Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Ternyata Dia Itu..


__ADS_3

Ericka, Rendy juga Geraldine meninggalkan paviliun itu dan menuju kantor polisi dimana Reva juga Andriana sudah menunggu. Sementara bu Weni dan asistennya diserahkan kepada polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, meskipun dia kesal karena sudah ditipu habis oleh Ericka, setidaknya itu lebih baik daripada ditahan didalam penjara buatan Nico.


"Jadi, bagaimana?" tanya Rendy penasaran.


"Kita sudah melaporkan dan menerangkan semuanya sesuai apa yang kita ketahui, setelah itu berkas-berkas tinggal dilengkapi saja nantinya. Soal bu Weni kita serahkan kepada polisi dan biarkan para pengacaranya Nico yang mengawasi.


Sekarang kita tinggal tunggu kabar dari Nico, saat ini dia bersama dengan om Richard. Katanya, om Richard juga sedang menyelidiki opa Harja dan keluarganya, dia curiga bahwa selama ini opa lah yang berusaha memisahkan ibu kita dengan keluarganya," ujar Reva menjelaskan semuanya.


"Jadi, selama ini om Richard juga sedang menyelidiki dan mengawasi opa Harja juga? Wah, seharusnya dari dulu kita bertemu dengannya agar bisa bekerja sama lebih baik lagi. Gak kebingungan terus.." ucap Rendy seperti menyesali sesuatu.


"Mau gimana lagi, takdir belum mempertemukan kita dengannya lebih cepat lagi, setidaknya ada hikmahnya. Dengan semua itu, kita jadi tau apa yang terjadi selama ini dan apa yang menimpa ibu selama ini bukanlah suatu kebetulan belaka, karena ada skenario besar yang membuatnya terpisah dengan kakek dan keluarga lainnya.." sahut Reva lagi.


"Aku bisa mengerti bagaimana perasaan om Richard selama ini, dia pasti bisa merasakan kesedihan dan kekecewaan yang dialami kedua orang tuanya juga nenek dan kakek.." ucap Ericka.


"Aku gak bisa bayangin perasaan kakek jika tahu semua perbuatan adiknya itu, dia pasti sedih dan kecewa sekali.." gumam Rendy menerawang.


"Sudah, sudah.. Yang lalu sudah berlalu, kita tak perlu mengingatnya lagi, yang penting kita tak mengulangi kesalahan yang sama juga, sebaiknya kita pulang saja, kak Reva kayaknya sudah sangat lelah sekali.. Dan Azzam juga nanyain kamu terus, Eri.." ucap Andriana mencoba menenangkan perasaan ketiga bersaudara tersebut.


"Baiklah, kita pulang.. Maaf ya kak, seharusnya kakak di rumah aja bersama Azzam, bukannya ikut-ikutan juga dengan semua ini.." ujar Ericka mereka bersalah dengan kakaknya itu.


"Sudah gak apa kok, ini aku malah seneng kok. Aku capek disuruh rebahan terus sama Nico juga kalian semua, aku yakin si dedek utun ini bakalan jadi detektif kayaknya, haha!" seloroh Reva sambil tertawa.


Semuanya tersenyum mendengar tawa candanya Reva, setidaknya kakak tertua mereka bersama calon keponakan baik-baik saja.


.


.


Sementara itu, Nico bersama om Richard juga orang-orangnya sedang mendiskusikan sesuatu, tentang rencana penjebakan salah satu pengkhianat diantara mereka selama ini.


"Aku tak pernah menyangka selama ini Wahyudi telah banyak berbohong dan juga mengkhianati kita, pantas saja kita selalu mendapatkan jalan buntu setiap kali mau melakukan penyelidikan dan mendapatkan informasi penting pak Harjamukti itu.


Ternyata dia selama ini menutup semua informasi itu dan malah membocorkan semua rahasia dan informasi penting yang kita simpan selama ini, jadi wajar saja jika pak Harjamukti bisa tak tertangkap bersama para anteknya itu.


Kali ini kita tak boleh lengah lagi, sebelum menangkap bosnya, kita tangkap dulu anak buahnya. Dengan seperti itu dia takkan pernah tau dan takkan pernah mendapatkan informasi apapun lagi darinya.." ucap om Richard terlihat gusar dan kecewa sekali dengan mantan rekannya itu.


"Baiklah, tapi dengan apa kita menangkap Wahyudi? Aku rasa dia tahu kalau sekarang dia dalam buronan kita, aku juga yakin dia pasti akan bersembunyi dengan baik.." sahut rekan om Richard tersebut.


"Kita sudah saling mengenal dengan baik selama ini, aku tahu kelemahannya. Untuk itu aku serahkan saja kepada bocah ini.." jawab om Richard sambil menunjuk suami keponakannya itu, yaitu Nico.


"Aku tau apa yang harus aku lakukan, tolong percaya dan yakinlah kepadaku soal ini.." ucap Nico.

__ADS_1


"Iya, kami yakin kepadamu maka jangan kecewakan om mu ini.." kata om Richard sambil tersenyum dan menepuk bahunya.


Setelah pembicaraan selesai, Nico dan lainnya pamit pulang karena hari sudah mau sore hari dan sang istri selalu menghubunginya terus.


"Pulanglah, mungkin saat ini Reva sedang membutuhkanmu. Kau tau, usia kandungannya sudah bertambah dan perutnya juga semakin membesar, jangan membuatnya lelah juga stres, kasihan calon cucu Om itu.." ujar om Richard tersebut.


"Iya, Om. Aku takkan membuatnya sedih lagi, dan siapa yang dari tadi mengintip dibalik pintu itu?" tunjuk Nico kearah sebuah pintu yang terbuka sedikit.


"Ah, bocah ini! Sebentar, Azka! Keluar sini, Papa tau dari tadi kamu di sana kan?!" teriak om Richard yang terlihat gusar sekali.


Tidak lama kemudian, keluarlah seorang pemuda tampan, dari perawakannya dia masih remaja dan bersekolah juga.


"Pa.." Azka keluar dari ruangan itu sambil tersenyum canggung.


Dia begitu malu sekali karena ketahuan lagi apa yang dia lakukan itu, dia penasaran setiap kali ada tamu papanya itu, para tamunya itu selalu datang sembunyi-sembunyi dan selalu membicarakan hal-hal penuh kerahasiaan.


Jika mereka sudah datang, maka mereka.. Yaitu dirinya, mamanya juga adiknya dilarang ikut nimbrung pembicaraan mereka, mamanya seolah mengerti apa yang dimaksud oleh papanya, makanya tak pernah protes.


Sedangkan si adik masih kecil, dia juga tak mengerti dan tak peduli juga, hanya dirinya lah yang berjiwa kepo dan ingin tahu semuanya, maklum jiwa muda yang masih bergejolak, masih belum bisa terkontrol.


Maka, secara diam-diam juga dia mengikuti papanya dalam menyelidiki kasus yang selama ini mereka tangani, hingga akhirnya dia tak sengaja bertemu dengan anak buahnya om Adji dan opa Harja, hingga terlibat dalam kasus kejar-kejaran dan tabrak lari tersebut.


"Hai, sepertinya kita pernah ketemu yah?" sapa Nico sambil tersenyum penuh arti.


"Tentu saja, kita kan pernah bertemu di rumah sakit waktu itu.." sahut Azka serba salah.


Saat ini pikirannya berkecamuk, papanya bilang bahwa Nico ini adalah suami dari sepupunya, dan setahunya Nico ini adalah kakaknya Ericka, wanita yang dia sukai itu, jadi..


"Rumah sakit? Oh, kalian bertemu waktu anak ini dirawat dulu yah?" tebak om Richard.


"Bukan, tapi kita bertemu secara kebetulan kok.." ujar Nico sambil tersenyum kearah Azka.


"Oh, semoga ini adalah awal yang baik buat kita semua.." ucap om Richard lagi.


Kemudian Nico beneran pamit pulang dan meninggalkan mereka di sana, sementara itu Azka masih bingung dengan semuanya yang terjadi, dan berusaha menelaah semua sikap aneh yang ditujukan oleh Nico tadi kepadanya.


"Pa, aku mau ngomongin sesuatu.." ucapnya kepada sang papa.


"Ngomong aja, pentingkah?" tanya om Richard sambil masuk kedalam rumah dan duduk di ruang keluarga setelah meminta asisten rumah tangganya untuk membersihkan meja tamu, bekas minuman para tamunya tadi.


"Kak Nico itu siapa? Dan kak Reva itu saudara sepupu darimana? Setahuku, mama gak punya keponakan yang bernama Reva.." tanya Azka penasaran.

__ADS_1


"Reva itu keponakannya papa, salah satu keluarga papa yang hilang selama ini papa cari, Azka.." ucap om Richard pelan sambil merenung.


"Jadi, papa sudah ketemu dengan keluarga papa yang hilang itu?! Dan itu dia?!" tanya Azka heran dan cukup kaget juga.


Bagaimana tidak, sudah bertahun-tahun om Richard mencari keponakannya itu dan hampir melupakan keluarga kecilnya itu, untuk istrinya om Richard sabar dan bisa memahami suaminya hingga dia bisa memaklumi semuanya.


Tapi tidak dengan anak-anaknya, Azka dan adiknya sering protes karena papanya sering diluar rumah dan jarang pulang, bukan hanya sibuk dengan bisnisnya tapi om Richard juga sibuk mencari tantenya yang sudah meninggal tersebut bersama anak-anaknya yang tidak tahu dimana tempatnya.


Padahal, jarak mereka cukup dekat, tapi takdir dan kehendak Tuhan lah yang membuat mereka tidak saling mengenali dan menyadari dengan cepatnya, apalagi om Richard selalu mencari mereka di daerah-daerah, yang berpikir jika Kakak sepupunya itu akan tinggal jauh darinya, padahal mereka berada di kota yang sama.


"Iya, Azka.. Tantemu, ibunya kak Reva sudah meninggal lama sejak dia masih kecil. Dan ayahnya menikah lagi semenjak ibunya meninggal, dunia ini sempit sekali, selama ini papa pikir mereka berada jauh entah dimana..


Padahal, selama ini mereka berada sangat dekat dengan kita, berada satu kota dengan kita,, papa sangat menyayangkan waktu yang papa buang selama ini mencari mereka di luar kota..


Seandainya dari dulu papa berusaha mencari informasi mereka lagi di kota ini, mungkin sudah bertemu sejak dulu. Ketika papa sudah menemukan mereka, kakakku.. Sudah meninggal, dan... Meninggalkan anak-anaknya yang masih terlalu kecil waktu itu.." ucap om Richard lirih.


"Jadi, kak Reva punya saudara juga?" tanya Azka lagi.


"Iya, dia punya adik lelaki juga perempuan.." jawab om Richard.


"Emm, Pa.. Apa kak Nico punya adik perempuan yah?" akhirnya Azka menayangkan hal itu juga, dia penasaran perihal hubungan Nico dengan Ericka.


"Haha, dia itu anak tunggal dan kaya raya! Dia tak punya adik, tapi kalau adik ipar perempuan ada! Ya itu, adiknya kak Reva.." sahut om Richard enteng.


Dhegg!


Jantung Azka berdegup kencang, pikirannya saat ini sudah kemana-mana, dia tak mau berpikir lagi takut apa yang dia pikirkan itu menjadi kenyataan, bagaimana jika Ericka itu adalah..


"Loh, masih duduk-duduk aja! Sana kakak juga papa mandi, bentar lagi magrib loh!" tiba-tiba saja mamanya Azka datang menghampiri mereka.


"Iya, ma! Ya udah, kita mandi dulu dan sholat magrib berjamaah yah, sudah lama sekali kita tak sholat berjamaah lagi.." ucap om Richard sembari meninggalkan tempat duduknya.


Meninggalkan Azka yang masih merenungi ucapan sang papa, dalam hatinya meringis.


"Baru aja senang, udah patah hati aja!" gumamnya, merutuki nasib percintaannya itu.


"Ayo, semangat Azka! Setidaknya papa sekarang udah gak pergi-pergi lagi, ayo cari cewe lain aja!" ucapnya menyemangati diri sendiri.


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2