Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Sebuah Kontroversi


__ADS_3

Satu hal yang tak diketahui oleh pak Dewantoro, bahwa pemilik rumah sakit ini adalah milik salah satu kenalan Nico. Pada saat mereka panik mencari rumah sakit yang terdekat, tidak sengaja mereka melewati rumah sakit itu, dan Nico tahu itu milik temannya.


"Aku mengerti maksudmu, aku tahu... Karena aku juga pernah mengalaminya" ujar teman Nico, setelah dia mendengarkan semua cerita tentang Nico dan kecelakaan yang menimpa Reva.


"Sakit memang dijauhkan dari orang yang kita cintai, jangan sampai kau sepertiku harus kehilangan dirinya" temannya terhanyut dalam perasaannya sendiri.


"Thanks, Bro. Udah banyak bantu gw" ujar Nico sambil memeluk temannya itu.


"Sama-sama, Masbro. Kalau ada apa-apa bilang aja, gak usah sungkan" ucap temannya itu ikhlas.


Nico hanya mengangguk dan pamit untuk pergi dari ruangan temannya itu, dia pergi kesebuah ruangan khusus pasien VIP, dimana ruangan itu akan ditempati oleh Reva.


"Disebelah ruangan ini ada kamar kecil buat keluarga pasien jika ingin menginap menemani pasien, kamu bisa menunggunya disini kalau kamu mau" ucap temannya tadi, sebelumnya dia sempat menjelaskan soal kamar itu.


Dan disinilah Nico sekarang berada, dia menunggu kedatangan Reva dengan harap-harap cemas. Tentu saja Rendy maupun pak Dewantoro tak tahu soal kamar itu.


Saat itu, pak Dewantoro maupun Rendy sedang menemani Reva di ruang inap itu. Mereka tak tahu jika ada Nico disebelah kamar itu, tiba-tiba Hp pak Dewantoro berdering, terlihat pak Dewantoro ragu-ragu mengangkatnya.


"Angkat saja, Yah. Siapa tahu penting..." ujar Rendy tanpa menoleh kearah ayahnya itu.


"Ini dari ibumu..." jawab pak Dewantoro pelan.


"Ibuku? Ooh,, Elena... Angkat saja, jika tidak dia akan menceraikanmu" jawab Rendy sarkas.


Belum selesai Rendy berbicara terlihat pak Dewantoro terburu-buru mengangkat telpon dari istri tercintanya, Rendy hanya tersenyum kecut melihat tingkah ayahnya itu.


"Apa, kamu dan Pramudya sudah di bandara? Kenapa kau tak memberitahuku sebelumnya jika hari ini akan pulang" jawab pak Dewantoro menyahuti istrinya itu.


Dia nampak sumringah sekali, dia tak sadar dari tadi diperhatikan oleh Rendy dengan tatapan benci. Bagaimana tidak, didepan anaknya yang masih koma, dia nampak begitu bahagia menyambut kedatangan istrinya itu.


"Ah, Rendy... Ayah minta maaf, tapi Ayah-" ucapannya langsung disambung oleh Rendy.


"Iya, aku tahu. Aku mendengarnya dengan jelas tadi, bahwa istri dan anak tercintamu sudah kembali. Pergilah, jemput dia!


Aku bisa menjaga kakakku sendiri, kapan perlu kau tak usah datang lagi kesini" jawab Rendy dengan nada kesal.


"Bukan begitu, Nak. Mereka sudah lama sekali pergi, entah sudah beberapa bulan. Ayah ingin menjemput mereka, setelah itu Ayah akan kembali lagi kesini" ucap pak Dewantoro membujuk Rendy.


"Iya, ya... Pergilah" ucap Rendy dengan malas.


Setelah itu pak Dewantoro pergi tanpa memikirkan perasaan anaknya, dia tadi seolah sangat peduli dengan mereka, ketika mendengar nama Elena seketika dia lupa segalanya.


Nico sedari tadi melihat dari kamar sebelah, mengintip dibalik pintu kecil kamar itu dikagetkan oleh suara Hpnya, untungnya Hp itu dalam mode getar dan tidak membongkar persembunyiannya.


"Iya, halo! Ada apa?" tanya Nico, dan ternyata yang menelponnya adalah salah satu anak buahnya.

__ADS_1


"Tuan, kami berhasil mengindentifikasi nomor plat mobil Jeep hitam tadi. Mobil itu merupakan mobil sewaan, jadi kami kesulitan mencari orang yang menyewanya pada hari dan jam kecelakaan nona Reva" ucap anak buah Nico via telpon.


"Cari sampai ketemu dengan orang itu, ada beberapa orang yang menyewa mobil Jeep itu pada hari ini, cari semua sampai ketemu!" perintah Nico tegas.


"Ingat, cari lebih spesifik lagi. Hari ini, pukul kecelakaan tadi, serta model mobil Jeep hitam tadi, tolong cek juga beberapa kamera Cctv disekitaran area tempat kecelakaan nona Reva tadi" perintah Nico lagi.


"Baik, Tuan" ucap anak buahnya sebelum menutup telponnya.


Nico kembali mengintip kearah ruangan itu tadi, dia melihat ruangan itu kosong. Tak ada Rendy maupun pak Dewantoro yang menjaga Reva.


Melihat hal itu, Nico tak menyia-nyiakan waktu dan langsung menghampiri Reva. Dia memeluk wanita yang dia cintai itu, memeluk dan menciumi kekasihnya itu.


"Maafkan aku, harus kucing-kucingan kayak gini. Tapi aku tak tahan harus dipisahkan olehmu lagi, sayang...


Aku akan selalu ada untukmu, aku akan menjagamu dari orang-orang yang berniat tidak baik kepadamu" ucap Nico sambil memandangi wajah pucat Reva.


Reva hanya diam membisu, selang infus maupun selang oksigen melekat ditubuhnya. Belum lagi kepalanya diperban penuh oleh kain kasa, dan kakinya sampai di gip.


Sungguh memprihatinkan nasibnya, baru saja dia menikmati waktu berdua dengan Reva, sudah terdengar suara sepatu yang menuju ruangan itu. Nico langsung buru-buru menuju ruangan tempat persembunyiannya tadi.


Rendy masuk kedalam ruangan Reva disusul oleh seseorang, dialah adalah Pricilia. Penampilannya sangat aneh dan mencolok sekali, memakai jaket kulit berwarna hitam dipadukan dengan jeans warna senada. Dia juga memakai sepatu boot kulit warna hitam dan lengkap dengan kaca mata hitamnya.


"Aneh" gumam Rendy saat melihat penampilan Pricilia itu.


"Aku baru saja mau touring sama teman-temanku, lalu mendengar kabar tentang Reva, jadi aku memutuskan untuk datang dulu kesini sebelum pergi" ucap Pricilia sambil duduk di sofa ruangan itu, dengan duduk kaki dilipat sehingga ujung sepatunya naik sedikit keatas meja.


"Kau lihat, beginilah kondisi kakakku. Diam tak bergerak, jadi kalau kau ingin bertanya ataupun bercerita, takkan bisa mendengarkan atau menjawab pertanyaanmu.


Sebaiknya kau pulang saja, mungkin teman-temanmu sudah menunggu. Aku juga ingin istirahat disini" ucap Rendy dingin.


'Kau ini, seperti biasa dingin sekali denganku. Bagaimanapun juga kita ini keluarga apapun masalahnya, dan dia juga saudaraku meskipun saudara tiri!


Aku sudah berbaik hati sudah menjenguknya, kalau ada apa-apa jangan hubungi aku! Menyesal aku datang kemari" ucap Pricilia kesal, lalu pergi dari ruangan itu.


"Aku tau kedatanganmu kesini hanya ingin melihat penderitaan kami saja, aku tau dari caramu melihat kakakku dan sikap tak sopanmu tadi" geram Rendy saat melihat punggung wanita itu tadi pergi.


Dia duduk disamping Reva, dia menggenggam tangan kakaknya itu dengan erat. Tatapan sendunya memperhatikan wanita yang sudah membesarkannya dengan baik.


Baginya kakaknya adalah segalanya, ketika mendiang ibunya meninggal, Reva lah yang menjaga dan mengurusnya sewaktu dia masih kecil, bersama Ericka mereka hidup dalam penderitaan dibawah tekanan dan siksaan ibu tiri bersama anak-anaknya.


Sedangkan ayahnya seolah sudah mati rasa atau mungkin matanya sudah buta oleh cinta Elena, hingga dia tidak memperdulikan ataupun memperhatikan anak-anaknya lagi.


Kini, kakaknya harus menderita lagi. Dia selalu berakhir seperti ini, tak pernah merasakan kebahagiaan sedetik pun. Dia bertekad ingin merubah segalanya, ingin membalas semua rasa sakit yang mereka alami selama ini.


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


"Permisi, Pak..." Andriana masuk sambil menjinjing paper bag ditangannya.


"Kamu belum pulang? Ini sudah mendekati magrib loh.." tanya Rendy heran melihat Andriana masih ada di sana.


"Belum, aku magribnya disini aja. Aku bawain makanan dan beberapa cemilan juga minuman buat kamu" ucap Andriana sambil meletakan paper bag diatas meja.


Rendy menatap Andriana dengan lekat, gadis ini selalu disampingnya kemanapun dia pergi. Dia tak pernah membiarkan Rendy sendirian melakukan hal-hal seperti ini. Seolah dia tahu, saat ini Rendy membutuhkan seseorang yang bisa memperhatikannya.


"Terima kasih... Kamu sudah banyak membantuku, kalau gak ada kamu aku gak tahu harus bagaimana" ucap Rendy.


"Gak apa, Pak. Aku melakukan hal ini atas keinginanku sendiri, karena aku juga perduli dengan bu Reva. Dia begitu baik denganku" jawab Andriana pelan.


"Iya, terima kasih" ujar Rendy sambil tersenyum.


Waktu magrib sudah datang, mereka sholat di ruangan itu berjamaah. Dimana Rendy sebagai imamnya dan Andriana jadi makmumnya. Membuat Nico yang melihatnya iri..


"Kapan kita bisa melakukan hal itu, Reva. Lihat kedua bocil ini, mereka aja bisa lakukan itu bersama. Kenapa kita tidak?" gumamnya.


Setelah selesai sholat magrib Nico keluar dari kamar itu, untuk pergi mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutnya. Dia baru sadar dari tadi siang perutnya belum diisi, hanya air putih saja yang masuk.


Kriing!


Hpnya berbunyi disaat dia baru saja mau menyuapkan nasi ke mulutnya, mau gak mau dia harus mengangkat telpon itu.


"Halo, ada apa?" tanyanya sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Pak, kami sudah berhasil mengindentifikasi mobil yang menabrak nona Reva. Bapak bisa melihat plat mobil dan riwayat mobil itu dipakai pada jam berapa.


Anehnya, yang menyewa mobil itu atas nama seorang lelaki tapi sebenarnya yang memakainya seorang wanita. Dan saya kira anda pasti mengenalnya" kata anak buah Nico.


"Wanita? Aku mengenalnya?" jawab Nico dengan mengerutkan keningnya heran.


"Iya, Bapak bisa melihatnya sendiri. Nanti saya akan mengirimkannya lewat email Bapak" ujar anak buah Nico sambil mengakhiri telponnya.


Setelah itu Nico menerima kiriman email dari anak buahnya, dia melihat daftar riwayat penggunaan mobil itu, dari nama penyewa, alamat bahkan nomor ponselnya.


Tapi semuanya palsu, dengan kata lain disamarkan. Bahkan pemilik sewa mobil itupun tidak tahu apapun soal itu, dikarenakan yang mengurusnya adalah anak buahnya.


Dimungkinkan bahwa anak buahnya juga terlibat soal ini.


"Aku harus mencari tahu lebih dalam lagi, sepertinya ini bukan kasus kecelakaan biasa. Ada kontroversi dibalik semua ini" gumam Nico menatap tajam kearah email itu.


Firasatnya mengatakan bahwa kecelakaan Reva disebabkan oleh seseorang yang sengaja membuatnya celaka. Tapi siapa?


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2