
Setelah kejadian hari itu, cukup lama bagi William dan Erick memutuskan harus bagaimana menghadapi opa Harja, apa mereka tetap dengan pendiriannya untuk menjauhinya, atau mau memaafkan dan melupakan semuanya?
"Kalian sudah melakukan hal yang seharusnya, bagaimanapun juga beliau adalah kakek kalian dan satu-satunya orang tua yang kalian miliki, syukuri dan nikmati sisa waktunya sekarang ini, agar dia lebih tenang menjalani hari tuanya yang penuh penyesalan ini.." ucap Reva memberi dukungannya.
Beberapa hari sebelumnya, William dan Erick akhirnya memilih untuk memaafkan opa Harja. Apalagi opa Harja juga sudah membuktikan dengan sungguh-sungguh rasa penyesalan dan benar-benar mau bertobat, tapi mereka belum bisa menemui opa Harja, saat ingin menyampaikan sesuatu ke kakeknya saja mereka meminta tolong orang untuk menyampaikan pesannya.
Entah rasa malu atau belum sepenuhnya menerima, tapi mereka belum siap untuk kembali bertemu dengan opa Harja, William dan Erick melakukan hal yang sama seperti opa, mereka berdua mengirimkan flashdisk berisi rekaman keduanya, tentang memaafkan dan berusaha melupakan masa lalu.
Tapi diam-diam keduanya juga mengirimkan surat pribadinya ke opa, menyatakan perasaannya masing-masing ke kakeknya. Mungkin di video keduanya merasa gengsi untuk berbicara langsung meskipun itu didalam sebuah rekaman, apalagi keduanya dalam satu frame di video, ada jarak diantara keduanya.
Tapi dalam surat pribadi, William dan Erick bisa meluapkan emosinya dan tanpa malu mengatakan isi pikirannya ke sang kakek, dan meskipun kata-katanya berbeda, tapi isinya tetap sama. Sama-sama sayang, sama-sama perhatian, dan sama-sama mau memaafkan dan berusaha melupakan masa lalu, ditambah lagi keduanya juga sangat merindukan kakeknya itu.
"Opa tau, kalian gengsi untuk mengakuinya langsung.. Makanya opa tidak marah ketika kalian bersikap sinis dan dingin pada opa waktu itu, kalian orang-orang baik, dibalik rasa kesal opa waktu itu, ternyata ada rasa syukur yang tak bisa opa katakan..
Ternyata ada baiknya kalian tak mengikuti jejak orang tua macam opa ini, kalian terdidik dengan baik walaupun tanpa orang tua, kalian memiliki lingkungan yang sangat baik, dikelilingi oleh orang-orang yang sangat peduli dengan kalian, makanya kalian sekarang memiliki kepribadian yang sangat baik.." ucap opa Harja sendirian.
Dalam senyuman yang terukir dari guratan-guratan bibir dan wajahnya yang keriput, terlihat rasa sedih dan haru. Air mata bahagianya terus menetes saat mengetahui perasaan kedua cucunya yang sebenarnya.
.
.
.
Seminggu telah berlalu, hari pernikahan telah tiba. Rendy dan Andriana nampak bahagia dengan balutan busana muslim yang mereka kenakan, keduanya memilih untuk melakukan ijab qobul dengan pakaian seusai syar'i meskipun Andriana tidak memakai hijab, tapi dia menutupi kepalanya dengan selendang ala pengantin Arab.
Dia sangat cantik, kecantikannya sukses membuat semua orang pangling dengannya. Gadis tomboy itu nyaris membuat orang-orang yang sudah kenal dengannya lama syok dan takjub dengan penampilannya yang seperti itu.
__ADS_1
"Gila, lu cantik banget! Gak nyangka si Andriana yang kita kenal ternyata cewek tulen, haha!" ledek beberapa sahabatnya.
Andriana terlihat malu-malu saat digoda oleh orang-orang yang datang menemuinya, saat ini Rendy sedang melakukan proses ijab qobul bersama penghulu dan paman Andriana sebagai walinya, resepsi pertama akan digelar setelah ijab qobul tapi para tamu dari keluarga dan teman-teman dekatnya sudah pada datang.
Mereka ingin menyaksikan langsung ijab qobul pasangan ini, yang merupakan pesta pernikahan pertama yang baru digelar oleh keluarga Wijaya setelah mendiang pak Dewantoro, banyak orang yang menangis haru di hari bahagia itu, mengingat begitu banyak perjalanan panjang Rendy bersama saudari-saudarinya dalam mencapai kesuksesannya untuk tetap bersama.
Sebelum acara ijab qobul dimulai, Rendy menyempatkan diri untuk menemui kakak dan adiknya, dia ingin berbicara dengan keduanya. Dia meminta maaf kepada keduanya jika belum sempat membuat keduanya tinggal bersama lebih lama lagi, dan kata-kata penuh haru lainnya.
"Rendy, kamu satu-satunya anak laki-laki di rumah ini. Meskipun kamu sudah menikah kelak, bukan berarti tugas dan tanggung jawabmu sudah selesai di keluarga ini, tapi justru semakin banyak. Aku titipkan semuanya kepadamu, dik..
Aku percaya kepadamu kau akan menjaga keluarga ini lebih baik daripada ayah, aku juga yakin semua perusahaan dan kerajaan bisnis ini juga akan maju ditanganmu. Aku bukannya lepas tangan, tapi aku juga memiliki tanggung jawab sendiri karena aku memiliki keluarga juga yang harus aku jaga.
Adik kita ini meskipun dia sudah besar dan dewasa, tapi bagi kita Ericka tetaplah anak kecil. Dia penakut, cengeng dan lemah. Ingatanku tentangnya sewaktu kecil tetaplah sama, maka sebagai pengganti ayah.. Tugasmulah yang menjaga dan melindunginya, sampai suatu hari ada lelaki lain yang akan membawanya pergi dari rumah ini, kamu tau kan maksudku?
Sekarang kami telah mengikhlaskan pernikahanmu ini, dan jadilah lebih dewasa lagi. Karena lelaki setelah menikah tanggung jawabnya besar dan banyak, kau sekarang bukan hanya sebagai kepala keluarga Wijaya, tapi juga kepala keluarga bagi Andriana dan anak-anak kalian nanti.
Bersikaplah sebagai suami dan ayah yang baik untuk anak-anakmu kelak, jadikan apa yang pernah kita lalui dulu sebagai pelajaran, jangan sampai anak-anak kita mengalami apa yang kita alami, sekarang pergilah.. Sudah waktunya kamu melakukan proses ijab qobul, bawa Andriana ke keluarga kita sekarang juga..." ucap Reva sambil memeluk dan menepuk pundak Rendy dengan lembut.
Setelah itu dia dijemput oleh salah seorang kerabat untuk menuju altar pernikahan tempat dirinya akan melakukan proses ijab qobul, sementara Andriana berada di ruangan lain sambil menonton proses ijab qobul itu di layar televisi yang menayangkan siaran langsung tersebut.
"Wahai Rendy Saputra bin almarhum Dewantoro Wijaya, saya nikah dan kawinkan engkau dengan keponakan saya yang bernama Andriana Sulistyowati binti Arman Sudrajat dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas senilai 100 gram, dan cincin berlian 10 gram dibayaaarrr.. Tunai!" ucap pamannya Andriana sambil memegang erat tangan Rendy.
"Saya terima nikah dan kawinnya Andriana Sulistyowati binti Arman Sudrajat dengan mas kawin seperti yang diucapkan tersebut dibayar Tunai!" jawab Rendy dengan mantapnya, tegas dan lantang.
"Bagaimana para saksi, Saah?!" tanya pak penghulu.
"Saaaahh!!" jawab semua orang serempak.
__ADS_1
Tepuk riuh gemuruh terdengar dari ruangan sebelah, Andriana menangis terharu saat mendengar dan melihat proses ijab qobul itu, dia pikir Rendy akan banyak melakukan kesalahan, ternyata dengan sekali tarikan nafas dia begitu lancarnya mengucapkan ijab qobul itu tanpa kesalahan sedikitpun. Sebelumnya Rendy sempat mengirim pesan kepadanya lewat message, kalau dirinya sangat gugup sekali, berulang kali latihan sendiri mengucapkan ijab qobul agar tak melakukan kesalahan, tapi tetap saja dia merasa grogi, takut tangannya Tremor saat menjabat tangan sang paman.
Dan sekarang semuanya berjalan dengan lancar, dan Alhamdulillah dia berhasil melaluinya dan apa yang dia takutkan tidak pernah terjadi. Setelah itu Andriana dijemput untuk menemui Rendy yang sekarang ini sudah sah menjadi suaminya.
Semua mata memandang takjub dan pangling kepadanya, termasuk Rendy juga. Semenjak kemarin dia belum melihat gadis itu dan ketika sudah sah menjadi istri barulah dia melihatnya kembali. Dengan penampilan yang berbeda, sosok Andriana yang dia kenal nampak berbeda hari itu, dengan balutan gaun putih gading yang panjang menutupi semata kaki, selendang putih berenda menutupi kepalanya lengkap dengan tiara kecil, membuatnya begitu cantik bak princess.
Sesampainya dia menyalami semua orang, dan juga suaminya. Rendy yang sendari tadi ternganga melihat Andriana langsung disenggol oleh Erick, seketika dia langsung sadar dan menyambut istrinya itu.
Melihat pernikahan itu, membuat William jadi memikirkan sesuatu. Dia melihat Geraldine yang berdiri tak jauh dari Reva dan Ericka, gadis cantik yang memiliki tinggi semampai itu tambah terlihat cantik saja dengan balutan dress bridesmaids, gadis itu menoleh kearahnya dengan senyuman manisnya, membuat William semakin tak tahan ingin melakukannya.
"Sabar, tunggu momen yang tepat.." gumamnya sendiri.
"Momen apa?" tiba-tiba saja Nico sudah ada dibelakangnya.
"Ya elah, bisa gak sih sekali aja gak ada orang terutama elu dibelakang gw!" ucapnya kesal karena merasa sekali lagi dikagetkan dengan kedatangan Nico itu.
"Haha, anggap saja aku ini dewa penolongmu! Aku yakin kali ini juga aku pasti bisa memberikan solusi yang bagus untukmu, katakan.. Apa yang bisa aku bantu?" tanyanya kepada sahabatnya itu.
"Apa kau yakin?" tanya William ragu.
"Serahkan saja padaku!" jawab Nico optimis.
Setelah itu William membisikkan sesuatu kepada Nico, calon Daddy itu terkejut lalu terkekeh sebentar. Kemudian dia mengacungkan jempolnya tanda setuju, kemudian dia menceritakan tujuan mereka kepada Reva dan Ericka, tentu saja keduanya sama terkejutnya dengannya tadi.
Lalu, apa yang akan dilakukan oleh mereka kali ini untuk menyatukan William dan Geraldine?
Yuk, kita liat ceritanya besok lagi. Karena ini merupakan bab-bab terakhir dari kisah mereka..
__ADS_1
...----------------...
Bersambung