Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Sebuah Pengorbanan


__ADS_3

Beberapa jam kemudian setelah pemakaman opa Harja, hari sudah sore hari dan semua orang mulai sibuk menyiapkan acara tahlilan buat almarhum. Nico dan adik-adiknya kembali ke rumah dulu sebelum kembali lagi ke rumah tante Sonia untuk tahlilan bersama.


"Aku merasa gelisah sekali, kenapa yah?" gumam Ericka.


"Kenapa? Emang kamu lagi mikirin apa?" tanya Andriana.


Mereka sedang berkumpul di ruang keluarga sebelum berangkat lagi ke rumah tante Sonia..


"Gak tau, perasaan gak ada apa-apa.." jawab Ericka sambil termenung.


"Itu cuma perasaan kamu aja, katanya itu efek dari kelelahan. Biasa itu, setelah sibuk mengurus pernikahan kami kini kita semua dikejutkan oleh berita duka ini, mau gimana lagi.." ucap Andriana.


"Semuanya udah siap? Yuk berangkat!" tiba-tiba Rendy menghampiri mereka berdua.


"Emm, kak Reva sama kak Nico kemana?" tanya Ericka.


"Kak Reva tiba-tiba merasa tidak enak badan, katanya perutnya suka mules-mules. Gak tau maunya apa, mungkin kekenyangan kali, tau sendiri dia kalo lagi makan kayak apa," ledek Rendy.


"Ya sudah kalau gitu, kita aja yang pergi. Gak enak kalau gak datang sama William dan Erick.." ujar Andriana.


Lalu mereka berpamitan sebentar sama Milah dan mengatakan jika Nico dan Reva ada di rumah, minta diatur makannya sang kakak agar tidak sakit perut lagi.


Triing.. Triiing... Triing!


"Ponselmu bunyi tuh!" ujar Rendy menegur Ericka.


"Halo, iya saya sendiri.. Iya? Apa?!! Baiklah, Sus saya segera ke sana," ucap Ericka terlihat begitu panik membuat Rendy dan Andriana jadi penasaran.


"Ada apa? Telpon dari siapa?!" tanya Rendy sedikit khawatir saat melihat ekspresi Ericka.


"Geraldine, kak! Dia masuk rumah sakit, sebentar aku mau menelpon William," jawab Ericka terlihat terburu-buru.


"Jangan, jangan telpon dia. Saat ini kondisinya sedang tidak stabil, dari tadi kamu lihat sendiri dia kayak gimana, melamun terus pasti dia sangat terpukul dengan kematian opa, jangan bebani dia dengan berita buruk ini lagi.." ucap Rendy mencegah Ericka menghubungi William.


"Tapi, kak.. Gimana kalau William tau setelah semuanya selesai, dia pasti kecewa sekali.." ucap Ericka bingung.


"Tidak apa, biar itu jadi urusan kita nanti. Sekarang kamu kesana segera, temani Geraldine kalau ada apa-apa hubungi kami. Kalau ada waktu kami akan menyusul setelah acara tahlilan, gak usah bilang ke kak Reva dan kak Nico dulu, siapa tau Geraldine hanya sakit biasa," ujar Rendy lagi.


"Sakit biasa mana mungkin bisa masuk rumah sakit, mana pakai nelpon segala lagi, suster rumah sakit itu langsung yang nelpon!" sahut Ericka lagi.


"Sudah, nanti kamu tau sendiri kondisinya setelah sampai di sana.." ucap Rendy lagi.


Akhirnya Ericka pergi sendiri ke rumah sakit sedangkan Rendy dan Andriana menuju ke rumah tante Sonia untuk tahlilan bersama, tentu saja berita tentang Geraldine untuk sementara ini hanya mereka saja yang tau.


.


.

__ADS_1


Saat tiba di rumah sakit, Ericka langsung disamperin oleh suster yang menelponnya.


"Halo, mbak Ericka?" tanya suster itu untuk memastikan orang yang dia panggil adalah orang yang sama.


"Iya, suster Ina?" tanya balik Ericka.


"Betul, mari ikut saya.." jawab suster itu juga sambil mengajaknya ke bagian administrasi.


"Maaf mbak kami baru menghubungi anda, karena dari tadi siang kami kesulitan menghubungi keluarga pasien, kami tidak menemukan identitas lainnya milik pasien, dia hanya memiliki ponsel itu juga ponselnya mati.


Jadi kami harus menunggu batere ponselnya penuh dulu baru bisa menghubungi pihak keluarga, untungnya ada charger milik kami yang cocok sama ponsel milik mbak Geraldine.." ucap suster itu menjelaskan sambil mengarahkan Ericka untuk mengisi formulir sebagai wali pasien.


"Tadi siang? Jadi dari tadi siang?" tanya Ericka lagi bingung.


"Benar, itu juga kami baru mengetahui ketika dia sudah pingsan. Jadi kami tidak tau sudah berapa lama dia pingsan di koridor sana.." jawab suster itu.


"Koridor? Koridor didepan ruang UGD?" tanya Ericka lagi untuk memastikan.


"Betul, sebelumnya dia sempat bertemu dengan saya saat saya melihat pelipis kirinya terluka. Katanya terjatuh dan terbentur kena bangku besi berada di koridor depan ruang tunggu.


Setelah itu dia langsung menemui temannya yang datang menemui kakeknya yang meninggal tadi pagi, setelah itu saya tak bertemu lagi dengannya. Beberapa menit kemudian setelah ruang UGD sudah disterilkan, beberapa perawat lainnya menemukannya tergeletak pingsan di sana.." ujar suster itu menjelaskan lagi.


"Ba-bagaimana bisa jatuh terpeleset hingga membuat pelipisnya terluka bisa membuatnya jatuh pingsan? Jika benar seharusnya pas jatuh dia bisa saja pingsan, kan?" tanya Ericka tak mengerti.


"Itu bisa saja terjadi, benturan hebat bisa mengakibatkan trauma berat bagi otak sehingga pasien mengalami sakit kepala hebat lalu jatuh pingsan.


Ericka hanya terdiam saja mendengarkan penjelasan dari suster, dia langsung menuju ruangan yang merawat Geraldine. Suster Ina mempersilahkan Ericka masuk dan menjenguknya, tapi saat ini Geraldine sedang tertidur setelah melewati beberapa perawatan, kini ia diistirahatkan agar pemulihannya berlalu cepat.


"Mbak, ini ponselnya Nona Geraldine.." seorang suster lain datang untuk menyerahkan ponsel dan pakaian Geraldine.


Ericka menerimanya dengan perasaan sedih, entah mengapa dia bisa merasakan rasa sakit yang dialami oleh Geraldine.


"Geraldine, apa yang terjadi? Kenapa ini bisa terjadi denganmu? Aku tak tau apa yang kamu rasakan saat ini, yang pasti saat itu kamu bersama dengan William, apa terjadi sesuatu dengan kalian?


Apa sempat terjadi kecelakaan pagi tadi? Kenapa kamu gak menghubungi aku, tapi aku senang sebelumnya kamu mau mengangkat telponku, setidaknya mereka langsung menghubungi aku saat musibah ini terjadi.." ucap Ericka sambil memperhatikan gadis itu.


Geraldine tertidur dengan tenangnya, dia sudah dipakaikan baju pasien. Selang infus dan selang oksigen terpasang ditubuhnya, wajahnya nampak pucat, dan Ericka melihat keningnya diperban.


Dia menggenggam tangan sahabat sekaligus bawahannya itu, dia benar-benar khawatir dan miris melihat kondisinya, dia mengingat William, apa saudara sepupunya itu tau tentang kondisi Geraldine saat ini?


"Apa dia tahu kalau kepalanya Geraldine sempat terantuk di dasbor mobilnya? Kalau gak tau benar-benar kelewatan!" geram Ericka nampak kesal sekali.


.


.


.

__ADS_1


Sementara itu di rumah tante Sonia, acara tahlilan sudah selesai dan semua tamu sudah bubar, tinggal beberapa kerabat yang masih tinggal. William dan Erick nampak sibuk menerima beberapa tamu dari pihak kepolisian yang datang.


"Kedatangan kami kesini untuk mengucapkan bela sungkawa kepada bapak berdua bersama keluarga sekalian, kami juga ingin menyampaikan bahwa mendiang sudah dinyatakan bukan bagian dari tahanan lagi karena sudah selesai sampai disini, ini surat resmi dari kantor kami sampaikan, kami harap pihak keluarga bisa mengikhlaskan kepergian beliau dan kami mohon maaf jika ada kesalahan dalam kami menangani beliau semasa beliau ada.." ucap kepala kepolisian itu.


Kemudian mereka juga pamit untuk pulang dan meninggalkan William dan keluarga saja, setelah itu Rendy dan Andriana juga ikut berpamitan untuk pulang, mereka menemui William dan Erick bersama.


"Kami juga pamit yah, insyaallah besok kami kembali lagi.." pamit Rendy sambil memeluk kedua sepupu jauhnya itu.


"Terima kasih sudah datang, kalian pasti lelah sekali setelah acara langsung membantu disini.." ucap Erick nampak lebih tegar dibandingkan William.


"Gak apa-apa kok, kami biasa aja.." sahut juga Andriana sambil tersenyum tulus.


"Dimana Kak Nico, kak Reva dan Ericka? Kok gak kelihatan dari tadi?" tanya Erick sambil celingukan, William seperti baru tersadar juga mencari keberadaan mereka lewat pandangannya.


"Kak Nico lagi menemani kak Reva, mendadak kak Reva merasa badannya tak enak.. Mungkin kelelahan juga, sedangkan Ericka lagi di rumah sakit.." Andriana menjelaskan keberadaan saudara-saudara iparnya itu dan dia hampir saja keceplosan soal Geraldine.


"Rumah sakit? Kenapa?" tanya Erick serius, William juga sedang menatap mereka dengan serius juga.


"Emm, ada temannya yang lagi sakit. Itu aja.. Ya udah, kami pamit yah.." sahut Rendy langsung dan menarik tangan istrinya untuk pulang.


William yang sedari tadi diam saja semenjak opa Harja meninggal, kini mulai bisa bergerak lagi karena seharian ini dia hanya diam membisu sambil menangis menatapi wajah mendiang opa sampai mendiang dimakamkan.


"Ren, Geraldine mana?" tiba-tiba saja William menahan tangan Rendy dengan menanyakan keberadaan gadis itu.


Rendy merasa terharu melihatnya akhirnya mau berbicara juga, suara William terdengar serak entah karena dia terlalu banyak menangis atau dia terlalu lama berdiam diri, tapi yang menyedihkan adalah pertanyaannya itu.


"Memang seharian ini kamu gak liat Geraldine?" Andriana malah bertanya balik.


William hanya menunduk dan menggelengkan kepalanya, dia kembali menatap mereka tapi dia merasa aneh dengan tatapan keduanya seolah menatap aneh dirinya.


Andriana dan Rendy pulang, Erick kembali berkumpul dengan keluarga yang lainnya tapi tidak dengan William, lelaki itu berada di taman samping rumah untuk menelpon Geraldine, hatinya gelisah sekali.


Tuut.. tuuut.. tuuut..


"Halo?" terdengar suara yang mengangkat telpon Geraldine.


"Halo, ke-kenapa kamu yang mengangkat telpon Geraldine, Ericka? Dia dimana? Tadi kata Rendy kamu lagi di.. Di rumah sakit, apakah.. Apakah.." William tak sanggup lagi berbicara dadanya terasa sesak sekali.


Tiba-tiba ingatannya kembali lagi pada pagi tadi dimana Geraldine mengejarnya, ikut naik mobilnya dan.. Mereka hampir mengalami kecelakaan.


Tuk!


Ponsel ditangannya terlepas begitu saja di tangannya, dia mendadak pusing saat bayangan Geraldine terlintas dibenaknya, gadis itu terantuk dengan kerasnya di dasbor mobilnya


"A-apa yang aku lakukan?" gumamnya sambil terduduk lesu di taman itu.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2