Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Kepulangan Azzam


__ADS_3

Semuanya terdiam dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Geraldine itu, mereka saling pandang dan sedikit menunduk, dari raut wajahnya, Geraldine tau mereka sedang menutupi sesuatu dan takut akan apa yang terjadi nantinya.


"Percayalah, aku bukan bagian dari komplotan mereka. Aku hanya penasaran dengan semua yang terjadi, aku lihat kalian sudah lelah dan jengah dengan perbuatan mereka, tapi kenapa kalian begitu pasrah saja?


Cobalah untuk berbicara dengan semua orang, percayalah sedikit dengan orang luar. Dan kapan perlu kalian bisa laporkan mereka kepada pihak yang berwajib!" ucap Geraldine berusaha menyakinkan mereka.


"Tapi kami semua telah mencoba semua opsi yang kau katakan tadi, Nona. Semuanya tak berhasil dan tentu saja kami tertangkap, semuanya sama saja! Semuanya akan berpihak kepada yang berkuasa dan ber uang saja!


Kami pernah mencoba kabur, tapi tertangkap lagi dan penyiksaan nya lebih berat lagi, kami berusaha berbicara dan mengatakan semuanya kepada pengunjung yang datang, tapi kami malah dikurung dan anak-anak di siksa lebih keras lagi, dan ternyata para pengunjung tersebut adalah para pembeli jasa anak-anak ini.


Maka, tak heran jika kami semua menganggap semua pengunjung ini adalah para pembeli jasa anak-anak panti ini, mereka tak ubahnya dengan ketua panti ini, sama-sama jahat dan kejamnya!


Bahkan, beberapa oknum polisi pun ikut terlibat termasuk juga dengan beberapa pihak ikut terlibat dalam transaksi jual beli anak di panti ini.." sahut salah satu pengasuh tersebut.


Dia sudah tak kuat bercerita lagi, air matanya sudah tak bisa dia bendung lagi, mengalir begitu saja ketika rasa sakit di hatinya sudah menyeruak kembali menyesakkan dadanya.


"Kami tak tahu harus bagaimana lagi, Nona. Kami tak tahu harus percaya dengan siapa lagi, kemana kami harus meminta tolong dengan segala penderitaan ini..


Kami bisa saja keluar dari sini, tapi bagaimana dengan anak-anak ini? Siapa yang akan mengurus mereka? Siapa yang akan mengobati luka-luka mereka setelah dihukum oleh ketua panti ini?


Aku tak bisa membayangkan jika kami semuanya pergi atau mati duluan, siapa yang akan mengurus mereka.. Sakit rasanya hati ini membayangkannya saja rasanya tak kuat.." sambung pengasuh tadi sambil terisak.


"Tenanglah, kali ini kalian bertemu dengan orang yang tepat. Dan percayakan semuanya dengan kami, kami akan membawa kalian semuanya dari semua penderitaan ini..


Kalian tidak akan pergi kemana-mana, ini rumah kalian, milik kalian, dan tentu saja hak kalian. Justru mereka lah yang harus keluar dan pergi dari tempat ini, mereka lah yang harus merasakan penderitaan dan rasa sakit yang kalian rasakan selama ini!" ujar Geraldine begitu bersemangat.


Dia benar-benar sangat patah hati dan begitu kecewa saat mendengar kisah anak-anak panti dan para pengasuh tersebut, entah mengapa dia merasakan Dejavu, dia teringat saat dia waktu kecil di siksa oleh paman dan bibinya, hanya pengasuhnya lah menjaga dan merawatnya.


Tapi sayangnya, pengasuhnya malah memanfaatkan kondisinya yang seperti itu sehingga dia berulang kali mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh pengasuhnya tersebut, tapi dia tak merasakan rasa sakit atau ketakutan, karena pengasuhnya begitu baik dan lembut kepadanya, sehingga dia tak menyadari jika dirinya dalam bahaya.


Dan itu mengapa orientasi seksual Geraldine sangat aneh dan menyimpang, tapi semenjak kehadiran William, entah mengapa didalam gejolak hati dan pikirannya begitu saling bertentangan, antara cinta, obsesi dan benci jadi satu.


"Nona, dari tadi anda selalu berkata kami terus.. Apakah kau tidak sendirian disini?" tanya pengasuh itu tadi sedikit menatapnya curiga.


"Iya, aku tak sendirian disini.. Taukah kalian apa yang dilakukan oleh ketua panti ini menyalahi aturan hukum dan pendidikan juga pendirian panti ini sejak awal? Karena semua kelakuannya ini tidak diketahui oleh pemimpin dan ketua panti asuhan Bunda Kasih yang sebenarnya.


Aku datang dalam hal penyelidikan lebih dalam lagi, untuk melihat langsung apa yang terjadi disini, dan mengambil beberapa bukti yang cukup untuk menjebloskan mereka kedalam penjara!" ucap Geraldine di sambut antusias oleh mereka semua yang ada di sana.


"Benarkah? Apa anda tidak salah, Nona? Tapi kenapa? Bukankah ini tidak ada hubungannya dengan kalian? Dan kalian tau darimana dengan semua ini? Setahu saya, tidak ada yang mendengar ataupun yang datang untuk melihat keadaan kami disini.


Terakhir bulan kemarin pendiri panti ini, tepatnya anak pendiri panti ini datang, hanya sebentar saja memberikan bantuan dan menyapa anak-anak, setiap kali mereka akan datang berkunjung, kami dipaksa berpakaian rapi dan harus terlihat senang dan bahagia.


Mereka datang bukannya memberikan kebahagiaan kepada kami semuanya, malah menyusahkan kami yang adanya! Sehari sebelum mereka datang, kami semuanya harus gotong royong untuk membersihkan semua tempat ini, tanpa terkecuali.

__ADS_1


Yang sakit disuruh sehat dan kuat, kami tak boleh terlihat lemah dan lesu, semuanya harus terlihat bahagia dan sehat tanpa terkecuali. Bukankah itu penyiksaan? Jadi, wajar kan jika kami beranggapan jika mereka juga berhubungan dengan semua ini!" ucap salah satu pengasuh yang terlihat lebih muda sangat emosional sekali dalam bercerita.


"Iya, kau benar juga. Tak ada yang salah, karena mereka selama ini menerima laporan tiap Minggu dan bulannya dari panti ini jika semuanya baik-baik saja, dan tidak ada laporan yang bermasalah.


Makanya, mereka beranggapan semuanya baik-baik saja tanpa mengetahui semuanya yang terjadi. Dengar, mereka itu orang-orang baik, jika tidak mana mungkin panti ini masih berdiri sampai saat ini, meskipun kenyataannya diluar ekspektasi mereka.


Aku datang mewakili mereka untuk melihat keadaan kalian langsung, dan aku janji akan menceritakan semua temanku saat disini. Bersabarlah, tidak akan lama aku dan lainnya akan kembali dengan semua hak kebebasan kalian juga!" ucap Geraldine.


Krieeett!


"Apa yang kalian lakukan disini? Kenapa diam-diam malah berkumpul disini?! dan kau, Nona.. Sebagai pengunjung, kau tak diharuskan masuk kedalam ruang privasi para pengasuh ini!" ucap salah satu pengasuh berbadan gemuk tadi, dia datang lagi dengan wajah angkuhnya itu.


"Ah, maaf! Saya hanya ingin melihat keadaan mereka langsung, permisi.." ucap Geraldine berpura-pura takut dan pergi dari sana.


"Ya, pergilah! Bos mu sudah menunggu dari tadi, dan ada seorang anak yang harus kau urus juga!" ucap pengasuh itu seperti sedang memberinya sebuah perintah saja.


"A-anak?!" para pengasuh yang lain begitu ketakutan saat mendengar ada seorang anak yang akan dibawa pergi dari sana.


"Iya, kenapa?! Tidak perlu terkejut seperti itu, ini bukan hal yang pertama kali kalian dengar dan ketahui, dan bos wanita itu tadi membayarnya cukup besar loh, haha!" ucap pengasuh jahat tadi sambil pergi meninggalkan mereka.


"Jadi, ada satu anak lagi yang dibawa pergi! Siapa yah? Apa wanita itu tadi dapat dipercaya?" ucap salah satu pengasuh tadi, saat ini hanya ada mereka, pengasuh jahat tadi sudah pergi jauh.


"Aku percaya dengannya, dan jika memang benar dengan semua ucapannya tadi, aku pastikan mereka sedang berusaha membawa satu persatu anak-anak disini keluar dari sini!" sahut yang lainnya juga.


"Dan bagaimana jika itu salah? Apakah kita telah melakukan sebuah kesalahan lagi?" ucap juga yang lain cemas.


"Meskipun itu salah, kita jangan menyerah untuk menyampaikan sebuah kebenaran. Mereka semuanya manusia, dan aku yakin ada sedikit perasaan dihati mereka, dan aku tau betul setelah melihat raut wajah mereka semuanya.." ucap pengasuh yang di awal tadi optimis.


"Amin, semoga semuanya benar. Ayo, kita juga harus bersiap-siap! Sebentar lagi jam makan siang, kasihan anak-anak kalau menunggu lebih lama lagi.." sahut dari salah satu mereka.


Para pengasuh itu mulai bersiap menyiapkan makan siang mereka dengan segala untaian harapan dan doa untuk keselamatan mereka dan anak-anak panti tersebut. Mereka sangat berharap sekali dengan Geraldine, berharap wanita cantik itu membawa semua perkataan dan janji-janjinya kepada mereka semua.


.


.


Sementara itu, didalam mobil. Geraldine bersama dengan Ericka dalam perjalanan pulang sambil membawa seorang anak lelaki dari panti tadi, itu semua diluar dugaan mereka juga.


Sebelumnya, di saat Geraldine dalam penyelidikan, Ericka berhasil mengambil beberapa alat bukti untuk memberatkan tuduhan kepada wanita tua didepannya itu, dia berhasil membobol isi brankas yang terletak dibawah meja bu Weni, dia juga sempat memeriksa isi laptopnya juga.


Saat itu bu Weni pamit mau keluar sebentar dengan alasan ada yang mau dia ambil sebentar, saat itulah Ericka melancarkan aksinya, saat bu Weni kembali semuanya telah selesai.


Tapi yang mengejutkannya adalah, kedatangan bu Weni dengan seorang anak lelaki yang sangat dia kenal, anak itu juga nampak terkejut juga melihatnya, Ericka memberikan kode kepada anak itu agar berpura-pura tak mengenalnya juga.

__ADS_1


"Syukurlah Azzam langsung bisa faham apa yang aku maksudkan, semoga dia tetap tenang seperti itu dan tidak melakukan kesalahan dengan tidak menyapaku!" gumam Ericka dalam hati.


"Nah, Nona! Anak ini merupakan salah satu sampel yang akan ditawarkan untukmu, dia meskipun masih kecil, tapi tenaga dan semangatnya luar biasa jika dipakai untuk bekerja!


Maklum, dulu dia sering hidup mandiri saat masih tinggal di jalanan sebelum dipungut oleh pemilik panti ini, haha! Sekarang, kehidupannya disini membuatnya belajar banyak hal, kalau tidak ada yang gratis di dunia ini, betul kan, Nak?!" sentak bu Weni mengejutkan Azzam yang sedari tadi hanya diam sambil mengamati Ericka.


"I-iya, bu.." jawab Azzam takut sambil menundukkan kepalanya.


"Hah-hahaha! Ia ini sangat pemalu, Nona. Harap maklum saja, belum pernah melihat orang yang begitu elegan dan berkelas seperti anda ini, haha!" ucap bu Weni dengan tawa sedikit memaksakan.


"Jadi, anak ini akan di tawarkan untukku?" tanya Ericka sambil berpura-pura memindai Azzam dari atas hingga bawah.


"Iya, hari ini anda bisa bawa satu ataupun dua anak dulu, sisanya baru bisa saya antarkan setelahnya. Tapi dengan bayaran dimuka lebih awal yah.." tawar bu Weni tanpa basa-basi.


"Baiklah, kamu lihat ada koper di samping saya? Buka itu!" perintah Ericka.


Bu Weni langsung meraih koper tersebut dan membukanya pelan-pelan, dia sangat terkejut sekali saat melihat apa yang ada didalam koper pipih berwarna hitam tersebut.


"I-ini uang? Semuanya uang, Nona?!" tanya bu Weni senang.


Matanya berkilap saat melihat lembaran uang kertas berwarna merah di sana, dia menyentuhnya dengan lembut dan beberapa kali menciumi uang-uang tersebut.


"Dia benar-benar sudah gila, begitu maniak sekali dengan uang! Untungnya dia membawa Azzam kesini, setidaknya aku bisa langsung membawa anak ini pulang begitu saja!" gumamnya lagi.


Bu Weni benar-benar tidak bisa fokus dengan semua keadaan ketika berhadapan dengan yang namanya uang, dia hanya mengangguk dan meng iyakan saja, ketika Ericka pamit pulang sambil membawa Azzam pulang.


Saat ini, di saat perjalanan mereka pulang, Ericka tak henti-hentinya tersenyum dan melirik adik kecilnya itu, dia menggenggam erat tangan itu.


"Maafkan kakak yah, kakak gak tau keadaan didalam panti seperti itu saat ini.." ucap Ericka pelan penuh penyesalan.


"Tidak apa, Kak. Aku mengerti kok, dan ini semuanya tak ada hubungannya dengan kalian, ini sudah jelas bu ketua panti yang sudah berbuat zolim kepada kami semuanya!" ucap Azzam begitu dewasa sekali cara berpikirnya, keadaan yang merubahnya menjadi begitu cepat dewasanya.


"Terima kasih sudah mau mengerti keadaan kakak saat ini, kamu baik sekali. Sesuai tujuan utama kami, kakak akan membebaskan kalian semuanya dari ketua panti juga teman-temannya itu," ujar Ericka memberinya sedikit semangat.


"Iya, kak. Semangat!" ucap Azzam sambil tersenyum lebar.


"Semangat!" seru Ericka lagi.


Dia sudah tak sabar ingin membawa anak ini pulang dan mengenalkannya kepada setiap orang, dia begitu senang akhirnya memiliki adik juga.


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2