
Reva dibawa ke ruang bersalin oleh beberapa perawat dan dokter, niat hati ingin menjenguk Geraldine malah dia lahiran di rumah sakit itu, Nico yang panik bukannya menelpon keluarga malah menelpon para pengawalnya agar bersiap menjaga sang istri dan calon anaknya.
"Kalian percayakan saja nyonya besar kepada para dokter itu, tuan besar hanya panik saja dan tolong dimaklumi saja. Tapi buat jaga-jaga, siapa tau tuan butuh bantuan, kalian datang saja, tidak perlu banyak-banyak, nanti malah bikin kehebohan dan membuat orang lain merasa tak nyaman.
Datanglah dan jangan lupa bawa juga beberapa pakaian ganti untuk nyonya juga calon tuan muda kita, nanti para pelayan akan mempersiapkannya, kalian siapkan saja mobilnya," ucap kepala pelayan memberikan arahan kepada para pengawal itu.
Tapi tetap saja mereka datang dengan segala persiapan, tiga mobil disiapkan untuk menjemput bos mereka tapi yang berangkat lima mobil, benar-benar loyalitas yang besar untuk bos mereka.
.
.
Sesampainya di rumah sakit, ternyata di sana sudah heboh duluan, karena permintaan sang pasien VVIP, akhirnya satu lantai dikosongkan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan sang pasien, tentu saja itu ulahnya Nico. Untungnya lantai itu masih banyak yang kosong, bagi pasien lainnya dia siap mengganti rugi mereka.
"Tuan, ada telpon dari nona Ericka," ujar salah satu pengawalnya.
"Astaghfirullah, aku lupa mengabari mereka semua!" ujarnya benar-benar terkejut dengan ulahnya sendiri.
"Halo, Kak katanya mau kesini.. Kok gak nyampe-nyampe?" tanya Ericka bingung.
"Ah, maaf aku lupa memberi kabar kepada kalian.. Sebenarnya dari tadi kami sudah sampai, tapi saat didepan lobby Reva mengalami kontraksi hebat sampai air ketubannya pecah, dan--" dia menceritakan kronologisnya sampai mengagetkan Ericka.
"Apaa?! Kok baru ngasih tau, terus gimana kak Reva? Si comel udah lahir? Cewek apa cowok?" tanya Ericka beruntun memotong pembicaraan Nico.
"Satu-satu kalau nanyanya, belum.. Masih didalam ruangan, belum kedengaran bayi nangis bearti belum lahir lah! Tenang, nanti kalau udah lahir aku kabarin" jawab Nico.
"Emm, tolong kabarin si Rendy juga yah, aku juga lupa tadi menghubungi dia, benar-benar panik akunya tadi.." ucapnya lagi.
"Iyaaa.." sahut Ericka.
"Kenapa?" tanya Erick saat melihat Ericka ekspresinya terlihat senang.
"Kak Reva sebentar lagi mau lahiran!" jawabnya girang.
"Benarkah? Wah, dikira jalan mau ke rumah sakit mau njengukin orang gak taunya malah lahiran," ucap Erick sambil menggelengkan kepalanya ikut senang.
.
.
.
Sementara itu dikediaman Wijaya, Rendy dan Andriana sudah bangun dan bersiap ingin ke rumah sakit, tiba-tiba saja mereka mendapat telpon dari Ericka mengabarkan jika Reva sebentar lagi mau lahiran.
__ADS_1
"Benarkah? Akhirnyaaaa.. Alhamdulillah, iya! Tunggu sebentar, aku dan Andriana akan kesana sekarang!" ucap Rendy terlihat senang.
"Kak Reva lahiran??" tanya Andriana saat mendengar telpon dari Rendy.
"Iya, kita kesana sekarang yah.." jawab Rendy sambil bersiap.
"Jadi kita tunda dulu mau njengukin si Geraldine?" tanya Andriana masih bingung.
"Sekalian, kan masih satu rumah sakit.. Kita nemuin si Geraldine sebentar, kan baby nya belum launching, setelah itu baru kita datang ke kak Reva, biar adil!" jawab lagi Rendy.
"Iya, kamu benar.." ucap Andriana sambil tersenyum sumringah.
Setelah itu keduanya langsung berangkat ke rumah sakit, saat tiba di sana mereka sudah disuguhi oleh beberapa pemandangan yang menurut mereka indah dan aneh juga, gimana gak bayinya belum lahir tapi Nico dan Reva sudah menerima beberapa buket bunga dan karangan bunga untuk ucapan selamat kelahiran new baby born.
"Beda ya kalau yang lahiran bayi sultan, banyak yang ngucapin selamat!" terdengar beberapa orang sedang berbisik membicarakan keluarga itu.
Rendy dan Andriana hanya tersenyum saja, kemudian mereka menemui Geraldine yang ditemani oleh William seorang, mereka tak menemukan Ericka dan Erick.
"Bener-bener ya mereka, bayinya aja belum lahir udah heboh duluan.." ucap Rendy menceritakan apa yang mereka lihat tadi.
"Itu sih ulah bapaknya, Nico paling.." sahut William sambil tersenyum geli.
"Nanti kalau aku lahiran, kayak gitu juga gak yah?" tanya Andriana iseng-iseng.
Tentu saja itu membuat Andriana malu, wajahnya merona sedangkan Geraldine dan William salting sendiri saling pandang, William hampir saja keselek biji jeruk gara-gara mendengar ucapan Rendy yang gak lihat-lihat kaum jomblo alias belum nikah ada di sana.
Beberapa saat kemudian, Rendy mendapat telpon dari Ericka jika sang keponakan sudah lahir. Rendy dan Andriana langsung pamitan kepada Geraldine dan William, untungnya keduanya mau mengerti.
"Iya, gak apa.. Aku paling sehari atau dua hari saja disini, setelah itu langsung pulang. Nanti kami datang mau lihat babyi comel.." ucap Geraldine tersenyum tulus kepada mereka.
Sementara itu, di ruangan VVIP tersebut Reva nampak kelelahan setelah melahirkan. Sedangkan sang bayi sedang mendapatkan perawatan dari para perawat dan dokter.
"Gimana rasanya, Kak?" tanya Andriana menghampiri Reva yang masih terlihat lemah itu.
"Rasanya luar biasa, nikmatnya menjadi seorang ibu.. Dalam hitungan beberapa menit sudah merubah hidupku, seketika aku sudah menjadi seorang ibu.. Dan dipanggil Mama oleh anak itu," jawab Reva sambil berlinang air mata terharu.
"Luar biasa yah menjadi seorang ibu, tapi sebenarnya aku gak nanya itu sih.. Maksud dari pertanyaanku tadi, gimana rasanya lahiran?" ucap Andriana sambil nyengir.
"Tentu saja sakit, gak bohong aku! Tapi pas anaknya udah lahir plong aja rasanya, bayangin aja lagi pup keres yang susah banget keluarnya, dan tiba-tiba berhasil keluar kan lega rasanya, kira-kira gitu rasanya.." jawab Reva menimbali ucapan Andriana sambil tersenyum kecut akibat kesalahpahaman tadi.
"Ooh, iyaaq.." ucap Andriana sambil manggut-manggut sambil membayangkannya.
Sedangkan Rendy dan Nico hanya menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya, sementara Erick kembali lagi ke ruangan Geraldine setelah mengetahui kelahiran bayinya Reva dan Nico.
__ADS_1
Dia belum lihat bayinya tapi dia juga harus kembali lagi ke ruangan Geraldine menemani William, dan juga harus kembali ke rumah tante Sonia juga untuk membantu acara tahlilan hari kedua opa Harja meninggal.
"Kasihan tuh bocah, sibuk bener.." gumam Ericka kasihan melihat kesibukan saudara sepupu jauhnya itu.
Sementara dia sendiri juga sibuk membantu yang lainnya, kadang ke ruangannya Geraldine dan kadang ke ruangan Reva. Padahal Geraldine sudah menolaknya tapi dia bersikukuh untuk membantu meskipun ada William.
"William juga harus pulang walaupun sebentar, tahlilan opa Harja masih harus dilaksanakan.. Soal anaknya Reva gak usah dipikirin, banyak orang yang ngurus, kamu juga harus fokus sama kesehatan kamu sendiri.." ujar Ericka menimbali ucapan Geraldine sebelumnya.
"Tapi aku merasa tak enak, kan kamu tuh bos aku masa iya bosnya repot sendiri mengurus anak buahnya.." sahut Geraldine.
"Kayak sama siapa aja, gak usah sungkan sama aku! Di kantor aku dan kamu memang bos dan anak buah, tapi diluar kantor kita ini teman, bahkan menurutku kita ini sudah jadi keluarga.." ucap Ericka.
Geraldine senang mendengar ucapan Ericka itu, dia merasa dirinya sangat dihargai dan diperhatikan. Selama ini dia hanya sendirian, meskipun ada keluarga tapi mereka seperti orang asing, tak ada kehangatan di sana.
"Makasih yaa.." ucap Geraldine sambil menitikkan air mata terharunya.
"Sama-sama, ingat kita ini keluarga.." sahut Ericka sambil memeluk karyawan sekaligus temannya itu.
.
.
Ditempat lain, tepatnya di bandara internasional Soekarno Hatta seseorang datang dari London dengan harapan begitu besar, dia datang dengan penuh harapan dan cinta.
"Baby, i'm coming.." ucap lelaki berwajah tampan khas Latin itu.
Aaron datang bersama Jessy dan Stanley, langsung menuju apartemen miliknya pribadi yang dibeli saat masih di Indonesia beberapa bulan lalu sebelum dia pulang ke Inggris.
Dia membeli apartemen itu untuk tempat tinggalnya jika datang ke Indonesia, jadi dia tak perlu merepotkan Nico lagi atau menghabiskan biaya menginap di hotel, karena dia sendiri jika datang bisa berbulan-bulan lamanya.
"Apa dia tau jika kita datang?" tanya Jessy.
"Tidak, aku sengaja tak memberitahu siapapun.. Seharusnya aku datang beberapa hari yang lalu sebelum pernikahan Rendy, tapi aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan dulu London dan tempat lainnya, aku merasa berhutang dengan mereka.." jawab Aaron.
Beberapa orang sedang memperhatikan kedatangan mereka, bagaimana tidak ada tiga orang yang berpenampilan berbeda dengan gayanya masing-masing, Aaron datang dengan berpenampilan resmi seperti mau melamar saja, lengkap dengan tuxedo dan kaca mata hitam dan jam tangan mahal.
Sedangkan Stanley bergaya seperti seorang model bintang idol yang digandrungi oleh beberapa remaja akhir-akhir ini, tentu saja itu adalah hasil karyanya si Jason alias Jessy. Kalau dia sendiri jangan ditanya, penampilannya lebih cetar dibandingkan yang lainnya, dia memakai stelan jas pink lengkap dengan celana dan sepatu pantofel nya yang serba pink itu, sedangkan untuk ********** dia memakai kemeja bunga-bunga warna-warni dan kaca mata pelanginya.
"Ya Tuhan, apa ini sedang melakukan fashion show? Kenapa mereka berpenampilan seperti itu di bandara?" terdengar bisik-bisik dari orang-orang yang membicarakan mereka sambil cekikikan menertawakan penampilan Jessy.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1