Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Married Proposal Or Not?


__ADS_3

Keesokan harinya..


Pagi itu seluruh keluarga datang untuk menemani tante Sonia dan om Seno menjemput jenazah oma, rencananya jenazah akan langsung dibawa ke pemakaman keluarga milik mereka. Stacy lebih memilih menunggu di rumah keluarganya, yaitu bungalow yang akan menjadi rumah duka nantinya.


"Om, tante.. Yang sabar yah," ujar Nico menguatkan kedua paman dan bibi dari istrinya itu.


"Terima kasih, Nico.. Reva mana?" tanya tante Sonia, keadaannya sekarang jauh lebih baik.


"Dia menemani Stacy di bungalow, tante.. Emm, kasihan takutnya dia kecapean" jawab Nico, merasa tak enak hati.


"Tak apa, lagian ini suasana duka. Bukannya percaya takhayul tapi alangkah baiknya jika wanita hamil, bayi ataupun anak-anak menjauhi hal-hal buruk seperti ini.." ucap tante Sonia bijak.


"Iya, tante.. Terimakasih," jawab Nico sambil tersenyum lega.


Pagi ini untungnya perjalanan menuju ke pemakaman tidak terlalu macet, semua urusan berjalan dengan baik, urusan administrasi sudah diurus oleh Rendy dan Erick, dan urusan mengenai hukum sudah diurus oleh William dan dibantu oleh Geraldine.


Iring-iringan mobil jenazah cukup panjang, karena begitu banyak keluarga, rekan dan kolega mereka ikut mengantar mendiang oma ke peristirahatan terakhirnya. Apalagi keluarga ini cukup besar berpengaruh di dunia bisnis dan banyak juga kenal dekat dengan beberapa pejabat negara.


.


.


Acara pemakaman sudah selesai, ada yang langsung membubarkan diri dan ada juga yang langsung menuju rumah duka, sedangkan Rendy dan lainnya langsung ke rumah duka bagaimanapun juga mereka bagian dari keluarga itu, apalagi akhir-akhir ini mereka sudah menjadi dekat dan saling membantu juga.


"Kami tidak memiliki keluarga lain selain kalian, jika ada itu hanya formalitas saja. Maksudku, kau lihat saja mereka.. Saat kami dalam masalah dan kesusahan tak ada yang mau membantu.


Saat ibu dirawat juga tak ada yang datang, sampai ibu meninggal mereka hanya menunggu di rumah saja, tak ada yang datang di pemakamannya untuk mendoakan ibu.


Aku yakin kedatangan mereka kesini bukan hanya ingin membantu saja, tapi ada sesuatu yang lain juga. entahlah, mungkin ingin membicarakan soal harta benda milik ibu, mungkin..." kata tante Sonia kepada para keponakannya dari saudara sepupu tirinya itu.


"Meskipun mereka mau tetap takkan bisa, tante.. Karena sudah tertulis dengan jelas di surat wasiat oma juga opa dulunya, jika pembagian harta bagaimana semestinya.


Lagian tante jangan sedih, kami akan selalu ada buat kalian. Seperti yang tante bilang, kita ini keluarga. Dan jangan lupakan juga keponakanmu yang lain.." ujar Reva sambil menunjuk William dan Erick nampak begitu kerepotan menyambut para pelayat bersama Rendy juga.


Tante Sonia tersenyum, tentu saja dia tidak akan pernah melupakan kedua keponakannya itu, dua kakak beradik yang berbeda ibu itu meskipun terlihat dingin dan pendiam, tapi dia bisa melihat dan merasakan kehangatan hubungan keduanya, juga kepadanya dan keluarga lainnya.


"Tentu saja, hanya merekalah yang peduli dibandingkan dengan yang lain. Bukan untuk membedakan tapi begitu faktanya, lihatlah.. Stacy lebih nyaman bersama Ericka dan lainnya dibandingkan saudara sepupunya yang lain, padahal mereka baru ketemu, berbeda dengan yang lain yang sudah kenal sejak kecil.." ujar tante Sonia.


Dia memperhatikan anak bungsunya itu terlihat lebih baik dan mulai bisa tersenyum lagi, dan tentu saja dia terlihat lebih nyaman bersama dengan Ericka, dia melihat kearah saudara sepupunya yang lain, mereka nampak begitu cuek hanya duduk-duduk saja tak mau membantu yang lainnya.

__ADS_1


"Untunglah ada kalian datang untuk membantu, jika tidak om Seno pasti kerepotan menyambut para pelayan dan mengurus ini itu lainnya.." ujar tante Sonia merasa sangat bersyukur sekali.


"Semuanya ada hikmahnya tante, aku yakin Allah mempertemukan kita untuk hal ini juga. Sekarang lupakan masa lalu, tutup buku dan kita mulai lagi dari awal.." ucap Reva sambil memeluk tante Sonia.


"Eh, ada yang gerak dibawa!" reflek tante Sonia memegang perut Reva.


"Haha, mungkin si utun tau jika dipeluk mamanya adalah Omanya.." ujar Reva sambil tersenyum sumringah.


"Haha, bisa jadi. Wah, tante senang sekali sebentar lagi punya cucu!" ucap tante Sonia sambil tersenyum bahagia.


Dari kejauhan, Ericka sudah beralih tempat dan sedang memperhatikan semua orang, dia nampak tersenyum manis melihat kedekatan semua orang yang saling membantu, saling berbagi dan mengerti satu sama lain.


Di lain pihak, ada juga beberapa orang yang tak peduli, masa bodo dan masih memikirkan diri sendiri. Dan itu merupakan hal yang wajar, karena begitulah sifat manusia, tidak juga terlalu baik dan tidak juga terlalu jahat, karena itu sifat dasar manusia yang sesungguhnya.


"Kenapa kau berdiri disini sendiri?" tiba-tiba saja ada yang mengagetkannya.


"Aaron?" Ericka terkejut melihat lelaki itu ada tepat dibelakangnya.


"Apa ada waktu sebentar? Aku ingin bicara sebentar saja.." pinta Aaron dengannya.


Melihat lelaki itu nampak serius, Ericka mengikutinya ke taman samping bungalow itu. Ericka sedang duduk disalah satu bangku di taman itu, sedangkan Aaron sedang berdiri mengamati ikan-ikan didalam kolam yang berada di sana.


"Beberapa hari lagi aku akan kembali ke London.." ucap Aaron, langsung ke intinya.


"Kenapa tiba-tiba?" tanya Ericka terkejut, dia tak menyangka akan mendengar hal itu dari Aaron.


"Sebenarnya bukan tiba-tiba sih, sudah lama direncanakan tapi tak ada waktu untuk membicarakan hal ini kepadamu. Aku tau, akhir-akhir ini kamu dan lainnya begitu sibuk mengurusi banyak hal.


Jadi, aku gak mau membuatmu berpikir bahwa aku sengaja pergi meninggalkanmu, sedangkan kamu sendiri masih begitu sibuk menyelesaikan semua masalah disini. Makanya aku memutuskan untuk membantumu dulu disini..


Dan aku pikir, semuanya sudah selesai.. Jadi, sudah waktunya aku kembali. Begitu banyak pekerjaan yang menantiku di sana, Stanley dan Jessy kerepotan tanpa aku, haha.." ujar Aaron menjelaskan semuanya.


Ericka hanya diam mendengarkan pernyataan Aaron, dalam hatinya dia merasa serba salah, dan tidak tahu harus bagaimana. Dia merasa Aaron terlalu banyak membantunya sedangkan dirinya tak bisa melakukan apapun untuk lelaki itu.


"Bahkan untuk menunjukkan perasaanku kepadanya saja aku tak bisa, dia begitu dingin dan kaku kepada semua orang tapi tidak denganku, dan bagaimana bisa aku memperlakukannya sedingin itu?" gumamnya dalam hati.


"Sebelum pergi, apa ada yang ingin kau lakukan?" tanya Ericka sambil menatapnya haru.


"Hem, tidak ada. Aku hanya ingin meluangkan waktuku hanya bersamamu saja, yah meskipun itu hanya sekedar antar jemput ke kantor, menemanimu dan membantu mengurus hal lainnya, aku mau kok! Asal bisa berdua denganmu saja.." jawab Aaron sambil menatap lembut Ericka.

__ADS_1


Gadis itu hanya menunduk, tak sadar dirinya meneteskan air mata saat mendengar ucapan lelaki itu. Dia benar-benar merasa menyesal, sekian lamanya Aaron berada disampingnya tak sedikitpun dia bisa memberikan sebuah harapan kepada lelaki itu.


Tapi Aaron tak pernah putus asa ataupun menyerah, dia terus mengejar gadis itu sampai akhirnya luluh juga, meskipun gadis itu tetap bersikap dingin dan kaku, walaupun dia akhirnya mengakui perasaannya juga, tapi Aaron tak pernah mengeluh ataupun menuntut banyak hal kepadanya.


Itulah yang membuat Ericka menyesal karena telah membuang dan menyia-nyiakan waktu dan kesempatannya bersama Aaron, ketika masih bersama selama berada didekatnya.


"Tenanglah, jika ada waktu aku akan kembali lagi kesini.. Kamu, masih mau menungguku kan?" tanya Aaron sambil menatapnya lekat.


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, kamu masih mau menungguku, kan? Kamu gak akan pernah bosan kan saat bersamaku? Meskipun aku bersikap dingin dan terkesan tak peduli seperti ini, apa kau masih ingin bersamaku?" tanya balik Ericka.


"Bukankah itu mengapa aku jatuh cinta kepadamu, Ericka? Aku jatuh cinta kepadamu karena kegigihanmu, karena tekad bulatmu untuk bisa mandiri sendiri, karena kemampuanmu sendiri yang bisa menyatukan kembali saudara-saudaramu..


Itu yang membuat aku jatuh cinta, aku tau tentangmu, bertahun-tahun lamanya aku bersama denganmu waktu di London, sudah cukup bagiku mengenalmu, Ericka.." ucap lelaki itu.


Aaron berjalan mendekati Ericka yang masih duduk terdiam sambil menundukkan kepalanya, dia melihat ada bayangan yang mendekatinya, lalu Aaron duduk berjongkok menatapnya lembut.


"Ericka, jika suatu saat nanti aku datang kembali kesini dan memintamu ikut kembali ke London, apa kamu mau ikut denganku?" tanya Aaron dengan lembut sambil menatapnya lekat.


Cukup lama Ericka terdiam, entah mengapa dia merasa bahwa saat ini Aaron sedang melamarnya, tapi rasanya gak mungkin karena sekarang ini keadaan masih masa berkabung, rasanya tak etis saja dilakukan di rumah duka saat ini.


"Apakah kamu saat ini sedang memintaku untuk--" tiba-tiba ada seseorang yang datang menghentikan ucapan Ericka.


"Ehem, maaf mengganggu suasana romantis ini.. Tapi tante Sonia meminta semua orang untuk berkumpul, mungkin ada hal penting yang ingin beliau sampaikan!" ucap Erick sambil menatap nakal keduanya.


"A-ah, i-iya! Kami akan segera kesana!" jawab Ericka langsung, dia gelagapan karena terkejut dengan kedatangan Erick.


Tapi melihat reaksinya seperti itu malah membuat Erick jadi salah faham saja, dia terus tersenyum menggoda keduanya, melihat reaksi Erick membuat Ericka kesal dan malu, dia meninggalkan Aaron berdua saja dengan Erick, hingga dia lupa apa yang ingin dia tanyakan kepada Aaron tadi.


"Sabar, bro! Slowly..." ujar Erick menggoda Aaron.


"Apaan sih, semuanya yang kamu pikirkan itu tidak benar, dasar!" gerutu Aaron sambil berlalu pergi.


Dia kesal sekali, tak sempat mendengar perkataan Ericka sampai selesai, padahal sudah lama sekali dia ingin mengatakan hal itu lagi, yah.. Dulu sudah pernah dia katakan hal yang sama, tapi dia belum puas dengan jawabannya waktu itu.


Dan sekarang dia mengatakan hal yang sama lagi, apakah Ericka akan menjawab hal yang sama juga atau jawaban yang berbeda? Tapi harapannya terputus karena kedatangan Erick yang tiba-tiba.


"Emang salahku apa yah? Kok pada sewot semua?!" gumam Erick menatap heran keduanya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2