
Keesokan harinya..
Ericka bangun sedikit terlambat dari biasanya, karena dia tidur larut malam dan kelelahan akibat terlalu menguras energi jiwanya karena keseringan menangis semalaman.
"Selamat pagi, Milah.." sapanya kepada wakil asisten kepala pelayan rumah itu.
"Pagi, Nona.." sahut Milah dengan ramahnya.
"Sarapan apa pagi ini?" tanyanya lemas.
"Nasi goreng telor ceplok dan sandwich panggang, Non. Tadi tuan Rendy minta dibuatkan itu sekalian buat Nona katanya.." ucap Milah lagi.
"Kakak?" tanya Ericka menanyakan keberadaan sang kakak.
"Tuan Rendy sudah berangkat dari tadi, Non.." jawab Milah sambil sibuk melayaninya di meja makan.
"Tentu saja dia sudah pergi, karena aku sendiri yang kesiangan.." gumamnya dalam hati.
"Bi Mirna kapan pulang, Mil? Aku kangen dia.." tanya Ericka dengan tiba-tiba.
"Saya kurang tahu, Non. Mungkin beberapa hari lagi, maklum beliau sudah lama sekali tak pulang kampung.." jawab Milah, dan sebenarnya dia juga merindukan sosok yang jadi panutannya itu.
Ericka jadi merasa tak enak juga menanyakannya, karena memang sudah lama sekali bi Mirna tidak mengunjungi kerabatnya di kampung, termasuk Milah dan para pelayannya yang lain juga.
Karena sejak dulu, Elena sangat susah sekali memberi izin para pelayannya untuk libur ataupun cuti panjang, untuk libur sehari saja dia seperti sedang mau perang saja, karena tak ingin ada satupun pelayannya yang berkurang di rumah itu.
Padahal pekerjaan mereka juga tak terlalu banyak ataupun sibuk, mereka dulu hanya sibuk bergosip tentang rumah tangga tuan besarnya dan membicarakan nona mudanya dulu.
Makanya sekarang bi Mirna dan pak Johan atas izin Ericka dan saudara-saudaranya, mengurangi sedikit pelayan di rumah itu, sesuai kebutuhan saja. Terutama para pelayan dan pengawal dibawah pimpinan Elena langsung, karena mereka berpotensi akan berkhianat lagi.
"Mil, kamu mau cuti juga? Kalau mau juga gak apa, tanyakan juga kepada yang lain, kalau mau cuti, cuti aja. Tapi gantian yah.." ucap Ericka santai sambil menyuapkan nasi gorengnya.
Milah langsung berhenti melakukan pekerjaannya, dia menatap Ericka tak percaya, dia jadi ragu. Ini bosnya mau minta mereka libur atau mau pecat mereka secara halus?
"Kenapa? Gak percaya? Aku serius ini, Milah.. Dan jangan berpikir yang gak-gak. Kalau kamu masih ragu, nanti tunggu bi Mirna pulang aja yah.." ucap Ericka sambil tersenyum melihat ekspresinya Milah.
"Ba-baik, Non.." ucap Milah lagi.
Setelah sarapan, Ericka naik lagi ke kamarnya, dia memutuskan agak siangan dikit ngantornya, karena badannya agak lemas dan kurang fit, tiba-tiba saja dia teringat dengan Azzam, anak yang pernah dia tolong dulu.
"Sebaiknya aku melihat anak itu, sedang apa dia sekarang? Apa ada perkembangan lebih baik atau tidak dengannya?" gumamnya lagi.
Meskipun badannya kurang fit, tapi semangatnya tak berkurang sedikitpun. Dia malah sangat ingin bertemu dengan anak itu, semenjak kejadian itu mereka tidak lagi bertemu dan berhubungan, tapi Ericka sangat bertanggung jawab dengannya, karena sesuai janjinya, dia akan memenuhi kebutuhan dan keperluan anak itu.
__ADS_1
Dia bergegas bersiap-bersiap menuju panti asuhan milik keluarganya, lebih tepatnya milik sang ibu. Dia berpamitan kepada Milah dan ingin menyetir sendiri tanpa ditemani oleh supirnya.
Setelah menyetir kurang lebih satu jam setengah, akhirnya dia sampai juga ke panti asuhan itu, karena jaraknya lumayan jauh berada dipinggiran kota.
Dia memarkirkan mobilnya dan segera menuju ruangan ketua panti asuhan itu, dia datang mendadak dan tidak memberitahu kedatangannya, sehingga tak ada yang tau dengan kedatangannya.
Bahkan security didepan tidak tahu dengannya, karena biasanya yang sering berkunjung ke sana adalah kedua kakaknya, baru kali ini dia datang, sendirian dan tanpa pemberitahuan pula.
Dia melihat ke sekeliling panti asuhan itu, lingkungannya bersih dan rapi, semuanya dikelilingi oleh taman hijau yang indah, dibelakang panti itu ada kebun hasil buatan para anak panti, lahannya lumayan besar dan luas.
Isinya beragam tidak hanya sayuran dan rempah-rempah, ada juga buah-buahan, disamping kebun sebelah kanan itu ada peternakan ayam, disebelah kiri kebun ada budidaya lele, jadi kebanyakan mereka menggunakan hasil panen mereka untuk konsumsi sehari-hari, jika berlebih sedikit mereka bisa menjualnya sedikit ke pasar tradisional.
Dia melihat ada beberapa anak panti lagi asik main bola, ada yang main permainan lainnya, diluar bangunan panti itu ada lapangan yang cukup luas, di sanalah mereka bermain.
Sedangkan didalam bangunan, Ericka juga melihat ada beberapa anak panti yang perempuan bermain masak-masakan dan bermain boneka, intinya mereka bermain sesuai usia dan minatnya.
"Syukurlah, panti ini terurus dengan baik, anak-anak juga sangat senang tinggal disini. Kakak memfasilitasi panti ini cukup banyak kebutuhan mereka, baguslah kalau begitu.." gumamnya senang.
Saat dia melewati tempat lain, dia melihat ada beberapa orang sedang duduk bersantai disebuah ruangan, kemungkinan mereka adalah orang-orang yang bekerja dan mengurus anak-anak di panti ini.
"Enak yah tinggal disini, semuanya lengkap dan kebutuhan mereka dipenuhi, bahkan soal pendidikan dan kesehatan mereka sudah ditanggung pihak yayasan.." ucap seorang wanita usianya masih muda.
"Iya, anak-anaknya bu Laras di didik oleh mendiang dengan baik, sehingga mereka begitu amanah.." ucap seorang ibu diperkirakan usianya sama dengan bi Mirna.
"Iya, mereka memang baik, tapi bawahannya yang kurang baik!" sahut lagi seorang wanita yang usianya sama dengan Ericka.
"Biarkan saja, dia sudah bertahun-tahun seperti ini, hanya saja dia tak tertangkap bersama yang lain, dia pandai berbicara dan berekspresi, hingga siapapun bisa dia kecohkan.
Bahkan pemilik yayasan dan panti sebenarnya bisa dia bohongi, setelah semuanya pergi, dia bertindak seolah dia pemilik panti ini, semua keluarga, sanak saudaranya, semuanya memakai fasilitas panti dan yayasan.
Jika dia memang tak sanggup dan memang pantas dibantu, ya boleh silakan, masalahnya dia dan keluarganya sangat mampu untuk semuanya, yang lebih parahnya ada anak panti yang seharusnya dapat bantuan, tapi malah dia mengalokasikan semua dana itu ke rekening dan bantuan keluarganya yang lain!" ucap gadis muda itu.
Tiba-tiba semuanya terdiam, mereka menyadari jika ada ibu panti dari tadi diam-diam memperhatikan mereka, setelah cukup lama dia keluar dari persembunyiannya, mungkin dia jengah karena diam-diam dia digosipkan oleh para pekerjanya.
"I-ibu?!" ucap gadis itu tergagap karena dia ketahuan karena telah membicarakannya.
"Bagaimana, sudah lebih puas sekarang?! Tak apa, aku takkan marah denganmu karena semua ucapanmu itu ada benarnya, tapi aku akan sedikit meluruskan ucapanmu itu.
Pertama, aku bekerja disini sudah belasan tahun menggantikan mendiang ibuku, kedua panti ini milik orang tua kandung tuan Dewantoro alias mertuanya ibu Larasati.
Dengan kata lain, ini warisan dari ibu mertuanya untuk anak cucunya, sebenarnya bu Larasati belum mengerti betul dengan panti ini, dia menjalani dan mengurus panti ini sesuai arahan ibuku dan diriku.
Dan peraturan itu terus tetap sama dari dulu sampai sekarang, tidak berubah sama sekali. Dengan kata lain, peraturan panti dan yayasan ini adalah gagasan ibuku dan aku sendiri, bukan dari bu Larasati, meskipun dia pemilik tapi dia tak tahu apa-apa.
__ADS_1
Ingat, tak ada yang salah apa yang aku lakukan selama ini, karena selama ini tidak ada yang protes ataupun melarang kami melakukannya, karena ini merupakan bagian dari persyaratan dan aturan dari semua panti dan yayasan.
Jika kalian protes dan tidak terima, sama saja kalian tidak mematuhi peraturan dan persyaratan yang ada di panti ini. Jika masih ingin bekerja disini, patuhi dan ikuti saja semua yang ada, jangan coba-coba berbicara jika tak ingin mendapatkan masalah nantinya.." ucap ketua panti itu.
Meskipun dia berbicara lembut dan terkesan ramah, tapi dari nada bicaranya yang penuh penekanan itu cukup membuat pekerja muda itu merasa terintimidasi dan takut kepadanya, karena dia memiliki aura kuat untuk mengancam mereka.
Ericka sedari tadi diam saja tanpa bergerak dan berbicara, tidak tahu harus berbuat apa, tapi tangannya tak bisa diam, dia terus mengarahkan kamera kecilnya merekam kejadian itu.
"Nona, apa anda sudah ada di sana dari tadi? Ah, maaf.. Kami tak sadar kalau sejak dari tadi ada tamu.." ucap ketua panti itu mengagetkan semua orang termasuk Ericka sendiri.
"A-ah! Iya, maaf.. Mungkin saya datang tidak tepat waktu" ucap Ericka kikuk dan berusaha menyembunyikan kameranya.
"Ah, tidak apa. Mari ikut ke ruangan saya.." ucap ketua panti itu dengan ramahnya.
Ericka mengikutinya dengan sedikit ragu-ragu, dia menoleh ke arah para pekerja tadi, mereka semua langsung membubarkan diri dan tidak berani menatap Ericka maupun ketua panti ini.
"Ini tidak benar, kak Reva dan kak Rendy harus tau ini!" gumamnya dalam hati sambil bersikap biasanya.
Setelah sampai ke ruangan ketua panti, Ericka dipersilahkan duduk ke sofa yang ada di ruangan itu, ibu itu keluar sebentar untuk meminta pekerja tadi membuatkan mereka minuman, Ericka gunakan kesempatan itu untuk menyembunyikan kameranya dan bersiap merekam lagi.
"Maaf tadi ada sedikit problem diantara pekerja, semoga tadi tak membuatmu merasa tidak enak berada disini.." ucap ibu panti ini masih dengan ramahnya, dia duduk didepan Ericka sehingga tidak membuatnya kesulitan untuk merekam wajah ibu panti itu.
"Tidak, Bu. Saya mencoba mengerti.." ucap Ericka sambil berusaha mengkondisikan ekspresi wajahnya.
"Nona terlihat sangat muda, apa kedatanganmu ingin berkunjung saja atau ingin mengadopsi anak di panti ini?" tanya ibu itu langsung.
"Saya ingin berkunjung saja, Bu.. Sekalian ingin melihat anak-anak juga, boleh kan bu?" tanyanya.
"Boleh, boleh saja. Tapi..." ibu panti itu sedikit bersikap berlebihan dengan memainkan jarinya.
"Oh, saya mengerti kok.. Saya pakai cek aja ya Bu, kebetulan saya tak bawa uang tunai.." ucap Ericka langsung mengeluarkan ceknya.
"Oh, saya tak bermaksud seperti itu, tapi jika Nona bersikeras tidak apa kok.." ucap ibu itu.
Padahal siapapun bisa melihat gerakan dan ekspresi wajahnya jika dia menginginkan bayaran untuk itu.
"Sepuluh juta cukup ya, Bu.." ucap Ericka lagi.
"Oh, cukup! Cukup banget Nona, ini adalah amanah untuk kami, tenang saja nanti saya akan pergunakan untuk anak-anak disini.." ucap bu panti langsung menarik cek bernilai sepuluh juta berbinar-binar.
Ericka tersenyum sinis, dia tau dengan uang semuanya akan berjalan lancar termasuk untuk menjebak orang ini, dia berencana untuk mengorek informasi tentang panti ini dari ibu panti langsung.
Karena sekarang dia tahu, semua informasi tentang panti yang tersimpan di arsip mereka itu merupakan hasil manipulasi mereka yang mencoba menipunya dan kedua kakaknya.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung