
didalam cafe itu, mereka terlihat membubarkan diri satu-persatu. dan terlihat berbagai macam ekspresi di wajah mereka.
Ada yang terlihat marah, ada yang tersenyum puas dan ada juga yang terlihat gelisah dan ketakutan.
Cafe O'drink merupakan salah satu milik sahabat Reva, Stefan namanya. Cafe inilah biasanya Julia dan teman-temannya suka nongkrong.
Sedari tadi Stefan diam-diam mengamati dan mendengarkan pembicaraan mereka, dia diminta Reva untuk mengawasi mereka.
"Halo Reva, mereka sepertinya sudah terpecah kongsi. Aku sempat mendengar perbedaan pendapat dan perdebatan disini," ujar Stefan.
"Baiklah, terima kasih infonya. Tolong kabari lagi kalau mereka berkumpul lagi di sana," sahut Reva dengan datar.
"Reva, kalau boleh tahu aku mau nanya sama kamu, kenapa kamu terlihat obsesi sekali dengan mereka?
Apa terjadi sesuatu, apa mereka membuat masalah denganmu? Jangan terlalu keras Reva, mereka masih anak-anak." Jawab Stefan, dia terlihat kecewa dengan Reva.
"Bukan urusanmu, kamu gak usah tahu apa yang terjadi. Jangan terlibat terlalu dalam dengan masalahku atau orang lain," jawabnya masih dengan nada dingin.
"Apa maksudmu? Secara tidak langsung aku sudah terlibat dengan masalahmu, aku sudah mendengar semua pembicaraan mereka.
Dan harus bilang semua ke kamu, kayak anak buah kasih laporan ke atasan. Hehe!" Kata Stefan terkekeh, dia tidak ingin bersitegang dengan Reva.
Tak ada untungnya bertengkar dengannya, bagaimanapun dia pasti akan kalah melawannya.
Mereka berteman sejak masih sekolah, jadi Stefan tahu betul watak sahabatnya itu. Jika dia melakukan sesuatu, maka itu pasti dia lakukan sampai tuntas.
"Ya udah Stef, makasih yah... Lain kali kita ketemu lagi yah, bye!" Kata Reva menyudahi telponnya.
"Oke Sist, jangan lupa mampir lagi ke cafe ku. Ajak juga tuh teman-teman modelnya, biar rame cafe ku. Hehe!" Ujar Stefan dengan tawa cerianya.
"Iya, ih bawel!" Ujar Reva tersenyum geli dengan tingkah sahabatnya.
*
Sementara itu, dikantornya Nico.
Pak Brotoseno, salah satu pengacara handal milik PT. persero Law industries, dimana Nico juga salah satu CEO nya.
Dia diminta bertemu dengan atasannya langsung, pria tua tambun itu terlihat gelisah sekali. Keringat dingin membasahi tubuh itu.
Dia tidak pernah bertemu apalagi bertatapan langsung dengan bos besarnya itu, dibayangkannya Nico itu Lelaki tua sebaya dengannya, atau mungkin juga lebih tua darinya.
Saat itu dia baru saja selesai menyelesaikan kasus besar, dan dia menenangkan kasus kliennya itu.
Disaat dirinya akan mendapatkan bonus besar nantinya, tiba-tiba dia ditelpon langsung sekretaris Nico di kantor pusat.
Ada desas-desus bahwa Nico sedang membuat sebuah tim untuk menghancurkan sistem Hierarki yang sudah lama di kantor cabangnya itu.
Dimana kantor cabang itu merupakan tempat pak Brotoseno bekerja selama ini, dan kantor ini terkenal dengan ketimpangan sistem yang ada.
Dimana korupsi berlangsung, penerimaan karyawan baru yang tak adil karena nepotisme masih berlaku di sana.
Nico ingin membersihkan para sampah-sampah busuk itu, dia tidak ingin mereka mengotori perusahaannya dengan adanya mereka di sana.
Brotoseno merupakan salah satu pemimpin cabang di perusahaan itu, dan dia juga salah satu penerima korupsi paling besar di perusahaan tersebut.
Disaat teman-teman sejawatnya di perusahaan, dan diberbagai kantor cabang yang terlibat korupsi sudah mulai di pecat, atau mungkin dipindahkan ke kantor daerah lainnya dia masih bertahan di kantor lamanya.
__ADS_1
Makanya dia bingung saat dipanggil langsung oleh bos besarnya itu, kalau seandainya dipecat kenapa tidak lewat personalia?
Saat ini dia sedang duduk gelisah di ruang tunggu khusus tamu yang ingin menemui bos besar itu, yaitu Nico.
"Bapak Brotoseno, silakan masuk. Anda sudah ditunggu oleh pak Nico" ujar sekretaris Nico kepadanya.
"Ba-baik" jawabnya nampak gugup sekali.
Dia mengikuti langkah sekretaris itu menuju ruangan Nico, dia menatap sekeliling koridor dan ruangan di kantor itu.
Sangat berbeda sekali suasana dan furniture nya dengan kantor dia tempati, apalagi ini gedung bertingkat dan termasuk gedung tertinggi di kotanya.
Sekretarisnya Nico menyadari tingkah pak Brotoseno, lalu tersenyum.
"Jika tidak ada korupsi besar-besaran di kantor cabang tempatmu bekerja, mungkin bangunan dan furniture nya juga sebagus ini." Katanya sinis.
Pak Brotoseno tersenyum kecut mendengarnya, dia tahu semua berita mengenai kasusnya dan kantor itu sudah tersebar luas.
Tok! Tok! Tok!
Sekretaris Nico mengetuk pintunya, lalu membukakan pintu itu mempersilahkan pak Brotoseno masuk.
"Se-selamat siang Pak" sapa nya dengan senyuman kaku.
"Selamat siang, silakan duduk Pak" sahut Nico sambil memutarkan kursi sofanya menghadap pak Brotoseno.
Saat itu Nico sedang duduk di sofa kerjanya menghadap kearah dinding kaca tebal gedungnya.
Dia sedang menikmati pemandangan dan hiruk-pikuk bisingnya ibu kota. Dia mendengar kedatangan pak Brotoseno, lalu memutar kembali sofanya itu.
Terlihat pak Brotoseno terkejut melihat dirinya, didepannya duduk seorang pemuda dengan penampilan rapi lengkap dengan tuksedo nya.
"Bapak tahu kenapa saya memanggil anda?" Tanya Nico sambil menyeruput kopinya.
"Tidak Pak" jawab pak Brotoseno berusaha bersikap sopan didepan bosnya itu.
Meskipun dia terlihat ragu dan terkesan meremehkan, dia mengira Nico hanya utusan saja.
"Bapak tahu dengan Della? Dia putri anda, 'kan?! Yang baru lulus sekolah itu?" Tanya Nico nampak serius.
Berbeda dengan Nico, pak Brotoseno terlihat sumringah. Pria tua ini benar-benar tidak tahu diri sekali, dia mengira Nico menyukai putrinya itu.
Karena Nico menanyakan tentang putrinya itu, dia berharap itu benar maka dia akan berada diposisi lebih baik lagi di perusahaan tersebut.
"Betul Pak, anda kenal dengan putri saya dimana?" Tanyanya sambil tersenyum ramah.
Gesturnya mulai berubah, yang dari tadi kaku dan nampak sekali kikuk sekarang lebih rileks dan santai.
Nico tersenyum melihat perubahan sikap bawahannya itu secara drastis. Dia mengamati pria tua itu sesaat, lalu kembali tersenyum.
Nico memanggil sekretarisnya untuk meminta tolong dibuatkan kopi untuk pak Brotoseno.
Semakin tinggi perasaan pria tua itu, merasa diistimewakan oleh bos besar itu. Dalam hatinya, jika anak muda ini tertarik dengan putrinya, maka dia akan meminta mereka langsung menikah.
Agar dia bisa memiliki posisi penting dan besar di perusahaan itu, benar-benar jauh sekali spekulasinya.
"Bapak, apakah anda mengenal baik anakmu dengan baik?" Tanya lagi Nico.
__ADS_1
"Saya sangat mengenalnya Pak, dia putriku yang sangat cantik dan baik. Dia juga anaknya pintar dan berprestasi, hehe!
Apa Bapak sudah lama menyukai putri saya?" Tanyanya tanpa basa-basi.
Nico sempat kaget dengan pertanyaan tersebut, lalu tersenyum sinis. Dia mengeluarkan Recorder miliknya, dimana di sana sudah ada rekaman pembicaraan Della dan teman-temannya.
"Bapak dengarkan ini dulu, lalu silakan ingat lagi apa putrimu sesuai yang kau bicarakan tadi atau tidak?!" Jlawab Nico.
"Dan satu lagi, bersikaplah lebih sopan padaku. Aku ini atasanmu, tolong hati-hati lagi kalau berbicara!" Ucap Nico secara tegas kepadanya.
Pak Brotoseno terkejut dengan perubahan intonasinya berbicara, apalagi mendengar perkataannya tadi meragukan semua pikirannya.
Nico memutar rekaman itu dengan volume cukup kencang, dia ingin pak Brotoseno mendengar dengan jelas percakapan putrinya itu dengan teman-temannya di pesta malam itu.
Dan ada juga rekaman mereka di rumah sakit dan cafe nya, semua nampak jelas di rekaman itu isi pembicaraan dan suaranya.
Pak Brotoseno terkejut mendengar isi dari percakapan tersebut, tetapi dia masih tak mengerti maksud dari Nico mendengarkan isi rekaman tersebut.
"Saya tahu isi rekaman ini tidak baik Pak, dan terdengar juga suara dari putri saya. Tetapi yang saya dengar putri saya nampak menolak ajakan temannya itu.
Dan saya masih kurang faham juga isi dari percakapan mereka, siapa Ericka? Apa hubungannya dengan mereka dan Bapak?" tanya pak Brotoseno.
"Ericka adalah teman sekolah mereka, dia selalu dibully oleh mereka. Dan Bapak tahu, dia itu calon adik ipar saya!
Saya benci melihat kekasih saya menderita mendengar kabar adiknya dibully oleh anak-anak nakal itu!" Bentak Nico.
Pak Brotoseno terkejut tidak percaya, jadi dari tadi dia salah faham? Tuan muda ini sudah memiliki kekasih dan itu bukan putrinya?
"Ma-maafkan kelancangan putri saya Pak, saya mewakilinya dengan memohon maaf atas segala kesalahannya." Jawab pak Brotoseno terlihat gugup sekali.
"Kau tahu, dia tak memiliki salah apapun padaku. Jika benar-benar tulus dan berniat minta maaf, kalian harus memohon pada orangnya langsung" sahut Nico sambil berdiri memunggungi pak Brotoseno.
"Minta maaflah pada Ericka dan kakaknya, setelah itu bawa putrimu pergi jauh dari kota ini kapan perlu dari negeri ini.
Jangan sampai kalian terlihat oleh kami lagi, kau sudah banyak melakukan korupsi dan ditambah attitude putrimu yang buruk itu.
Kau akan aku pecat dari kantor ini! Pergilah, bawa juga pesangonmu! Jangan berharap banyak, karena kau sudah banyak mengambilnya." Tegas sekali Nico memberi peringatan.
Pak Brotoseno terduduk lemas, dia baru saja memenangkan kasus besar kliennya dan berharap dapat bonus juga dari perusahaan.
Sekarang sirna semuanya, dia dipecat tak ada lagi yang dia lakukan.
Semua tabungannya menipis demi memenuhi gaya hidup istri dan anaknya yang selalu glamor itu.
Dia tidak bisa membantah atau membalas perkataan Nico, itu semuanya benar. Dia berjalan gontai kearah pintu keluar ruangan itu.
Dia melihat membalikan badannya dan menatap tajam kearah Nico.
"Jangan karena kau berkuasa lalu seenaknya memecat orang dan mengatur hidupku, lihat saja nanti aku pasti akan membalas mu" geram pak Brotoseno dalam hati dengan tatapan tajam.
Saat itu Nico masih melihat kearah luar gedung itu, dia tak memperdulikan tatapan tajam pria tua itu.
"Ada yang ingin kau sampaikan lagi?!" Tanya Nico tanpa menoleh kearahnya.
Pak Brotoseno mendengus kesal lalu berlalu pergi dengan sedikit membanting pintu itu.
Nico tersenyum penuh arti, sebenarnya dia melihat semua tingkah pak Brotoseno saat itu dia melihatnya di pantulan kaca di ruangan tersebut.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung