


"Iya, terima kasih sudah mau peduli dan membantu, semoga kebaikanmu ini dapat balasannya dari Allah SWT.." ucap dokter itu.


"Amiin.." sahut Ericka lagi.


Kemudian dia berlalu pergi dari sana dengan perasaan gundah, dan kecewa. Dia merasa bersalah kepada anak itu, karena kesibukan bapaknya mencari Ericka dan kakak-kakaknya, sehingga pamannya itu hampir melupakan anaknya juga.


"Dari nama belakangnya aku sudah curiga jika dia adalah anaknya om Richard, apalagi sebelumnya om juga pernah menyebutkan namanya.


Tadinya aku pengen ngenalin diri dan mau bersikap baik dengannya, tapi.. Anak itu pasti kecewa sekali jika mengetahui orang yang menyelamatkannya ternyata orang yang dia benci juga.


Mungkin kami ini adalah penyebab merenggangnya hubungan anak dan orang tua, ah om Richard.. Seandainya kamu tak terlalu sibuk diluaran sana, mungkin saja anakmu ini bisa mengerti.." gumam Ericka.


Dia sibuk memainkan ponselnya, hingga tak sengaja menabrak seseorang. Sehingga ponselnya terjatuh, dia mengambil Hpnya bersamaan orang itu juga.


"Ah, Bapak?!" ucap Ericka kaget.


"Loh, Nona masih disini?" ternyata dia adalah wali kelasnya Azka.


"Iya, kasihan anak itu sendirian tak ada yang menemani,.." jawab Ericka beralasan.


"Oh, begitu. Em.. Maaf tadi main pulang saja, karena saya tak enak dengan bu Mieke. Jadi setelah mengantarnya kembali lagi ke sekolah, saya memutuskan untuk kembali lagi ke sini.


Sebagai wali kelasnya, saya merasa bertanggung jawab dengannya, senakal-nakalnya dia, Azka tetap anak didik saya yang harus saya urus juga" ucap pak Rian, wali kelas nya Azka.


"Oh, benar itu, Pak! Saya setuju dan sependapat dengan Bapak.." ucap Ericka dengan senyuman ramahnya.


"Jangan panggil saya Bapak, saya masih terlalu muda untuk panggilan itu, hehe.." ucap guru itu.


"Emm, panggil saja Mas Rian, atau kamu juga boleh.." ucap guru itu membuat Ericka sedikit gugup tak nyaman.


"Eh, iya.. Mas.. Rian" ucapnya kikuk.


"Btw, saya permisi dulu, mari.." ucap Ericka sambil berlalu pergi.


Dia pikir sikapnya tadi mungkin terlalu berlebihan, sehingga orang itu jadi salah faham dengan begitu. Dia berharap tak bertemu mereka lagi suatu saat nanti.


"Guru sama murid sama saja!" ucapnya bermonolog sendiri.


Sementara itu diujung koridor rumah sakit itu ada sepasang mata yang mengamati mereka, sementara guru muda dan memiliki senyum manis itu hanya memandangi Ericka saja, sekiranya Ericka sudah tak kelihatan lagi, dia berbalik ingin menemui anak muridnya tadi.


"Astaghfirullah, Azka! Kamu ngagetin saja, sejak kapan kamu ada disini?! Sama siapa, kok sendiri jalan-jalannya?" tanya pak Rian itu.


"Tadi sama suster, dia lagi pergi sebentar ada yang mau diambil katanya. Pak guru sendiri ngapain disini?!" tanya Azka tak suka.


"Bapak kesini mau nengokin kamu lagi, Azka. Dan maaf tadi pulang begitu saja, kamu tau sendiri bu Mieke itu seperti apa. Setelah dari sana bapak balik lagi kesini.." ucap wali kelas anak itu masih sabar menghadapi muridnya yang satu ini.


"Tadi juga sudah datang, Pak. Gak kesini juga gak apa.. Udah nengokin kan sekarang? Sekarang bapak pulang saja gih, kasihan pasti bapak capek. Saya mau jalan-jalan dulu bosen tiduran di kamar mulu.." ketus anak itu menimbalinya.


Azka nampak kesulitan mendorong kursi rodanya, dengan sabar pak guru yang masih muda itu membantunya mendorong kursi roda itu.


"Gak usah, Pak. Nanti ngerepotin--" ucap Azka menolak.

__ADS_1


"Tidak apa, Bapak senang bisa melakukannya. Bukan karena terpaksa ataupun karena orang tuamu, bukan. Bapak melakukan hal ini karena Bapak merasa ini adalah tugas dan kewajiban Bapak sebagai guru dan wali kelasmu.


Ini tidak berlaku untuk kamu saja, jika teman-temanmu juga mengalami hal serupa denganmu, dengan senang hati Bapak juga melakukan hal yang sama.


Azka, Bapak tau kamu itu orang baik dan anak pintar dan berprestasi, jangan sia-siakan masa mudamu dengan bermain-main saja.." ucap pak Rian sambil mendorong kursi rodanya mengelilingi taman di rumah sakit itu.


Cuacanya mendung di sore hari dengan angin-angin yang meniup lembut, semua orang merasa tenang dan nyaman berada di sana, tapi tidak dengan anak itu. Azka terus menunduk lesu menatap kedua ujung jari-jarinya, memainkannya gelisah.


"Seandainya papa tak sibuk dengan dunianya sendiri, pasti hidupku juga bahagia, segitu pentingnya keluarganya yang tak tau rimbanya itu? Sehingga dia sendiri melupakan keluarganya sendiri.


Aku yakin mama juga ngerasain hal yang sama denganku, tapi dia menahan semuanya. Karena mama pasti memikirkan aku dan adikku, jika tak mungkin beliau juga memberontak!" akhirnya anak itu meluapkan apa yang ada dipikirannya.


"Jangan begitu, Azka. Bagaimanapun juga dia adalah orang tuamu, papa kamu sendiri. Mungkin dibalik itu semua ada ceritanya yang tak kamu ketahui, daripada kamu terus berburuk sangka kepadanya, lebih baik kamu bertanya dan berbicara dengan mereka langsung.


Itu akan menjawab semua pertanyaan dan kegundahan hatimu, daripada memendamnya sendirian, bukankah keluarga tempatmu pulang? Dan hormatilah orang tuamu itu.." ucap pak guru bijak.


"Hufft, sepertinya Bapak ada benarnya juga. Terima kasih Pak atas nasehat dan sarannya, Bapak memang yang terbaik! Hehe, btw.. Aku liat loh Bapak sama kakak itu tadi" ucap Azka ekspresi langsung berubah serius.


"Kakak mana?" tanya pak Rian bingung.


"Itu, tuh! Kakak yang nongolin aku, ah! Lupa lagi nanya namanya.." sungut Azka kesal sama diri sendiri.


"Oh, yang tadi. Memangnya kenapa? Tadi cuma basa basi aja kok, beramah-tamah karena dia sudah baik nolongin kamu.." ucap pak Rian jujur, meskipun ada sedikit...


"Beneran yah cuma basa-basi, gak ada maksud lain?!" tanya Azka lagi.


"Memangnya kenapa dulu, kok jadi posesif gitu? Wah, kayak adik jagain kakaknya aja, haha!" gelak pak Rian.


"eits, bukan gitu. Dia itu gadisku, ingat gadisku! Sesama lelaki harus gentleman yah.." ucap Azka lagi.


"Ya ampun, Azka! Kamu itu masih sekolah, ntar aja pacar-pacarannya. Lagian dia jauh lebih dewasa daripada kamu, mungkin aja sudah punya pacar ataupun suami.." sahut gurunya menahan tawa melihat sifat posesifnya Azka.


"Usia tak menjamin semuanya, Pak. Tuh buktinya papanya aja lebih muda dari mama, awet tuh ampe punya anak gede-gede. Kalau punya suami kayaknya gak deh, tapi pacar mungkin saja iya..


Tapi gak masalah, selagi belum jadi bini orang, sikat aja! Bapak jangan coba-coba mendahului saya yah!" ucap anak itu tengil.


"Eh, jangan dikira Bapak bakalan ngalah yah sama kamu! Kalau yang satu ini, gas terus pokoknya sampai dapat! Haha.." sahut pak guru tak mau kalah.


Keduanya bercanda sambil tertawa lepas, sedangkan disudut taman ini ada seorang ibu yang sedang memperhatikan anaknya sambil tersenyum.


"Maafin mama sama papa, ya kak. Kami sibuk sendiri tanpa memikirkan perasaanmu, tapi percayalah, prioritas kami tetap kalian anak-anak kami nomor satu.


Kamu tenang saja, setelah ini mama dan papa akan ada buat kakak dan adik, karena keluarga papa sudah ditemukan, mama harap kakak dan adik mau menerima mereka sebagai saudara, karena momen ini sudah lama ditunggu oleh papa.." ternyata itu mamanya Azka, tante Bella.


"Terima kasih pak guru, sudah mau menolong dan sabar menghadapi anak saya. Saya bersyukur anak saya bisa bertemu dengan guru seperti bapak, saya akan terus mengingat kebaikan anda selama ini selamanya..


Btw, kakak yang disebutkan oleh mereka tadi siapa yah? Mereka juga gak tau namanya, kalau mendengar ceritanya mereka.. Dia gadis muda dan cantik, hem.. Penasaran sama dia, gadis mana yang membuat anakku membandingkan dirinya dengan orang tuanya.


Tapi ada benarnya juga sih, duh.. Jadi malu jika ingat masa-masa dimana suamiku mengejarku saat masih muda, si Azka jiplakan papanya banget ini! Gak apa, Nak.. Yang penting jangan ibu-ibu atau nenek-nenek aja yang kamu taksir" ucap sang mama bermonolog sendiri.


Dia menghampiri Azka dan pak guru di taman itu sambil bercerita dan menikmati cemilan sore bawaan tante Bella sebelum masuk kembali kedalam ruangan lagi.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2