
Reva menatap curiga kepada keduanya, apa yang disembunyikan oleh adik dan kekasihnya itu?
"Ada apa? Apa kau tahu semua permasalahan ini? Sepertinya kalian menyimpan banyak rahasia" tanya Reva kepada Nico menatap tajam.
Nico tersenyum melihat tatapannya, sudah lama sekali dia tak melihat tatapan penuh intimidasi seperti itu.
"Sepertinya semangatmu sudah kembali lagi, sudah siap bekerja Bu bos?" canda Nico sambil terkekeh.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, aku serius. Jawab saja pertanyaanku" kata Reva dingin.
Nico menatap wajah gadis didepannya itu, sekarang Reva sudah bisa menata hatinya kembali. Masa-masa terpuruknya lewat, terlihat dari ekspresi dan tatapan matanya dia begitu penasaran dengan apa yang terjadi.
"Apa aku harus menceritakan semuanya kepada Reva dan apa yang terjadi selama ini? Jika aku menceritakan keadaan Ericka dan apa yang terjadi padanya, aku takut dia menjadi agresif dan tak bisa mengendalikan diri.
Apalagi jika dia tahu Pramudya ada di sini dan dialah penyebab yang terjadi pada dirinya, aku takut lukanya semakin dalam dan membuatnya trauma." Gumamnya.
"Hei, ditanya kok malah bengong" ujar Reva terlihat gusar.
"Maaf, maaf... Sebenarnya-" dia terhenti bicara karena ada yang mengetok pintu kamar itu.
Tok! Tok! Tok!
Asisten dokter Anwar masuk dan meminta Nico menemui dokter Anwar karena ada hal penting yang ingin dia bicarakan.
"Aku pamit sebentar yah, gak akan lama" ujar Nico kepada Reva dan mengecup keningnya.
Wajah Reva bersemu merah, tiba-tiba saja Nico menciumnya membuat gelagapan. Dia ingin marah tapi sayangnya orang itu sudah pergi meninggalkannya sendirian.
"Dasar lelaki, seenaknya sendiri! Apa gak bisa permisi dulu kek sebelum mencium anak orang!" gerutunya sendirian.
Tapi jantungnya berdegup kencang, sudah lama sekali dia tak merasakan debaran seperti itu.
"Sepertinya aku sudah terlalu lama disini, sebaiknya aku harus beraktifitas seperti biasa lagi. Sudah cukup untukku meratapi nasib, semuanya takkan kembali.
Aku harus bangkit, adik-adikku membutuhkanku. Ah, aku merindukan Ericka... Apa kabarnya dia disana?" gumam Reva tanpa tahu keadaan yang terjadi.
//
Ditempat lain, disebuah rumah sakit besar Rendy berlari kencang menuju sebuah ruangan. Di sana sudah ramai orang, termasuk bagian keamanan juga ada di sana.
"Apa yang terjadi? Ada apa ini?!" tanyanya seperti orang kebingungan.
Tak ada yang menjawab pertanyaannya, semua orang sibuk dengan pekerjaannya. Terlihat beberapa security mengamankan area disekitaran kamar itu, banyak orang berlalu lalang dan ada juga yang datang hanya ingin melihat apa yang terjadi.
Andriana datang menghampirinya dan menarik Rendy dari kerumunan ditengah kesibukan banyak orang.
"Andriana, apa yang terjadi? Anak itu tidak mungkin hilang begitu saja, pasti telah terjadi sesuatu" ujar Rendy terlihat gelisah, dia berusaha menahan emosinya.
"Sabar ya, Ren. Kamu tenang dulu. Saat ini semua orang yang bertanggung jawab atasnya telah berusaha mencari keberadaannya.
Kami sudah mengecek kamera Cctv, tidak terlihat kalau dia keluar dari rumah sakit ini ataupun ada orang mencurigakan menemui atau membawanya pergi" ujar Andriana menjelaskan.
__ADS_1
Rendy terduduk lemas, dia benar-benar lelah sekali. Banyak sekali yang harus dia kerjakan, tanggung jawabnya begitu besar. Andriana merasa kasihan juga dengannya.
"Temani aku ke ruang pengawas Cctv, aku ingin memeriksanya kembali" ujarnya kembali .
Dia bersama Andriana menuju ruang Cctv itu ditemani dokter dan staff keamanan. Mereka memperhatikan setiap kamera tidak terlihat Julia keluar kamar dan pergi dari sana.
"Apa ada area atau tempat yang tidak terjangkau oleh Kamera Cctv?" tanya Rendy penasaran.
Mereka semua baru sadar dengan pertanyaan itu, mereka sama sekali tak terpikirkan oleh perkiraan-perkiraan seperti itu.
"Ada, area tangga darurat menuju roof top rumah sakit ini. Tapi untuk apa, pintu keatas juga terkunci. Tidak mungkin jika dia ke sana" ujar staff keamanan tersebut.
"Coba kita lihat lagi kamera yang menghadap ke kamar itu juga yang didalam kamar itu, perhatian sedetil mungkin" kata Rendy.
Mereka memperhatikan kamera yang didalam kamar itu, semuanya baik-baik saja, Julia masih ada di sana tidur berbaring.
"Perhatikan baik-baik kamera ini, ada jedah sepersekian detik yang tak terlihat. Jika diperhatikan ada garis halus dari detik itu, seakan-akan ini direkayasa" ujar Rendy menunjukkan kamera yang terlihat janggal.
Mereka nampak terkejut, benar kata Rendy ada jedah di sana. Dari rekaman kamera itu terlihat dua orang petugas kebersihan masuk ke ruangan Julia.
Seperti biasa, mereka membersihkan kamar itu juga kamar mandi didalam kamar itu. Tidak terlihat siapa mereka, keduanya memakai seragam dan juga memakai masker dan penutup kepala jadi sudah untuk mengindentifikasi siapa mereka sebenarnya.
Setelah itu baru terlihat jedah sepersekian detik dan kembali normal mereka keluar dari kamar Julia, mereka menyusuri koridor rumah sakit itu dan berhenti didepan tangga darurat dan masuk kedalam sana.
Setelah itu tidak terlihat kejadian apalagi yang ada didalam, karena tidak ada kamera Cctv untuk mengawasi kegiatan mereka. Setelah sekitar satu jam, mereka kembali. Agak aneh sekali, apa yang mereka lakukan atau mereka kerjakan di sana hingga selama itu?
"Mari kita cek kesana, ada apa di sana? Dan aku minta kalian mencari siapa petugas kebersihan itu dan jika ditemukan jangan biarkan mereka keluar" pinta Rendy kepada staff keamanan tersebut.
Rumah sakit itu memiliki 5 lantai, dan Julia dirawat dilantai 2 mereka harus melewati 3 lantai lagi untuk menuju roof top. Sesampainya disana, benar saja pintu itu terkunci dan untuk berjaga-jaga security yang ikut dengan mereka membawa kunci atap itu.
Saat mereka membuka pintu terdengar sayup-sayup suara orang menangis, mereka berpencar mencari sumber suara darimana arah datangnya suara itu.
Rendy yang gagah perkasa dan pemberani itu nampak menempel pada Andriana, dia gampang parnoan jika menyangkut hal-hal horor. Saat mendengar suara tangis perempuan pikirannya langsung menjurus alam lain. Apalagi susana sudah malam dan di sana sangat gelap, hanya diterangi lampu pijar saja.
"Sanaan dikit napa! Gerah ni ditempeli terus sama kamu" ujar Andriana sewot dengannya.
"Gelap, jangan kegeeran kamu! Buruan sana jalan duluan!" perintahnya.
Andriana mencibir kesal, punya bos gini amat yah? pikirnya.
Pada saat bersamaan mereka melihat sesuatu yang merayap dibalik tumbukan kardus, terlihat seperti seseorang dengan memiliki rambut panjang dan merintih kesakitan.
"To-tolong... Sakit ..." suara itu terdengar lirih.
"Alamak, jang! Mampus aku, kenapa harus ada adegan kunti segala sih! Mana ada Andriana lagi, aku harus gentleman!" gumamnya dalam hati.
Berbeda dengan Rendy, Andriana yang tomboi dan cuek itu berani mendekati sosok itu dan mengamatinya seksama.
"Gila ni cewek! Gak ada takut-takut nya, seharusnya aku lebih takut padanya daripada syetan!" ujar Rendy merinding sendiri.
Setelah cukup lama mengamati, Andriana mengibaskan rambut yang menutupi wajah itu. Dia terkejut ternyata itu Julia, gadis itu terikat kaki dan tangannya makanya dia merangkak saat mendengar suara orang lain.
__ADS_1
"Julia?!" Rendy terkejut juga saat melihat wajahnya.
Dia menghampiri gadis itu, keadaannya cukup mengenaskan. Badannya penuh debu dan kotoran, terlihat ada beberapa luka ditubuhnya. Sepertinya dia sempat melakukan perlawanan saat dibawa paksa ke sini.
"Dia sudah pingsan, ayo kita bawa kebawah" kata Andriana, dia melepaskan cardigan miliknya untuk menutupi tubuh Julia.
Rendy menggendong tubuh Julia menuju lantai bawah, diiringi Andriana dan beberapa staff keamanan tadi.
Sesampainya mereka langsung memberikan penanganan darurat kepadanya, saat ini Julia sedang dirawat didalam kamarnya dan tidak ada satupun orang diperbolehkan masuk menemuinya kecuali petugas medis.
Diluar kamarnya ada beberapa security yang berjaga didepan kamarnya, Rendy bisa sedikit bernafas lega saat Julia sudah ditemukan dan anak itu baik-baik saja. Entah mengapa dia merasa sangat bertanggung jawab oleh anak itu.
Padahal anak itu telah banyak melakukan kejahatan terhadap adiknya, Andriana memberikan air mineral untuknya. Rendy meneguk air itu sampai habis, dia nampak kelelahan.
"Pak Rendy..." petugas keamanan datang bersama beberapa dokter dan staff lainnya.
"Bagaimana keadaan anak itu, tidak ada luka berat yang dideritanya kan?" tanya Rendy.
"Anak itu baik-baik saja, tapi ada yang lebih penting lagi. Petugas kebersihan yang kita lihat tidak ada disini, maksudnya mereka sebenarnya tidak bekerja disini" ujar petugas keamanan itu.
"Tapi dia memakai seragam petugas kebersihan di rumah sakit ini?" tanya Rendy tidak percaya.
"Pada saat kejadian, mereka semua sedang beristirahat. Dan ada juga yang lagi beribadah, kemungkinan besar ada orang lain memakai seragam mereka untuk melakukan hal kejahatan itu" ujar petugas itu.
"Jadi menurutmu kejadian sebenarnya adalah siang tadi, waktu mereka semua sedang beristirahat. Jika dirunut kejadiannya, penculikan terjadi pukul 12 sampai pukul 1 siang.
Dan baru diketahui sekitar jam 4 sore saat petugas ingin memeriksa keadaannya, dan aku diberitahu sekitar pukul 6 sore dan anak itu ditemukan pukul 10 malam.
Ya Tuhan! Hampir seharian dia ada diatap sana, wajar saja jika kondisinya semakin memburuk. Kalian tahu, saat kami menemukannya kondisi sungguh memprihatinkan dan kalian bilang dia baik-baik saja?!" tanya Rendy kesal kepada mereka semuanya.
"Ya sudah kalau begitu, bagaimanapun juga kalian harus menemukan orang yang menculik Julia. Kalian yang bertugas dan diberi tanggung jawab untuk menjaganya, jika tidak kami yang turun tangan dan mau gak mau polisi juga harus turun tangan" Sahut Andriana.
Dia dari tadi diam-diam mengamati semua orang yang ada di sana, ada sesuatu yang ganjil dengan ekspresi mereka. Andriana menilai mereka menganggap kasus hilangnya Julia tidak terlalu penting dan terkesan ditutup-tutupi.
"Apakah mereka semua terlibat dalam hilangnya Julia, dari kamera yang terkesan diedit, petugas kebersihan yang tiba-tiba hilang tak ditemukan dan pernyataan mereka mengenai kondisi Julia?
Ini mencurigakan, sebaiknya Aku dan Rendy harus menyelidikinya sendiri" gumamnya dalam hati.
"Ayo, Rendy... Kita harus menemui Julia, bagaimanapun juga kita berhak tahu kondisinya" ujar Andriana sambil menarik tangan Rendy.
"Ta-tapi, tunggu dulu Nona. Julia harus beristirahat dulu tidak boleh diganggu" ujar salah satu dokter itu.
Andriana semakin curiga dengan cara mereka menghalanginya, dia tersenyum sinis membuat semuanya terkejut melihat ekspresinya.
"Ayo, Rendy!" ujarnya kembali.
Semua orang mengikutinya dengan perasaan campur aduk, mereka ingin lihat apa yang akan terjadi nanti.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1