
Rendy ternganga mendengar ucapan Nico tadi, apa maksudnya tadi?
"Kenapa Kakak tiba-tiba ingin mengatakan hal ini kepadaku? Apa Kakak masih berkeinginan menikahi Kak Reva, meskipun sudah ditolak?" tanya Rendy penasaran.
"Meskipun aku ditolak, bukan berarti kami berpisah bukan. Saat ini tak ada pilihan lain selain menikah, mungkin perkataanku akan membuatmu marah, tapi ini satu-satunya jalan agar kalian tak diganggu oleh mereka lagi" ujar Nico menjelaskan semuanya.
"Tapi, apa alasanmu ingin cepat-cepat menikahi kakakku?" tanyanya lagi.
"Tujuan utamaku selain mencintainya dan tak ingin berpisah jauh darinya adalah, ingin melindunginya dan kalian semuanya.
Selama ini kalian dibawah naungan ayahmu, meskipun kalian sudah dewasa tapi kalian tetap tak bisa berbuat apa-apa selagi ayah kalian masih memegang kedali.
Terutama kakakmu, dia seorang perempuan. Walinya adalah ayah kandungnya, selama dia masih gadis belum berkeluarga, disetiap aktivitasnya harus ayahnya tahu dan harus ada izinnya juga.
Jika dia menikah denganku, maka putuslah walinya itu. Maka aku akan menjadi suami sekaligus penanggung jawab atasnya. Aku ingin menjadi bagian dari dirinya dan kalian berdua, kau dan Ericka..." ujar Nico memberikan alasannya.
"Apa untungnya bagimu? Kau bukan siapa-siapa kami, bagaimana bisa kau harus bertanggung jawab atas semua ini? Jangan coba-coba membohongiku..
Jika kau cinta dia, dan ingin menikahinya segera agar tak bisa dipisahkan lagi.. Mungkin aku bisa menerimanya alasan itu, tapi perkataanmu itu tadi sangat aneh dan terlalu dramatis bagiku" jawab Rendy sinis.
"Aku tak tahu bagaimana caranya menyakinkanmu... Tapi selama ayah kalian bersama dengan Elena, maka akan selamanya kalian seperti ini! Aku tak pernah berniat memisahkan kalian dengan ayahmu, tidak!
Aku hanya ingin memberikan perlindungan dan hak kekuasaan, kekuatanku kepada kalian. Tak ada niatan apapun didalamnya, kecuali niatku yang tulus murni karena cintaku kepada kakakmu, dan perhatianku kepada kalian semuanya" jawab Nico lagi.
Cukup lama Rendy terdiam, memikirkan semua ucapan Nico. Memilih dan memilah ucapannya tadi, apakah benar-benar tulus atau ada niatan lain.
"Baiklah, aku akan memikirkannya. Tapi untuk saat ini kita fokus dulu kepada kakakku, dan misteri siapa yang menabraknya. Karena sampai saat ini belum tahu siapa pelakunya" balas Rendy.
"Untuk itu, maka kau harus datang nanti malam untuk sebuah kejutan" ujar Nico.
Nico pergi dan memulai rencananya nanti malam, sedangkan Rendy menghubungi Andriana untuk menemani Reva malam ini.
//
Waktu yang telah direncanakan sudah datang, rencana mereka sudah siap. Dan benar sesuai dugaan, sebelum datang ke acara ibunya, Pricilia datang ke rumah sakit untuk menemui Reva.
Tapi kedatangannya ditolak oleh bodyguard yang berjaga, dan Andriana pun dengan tegas mengatakan tidak menerima tamu untuk Reva malam ini, siapapun tanpa terkecuali.
"Jika kau tak percaya, silakan telpon langsung dengan pak Rendy dan ini sudah di konfirmasi oleh dokter dan perawat jaga malam ini" ucap Andriana agar Pricilia tak memaksa masuk lagi.
Akhirnya Pricilia menyerah juga, diapun pergi dari sana dan langsung menuju Ballroom hotel milik ayah tirinya itu, untuk menghadiri acara penyambutan ibunya itu.
"Halo, Pak... Sesuai dugaan, nona Pricilia datang kemari. Dia memaksa untuk masuk tapi aku kekeuh untuk tidak membiarkannya masuk, tak apakah?" kata Andriana kepada Rendy.
"Tidak apa, itu memang perintahku. Apalagi orang itu sudah masuk catatan hitam di bukuku, jadi bagus kalau kamu mengusirnya. Btw, ini diluar kantor jangan panggil aku pak, oke..?" kata Rendy gemas.
"Iya, Bebs. Eh, sorry-sorry maksudku iyaaa" ujar Andriana menjawab telepon Rendy keceplosan soal perasaannya.
"Apa? Apa tadi? Bisa diulangi lagi??" ujar Rendy speechless mendengar ucapan Andriana tadi.
"Gak, gak ada kok. Oke, bye!" ujar Andriana gugup langsung menutup telponnya.
"Sial, bodoh banget! Kenapa pake keceplosan sih?!" gumamnya sendirian, berulang kali memukuli mulutnya itu.
Sedangkan di seberang telpon itu Rendy hanya bisa senyum-senyum sendiri, membuat Nico yang ada di sana juga ikut tersenyum.
"Ren, kamu tetap diam disini jangan kemana-mana. Apapun yang terjadi kamu tetap disini, perhatian dan lihat saja, oke?" ujar Nico.
"Tapi kenapa aku berada disini? Bukankah Kakak bilang ingin bertemu denganku karena ada yang ingin dibicarakan?" tanyanya.
"Memang, tapi ini bukan sekedar bicara saja. Nanti kamu akan mengerti" ujar Nico lalu pergi meninggalkan Rendy sendirian didalam sebuah kamar.
__ADS_1
Nico dan beberapa anak buahnya sedang menyamar sebagai pengunjung, mereka mengamati setiap tamu yang datang. Dan tibalah saat Pricilia datang, anak buah Nico langsung gerak menarik tangan Pricilia dan membekap mulutnya.
Mereka membawanya ke sebuah ruangan lumayan besar dan disekelilingnya adalah dinding kaca cermin, hingga bisa memantulkan bayangan mereka.
Dibalik dinding kaca cermin itu adalah kamar yang ditempati oleh Rendy tadi, bak lagi menonton acara TV dia melihat mereka.
"Apa yang dilakukan oleh mereka? Ada apa dengan Pricilia, kenapa dia sampai dibawa kesini?" gumamnya penasaran.
Nico masuk bersama beberapa anak buahnya, sebagian menjaga pintu luar dan mengalihkan perhatian orang-orang.
"Oh.. Ternyata ini yang jadi biangnya, si pembuat masalah" ujar Pricilia menatap tajam kearah Nico.
"Kenapa aku jadi pembuat masalah?" tanya Nico santai.
"Tentu saja, semenjak kenal denganmu Reva dan adiknya jadi berubah. Mereka sekarang jadi pembangkang! Tidak menurut lagi apa kata ayahnya.
Dia juga sombong semenjak memegang kendali atas semua perusahaan dan yayasan itu" ujar Pricilia ketus tanpa rasa malu sedikit pun.
"Oh, cuma itu alasannya" balas Nico sinis.
"Tidak hanya itu saja, kau juga biang semua masalah ini. Aku bukannya tidak tahu apa saja yang kau lakukan selama ini" ucap Pricilia.
"Memangnya apa yang aku lakukan selama ini? Mengganggumu juga tidak" jawab Nico masih santai.
Dia sengaja memancing arah pembicaraan mereka ke inti permasalahan yang terjadi di keluarga itu, agar Rendy yang ada didalam kamar sebelah tahu semuanya.
Mereka sengaja membiarkan Pricilia bebas tanpa ikatan ataupun kukungan agar dia bebas berbicara, tanpa merasa terancam sedikitpun.
"Kau kan yang selama ini membantu Reva dan Rendy? Kau juga dibalik usaha gagalnya rencana kami semuanya, kau tahu... Sebelum dekat denganmu, mereka tak seberani ini!
Reva meskipun sering bertengkar dengan kami, tapi dia masih menurut dengan ayahnya, dan mendengarkan semua perkataannya.
Rendy, dia? Hah! Bocah tengil itu, dia si culun kutu buku, setiap hari pekerjaannya hanya didalam kamar dan game online di komputer bututnya itu.
Lihat saja nanti, kami akan menguasai semuanya dan kau takkan bisa berbuat apa-apa. Apalagi kami lihat Reva juga sangat jijik melihatmu!
Akan mudah bagi kami menguasainya, kau tidak akan berbuat apapun, tidak bisa! Karena kau tak ada hubungannya dengan ini semuanya" ucap Pricilia tanpa menyaring ucapannya sedikit pun.
Nico hanya tersenyum mendengar ini semuanya, dia berhasil memancing omongan Pricilia, dan meminta anak buahnya merekam semua pembicaraan mereka.
"Tinggal satu langkah lagi, aku harus memancingnya untuk mengaku telah membuat Reva celaka" gumamnya sendiri dalam hati.
"Baiklah, aku hanya ingin bertanya saja padamu tidak ada yang lain" ujar Nico lagi.
"Cepatlah, aku tak punya waktu. Ibuku sedang menungguku, aku tak ingin ketinggalan acaranya" ucap Pricilia sambil duduk dengan angkuhnya.
Salah satu anak buah Nico memberikan telponnya ke Nico, ada panggilan dari anak buahnya yang sedang mengawasi diluar.
"Pak, polisi sudah datang. Mereka sedang mengintrogasi orang tua anak itu, semua tamu disini terlihat bingung dan heboh sekali.
Karena tiba-tiba polisi datang mencari anak itu, apalagi polisi terang-terangan mengatakan dia adalah pelaku tunggal otak kecelakaan itu" ujar anak buahnya menjelaskan keadaan diluar sana.
"Tunggu saja, tidak akan lama" ucap Nico membalas anak buahnya itu.
"Baiklah, aku juga sibuk. Aku mau bertanya, apakah kau tahu sesuatu tentang kecelakaan pada waktu itu? Kecelakaan yang menyebabkan Reva koma sampai saat ini" tanya Nico, dia berusaha bersikap sesantai mungkin.
"Aku? Apakah kau ingin mengatakan kalau aku penyebab dia kecelakaan?" tanya Pricilia gusar, tapi dari gerak gestur tubuhnya mencerminkan dirinya sedang gelisah.
"Tidak, aku kan tanya. Kau kan waktu itu lagi mau touring dengan teman-temanmu, kali aja pernah denger sesuatu tentang itu" ucap Nico lagi.
"Aku tak tahu, dan tak mau tahu apapun tentang anak itu. Setidaknya dia bisa mengambil pelajaran dari semua ini, agar tak bersikap sombong pada orang, jika tidak inilah akibatnya" ujar Pricilia pongah.
__ADS_1
Mendengar itu, baik itu Nico dan anak buahnya termasuk Rendy yang dikamar sebelah terkejut, ucapan Pricilia secara tidak langsung mengungkapkan perbuatannya.
"Memang apa yang dilakukan Reva kepadamu, sehingga membuatmu marah?" pancing Nico lagi sambil menahan emosinya.
"Dia terlalu sombong, dan angkuh membuatku kehilangan muka dan harga diri, apalagi adiknya itu, si Rendy. Tengil sekali bocah itu padaku!" ucapnya.
"Jadi, dengan hal itu kau melakukannya, membuatnya celaka" tanya Nico geram.
"Tidak itu saja, aku juga--" sadar dirinya masuk dalam jebakan Nico, dia mendadak mengerem ucapannya.
Brak!
Rendy mendobrak pintu kaca cermin itu keluar dari kamar sebelah, dia menatap Pricilia dengan wajah memerah menahan emosinya. Dia bersiap-siap ingin menyerangnya, tapi langsung ditahan oleh anak buah Nico.
"Seret wanita ini keluar, kalau tidak dia akan mati disini!" perintah Nico kepada anak buahnya yang lain.
"Lepaskan aku! Sialan kau Nico, kau menjebakku!" teriak Pricilia tak terima.
Kini mereka sudah diluar ruangan itu menuju ballroom hotel tempat acara itu dimulai. Semuanya terkejut melihat kedatangan Pricilia sambil diringkus oleh beberapa orang untuk diserahkan ke polisi.
"Terima kasih Pak Nico atas kerja samanya" ucap komandan polisi itu, lalu mereka bersiap membawa Pricilia pergi.
"Tidak! Jangan bawa aku, Ibu!Ibu tolongin aku..." ujar Pricilia memelas memohon bantuan ibunya dan belas kasihan polisi.
"Tunggu dulu, Pak. Kalian tak bisa membawanya begitu saja tanpa adanya bukti konkrit, dia harus dibuktikan bersalah dulu sebelum ditahan!" ujar Pramudya berusaha membantu adiknya itu.
"Untuk itu kami membawanya ke kantor sekarang untuk membuktikan dia bersalah atau tidak, jika dia bersalah maka kami akan langsung tahan jika tidak akan kami lepaskan" jawab polisi itu tegas.
"Ta-tapi anakku... Mas, bantuin dong! Jangan diam saja!" ujar Elena meminta bantuan suaminya yang dari tadi hanya diam.
"Tunggu dulu, Pak. Kita bicarakan dulu hal ini" ucap pak Dewantoro.
"Bapak boleh ikut kami jika ingin memberikan keterangan" balas polisi itu.
"Saya yakin anak saya tidak bersalah..." ucap pak Dewantoro pelan.
Dan jawabannya membuat Nico dan Rendy di sana terkejut mendengarnya, dia tak memperdulikan putrinya malah membela anak tirinya, penyebab kecelakaan itu terjadi.
"AYAH!" bentak Rendy dengan penuh amarah.
Dia menghampiri mereka semuanya, dan memperhatikan wajah mereka satu persatu dengan penuh kebencian.
"Kau adalah ayah terburuk! Kau membela seseorang yang telah membuat putrimu celaka! Apa karena dia anak dari istrimu ini, sampai kau bela?!
Lalu, bagaimana dengan kami?! Siapa yang akan membela dan melindungi kami?!" teriak Rendy, dia lalu dirangkul oleh Nico.
"Sabar, tenangkan dirimu! Banyak orang disini, biarkan saja mereka yang menilai mereka semuanya" bisik Nico.
Mendengar pernyataan Rendy tadi, seluruh orang-orang para tamu disana kembali kasak kusuk membicarakan keluarga itu.
"Ren-Rendy, ayah hanya..." tenggorokan pak Dewantoro tercekat, dia tak bisa membalas ucapan Rendy lagi.
"Sudah, jika ada yang ingin ditanyakan atau memberikan pernyataan silakan ikut kami ke kantor polisi" ucap komandan polisi itu tadi.
Mereka memaksa Pricilia ikut dengan mereka diiringi oleh Elena dan Pramudya.
"Kau disini saja, selesaikan permasalahanmu dengan ayahmu itu, biar aku yang menangani Pricilia di kantor polisi" ucap Nico.
Dan sekarang tinggallah Rendy dengan ayahnya di sana berdua saja, semua orang telah pergi membubarkan diri, disaat pesta dimulai saja belum.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung