Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Jessy oh Jessy


__ADS_3

Setelah melewati banyak proses pemeriksaan, akhirnya Ericka bisa lebih tenang setelah lelah dengan segala prosedur itu, ada sedikit rasa trauma didirinya karena mengingatnya akan kejadian waktu itu.


"Luka jahitannya cukup dalam, dan bekas jahitannya juga kurang rapi. Dan ini penyebab kecantikannya tidak kelihatan, padahal dia cukup cantik tanpa make up sekalipun" ujar dokter Chaterine kepada Jessy.


Sebelumnya Ericka memang disuruh mencuci mukanya dulu untuk menghapus sisa make up agar dokter bisa melihat dan memastikan bekas luka diwajahnya itu.


'Terus gimana, Sist? Bos ay minta dia dibikin cantik paripurna! Tapi kalau begini, apa bisa dibikin lebih cantik? You punya kan skincare yang bagus, buat nutupin tu luka?" ujar Jessy terlihat khawatir.


"Ada sih, klinik ini memiliki fasilitas dan tenaga ahli sesuai bidangnya. Kalau sekedar skincare banyak, tapi takkan bisa menutupi bekas luka itu. Karena lukanya cukup dalam dan bekasnya sangat kentara" ucap dokter Chaterine lagi.


"Terus bagaimana dong?!" Jessy menghentakkan kakinya gusar.


"Ada cara lain, itupun harus ada persetujuan pasien dan walinya. Aku punya kenalan yang punya klinik lebih besar dan punya ahlinya sendiri" jawab Chaterine.


"Apa itu?" tanya lagi Jessy penasaran.


"Plastik Surgery, operasi plastik. Itu satu-satunya jalan untuk menutupi bekas luka itu, bukan hanya menutupi tapi malah menghilangkannya. Mereka akan membuatnya memiliki wajah yang cantik sempurna" ucap dokter Chaterine percaya diri.


"Kita gak minta dia dirubah wajahnya, hanya dibikin bersih saja wajahnya dari bekas luka ini. Pada dasarnya dia sudah cantik" ucap Jessy serius.


Dia menatap Ericka yang ketiduran disofa tunggu, sepertinya dia kelelahan setelah seharian melakukan banyak kegiatan diluar ekspektasinya.


"Aku tak punya cara lain selain itu..." jawab Chaterine.


"Baiklah kalau begitu, aku akan mengabarimu nanti bagaimana" ucap Jessy menghela nafasnya berat.


Melihat Ericka nampak pulas tidurnya, Jessy jadi tak tega membangunkannya. Dia menggendong tubuh Ericka masuk ke mobilnya.


"Ugh, berat juga ya you! Mulai besok ay bawa sopir ama bodyguard aja kalau begitu. Kan repot kalau kejadian lagi macam ini.


Uh, badan ay capek banget. O ya, telpon pak bos dulu" ucap Jessy mencoba mengambil Hpnya didalam tas.


Fokusnya terbagi disaat dia harus menyetir dengan tubuh yang lelah, dia juga sibuk meraba-raba isi tasnya mencari Hpnya.


Ckiit!


Untuk saja dia mengerem tepat waktu, jika tidak dia akan menabrak mobil didepannya itu. Tiba-tiba saja ada sebuah mobil sedan menghadang jalan mereka.


Jessy sudah merasakan firasat buruk soal itu, buru-buru dia menelepon Aaron dan menyembunyikan Hpnya didalam dasbor mobilnya dan memakai earphone kecil di telinganya.


"Dengan begini aku akan aman, jadi aku bisa dengar suara si bos dan juga sebaliknya. Komunikasi takkan terputus, mudah-mudahan tuh bocah gak bangun, kalau gak bisa bikin kehebohan lagi" gumam Jessy.


Tok! Tok! Tok!


Jendela kaca mobilnya diketuk paksa dari luar, ada beberapa orang diluar sana menunggunya.


"Siapa kalian? Mau apa?!" bentak Jessy sambil mengeluarkan sisi lelakinya.


"Haha! Aku pikir kau tak bisa garang, ternyata cukup menakutkan! Cepat turun, dan serahkan gadis itu!" ujar lelaki itu sambil menarik kerah baju Jessy.


Jessy keluar dari mobilnya, dia tak ingin membangunkan Ericka yang masih tertidur pulas di sofa belakang mobilnya.

__ADS_1


Jessy mengunci mobilnya secara otomatis memakai remote kecil disaku bajunya, hingga membuat para berandalan itu tak bisa membuka paksa mobilnya itu untuk menculik Ericka.


"Siapa kalian? Mau apa kalian pada gadis itu?!" tanya Jessy lagi.


"Bukan urusanmu, benc*ng! Minggir jangan buat pekerjaanku semakin rumit" jawab salah satu lelaki bertubuh besar.


Dia ingin menggeser tubuh Jessy, tapi tubuh itu tak bergerak sedikitpun. Melihat itu para berandalan itu mulai menyerang Jessy, siapa sangka dengan segala sikapnya yang feminim, dia memiliki kekuatan yang cukup besar.


Dia menghajar beberapa berandalan itu sendirian, dengan sedikit kewalahan dia berusaha bertahan agar Ericka tak dibawa oleh mereka.


Tiba-tiba ada mobil sport datang, muncul dua orang lelaki menghampiri mereka dan membantu Jessy menghajar beberapa berandalan itu.


"Awas kalian, aku akan kembali!" teriak berandalan itu sambil kabur bersama teman-temannya naik mobil mereka.


"Siapa mereka?" tanya Aaron.


"Gak tahu, ah! Whaa! Baju kesayangan ay jadi kotor gini, mana nih muka mahal bonyok-bonyok lagi!


Besok ay mau operasi plastik!" teriak Jessy kesal sambil menuju mobilnya.


Dia melihat Ericka masih tertidur di sofa belakang mobilnya dengan pulas, sama sekali tak terganggu oleh keributan yang ada. Bahkan ada beberapa orang yang terjatuh menabrak mobil itu saat berkelahi, sampai tu goyang-goyang mobil dia tidak bangun juga.


"Dasar kebo!" Jessy malas-malasan membuka pintu mobilnya.


Stanley ingin menggendong tubuh Ericka tapi ditahan oleh Aaron, dia mencekal tangannya. Melihat itu, Jessy sepertinya tahu tentang keadaan situasi sekarang.


"Biar aku bawa si Ericka ke mobil you!" ucapnya, sambil menggendong Ericka yang masih pulas.


Dia menaruh Ericka dengan hati-hati duduk didepan mobil dan menyelimutinya dengan selimutnya yang selalu ada didalam mobilnya itu.


"Situ pulang bareng ay aja, biar bos pulang bersama nona itu" ujar Jessy menatap serius wajah Stanley.


Aaron langsung membawa mobilnya menuju rumah mewahnya, dia sesekali membetulkan selimut Ericka yang sedikit melorot. Tanpa sadar di melihat dua buah gundukan milik Ericka yang terlihat membusung.


Dia sedikit gelagapan, sesekali menampar wajahnya agar tetap fokus kedepan. Dia memperhatikan pakaian Ericka nampak berbeda dengan pakaiannya pagi tadi.


Ternyata Ericka tak menggantikan bajunya setelah mencoba beberapa pakaian yang diminta Jessy tadi siang.


"Dia cantik juga, hem. Menarik" gumamnya sambil menarik sudut bibirnya.


Sementara itu Stanley hanya diam saja selama diperjalanan pulang menuju rumah si bos, Jessy menatap heran kepadanya.


"Hey, diam aja! Aku bukan supir you yah, diam bae!" ucap Jessy sambil memanyunkan bibirnya.


"Ah, sorry-sorry" ujar Stanley pelan.


"Kenapa? Ada masalah?" tanya Jessy.


"Tidak ada, tolong bangunkan aku jika sudah sampai" ucapnya sambil sedikit menyenderkan kepalanya dikursi samping kemudi Jessy.


"Dasar, kalau patah hati bilang aja!" gumam Jessy.

__ADS_1


"Aku masih bisa mendengarmu!" sahut Stanley sambil memejamkan matanya.


Jessy hanya terkekeh melihatnya, ternyata Jessy sudah tahu semuanya permasalahan ini terjadi oleh Aaron. Dia tahu jika selama ini Ericka tinggal cukup lama bersama Stanley.


"Mungkin karena sering bersama, rasa itu timbul juga" gumam Stanley dalam hati.


Sedangkan matanya yang cukup jeli itu, bisa melihat tatapan mata bosnya agak berbeda saat menatap wajah Ericka.


"Dasar, bocah! Bisa aja bikin dua cowok ganteng gelisah, hihi!" ujarnya dalam hati.


Tapi didalam pikiran Jessy, jika dia masih muda dan sudah pasti ada rasa juga dengan Ericka. Karena gadis itu memiliki aura tersendiri untuk dicintai.


Siapa disini nebak kalau Jessy hombreng?? Gak yah, dia tuh normal hanya sikap dan kepribadiannya saja yang kemayu.


Sesampainya di rumah, Aaron menidurkan Ericka pelan diatas kasurnya. Dia menyelimuti gadis itu hati-hati, dia menatap wajahnya dengan seksama dengan tatapan datar penuh arti.


Setelah keluar dari kamar Ericka dia menemui Stanley dan Jessy di ruang kerjanya, mereka bertiga duduk terdiam karena kejadian tadi.


"Stanley, mulai sekarang kau tinggal disini saja bersama yang lain. Biar sekalian menjaga Ericka, jika dia harus pergi kemanapun kau harus ikut menjaganya" ucap Aaron.


"Baik, Bos!" jawab Stanley.


"Pas banget, aku juga butuh bodyguard buat jaga-jaga takut kejadian kayak tadi" ucap Jessy juga.


"Bukannya kamu bisa mengatasi sendiri?" tanya Aaron heran kepadanya.


"Bisa sih, tapi kalau ay kecapekan terus gak fokus bisa aja ay nyusruk juga" ucap Jessy lagi.


"Ya udah, mulai sekarang Ericka tanggung jawab kalian berdua" ujar Aaron lagi.


"Aku juga ingin memberikan laporan perihal pemeriksaan Ericka tadi, kata dokter satu-satunya jalan agar wajahnya kembali mulus lagi yaitu dengan operasi plastik" ujar Jessy menjelaskan perihal pemeriksaan tadi.


Dia menceritakan semua tentang hasil pemeriksaan dan juga termasuk masukan dari dokter tadi.


"Kita gak boleh merubah wajahnya, dia sudah sangat cantik. Tapi kita akan menutupi bekas luka itu dengan rapi tanpa bekas" ucap Jessy lagi.


Stanley dan Aaron hanya manggut-manggut, mereka saling pandang dan terdiam. Akhirnya mereka memutuskan operasi itu demi kebaikan Ericka juga.


Hari sudah malam, semua kembali ke kamarnya untuk istirahat. Stanley dan Jessy beristirahat di rumah peristirahatan para pekerja di rumah itu, tepatnya dibelakang rumah utama.


"Aku harus melapor ke kak Nico" ucapnya lagi.


Ternyata Aaron orang suruhan Nico, dibawah perintah langsung robin dan istrinya. Tapi untuk laporan penting seperti ini, dia harus melapor langsung ke Nico.


"Halo kak, ini aku Aaron" ujarnya setelah telpon tersambung.


"Aku ingin melaporkan perihal tentang-" belum selesai dia bicara sudah dipotong oleh seseorang ditelpon itu.


"Aaron siapa yah?" tanya seseorang ditelpon itu, suara gadis yang cukup lembut.


Suara yang begitu mirip dengan suara Ericka.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2