
Nico membawa Reva ke restoran Jepang, dan memesan berbagai makanan khas negeri sakura itu. Awalnya dia seneng banget bakal makan banyak, tapi pas liat sashimi perutnya berasa mual-mual.
"Kamu kenapa? Kok kayak gitu?!" tanya Reva bingung.
"Gak tau nih, liat sashimi kok mau muntah rasanya.. hufft!" Nico mencoba menahan rasa mualnya.
"Ih, apaan sih?! Biasanya juga suka banget sama makanan-makanan kayak begini, apalagi sashimi itukan makanan kesukaanmu.." ucap Reva menatap aneh Nico.
"Gak tau, huffrt! Tunggu bentar, aku mau ke toilet bentar, huek!" Nico langsung lari kearah toilet.
"Aneh tuh bocah! Terus makanan segini banyaknya siapa yang bakal ngabisin?! Aku lagi!" Reva benar-benar kesal dengan tingkahnya si Nico itu.
"Gara-garanya dia, jadi aku makannya banyak! Lagian ini perut tumben nerima-nerima aja makanan, biasanya juga makan dikit langsung kenyang? Aneh.." gumamnya memikirkan perubahan nafsu makannya.
Sementara di toilet itu, si Nico masih terdiam didepan wastafel sambil memikirkan perubahan dirinya akhir-akhir ini, dia merasa semuanya baik-baik saja tidak ada masalah, tapi kenapa dia sangat sensitif dan mudah berubah-ubah gitu mood nya?
"Perasaan gak ada apa-apa, hemm.. Aku mau ke dokter Anwar deh, mau periksain diri, kali aja ada yang salah sama aku. Gak enak sama Reva kena ambek terus sama aku, kasihan dia.." gumamnya.
Sadar akan perubahan sikapnya sendiri, dia memutuskan untuk mampir ketemu dokter Anwar sehabis dari restoran ini, dia kembali ke mejanya dan melihat Reva hampir menghabiskan separuh pesanannya di atas meja itu.
"Reva, ya ampun.. Kamu makan semuanya, sayang?" tanyanya syok.
"Iya, kenapa? Kirain kamu gak mau, makanya aku makan semuanya. Sayang dibuang-buang, mubazir! O ya, kalau kamu mau, nanti pesan lagi" sahut Reva sambil menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
"Gak usah, sayang.. Liat kamu makan aja aku udah kenyang" ujar Nico sambil menelan ludahnya melihat Reva begitu lahapnya makan dengan nikmat.
Dalam sekejap makanan di atas meja langsung habis oleh Reva, yang katanya gak nafsu makan eh dia akhirnya yang ngabisin makanan, sedangkan yang pesan makanan paling banyak, ujung-ujungnya dia gak jadi makan perkara mual-mual dari tadi.
Akhirnya Nico melajukan mobilnya ke rumah sakit dokter Anwar, Reva manut aja ajakan suaminya karena dia juga berpikir kalau Nico pasti kena maag atau apa karena tiba-tiba mual gitu aja.
"Selamat pagi,, wah apa kabar kalian berdua? Sudah lama sekali gak ngeliat kalian, makin makmur aja kayaknya" goda dokter Anwar.
"Maaf, Dok. Kita jarang mampir, emm.. Lagi banyak pekerjaan saja" jawab Nico beralasan.
"Iya, ya... Jadi, ada apa datang kemari? Siapa yang mau diperiksa? Kamu Reva? Hamilkah?" tanya dokter Anwar tanpa jeda.
Pertanyaan dokter Anwar membuat keduanya gelagapan tidak tahu mau jawab apa, karena itu diluar perkiraan mereka. Reva langsung menyikut Nico agar meralat pertanyaan dokter Anwar.
"Auh, sabar sayang... Maaf, bukan dokter. Ini aku yang mau periksa, dari tadi mual-mual terus.. Dan aku rasa mungkin ada sesuatu juga ditubuhku, karena aku merasa emosiku sering tidak stabil" ujar Nico menjelaskannya hati-hati.
"Ooh, aku kira si Reva.. Karena aku liat tubuhnya semakin berisi saja.." sahut dokter Anwar sambil tersenyum.
"Bukan, dok! Ini gendut karena kebanyakan makan, gara-gara dia gak pernah habisin makanannya, jadi aku yang menghabiskan semua makanan itu" sahut Reva, kok kesel yah..
Dokter Anwar sudah memeriksa Nico, tidak terjadi apapun pada anak itu. Sehat-sehat aja, dan semuanya normal. Kadang emosinya saja suka berubah-ubah, dan soal pemeriksaan itu bukan tugasnya.
__ADS_1
"Coba kamu periksa ke dokter psikologis, mungkin tau nanti penyebabnya.. Atau jangan-jangan semenjak menikah dengan Reva, kamu jadi tekanan batin. Gitu?!" ujar dokter Anwar curiga.
"Yang ada aku kena tekanan batin! Tiap hari kerjanya ngambek wae, gak jelas! Liat tubuhku sampai melar kayak gini, gara-gara stres dan melampiaskannya ke makanan!" ujarnya kesal.
"Sorry, sorry... Becanda, Va" ujar dokter Anwar terkekeh.
"Ini suami istri kok pada sensian begini? Lebih baik keduanya diperiksa aja langsung" gumam dokter Anwar dalam hati.
"Va, mau diperiksa juga gak? Mumpung disini, sekalian buat periksa kadar gulamu kali aja naik" bujuk dokter Anwar.
"Boleh tuh, kali aja bisa ngurangin nafsu makanku yang berlebihan ini" sahut Reva.
Dokter Anwar pun memeriksa Reva juga dibantu oleh perawatnya, semula semuanya baik-baik saja, normal sama dengan Nico tapi ketika dokter Anwar gak sengaja mengarahkan alat stetoskopnya ke perutnya, dia terlihat kaget begitu.
Seperti ada yang kurang yakin, dia kembali mengarahkan stetoskop itu ke perutnya. Dia tersenyum, dan meminta Reva untuk tes urine. Reva yang bingung nurut-nurut saja ketika diminta melakukannya.
"Kenapa, dok? Apa ada yang salah dengannya?" tanya Nico sedikit khawatir.
"Aku harap malah dia kenapa-kenapa, haha!" ujar dokter Anwar tertawa senang.
Nico heran melihat tingkah dokter Anwar yang menurutnya aneh itu, ketika selesai Reva kembali masuk ke ruang periksa bersama seorang perawat yang membantunya tadi.
"Bagaimana?" tanya dokter kepada perawat itu.
"Positif, dok!" jawab perawat itu sambil tersenyum.
"Ada apa, dok? Apa hasilnya? Apa masalahnya begitu berat, sampe ketawa kayak orang gila gitu?!" tanya Nico kesel.
"Hahaha.. Maaf-maaf, aku terlalu senang hingga lupa ingin menyampaikan berita gembira ini" jawab dokter Anwar.
"Jadi..." Nico maupun Reva masih menunggu dengan serius.
"Selamat ya Nico, Reva.. Kalian berdua telah menjadi calon orang tua, kamu hamil Reva..." ujar dokter menyebutkan hasil pemeriksaan itu.
"Be-benarkah, dok?! Serius?! Ini lagi gak becanda atau prenk-prenk an kan?!" tanya Nico penasaran sambil deg-degan mendengar berita itu.
"Iya, serius! Untuk selanjutnya lebih baik kalian periksa ke dokter kandungan saja, mereka akan memberikan bantuan dan arahan yang sesuai, aku kasih vitamin aja dulu ya, Va..
Kamu juga jangan capek-capek, gak boleh melakukan pekerjaan berat, jaga pola makanmu juga.. Makan banyak tidak apa, malah bagus untuk perkembangan janinmu, tapi ingat, perhatikan juga apa yang kamu makan" lanjut dokter Anwar menjelaskan semuanya.
Sedangkan keduanya malah syok sendiri mendengar berita yang sama sekali tidak mereka duga, Nico yang terbawa emosi menangis haru atas kehamilan Reva, sedangkan Reva sendiri tidak tahu harus bereaksi apa.
"Baik, dok! Terima kasih semuanya, aaahhh!! Aku bakalan jadi papa! Sayang, hei! Sadar dong, ini kamu lagi hamil nih" ujar Nico speechless.
"Oo.. Hamil yah? Iya, ya.." jawab Reva sekenanya.
__ADS_1
Dokter Anwar tertawa melihat mereka berdua syok begitu, bagaimana tidak setelah berbulan-bulan lamanya mereka menikah, dan sama sekali belum memikirkan tentang anak dan masih sibuk dengan segala permasalahan yang ada, tiba-tiba Reva dinyatakan hamil.
Nico langsung menuntun Reva keluar dari rumah sakit dokter Anwar menuju rumah sakit yang lebih besar lagi, rumah sakit ibu dan anak yang sangat terkenal itu biasanya tempat para selebritis melahirkan, dia membawa Reva kesana.
"Apaan sih, Nic?! Udah deh gak usah lebay begitu, ya aku hamil! Udah cukup gitu aja, gak usah ini itu deh!" Reva mulai merasa tak nyaman.
"Revaa, kamu denger kan kata dokter Anwar tadi? Kamu tuh butuh pemeriksaan lebih lanjut lagi, dan bagusnya dokter kandungan aja, biar kamu bisa di USG juga kapan perlu yang 4D atau 5D" ujar Nico heboh.
"Ya ampun, nico! Aku tuh baru hamil loh, gak tau ini berapa hari atau berapa minggu usianya, belum bisa di USG juga! Gak usah aneh-aneh deh, ayo kita pulang aja, aku capek!" ujar Reva kesal melihat suaminya itu.
"Reva, mulai hari ini biasakan dirimu tidak memanggil namaku langsung, kamu tuh harus membiasakan diri memanggil suamimu ini dengan sebutan sayang, beri contoh buat anak kita.." ujar Nico mulai sok dewasa.
"Iya, ya.. Ah, bawel!" ujar Reva udah nyut-nyutan mendengarkan Nico ngoceh terus dari tadi.
"Satu lagi, tolong kontrol emosimu itu tidak baik buat anak kita.." sambung lagi Nico.
Reva hanya menjawab iya-iya aja jika ditanya oleh Nico, kepalanya sudah pusing sekali ditambah lagi perutnya terasa sedikit sakit, dis menahannya hingga ketiduran. Setelah itu Nico membangunkannya, ternyata mereka sudah sampai di rumah sakit itu.
"Ayo, bangun dulu sebentar! Kita periksa sekali lagi setelah itu kita pulang, kamu bisa istirahat dengan nyaman nantinya kalau sudah di rumah.." ujar Nico lembut kepada Reva.
Reva hanya menurut saja kata Nico, dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali manut aja kata sang suami.
"Alhamdulillah semuanya baik-baik saja, Pak. Istri dan janinnya sehat, tapi Ibu perlu istirahat saja dan minum vitaminnya juga, nanti saya akan tuliskan resep dan rekomendasi makanan yang bagus buat bumil yah" ujar dokter kandungan itu dengan sopan.
Sedangkan Nico hanya diam saja sambil memperhatikan dokter muda dan tampan itu, sedangkan sang dokter merasa canggung dipelototi terus sama Nico.
"Ini dokter kandungan tidak ada yang perempuan apa?! Kenapa lelaki semua? Ish, mana masih muda-muda, cakep pula! Awas saja kalau curi-curi kesempatan!" gumamnya dalam hati.
Sebelumnya, setelah sampai di rumah sakit dan memeriksa jadwal dokter kandungan, dan ternyata jadwal dokter kandungan hari ini lelaki semua, ada perempuan tapi tidak praktek hari ini.
"Dimana-mana dokter kandungan kebanyakan lelaki, udah deh! Jangan mikir yang macam-macam, mereka semua itu profesional!" ujar Reva tadi.
"Palingan juga dokternya udah tua, bapak-bapak atau gak aki-aki.. Udah, aku juga gak mikirnya gimana-gimana kok, yang penting periksa dan udah selesai" sahut lagi Reva.
Tapi nyatanya dokternya masih muda dan tampan, itulah membuat Nico terkesan tak rela istrinya disentuh oleh dokter muda itu, sedangkan Reva? Jangan tanya, dari tadi dia senyum-senyum terus menggoda Nico yang keki banget melihat dokter itu.
"Maaf ya, dok.. Suami saya memang begitu, tipe posesif gitu.." ujar Reva kepada dokter muda itu tidak enak.
"Tidak apa, Bu.. Saya sudah biasa menghadapi keluarga pasien yang tipe-tipe kayak suami Ibu itu, maklumlah saya kan memang ganteng dari sananya, haha!" ujar sang dokter muda narsis.
Seketika Reva tepok jidat, ternyata dokternya juga sama gilanya. Hadeuh..
...----------------...
Bersambung
__ADS_1
Mohon dukungannya yah, like and coment. Jangan lupa gift dan vote nya.
Itung-itung buat Reva jajan habis ngidam 😂🙏🥰