
Hai Diary
[Sudah lama aku tak menyapamu, apa kau merindukanku? Aku ingin bercerita lagi tentangnya, lelaki yang aku suka tapi ternyata tidak ditakdirkan untukku.. Dia kembali lagi, dan tiba-tiba mengatakan perasaannya kepadaku, aku harus bagaimana? Aku tak mungkin menerimanya disaat wanita lain merasa tersakiti, aku memang menyukainya dan senang akhirnya dia juga menyukaiku, tapi ada wanita lain diantara kami, aku tak bisa bahagia seperti ini..]
Ericka terdiam sejenak, apa selama ini mereka salah berpikir dan menduga, apa jangan-jangan ibu mereka yang merebut ayahnya dari Elena? Dia masih menduga-duga, dan memilih melanjutkan bacaannya.
[Aku katakan padanya, sebaiknya dia pulang dan bersama dengan gadis itu, wanita pilihan orang tuanya, tapi dia begitu gigih sekali untuk menyampaikan perasaannya kepadaku, ditambah lagi dia mencoba segala cara untuk menyakinkanku, agar percaya dengannya. Aku jadi bimbang, Diary.. Katakan aku harus bagaimana? Dilain sisi, aku mencintainya, tapi disisi lain aku tak ingin merusak kebahagiaan orang lain. Dan tibalah saat seseorang datang menemui aku di panti ini, dia bilang dia adik kandung ayahku, dan mau menjadi wali nikahku dengan mas Dewan, lelaki itu. Lantas apa aku percaya? Tidak, bagaimana bisa orang asing yang datang tiba-tiba mengaku jadi pamanku dan mau menikahkan aku dengan lelaki lain, sedangkan kamu tak pernah bertemu dan berkomunikasi? Apa dia orang suruhan mas Dewan? Mengaku jadi pamanku? Jika benar, ini keterlaluan!]
"Siapa paman yang dimaksud oleh ibu disini? Opa Harja kah? Jika benar, apa dia sudah merencanakan ini semua untuk menikahkan ibu dengan ayah? Menjadikan ibu seorang pelakor?" gumam Ericka penasaran, dia melanjutkan bacaannya lagi.
[Aku mungkin tidak berpendidikan tinggi, tapi aku tidak bodoh. Aku mencari tahu siapa lelaki itu, kenapa dia tiba-tiba datang dan mengaku pamanku? Dan apa maksudnya akan menikahkan aku dengan mas Dewan, apa sebelumnya mereka sudah saling mengenal? Satu informasi penting yang aku ketahui, dia memang adik ayahku, tapi mengapa dia baru datang? Dan aku tak melihat ada pancaran kasih sayang dimatanya saat melihatku, yang ada rasa benci dan jijik... Apa karena itu aku dibuang? Sehina itukah aku? Apa yang dilakukan oleh orang tuaku dimasa lalu hingga aku mendapatkan karmanya?]
Ericka menghela nafasnya dalam, dia ikut merasakan apa yang dirasakan oleh ibunya saat itu, dia jadi ikutan geram dengan lelaki itu dan menyakini jika itu opa Harja.
[Namanya Harjamukti Kusumo, dia lebih suka aku memanggilnya om Mukti, entah aku merasa dia menyembunyikan sesuatu. Hingga suatu hari, aku tidak sengaja mendengar percakapannya dengan seseorang di telpon, intinya dia ingin aku menikah dengan mas Dewan, agar dia bisa mengambil keuntungan dari itu, mengingat keluarga mas Dewan yang sangat terpandang itu, hatiku sakit rasanya, ternyata benar dugaanku, tak ada yang benar-benar menyayangiku, seorang anak yatim-piatu yang terbuang ini. Aku menyetujui pernikahan ini, bukan karena aku egois dan ingin memiliki harta mas Dewan dan keluarganya, bukan! Tapi justru kebalikannya, aku ingin melindungi mereka dari cengkraman pamanku, meskipun dia akhirnya mendapatkan sedikit keuntungan dari itu, tapi aku takkan membiarkan dirinya mengambil lebih dari itu.]
Ericka menghela nafasnya kasar, benar dugaannya ternyata itu benar opa Harja, bahkan kakek tua itu sungguh konsisten jahatnya sejak dia masih muda lagi.
[Diary, ternyata pernikahan itu tak seindah yang dibayangkan, pamanku terus datang dan merongrongku dengan segala kebaikan yang katanya mau menjadi wali nikahku, hanya karena dia melakukan satu kebaikan, dia terus mengungkitnya, hingga orang tua mas Dewan sangat membenciku karena ulah pamanku itu, mereka semakin yakin jika aku memang menikah dengan putra mereka karena harta, yang lebih menyakitkan mas Dewan tak sekalipun membelaku, disatu sisi mertuaku dan satu sisi pamanku sendiri, aku bagaikan ikan terhempas ditengah daratan, hidupku terasa sangat sesak menyakitkan.]
"Kasihan ibu..," ucap Ericka tak tahan membaca buku itu.
Dia meletakkan diary ibunya diatas meja, dan mengusap wajahnya, dia mencoba membayangkan posisi ibunya waktu itu, suami yang tak peduli, mertua jahat dan paman juga tak kalah jahatnya, mau bercerita ke siapa? Bahkan dia tak memiliki orang yang bisa diajak bicara, meskipun dia anaknya rajin dan telaten mengurus anak-anak panti lainnya, tapi itu tak bisa memberikan kasih sayang yang lebih untuknya dari pengurus panti maupun teman-temannya yang lain.
Menurut diary ibunya, sang ibu begitu tak disukai di sana, karena dia cantik, pintar dan penurut, banyak orang tua asuh lainnya ingin mengadopsinya tapi ibu panti tak pernah membiarkan dirinya keluar dari sana, bukan karena dia merasa sayang melepasnya, tapi tak ada yang bisa dimintai tolong jika ada sesuatu di sana.
__ADS_1
Ericka menangis saat kembali membaca diary sang ibu, begitu tersiksanya ibu mereka hingga harus menjalani hidupnya seperti itu, sejak dia lahir hingga dewasa dia hanya dimanfaatkan saja.
"Semoga di akhirat sana ibu sudah lebih tenang, sudah berkumpul dengan nenek dan kakek, bahkan ayah juga ada di sana. Aku takkan membiarkan mereka semua hidup tenang, ibu..
Aku akan membalas semua perbuatannya kepada ibu, selama sisa hidup ibu itu selalu di manfaatkan dan disakiti, kali ini biarkan aku yang melakukannya apa yang seharusnya ibu lakukan lebih dulu waktu itu.." ucap Ericka bermonolog sendiri.
Tok!
Tok!
Tok!
"Dek, masih disini? Kamu kenapa, habis nangis?!" tanya Rendy terlihat khawatir melihat mata Ericka yang sembab karena menangis sepanjang dia membaca diary sang ibu.
"Sedikit.." jawab Ericka parau.
Ericka hanya menggelengkan kepalanya saja, kemudian dia beranjak dari duduknya sambil mengambil buku diary ibunya dalam pelukannya.
"Aku akan melanjutkan membacanya didalam kamar saja..," ucapnya lalu pergi dari ruangan itu.
"Pasti ada sesuatu yang dia temukan didalam diary itu, mungkin sebuah fakta lain yang mengejutkan, sesuatu diluar pemikiran kami atau entahlah.. Entah mengapa aku merasa khawatir dengannya.." gumam Rendy sendirian.
Dia pun keluar dari kamar itu setelah menutup dan menguncinya kembali, saat dia ingin beranjak dari sana, dia kembali menoleh kearah pintu ruangan itu.
"Ada apa sebenarnya yang terjadi? Apa ada rahasia lain yang ayahku sembunyikan selama ini?" ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Kemudian dia pun kembali ke kamarnya dan mencoba melakukan penyelidikan sendiri atas semua keterkaitan antara keluarga om Richard dan kakek Harja.
Sementara itu, didalam kamarnya Ericka masih melanjutkan bacaan diary sang ibu..
[Hari ini aku sangat bahagia sekali, saat mengetahui aku sedang mengandung anak pertama kami, mas Dewan terlihat bahagia sekali, dia mulai memperhatikan aku lagi, dan berusaha membuatku bahagia, kedua orang tuanya pun mulai menerimaku, aku bahagia sekali, terima kasih Tuhan engkau telah mengabulkan doa-doa hambamu ini]
[Hai Diary
Aku kembali lagi, ternyata kebahagiaanku tak berlangsung lama, pamanku sempat pergi dan tak kembali itu tiba-tiba datang dan mengusik ketenangan hidupku lagi, ah aku pikir keluarga adalah tempat kita bernaung dan berlindung, tapi tidak dengan pamanku, dia tak sedikitpun membiarkan aku bahagia. Tidak cukup dengan itu, wanita yang sempat ada dihidup mas Dewan tiba-tiba datang juga, kali ini dia datang tak sendiri, katanya dia sudah menikah juga, ah syukurlah.. Setidaknya kegundahan hatiku sirna karena dis sudah menikah lagi, tapi dia begitu sering datang dan kembali mengambil hati mertuaku lagi, dia mulai memfitnahku, menghinaku, dan mempengaruhi suamiku, lagii..]
[Hai Diary
Hari ini aku bertengkar hebat dengan suamiku, karena dia mulai termakan fitnah gadis itu, entah bagaimana caranya gadis itu mempengaruhinya sehingga dia begitu percaya dan mulai meragukanku, tapi untunglah ada dua kerabatnya yang masih bisa menasehatinya dan tidak kembli berhubungan dengan mantan tunangannya itu, aku masih bersyukur masih ada yang peduli denganku. Tapi tidak dengan mertuaku, mereka masih membenciku, dan tidak tertarik dengan cucu pertama mereka ini, anak yang masih ada didalam kandungan ini sudah mulai tak disukai kehadirannya..]
[Hai Diary
Aku senang sekali akhirnya aku melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik sekali, anak baik tak pernah rewel seolah mengerti dengan kesibukan ibunya ini, mertuaku sama sekali tak ingin membantu, semuanya aku kerjakan sendiri mengurus anak, sangat berbeda sekali dengan apa yang aku dengar, kata mereka mertua biasanya akan sangat sayang dengan cucu mereka melebihi anak sendiri, apalagi cucu pertama dari anak pertama pula, tapi kenapa aku dan anakku berbeda dengan lainnya? Apa karena aku seorang yatim piatu dan cucu pertamanya ini perempuan yang tidak sesuai harapan mereka? Sungguh malang sekali nasibmu, Nak.. Ibu tidak akan membiarkan kamu kekurangan kasih sayang orang tuamu, jika ayahmu tak sanggup memberikannya lebih untukmu, maka ibu akan memberikan segalanya untukmu, hidupku, nyawaku adalah milikmu, kau akan mendapatkan limpahan kasih sayang yang tak terhingga dari ibumu ini..]
Ericka tak kuasa menahan air matanya lagi membaca kata-kata itu, kalimat yang penuh arti dari seorang ibu untuk anaknya tercinta, dia menyesal telah berburuk sangka selama ini, mengira hanya dirinya yang tak dianggap di keluarga ini, ternyata kakaknya pun sama dengannya, hanya saja kakaknya pernah merasakan kasih sayang dan cinta dari ibu dan ayah mereka.
[Hai Diary
Hatiku sangat teriris sekali saat melihat anakku bermain sendiri tanpa ada yang menemani, teman-temannya yang biasa bermain dengannya tiba-tiba menjauhinya, aku tak tahu apa sebabnya, sehingga ada orang tua teman anakku mengatakan jika ada seorang wanita memfitnahku mengatakan kalau aku dan putriku adalah orang jahat yang mengambil sesuatu miliknya, sungguh jahat sekali fitnah itu, ya Tuhan... Kenapa anakku juga kau libatkan?]
...----------------...
__ADS_1
Bersambung