
"Rendy, diantara mereka... Siapa yang akan kau pilih, Reva atau Ericka?" ujarnya memberikan pilihan sulit bagi Rendy.
"Apa maksudmu?" tanya Rendy mengernyitkan keningnya.
"Rendy, berita yang akan aku sampaikan menyangkut mereka berdua. Keduanya sama-sama dalam bahaya.
Sebelumnya, aku ingin kau melihat video ini setelah itu kau bisa menilai sendiri dan bisa memutuskan sendiri bagaimana nantinya.
Jika aku yang bicara bisa saja aku mempengaruhimu, biasanya aku berbicara dan berdiskusi dengan Reva sekarang dia tidak ada lagi..." ujarnya sedih, nada bicaranya pelan.
"Apa maksudmu mereka dalam bahaya? Aku tahu adikku saat ini menghilang dan kami sedang mencarinya, tapi kakakku ada disini bersamaku" ujar Rendy sambil berdiri mengecek kamar kakaknya.
Tok! Tok! Tok!
"Kak, ini aku Rendy. Bukakan pintunya, ada teman kakak yang datang. Cepatlah" ujarnya.
Tak ada jawaban dari dalam, Rendy berusaha kembali mengetuk pintunya tetapi tak ada jawaban ataupun suara dari kamar kakaknya.
Dia membuka paksa pintu itu dan ternyata tidak terkunci, Rendy mulai panik karena tidak menemukan kakaknya di kamarnya.
"Bagaimana, apa Reva ada di kamarnya?" tanya Stefan merasa was-was, dia berharap temannya baik-baik saja.
"Apakah sebelumnya kakakku menelponmu?" tanya Rendy, dia mulai khawatir.
"Iya, makanya aku bisa menebak soal dia dalam bahaya. Pada saat dia menelponku, aku mendengar suara seorang lelaki yang berbicara kepadanya. Dan itu terekam secara otomatis dipanggilan Hpku" jawab Stefan mulai panik lagi.
Rendy berulang kali menelpon Reva tapi tidak diangkat, malah telponnya mati. Dia begitu panik dan gusar sekali, dia sudah lelah dengan pekerjaannya yang begitu banyak ditambah masalah terus bertambah.
Dia terlihat beberapa kali menelpon orang-orang menanyakan keberadaan kakaknya, tapi sayangnya tidak ada yang tahu.
"Rendy, sebaiknya kau lihat dulu video ini" kata Stefan pelan, dia tahu saat ini Rendy lagi marah dan kesal sekali.
Mereka melihat video yang sudah dikirimkan Stefan ke laptopnya, Rendy nampak gusar dan marah sekali setelah melihat rekaman video itu.
Bagaimana tidak, seseorang telah melukai adiknya dan saat ini orang itu sedang bernegosiasi dengan seorang pria asing yang tak dikenalnya.
Siapa pria ini? Kenapa dia tahu masalah tentang adiknya itu? Apakah dia orang suruhan ayahnya atau Elena? Apapun itu, sungguh kejam sekali menjadikan musibah orang lain sebagai bisnis.
"Seperti yang kau lihat tadi, mereka akan bertemu besok malam disebuah pub yang letaknya tak jauh dari cafeku.
Aku bisa mengantarkanmu di sana, jangan gegabah buatlah rencana dulu sebelum bertindak. Kita perlu rencana yang matang untuk menjebaknya" ujar Stefan hati-hati kepadanya.
"Baiklah, besok sore aku akan menemuimu di cafe setelah pulang kerja" ujar Rendy, dia masih nampak kesal.
"Baiklah, aku pamit dulu" ucap Stefan, dia juga merasa tak enak dan bertanggung jawab kepada temannya itu.
Saat dia pulang, dia bertemu dengan Nico di lobby apartemen itu. Dia kaget sekali, setelah menculik Reva apa yang dia lakukan disini? Apakah dia juga akan mencelakai Rendy juga? tanyanya dalam hati.
Mereka berpapasan, Stefan nampak canggung sekali tapi dia berpura-pura tidak kenal dan tahu kepadanya.
"Tunggu!" teriak Nico memanggilnya.
Badannya gemetar saat membalikan badannya, keringat dingin mengucur di keningnya. Padahal masih di area apartemen dan AC di sana dingin sekali, tapi malah dia kepanasan.
"A-ada apa?" tanyanya gugup menghadapi Nico, apa yang akan dilakukan preman ini kepadanya? batinnya.
"Apakah kau dari apartemen Reva? Apa dia baik-baik saja, kenapa tak menjawab telponku?" ujar Nico nampak begitu khawatir.
'Luar biasa sekali, setelah menculiknya dia datang lagi kesini berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Apa dia sedang membuat alibi jika ditanya soal Reva?' batin Stefan.
__ADS_1
"Aku datang menemui Rendy, bagaimana kau bisa tahu aku datang dari apartemennya?" tanya Stefan penuh selidik.
"Tentu saja aku tahu, kau 'kan temannya Reva. Jadi aku tahu semua tentangnya bergaul dengan siapa saja" ujar Nico mencoba bersikap ramah kepadanya.
Tapi tidak bagi Stefan, senyum ramah Nico bagaikan seringai kejam baginya. Tanpa sadar dia menampakan ekspresi tidak sukanya kepada Nico.
Nico orang yang cerdas, dia bisa menilai sikap orang terhadapnya. Dan sikap Stefan juga gerak postur tubuhnya menandakan ada yang tak beres dengannya.
"Namamu siapa?" tanya Nico.
"Stefan" jawabnya singkat.
"Apa terjadi sesuatu terhadap Reva?" tanya Nico penuh hati-hati.
Stefan tersenyum sambil terkekeh kecil memandangi Nico dengan tatapan sinis, pandangannya penuh kebencian.
"Ada apa? Katakan saja, tak perlu kau bersikap seperti itu kepadaku" ujar Nico dingin sambil menatap tajam kearah Stefan.
"Seharusnya kau tahu jawabannya, jangan berpura-pura tak tahu. Dan aku harap kau mengerti perkataanku" kata Stefan.
"Aku tak pandai menebak, jadi sampaikan saja apa maumu!" Nico sudah mulai geram.
"Kembalikan Reva!" teriak Stefan.
Nico terkesiap dengan ucapan Stefan dia sama sekali tak mengerti, kenapa dia berkata seperti itu.
"Apa maksudmu?! Jangan bertele-tele, katakan intinya!" bentak Nico tak kalah kerasnya.
"Aku mendengar semuanya, ketika kau mengirim orang lain untuk menculiknya. Iya 'kan?!" bentak Stefan.
"Aku menculik Reva? Yang benar saja kau?! Untuk apa aku menculik kekasihku sendiri!" bentak Nico kesal.
Belum sempat Nico menjelaskan hubungannya dengan Reva, tiba-tiba ada pukulan berat melayang ke wajah tampannya.
Bhukk!
Rendy menghujami Nico beberapa pukulan dan tendangan, untuk pertama Nico lengah dan dia jatuh tersungkur tetapi untuk selanjutnya dia berhasil mengelak semua pukulan dan tendangan Rendy.
"Bangsat! Kembalikan kakakku!" teriak Rendy masih melayangkan beberapa pukulan ke Nico.
Meskipun itu sia-sia karena semua pukulan itu tak ada yang kena, tetapi dia tetap berusaha memukulnya lagi.
"Sabarlah, Rendy! Tenangkan dirimu, biar aku jelaskan semuanya!" ujar Nico berusaha membela diri.
"Percuma, aku sudah mendengar semuanya! Kembalikan, cepat! Tak puaskah kau mengurungnya, sehingga harus diculik lagi!" teriak Rendy.
Nico terdiam ketika Reva diculik, berarti Stefan tak salah ucap karena Reva benar-benar telah diculik. Akibat lengah lagi, dia berhasil dipukul oleh Rendy.
Nico meringis memeganginya perutnya, Stefan langsung melerai pertikaian itu. Dia berusaha menenangkan Rendy, dan mengajaknya duduk menjauh dari Nico.
"Biar tak salah faham, kita dengarkan dulu rekaman telpon ini" ujarnya kepada Rendy.
Stefan sengaja membuka loud speaker kencang agar Nico bisa mendengarnya juga. Mereka mendengar semua isi percakapan mereka sampai saat Reva mendengar semua isi pembicaraan orang itu di telponnya.
Hingga nama Nico pun disebutkan, Rendy nampak kembali emosi dia ingin menghampiri Nico dan menghajarnya kembali, dan dihalangi oleh Stefan.
"Lepaskan aku! Aku tahu anak itu sudah menculik kakakku, dasar brengsek kau! Kau apakan kakakku, hah?!" teriak Rendy.
"Aku tidak menculik Reva, percayalah." Ucap Nico pelan, dia nampak lesu orang yang dia cintai telah diculik.
__ADS_1
Semarah apa Rendy, tak bisa mengalahkan emosi Nico saat ini. Amarahnya memuncak, ekspresi muka datar dan dingin itu memancarkan aura membunuh.
Sehingga Rendy maupun Stefan agak takut melihatnya, dia menghampiri Rendy dan Stefan.
"Aku akan mencari Reva, bagaimanapun juga dia harus aku temukan malam ini juga" ujarnya berlalu pergi.
Rendy terduduk lemas dia tak dapat menahan kesedihannya, orang-orang yang dia sayangi dalam bahaya.
----+++----
Didalam ruangan gelap itu, begitu sepi dan sunyi. Tak terdengar suara apapun di sana, hanya kegelapan yang ada.
Reva meringkuk kedinginan, kaki dan tangannya terikat badannya terasa begitu sakit dan lemas, kepalanya sangat sakit sekali.
"Dimana aku? Apa yang aku lakukan disini? Uhuk! Dingin sekali" ujarnya sambil memeluk lututnya.
Dia dibaringkan disebuah dipan kayu yang hanya beralaskan tikar jerami, bau kotoran basah dan lembab terasa di sana. Reva sadar dirinya terkunci disebuah ruangan, entah itu gudang atau kandang.
"Tolong, tolong!" teriaknya dengan suara sedikit parau, badannya sekarang dalam keadaan lemah.
Obat bius yang tercium olehnya masih terasa efek samping bagi tubuhnya. Lemas, sakit dan pusing berat terasa di kepalanya.
Krieet!
Terdengar suara pintu terbuka, suara pintu kayu yang menderit itu membangunkannya. Ia tersentak ada sesuatu yang merayap menyentuh tubuhnya.
"Si-siapa itu?" ujarnya, suaranya yang pelan dan parau membuat seseorang itu semakin aktif menyentuh tubuhnya.
"Akh! Lepaskan, siapa ini?! Jangan kurang ajar!" teriak Reva ketakutan.
Seorang pria bertubuh tinggi dan atletis memiliki wajah yang cukup tampan, menatapnya sinis dengan pandangan penuh n*fsu kepadanya.
"Tenanglah, tidak usah takut. Aku akan melakukanya pelan-pelan, tidak akan sakit kok. Hehe!" ujar suara mes*m itu.
Reva semakin merinding dibuatnya, dia tahu itu bukan Nico karena dia hapal betul dengan suara dan aroma tubuh kekasihnya.
"Aku yakin kau akan menikmatinya, aku lebih mahir memuaskan daripada siapapun" kata pria itu.
Reva tersentak karena pria itu mulai menjelajahi seluruh tubuhnya dengan kasar, dan meremas kencang dua buah mahkotanya. Reva menjerit kesakitan, bukannya berhenti tetapi pria itu semakin menggila.
Kali ini dia melucuti seluruh pakaian yang melekat ditubuhnya, dan menyapu seluruh tubuh indah yang tak pernah terjamah itu memakai salivanya, Reva menggeliat geli dan jijik.
Dia harus menahan dan mencoba memberontak dari dekapan pria itu, tenaga pria itu cukup kuat untuk menekan tubuhnya. Beberapa kali pria itu meraba area sensitifnya yang mulai basah itu.
Pria itu menyeringai, bagaimanapun juga Reva wanita normal sekuat apapun dia memberontak dan menolak, tetapi tubuhnya menerima dengan baik segala bentuk sentuhan pria itu.
Karena pria itu tahu bagian mana yang paling sensitif yang disukai oleh wanita, karena dia sudah berpengalaman soal begituan. Reva mulai pasrah ketika pria itu mulai membuka kedua pahanya dan melepaskan underwear nya, tangannya memilin kelereng kecil milik Reva sambil memainkan lidahnya dia **** ********** Reva disela gundukan kecil miliknya.
Reva seorang gadis dewasa, meskipun hanya sebentar dia pernah merasakan sentuhan hangat dari kekasihnya, begitu juga sekarang percuma saja memberontak dia takkan mampu melawan pria yang tubuhnya jauh lebih besar darinya.
Pria itu bersiap memasukkan benda tumpul miliknya ke mahkotanya, dia merasakan hentakan kecil di sana dan mulai merasa kesuciannya direnggut paksa.
Dia menangis sejadi-jadinya, dia teringat saat Nico memintanya tapi ditolak olehnya dengan alasan belum siap, sekarang mahkotanya hilang begitu saja.
Dia merasakan ada aliran hangat di sela pahanya dan mengira itu darah keperawanannya.
Dan dia pingsan tak sadarkan diri.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung