Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Mimpi Indahku


__ADS_3

Reva dan lainnya masuk kedalam ruang kerja ayahnya, mereka menelisik ruangan itu siapa tahu mereka menemukan sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu mendiang ibunya.


"Aku menemukannya!" ujar Reva.


Dia memegang sebuah album dan buku agenda harian, terlihat dari bentuk sampulnya jika buku dan album itu sudah lama sekali.


"Dimana kamu menemukannya?" tanya Nico heran.


"Didalam laci lemari ayah, didalamnya ada brankas. Aku iseng membukanya dan ternyata berhasil!" ucap Reva senang.


"Emang kuncinya apa?" tanya Nico lagi.


"Ulang tahun ibu.." kata Reva pelan sambil memandangi album ditangannya itu.


"Aku yakin mendiang ibumu sangat berarti dihatinya, sampai sekarang dia masih menyimpan kenangan ini bersamanya. Dan kata sandi brankas itupun memakai tanggal ulang tahun ibumu juga" ucap Nico.


"Iya, kau benar. Meskipun hubungan mereka dinodai oleh pengkhianatan, tapi.. Entahlah!" ucap Reva.


Dia masih bingung dengan sikap dan isi hati ayahnya itu, jika dia memang masih mencintai ibunya, kenapa dia mengkhianati dan membenci ibunya?


"Apa yang kamu lamunkan, sayang?" tanya Nico, dia menegur Reva saat istrinya itu terdiam melamun.


"Gak ada, aku hanya teringat kembali dengan mendiang ibu.." ucap Reva sendu.


"Kita doakan saja almarhumah diterima disisi Yang Maha Kuasa, dan kita harus menerima dengan lapang apa yang diterima olehnya. Reva.. Ingat, kamu harus kuat. Kita gak tau orang-orang yang akan kita hadapi ini seperti apa" ucap Nico.


"Iya, Mas... Aku tau, aku akan berusaha. Dan tolong bantu dan ingatkan aku jika aku mulai melenceng dari tujuan ini" ujar Reva lagi.


"Iya.." sahut Nico.


Mereka semua duduk di sofa di ruangan itu, Reva membuka album foto itu dulu, di sana dia bisa melihat masa remaja ibunya bersama sang ayah, ada juga beberapa foto pernikahan mereka dan saat mendiang hamil dan memiliki Reva dan adiknya Rendy.


Awalnya foto di album itu lengkap mereka satu keluarga, terpancar dari foto jika keluarga mereka dulu sangat bahagia. Dan lama kelamaan foto itu hanya dipenuhi foto ibunya, Reva dan Rendy saja sedangkan ayahnya sudah tak ada di foto itu.


Dan akhirnya dipenuhi oleh foto masa kecil Reva dan Rendy saja, tak ada foto ayah maupun ibunya. dilembar akhir, ada dua foto menyayat hati, foto mendiang ibunya yang sedang hamil, duduk sendirian disebuah taman.


Dan Reva yakin itu adalah taman samping rumah mereka waktu itu, ibunya menghadap kearah lain, sepertinya dia tak sadar ada kamera dan bersikap biasa saja, mungkin diam-diam ayahnya mengambil foto ibunya.


Dan air mata Reva jatuh juga, betapa dia sangat merindukan mendiang ibunya, foto terakhir ibunya saat mengandung adik bungsunya, terlihat dari raut wajah ibunya, kesedihan yang amat dalam. Dan kedua foto Ericka masih bayi, bayi yang malang ketika dilahirkan sudah ditinggalkan ibunya, dan dibenci semua orang.


"Sayang.." Nico mengelus punggungnya untuk menguatkan Reva.


"Ah, maaf.. Aku terlalu terbawa suasana" ucap Reva pelan sambil menghapus air matanya.


"Menangislah jika itu bisa membuatmu jadi lebih baik, kamu berhak menumpahkan segala perasaanmu dan jangan kamu tahan jika itu menyiksa.


Kamu itu manusia, bukan robot. Kamu berhak bahagia, kamu bisa melakukan apa yang kamu mau, termasuk meluapkan emosimu selama ini.." ucap Nico.


Reva begitu terharu mendengar ucapan sang suami, dia begitu beruntung bisa menikah dengannya karena lelaki itu selalu menepati janjinya dan tak pernah membuatnya bersedih.


"Makasih, Mas.." ucapnya lembut kepada sang suami.


Kemudian mereka mulai membuka buku agenda itu, buku yang terlihat usang dan ada beberapa lembar kertas mulai terpisah dari bukunya. Mereka mencoba membaca kata perkata dari tulisan dibuku itu.


"Agak susah membacanya, ada beberapa tulisannya sudah gak jelas terbaca, dan ada juga beberapa kata yang terlihat dicoret itu, kita harus benar-benar teliti memeriksanya.." ucap Aaron.

__ADS_1


"Kau benar, kalau boleh aku ingin membawa buku ini untuk dipindai ulang. Kami akan memperbaiki beberapa halaman yang sudah robek ini, dan mungkin saja kami bisa memperjelas kata-katanya" ucap Nico.


"Boleh, asalkan kalian harus memberitahu aku atas penemuan-penemuan yang kalian temukan dibuku ini" ucap Reva serius.


"Oke, jadi.. Kita harus bergerak secepat mungkin, dan kalian bertiga untuk sementara waktu tinggal bersama kami dirumah, jangan tinggal di hotel, berbahaya untuk kalian" kata Nico kepada Aaron dan kedua anak buahnya.


"Tidak usah, Kak. Kita bisa tidur di apartemen, kalau gak ada paviliun kosong juga kan di puncak? Kami akan tinggal di sana" ucap Aaron.


"Jangan, itu terlalu jauh jaraknya. Kalau ada apa-apa akan susah menghubungi kalian, dan kalian juga akan repot nantinya bolak-balik dalam jarak yang lumayan jauh itu" sahut Nico.


"Kalau kalian sungkan tinggal di rumah, oke.. boleh tinggal di apartemen, tapi apartemen yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah saja" sambungnya lagi.


"Iya, Kak.." sahut Aaron sambil tersenyum.


"Aku sementara tinggal disini bersama Ericka, boleh ya Mas?" pinta Reva.


"Boleh, tapi kalau ada apa-apa beritahu aku dan jangan berbuat sendiri, ingat? Oke, aku pulang dulu, nanti aku suruh orang bawa beberapa pakaian ganti untukmu" ucap Nico lembut.


"Gak usah, aku masih ada beberapa pakaian disini.." sahut Reva.


"Iya, tapi itukan pakaian kamu masih gadis. Kalau sekarang kan udah mulai ndut, ada dedek bayinya didalam.." sahut Nico sambil terkekeh.


Tapi tawa itu cepat berlalu saat dia melihat istrinya itu memandanginya dengan sorot mata tajam.


"Usia kandunganku baru beberapa minggu, dan badanku tak segendut itu" ucap Reva kesal.


"Iya, iya... Maaf yah, istriku paling the best pokoknya!" seru Nico memenangkan Reva yang mulai merajuk itu.


Semua orang yang ada di sana tertawa geli melihat tingkah suami istri itu, mereka melanjutkan rencana mereka, tapi sebelum itu mereka harus istirahat dulu karena sebelumnya mereka harus bolak balik dari luar kota ke Jakarta.


.


.


Ericka sedang berada disebuah taman bermain, dia melihat ada beberapa anak-anak sedang berlarian disekitarnya, mereka nampak begitu senang tertawa bercanda riang satu sama lainnya.


"Ericka.." tiba-tiba ada suara lembut menyapanya.


Dia melihat ada seorang wanita cantik berdiri dibelakangnya, dia tersenyum ramah melihatnya dan Ericka juga melihat ayahnya di samping wanita itu.


Entah mengapa dia merasa kembali lagi ke beberapa tahun yang lalu, dia melihat kedua kakaknya sedang bermain ayunan, ayah dan wanita itu sedang bercengkrama duduk diatas alas terbuat dari tikar ditaman bermain itu.


"Siapa wanita itu? Ayah terlihat begitu bahagia bersamanya.. Dan kak Reva dan kak Rendy kenapa kembali menjadi kecil?!" tanyanya bingung.


Dia nampak bingung dan heran saat berada disana, dia merasa kembali lagi ketahun-tahun 80an, dimana rumah tangga kedua orang tuanya baik-baik saja.


" Ericka, nak kemarilah.." ucap wanita itu tadi.


Wajahnya begitu cantik dan lembut, entah mengapa dia merasa wanita itu begitu mirip dengannya, wanita itu memberikan sebuah foto lama ditangannya, sebuah foto seorang wanita sedang mengandung duduk sendirian ditaman.


Tes.. Tes.. Tes..


Tiba-tiba hujan datang, semua orang berlarian meninggalkan taman itu. Termasuk ayah dan kedua kakaknya, dia melihat wanita itu hanya melihat saja mereka pergi menjauh darinya.


"Ericka, anakku.." ucap wanita itu memandanginya ditengah hujan deras.

__ADS_1


Meskipun pelan dan terdengar samar, tapi Ericka masih bisa mendengar jelas suara itu. Tak sadar air matanya menetes di pipinya bercampur air hujan.


Wanita itu berjalan menjauh darinya, dia berjalan berlawanan arah dengan semua orang, ketika semuanya berlari berteduh dibawah naungan gedung di taman itu, sedangkan wanita itu berjalan ketengah taman yang ada pohon besarnya.


Dan tiba-tiba semuanya menghilang, gelap, dan hanya terdengar suara isak tangis di telinganya. Ketika dia membuka matanya, dia melihat kakaknya Reva sedang duduk disampingnya, sambil menangis menatap wajahnya, sehingga air matanya terjatuh di wajah Ericka.


"Ternyata aku bermimpi, tapi mimpinya nampak jelas sekali.." gumamnya dalam hati.


"Ah, maafkan kakak.. Aku berisik membangunkanmu.." ucap Reva sambil mengusap air matanya.


"Gak kok, aku terbangun karena merasa sedang kehujanan, eh gak taunya ada yang nangis. Pantesan wajahku ada airnya, hehe.." ucap Ericka berusaha menenangkan kakaknya.


Keduanya tertawa lucu, tapi Ericka merasa dirinya sedang memegang sesuatu ditangannya, dia melihat ada foto wanita hamil ditangannya, dan tiba-tiba dia teringat kembali dengan mimpinya tadi.


"Ini.." dia terlihat bingung dengan apa yang dia pegang.


"Ini foto mendiang ibu.." jawab Reva sendu.


Air mata Ericka langsung terjatuh saat mendengarnya, dia berusaha menyatukan potongan-potongan puzzle dimimpinya tadi dengan ucapan kakaknya barusan.


"Jadi, mimpi tadi.. Ya Tuhan, ibu mendatangiku lewat mimpi ini" ucapnya terisak-isak.


"A-pa?! Ibu datang dimimpimu?!" tanya Reva tak percaya.


Ericka mengangguk, dia menceritakan semua kejadian didalam mimpinya tadi, termasuk foto yang ada di genggamannya itu. Keduanya menangis haru dengan sebuah keajaiban itu.


"Dengan kata lain, ibu ingin memberitahukan kepada kamu bahwa kamu memang anak kandung ayah dan ibu.." ucap Reva masih terisak.


"Seandainya ibu juga datang ke mimpi ayah.." ucapnya lagi.


"Kemungkinan sudah, aku tak tahu juga. Hanya saja akhir-akhir sikap ayah berubah.." ucap Ericka sambil merenung.


"Kakak, apa benar ayah sedang koma saat ini?" tanya Ericka tiba-tiba.


"Iyaa, dia kecelakaan diwaktu pulang dari rumah sakit. Dan anehnya menurut keterangan saksi dan mas Bram, ayah ditemukan didalam keadaan pingsan sambil memeluk pusara makam ibu.." ucap Reva lagi.


"Ternyata didalam bencinya, masih ada cinta yang begitu dalam dihatinya untuk ibu.." ujar Ericka lagi.


"Aku harap setelah ini tak ada lagi masalah di keluarga kita.." gumam Reva.


"Amin.. Btw, yang nyulik aku siapa yah?" gumam Ericka lagi.


"Aduh! Hampir saja lupa soal itu, iya yah! Kamu kok bisa ngilang, gimana bisa kamu ada di sana?!" tanya Reva penasaran.


"Sebenarnya aku juga bingung kak, bangun-bangun aku udah didalam gubuk ditengah hutan.." ucapnya menjelaskan itu semuanya.


Dia mulai menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya kemarin itu, termasuk pelariannya didalam hutan, dan juga saat dia melihat ada tiga orang yang menemui dua penculik itu, dan kemungkinan mereka adalah dalang penculikan itu.


"Tapi siapa mereka? Aku tak pernah melihat dan tidak tahu juga siapa mereka.." gumam Ericka penasaran.


Mendengar itu perasaan Reva menjadi was-was dan khawatir, jangan-jangan apa yang dikatakan oleh Nico tadi ada benarnya juga. Keluarga mendiang kakek mereka masih mengincar ibu mereka.


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2