Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Kehadiran Aaron


__ADS_3

Sementara mereka semua menuju ruang perawatan oma Mariani, William dan Erick keluar dari ruang UGD tadi secara diam-diam dan ternyata di sana juga ada Nico ikut bergabung dengan mereka.


"Apa menurutmu rencana ini akan berhasil untuk menjebak opa Harja bersama para anteknya?" tanya William kepada Nico.


"Kita lihat saja nanti, yang penting ikuti saja rencana sejak awal dan jangan gegabah apalagi mengacau!" jawab Nico.


"Erick, kamu tau kan apa yang harus dilakukan?" tanya Nico lagi.


"Siap! Aku juga akan menyiapkan beberapa peralatan lagi untuk membantuku dalam pengintaian ini" jawab Erick percaya diri.


"Perlu bantuan? Ada beberapa orang-orangku yang ahli IT juga, bisa membantumu jika kesulitan.." ujar Nico lagi.


"Tak perlulah, aku sendiri bisa kok. Malah aku ribet dan canggung jika terlalu banyak tangan dan orang yang ikut mengawasi, tidak nyaman. Emm, jika perlu bantuan aku akan hubungi kakak deh.." ucap Erick.


"Baiklah, dan William? Bagaimana denganmu?" tanya Nico.


"Aku akan selalu siap dan ada jika kau butuh bantuan, brother! Mungkin aku dan beberapa pengacara handal milik company kita akan memberikan bantuan hukum jika diperlukan.." jawab William santai.


"Kalian, tidak apa-apa kan? Karena harus melawan keluarga sendiri, apalagi itu adalah opa Harja.." tanya Nico tidak enak, dia harus memastikan lagi keputusan mereka ini.


"Kami baik-baik saja, bro! Gak ada dendam ataupun tujuan terselubung lainnya kok, kami hanya lelah dan bosan saja dengan semua konflik ini, dan aku yakin ini juga salah satu alasan kenapa ayah kami pergi dari sini.


Obsesi opa harus dihentikan dan beliau harus disadarkan sebelum sakaratul maut datang menjemputnya, aku ingin dia bertobat sebelum waktunya tiba, kau tau sendiri dia sudah sepuh, tapi keinginannya masih begitu menggebu-gebu" balas William pelan, dia menunduk lesu ketika harus membahas keluarganya itu.


"Thanks, bro! Kalian adalah orang-orang hebat, aku yakin semua orang akan bangga dan salut atas keberanian kalian, dan aku yakin ini juga keinginan orang tua kalian untuk menyadarkan opa agar tak melakukan hal ini terus.." ucap Nico ikut membesarkan hatinya.


"Tapi ayahku, citranya juga buruk tak ubahnya dengan opa.." balas William sambil menatap Erick.


"Aku yakin dia melakukan hal itu pasti ada sebabnya, mungkin bentuk pemberontakannya kepada opa, tapi dengan cara yang salah.." sahut Nico lagi.


"Ingat, kalian bersaudara. Dan kalian tidak sendiri, ada aku dan lainnya sebagai sahabat juga saudara, hubungan kekerabatan tak melulu soal darah atau air, kadang hubungan luar lebih akrab daripada hubungan dalam, kalian faham kan maksudku?" ucap Nico sambil merangkul keduanya.


"Thanks, bro!" ucap William haru.


"Hiks, makasih kak.." ujar Erick ikut mellow.


"Sudah, yuk kita ke ruangan Ericka lagi. Lebih nyaman dan aman jika ingin membahas soal ini didalam.." ujar Nico sambil menarik tangan keduanya.


.


.


Tidak lama kemudian, mereka sudah sampai didepan ruangan Ericka. Ketika mereka ingin masuk tiba-tiba saja Rendy datang dan mencegah mereka masuk.


"Kak, sebaiknya jangan masuk dulu!" kata Rendy, entah dia datang darimana, yang jelas bukan dari kamar Ericka.


"Kenapa? Kamu darimana, kok gak dikamar Ericka? Nanti kalau dia butuh sesuatu bagaimana?" tanya Nico bingung.


"Ada seseorang yang datang menemuinya, beri mereka waktu berdua saja, ini menyangkut privasi keduanya. Yuk ikut aku kebawah, Andriana sedang menungguku di sana.


Dan, emm... Ada yang ingin bertemu denganmu juga, dan ini serius! Emergency, dia bisa mengamuk dan menghancurkan rumah sakit ini jika kakak tidak datang menemuinya" ujar Rendy terlihat serius menyakinkannya.


"Kamu serius kan bukan hanya sekedar alasan agar kami tak masuk kedalam, atau ini akal-akalan kamu aja?!" tanya Nico tak percaya sambil menatapnya curiga.

__ADS_1


"Serius, demi apapun!" jawab Rendy sambil mengacungkan dua jarinya.


Tapi Nico tak percaya sedikitpun dengannya, dia terus melangkah menuju kamar Ericka dan samar-samar mendengar suara orang mengobrol didalam, tiba-tiba..


Kriiingg!


"Ha-halo, iya kak! Ini kak Nico bersamaku, sebentar lagi kami datang, ini lagi otw kok.." ucap Rendy setelah mengangkat telpon dari seseorang.


"Siapa?" tanya Nico, dia penasaran saat namanya disebut.


"Kira-kira siapa yang berani memberikan perintah dan titah kepada seorang Nico Abraham mantan Casanova dan mafia besar di kota ini?" tanya balik Rendy.


"Re..va..?" Nico terlihat ragu tapi dia menyebutkan nama istrinya juga.


"Betul sekali tuan, jika anda tak ingin dihukum, sebaiknya anda datang menemuinya sebelum kiamat datang menghampiri rumah tangga anda!" ujar Rendy mengompori nya.


"Shiit, kenapa gak kamu bilang aja dari tadi kalau ada kakakmu disini!" ujar Nico gusar.


Dia terlihat buru-buru meninggalkan tempat itu dan menuju tempat Reva dan Andriana berada, dia tak peduli lagi dengan tatapan aneh William dan Erick, entah mengapa lelaki gagah dan perkasa itu, sosok pemimpin yang tegas dan berwibawa tak ada harga dirinya dihadapan sang istri.


"Wkwkwk, dasar lu! STI, suami takut istri!" ledek William.


"Bodo" ucap Nico sambil mempercepat langkahnya.


.


.


.


"Kamu, kenapa bisa ada disini?" tanyanya heran.


"Kenapa, apa kamu gak berharap ingin bertemu denganku lagi, sweety?" tanya balik Aaron.


"Bu-bukan begitu, aku hanya kaget aja.." jawab Ericka gugup serba salah.


"Kenapa setiap kali kita ketemu kamu selalu dalam keadaan terluka? Apa ini isyarat bahwa aku harus cepat-cepat bawa kamu pergi dan bisa melindungimu dari orang-orang jahat itu?" tanyanya lagi, semakin membuat Ericka ketar-ketir.


"A-aku tidak apa-apa, hanya terluka sedikit aja!" jawabnya sedikit gelisah.


"Ericka, apa kamu gak nyaman dengan kehadiranku disini?" tanya Aaron terlihat sedih.


"Bukan begitu, aku justru takut kamu yang tidak nyaman berada didekatku. Kamu tau sendiri, masalah di keluargaku tak henti-hentinya datang. Dan aku tak nyaman jika kamu berada disini, aku takut kehadiranmu disini akan membuatmu berada di posisi yang sangat berbahaya" ujar Ericka menjelaskan situasi yang dialaminya saat ini.


"Kamu tau sendiri, kalau hidup dan pekerjaanku tak jauh dari kata bahaya, jangan khawatirkan aku, aku bisa menjaga diri, justru kedatanganku kali ini khusus buat kamu, sayang..


Aku tak tahan mendengar kabar tentang kamu disini, bahaya slalu mengintaimu dan keluarga disini, aku akan membantumu, meringankan pekerjaanmu dan, please.. Percaya sama aku" ucap Aaron memberinya pengertian dan betapa peduli dan perhatiannya dia selama ini.


"Apa, kak Nico yang menghubungimu?" tanya Ericka sambil menatapnya dalam.


'Tidak, aku datang sendiri dengan keinginanku sendiri, dengan kata lain aku bekerja dengan diri sendiri tanpa ada yang memerintahkan.." jawab Aaron sambil tersenyum manis kearahnya.


"Aaron, tolong jelaskan kepadaku.. Apa hubungannya kamu dengan kakak iparku itu, jujur.. Aku belum faham sebetulnya, meskipun kak Nico dan kak Reva sudah menjelaskan hubungan kalian seperti apa" tanya Ericka lagi, sebenarnya dia hanya ingin melihat sebuah kepastian dari lelaki ini saja.

__ADS_1


"Aku ini adalah adik angkatnya dan juga tangan kanannya yang dipercaya untuk mengelola semua perusahaan dan aset milik kak Nico yang berada di London, aku tak bekerja sendiri, kamu sudah bertemu dengan beberapa orang-orangku di sana, mereka juga yang membantuku melakukan itu semua.


Kak Nico orang baik, meskipun dia sedikit keras dan kejam, menurutku.. Tapi semenjak bertemu dengan kak Reva dan menikah dengannya, sikap kejamnya sedikit turun dari biasanya, intinya dia orang baik dan aku juga.


Kami bukan mafia kejam seperti rumor yang beredar, ataupun penjahat, kriminal, no.. Kami ini bekerja di bidang jasa dan lainnya, dan itu semua legal, terdaftar dibadan hukum, jadi jangan dengarkan semua berita bohong diluar sana" ujar Aaron menjelaskan semuanya, semoga dengan ini Ericka bisa menerimanya sepenuh hati.


"Apa kedatanganmu kali ini karena aku?" tanya Ericka lagi.


"Tentu saja, tak ada yang tau dengan kehadiranku disini, yah kecuali kak Rendy dan kak Reva.." jawab Aaron sambil memegangi tangan gadis itu dengan lembut.


"Kok bisa?" tanya Ericka heran, dia membiarkan lelaki itu menciumi tangannya, karena dia bisa mempercayainya untuk saat ini.


"Tadi aku ketemu kak Reva saat di lobby bawah, dan dia datang sendiri tapi wajahnya terlihat sangat gusar sekali, aku jadi tak berani bertanya banyak, takut kena amuk dengannya, haha!" jawab Aaron tergelak.


Ericka pun mengakui kakaknya itu sangatlah galak, sampai suaminya pun tak berkutik dibuatnya, tapi meskipun begitu Reva sangatlah penyayang dan berhati lembut kepada adik-adiknya.


"Minggu depan aku dengar kak Rendy akan melakukan pertunangan dengan pacarnya, siapa namanya? Emm, kira-kira mereka akan menikah kapan yah?" tanya Aaron lagi.


"Iya, lamaran sekaligus tunangan, namanya Andriana. Salah satu wanita hebat lainnya, dia juga banyak membantu di keluargaku, aku sudah menganggapnya sebagai kakak sendiri.


Kenapa kamu bertanya seperti itu? Memangnya kamu mau memberikan apa untuk hari pernikahan mereka nanti?" tanya balik Ericka.


"Tidak ada apa-apa, hanya ingin tau aja. Aku akan berikan apapun kepada calon kakak ipar, kecuali kecuali jika dia meminta aku berpisah denganmu, aku tak bisa" jawab Aaron sambil tersenyum menggodanya.


"Apaan sih, aneh!" ucap Ericka malas, tapi dalam hatinya berbunga-bunga diminta seperti itu.


"Aku serius, Ericka. Jika kak Rendy sudah menikah, aku akan segera melamarmu. Aku gak mau lama-lama menjalin long relationship with you, honey.." sahut Aaron serius.


"Jika kita menikah, aku tak ingin berpisah dari keluargaku, Aaron.." ucap Ericka pelan sambil menundukkan wajahnya.


"Aku akan pindah kesini kalau begitu, aku bisa pekerja apa saja, kecuali kriminal yah.." canda Aaron.


"Jangan ngasal kamu yah, emang mau seorang CEO perusahaan besar dan pemimpin besar dibidang per mafia an seperti kamu mau kerja jadi kuli disini?" ledek Ericka lagi.


"Buat kamu apa sih yang enggak.." sahut Aaron sambil mengedipkan matanya lucu.


Ericka hanya tertawa melihat tingkah konyolnya itu, sejenak dia sedikit melupakan permasalahan yang menimpanya.


"Tuhan, tidak salah kan kalau aku ingin bahagia sebentar saja?" gumamnya dalam hati sambil menatap Aaron.


Sedangkan lelaki itu seolah mengerti apa yang dipikirkan gadisnya itu, dia tersenyum dan menggenggam erat tangan Ericka, dia ingin mengatakan jika dia akan selalu ada untuknya apapun yang akan terjadi nantinya.


"Kamu harus percaya dengan orang-orang yang berada di sekelilingmu, Ericka.. Terutama kepada mereka yang selama ini ada untukmu, percayalah.. Mereka adalah orang-orang baik yang dikirimkan Tuhan untukmu, anggap saja mereka adalah keluargamu," ucap Aaron membuat hati Ericka tersentuh dan terenyuh mendengar itu.


"Semoga saja trauma ini cepat menghilang di hatiku, semoga saja apa yang aku takutkan selama ini tidak ada dan hanya ilusiku semata, dan semoga saja hatiku tetap kuat.." ucapnya sambil berkaca-kaca.


Aaron memeluknya untuk menguatkan gadis itu, dia sangat menyayangi Ericka dan saat mereka berjauhan sekalipun dia tak pernah tidak memperhatikan gadis itu, dalam diam, dia diam-diam mengutus orang lain untuk menjaga dan mengawasinya.


Dan disaat itu juga, ada seseorang yang memperhatikan mereka dari luar ruangan itu, seorang pemuda yang sakit hati karena mengetahui sebuah fakta kalau gadis pujaannya telah memiliki tambatan hati.


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2