
Tidak lama kemudian tante Sonia keluar dari ruangan itu, selang beberapa saat perawat lain datang bersama dokter, untuk membawa oma Mariani ke ruang perawatannya, sehingga tak ada waktu untuk opa Harja untuk melihat keadaannya.
"Bagaimana keadaan ibu, Mbak?" tanya tante Sarah tanpa malu.
"Ma, oma gimana?" tanya Enzy khawatir, hanya dia yang benar-benar tulus dibandingkan yang lainnya.
"Oma masih belum sadarkan diri, doakan beliau cepat sadar dan sehat kembali. Bersama dengan kita lagi seperti dulu, kamu... Mau kan menemani Mama merawat oma?" tanya tante Sonia ingin melihat ketulusan putrinya itu.
"Mau, Ma! Biar kita aja yang rawat oma.." jawab Enzy dengan polosnya.
"Terima kasih ya, Nak. Setidaknya satu dari dua anakku ada yang memiliki hati nurani.." ucap tante Sonia sambil memeluknya.
"Maksud Mama apa?! Apa aku tak memiliki hati nurani?!" tanya Zacky agak tersinggung dengan ucapan sang mama.
"Menurutmu? Hanya kamu yang tau isi hatimu sendiri, Nak. Orang lain hanya bisa menebak, meskipun mama adalah ibu kandungmu bisa saja salah menebak kan..." ucap tante Sonia pelan.
"Aku..." lidah Zacky begitu keluh, dia tak tau harus menjawab apa.
Dia akui menyadari hubungan papanya dengan tante Sarah, dia tak ingin mengadukannya kepada mamanya takut nanti kedua bertengkar hebat dan akhirnya berpisah.
Tapi tanpa dia berkata apapun, toh akhirnya sang mama tau sendiri apalagi tante Sarah terang-terangan mempublish hubungannya dengan om Adji, papanya sendiri. Dia menatap sendu kepada sang mama merasa bersalah, dan melihat enzy adiknya itu khawatir.
"Seandainya papa gak terlalu serakah, mungkin hal ini takkan terjadi. Akh! Kenapa harus dengan tante Sarah sih selingkuhnya?! Kenapa gak dengan orang lain saja!" gumamnya sendiri dalam hati, merutuki papanya kesal.
Sementara itu, opa Harja nampak kesal sekali karena tak bisa melihat keadaan oma Mariani, meskipun dia terlihat lega karena wanita paruh baya itu masih tak sadarkan diri, tapi dia merasakan was-was sendiri apalagi saat melihat keadaan tante Sonia yang nampak baik-baik saja saat keluar dari ruangan tadi.
"Kenapa dia nampak begitu berbeda dengan yang tadi? Aku kira dia masih histeris saat tau ibunya koma, apa wanita tua itu benar-benar koma atau..." opa Harja masih menerka-nerka sendiri dengan gelisah.
"Kak!" om Seno datang bersama beberapa orang-orangnya menyusul mereka ke ruang perawatan oma Mariani.
"Bagaimana keadaan ibu?" tanyanya langsung.
"Seperti kata dokter, ibu masih belum sadar dari pingsannya, koma. Tapi untuk saat ini beliau masih dalam keadaaan kritis dan masih membutuhkan alat bantu untuk pernafasan, seperti tabung oksigen dan berbagai selang menancap di tubuhnya.
Kakak jadi tak tega melihat keadaannya, Seno. Ibu sudah tua, kenapa dia harus mengalami ini semua. Seno, aku dan Enzy yang akan bertanggung jawab merawat ibu, kamu dan orang-orangmu mengurus yang lainnya" ujar tante Sonia.
__ADS_1
"Iya, Kak. Ini aku bawa beberapa pengawal untuk menjaga ruangan ibu dari orang-orang yang tak bertanggung jawab, entah mengapa aku curiga musibah yang dialami oleh beliau, bukan kecelakaan biasa, sampai ketemu titik terang dari semua permasalahan ini, aku melarang siapapun masuk ke ruangan ibu tanpa seizin kita berdua!" ucap om seno dengan tegas sambil memperhatikan semua orang yang berada di sana.
"Bagaimana bisa begitu, Seno! Kami juga berhak untuk melihat ibu," ucap om Adji protes.
"Masih mengakuinya mertuamu setelah apa yang kalian lakukan?!" tanya om Seno sinis.
Om Adji maupun tante Sarah langsung terdiam dan menunduk malu, mereka beringsut mundur dari sana dan hanya memperhatikan saja, tak jadi berkata-kata lagi.
"Mulai saat ini aku dan kakakku saja yang memiliki wewenang atas ibu kami dan juga keluarga ini, karena ini sedari awal adalah tanggung jawab kami, aku tak peduli dengan tanggapan kalian, kalau mau mengajukan protes silakan, mau lewat jalur hukum, boleh juga!
Aku tunggu kalian, aku mau melihat siapa yang masih berani bersikap seperti itu dikala ibuku yang masih terbaring di rumah sakit, jika ada aku anggap mereka ingin memberontak!" ucap om Seno tegas, dia sangat berubah sekali berbeda dengan dirinya sebelumnya.
"Apa maksudmu, Seno? Ingat, kalian masih ada aku! Setelah ibumu aku yang bertanggung jawab atas semuanya, entah itu keluarga juga perusahaan. Aku setuju jika kalian berdua yang bertanggung jawab atas ibumu dan juga perusahaan.
Tapi ingat, cobalah profesional. Jangan libatkan urusan pribadi ke urusan pekerjaan, kalau ibumu tau dia pasti akan kecewa lagi denganmu, mau sampai kapan kalian selalu membuatnya kecewa?" ucap opa Harja sambil tersenyum licik.
"O ya, begitu? Ah, maaf saya hampir melupakan Paman, karena aku pikir Paman tak ada kontribusi apapun terhadap keluarga ataupun perusahaan kami, setahuku begitu" jawab om Seno tak kalah sengitnya.
"Seno!" bentak om Adji, dia merasa tak terima salah satu orang yang dituakan di rumah itu direndahkan oleh adik iparnya itu, lebih tepatnya orang yang bekerja sama dengannya selama ini.
Paman hanya bisa memberikan saran dan masukan tak masuk akal kepada ibu kami, membiarkan dirinya menjadi manusia paling dengki seumur hidupnya, membenci seseorang yang dia sendiri tak tahu seperti apa orang itu.
Itu semua ulah Paman, kan? Kami diam bukan berarti tak tahu apapun, kami diam bukan berarti kami bodoh! Kami hanya mengamati sampai mana kalian akan bertindak, sampai mana kalian berbuat nekad hingga mampu berbuat kriminal dan kejahatan hanya sebuah harta yang tak kalian bawa mati!" teriak om Seno, nafasnya tersengal-sengal saat mengatakan itu semua sambil menatap nanar mereka semua.
Untung saja lantai tempat ruang rawat inap itu sepi dan tidak ada pasien lain kecuali oma Mariani, om Seno sengaja membawa oma Mariani untuk dirawat di ruang VVIP agar lebih nyaman dengan pelayanan dan perawatannya.
"Pak.." tiba-tiba saja datang beberapa orang lainnya menuju ke arah mereka setelah keluar dari pintu lift.
"Sesuai perintah, dan permintaan Bapak. Pihak rumah sakit mau ikut bekerja sama dengan kita juga pihak kepolisian untuk menjaga keamanan ibu Mariani.
Mereka ini adalah bagian dari pihak keamanan dari rumah sakit, mereka akan berjaga bergantian dengan pihak kita menjaga ruangan ibu bos!" ucap orang suruhan om Seno.
"Bagus, ini adalah daftar orang-orang yang boleh masuk dan tidak boleh masuk, kalian bisa lihat ada nama lain dilingkari garis merah, mereka adalah orang-orang yang dianggap paling berbahaya, jangankan untuk masuk, mendekati ruangannya saja tak boleh.." ucap om Seno memberikan pengarahan kepada mereka, tentu saja dengan jarak yang lumayan jauh dari orang-orang tadi.
Dia tak ingin rencananya tadi diketahui oleh opa Harja juga yang lainnya, mereka berbicara pelan berada diujung koridor lantai itu.
__ADS_1
"Sonia, apa yang direncanakan oleh adikmu itu? Apa kau tau? Janganlah bersikap seperti anak kecil, jika kau dan dia kesal dengan suami dan adik iparmu itu, jangan kau libatkan aku dan juga yang lainnya!" ucap opa Harja, masih belum mengetahui situasi sekarang ini.
"Aku sudah menyerahkan semuanya kepada Seno, Paman. Aku hanya fokus mengurus ibu saja, o ya satu hal lagi.. Seno sudah menjatuhkan talak kepada Sarah, dan aku lihat wanita itu baik-baik saja dan menerima perceraian mereka.
Sekarang surat perceraian mereka sedang dilimpahkan ke pengadilan dan masih di proses, termasuk surat perceraianku juga, aku tak peduli mas Adji mau menerima perceraian atau tidak, aku akan tetap menceraikannya, kalau perlu aku jebloskan dia ke penjara!" ucap tante Sonia menatap tajam kearah om Adji dan tante Sarah.
"Sonia, tidak seperti ini.." opa Harja berusaha menengahi.
"Terus seperti apa, Paman? Bahkan aku yakin Paman juga tau atas perselingkuhan mereka, kan? Kenapa diam saja, kau terlihat sedang melindungi mereka, sungguh keterlaluan! Padahal kau itu salah satu tetua di rumah ini yang sangat dihormati, tapi sikapmu itu mencerminkan kepribadian yang sangat zholim, bahkan kepada keluargamu sendiri!" ucap tante Sonia sudah mulai muak dengan sikap sandiwara mereka selama ini.
"Sonia, jaga bicaramu! Kalau tidak--" opa Harja sudah hampir habis dengan kesabarannya, sedari tadi diuji oleh om Seno dan tante Sonia.
"Kalau tidak apa? Apa paman akan menyingkirkan kami juga seperti yang lainnya?! Sudah cukup, Paman. Aku dan Seno tidak akan diam lagi sekarang ini, kami akan bergerak jika terjadi sesuatu pada keluarga ini.
Kami akan menjaga anak-anak kami sendiri, dan kalian juga sudah besar dan dewasa, jika kalian masih berpikir jernih lebih baik menjauh dari mereka sebelum terlambat, jika kalian memilih ikut mereka, maka nama belakang kalian akan dihapus dan bukan bagian dari keluarga ini lagi!" ucap tante Sonia sangat serius sekali.
Kemudian dia menarik tangan Enzy masuk ke ruang perawatan ibunya itu, ketika yang lainnya hendak menyusulnya malah ditahan oleh beberapa pengawal yang berjaga.
"Maaf, orang luar dilarang masuk" ucap pengawal yang badannya paling besar memberikan pernyataan.
"Apa maksudmu?! Kami ini cucu-cucunya! Minggir!" ucap Arlon marah.
"Setau saya hanya nona tadi yang bersikap sebagaimana mestinya cucu, tapi aku lihat kalian ini lempeng-lempeng aja gak ada khawatir-khawatirnya.
Dan dua orang itu sudah di pecat jadi menantu keluarga ini, jadi tak ada wewenangnya lagi, dan kakek tua ini juga sebagai penasehat keluarga, meskipun tak bijak-bijak amat sih.." ucap pengawal itu sambil mengamati mereka.
"Kau ini siapa? Pengawal atau detektif?! Kok tau semua!" tanya juga Zacky heran.
"Ah! A-aku hanya pengawal kok, hehe! Kebetulan tadi gak sengaja mendengarkan sandiwara radio tentang drama rumah tangga, keluarga yang toxic!" jawab Jhon, salah satu pengawal kepercayaan Nico yang ditugaskan untuk membantu om Seno dan tante Sonia.
"Aku siapa? Aku dimana? Kenapa aku bisa berada disini?! Gara-garanya punya bos seenaknya ini, aku jadi terlempar kesini dan ikut-ikutan drama keluarga toxic seperti ini!" gumamnya dalam hati, kesal sendiri.
Karena mereka sudah sejak dulu bersama, sudah seperti saudara dan teman jadi dia enjoy-enjoy aja ditempatkan dimana saja, tapi gak nyangka aja malah kejebak mengawal keluarga toxic.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung